Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Menjadikan Donor Darah Sebagai Gaya Hidup

17 September 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Timur)


Relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Timur kembali bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) menyelenggarakan kegiatan donor darah yang dilaksanakan pada Sabtu, 7 September 2019 di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Beberapa tahun ini jumlah orang yang mendonorkan darah terus mengalami peningkatan, dari 10 kantong per hari hingga mencapai 100 kantong. Walaupun kesadaran masyarakat sudah meningkat, namun sampai saat ini masih saja terjadi kekurangan pasokan. Dalam sebulan bisa terkumpul 5.000 – 6.000 kantong yang masuk, sedangkan kebutuhan bisa mencapai 9.000-10.000 kantong darah.

Angka yang kurang dari target ini mengakibatkan banyak rumah sakit masih sering mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan transfusi darah. Kurangnya ketersediaan darah diperkirakan karena kebanyakan mereka takut jarum, ada yang trauma jarum, tetapi karena mereka berniat donor dan berpikir bagus untuk kesehatan akhirnya mereka mau donor. Dari seorang pasien bisa membutuhkan lebih dari 1 kantong per hari, sementara seorang donor hanya boleh 1 kantong dan ini juga harus menunggu 3 bulan sekali. Jadi lebih banyak yang membutuhkan darah daripada donor.

Seperti yang dituturkan oleh dokter Ita, salah satu dokter dari Palang Merah Indonesia (PMI) yang bertugas di Kramat Raya, bahwa semua orang membutuhkan tubuh yang sehat. “Manfaat donor darah tidak hanya dirasakan oleh penerima donor saja, melainkan juga oleh donor. Badan menjadi sehat, lebih segar, lebih ringan, tidur lebih nyaman dan nyenyak,” jelas dokter Ita. Ia juga menambahkan banyak orang ingin donor darah, namun karena terkendala beberapa hal menyebabkannya tidak bisa mendonorkan darahnya.

Dokter Ita menjelaskan terutama bagi yang baru pertama kali donor, disarankan memiliki keberanian, sedangkan bagi calon donor yang sudah sering donor harus menjaga tubuh agar tetap sehat sebelum mendonorkan darahnya. “Pendonor harus dalam kondisi tubuh yang sehat (fit) dengan tidur yang cukup minimal 4 jam agar tidak pusing saat donor. Kedua, makan sebelum donor. Bagi yang berpuasa, minimal sudah makan di saat sahur. Terakhir, pendonor tidak mengonsumsi obat-obatan seperti obat antibiotic, obat pengencer darah, obat hormon, tetapi vitamin masih diperbolehkan. Yang penting sehat,” ujar Dokter Ita.


Berkaitan dengan shift kerjanya sebagai petugas keamanan, terkadang membuat Suratno tidak bisa donor darah. Namun kali ini di shift pagi, membuatnya bisa mendonorkan darahnya.

Dokter Ita juga menyarankan bagi mereka yang memiliki gejala darah kental untuk rutin donor. “Bagi yang mengalami kekentalan darah, (beban kerja) jantungnya terlalu berat, disarankan harus rutin donor,” katanya.  Dokter Ita tidak menyarankan donor berusia di bawah 17 tahun dan di atas 65 tahun. “Terlalu muda tidak bagus, dan terlalu tua juga tidak bagus karena efeknya kalau terlalu tua kasihan ke jantungnya. Namun tergantung pada sehat tidaknya tubuh ataupun fisik calon donor. Kadang ada yang berumur 65 tahun masih bisa donor,” tambah dokter Ita.

Kantong darah sendiri terdiri dari 2 jenis: 350 dan 450 cc. Bila calon donor mau mendonorkan darah sebanyak 450 cc masih bisa, namun tergantung pada Hb (hemoglobin). Hemaglobin adalah molekul protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan mengembalikan karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru untuk dikeluarkan melalui pernapasan. “Bila berat tubuh misal lebih dari 70 kilogram, kita sarankan untuk 450 cc, tetapi harus lihat kadar darah hemoglobin (HB) sekitar 12,5-17 g/dl dan tidak beresiko. Kalau untuk wanita, kita sarankan standar saja, 350 cc karena wanita mengalami menstuasi,” tutup dokter Ita

Donor Darah Selagi Bisa
Untuk saat ini tidaklah seperti dulu, PMI harus mencari calon donor. Sekarang banyak warga yang datang sendiri ke lokasi. Antusiasnya besar sekali. Kegiatan Tzu Chi sangat membantu sekali, dalam setiap kegiatan donor darah Tzu Chi selalu dapat memenuhi target yang ditentukan.

Untuk kesekian kalinya, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia komunitas He Qi Timur kembali bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) menyelenggarakan kegiatan donor darah yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 September 2019. Kegiatan ini merupakan kegiatan triwulan yang diadakan di Mall Kelapa Gading 1 lantai dasar. Sebanyak 24 insan Tzu Chi terlibat dalam kegiatan ini. Dari 78 calon donor hanya 50 orang yang dapat mendonorkan darahnya setelah melalui pemeriksaan awal seperti tekanan darah dan kadar darah hemoglobin.


Dokter Ita dari Palang Merah Indonesia (PMI) menjelaskan bagi yang baru pertama kali donor disarankan untuk menguatkan tekad dan keberanian. Sedangkan bagi donor yang sudah rutin disarankan menjaga kesehatan tubuhnya.

Sejak pagi Suratno, salah satu sekuriti (satpam) Mall Kelapa Gading 1, sudah menunggu untuk mendonorkan darahnya. Berkaitan dengan shift (jam) kerja, kadang membuatnya tidak bisa donor darah. Namun hari ini, ia mendapat shift pagi, membuatnya bisa bersumbangsih darahnya. “Pertama kali donor, ada perasaan takut sih, selebihnya tidak ada masalah,” pungkas Suratno berharap darahnya yang didonorkan dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan, selain mendapat tubuh yang sehat setelah berdonor. Baginya, adalah hal yang baik bisa donor darah. “Kapan lagi kita donor, selagi kita diberi kesehatan,” tutup Suratno

Heri (50) sangat bersyukur bisa berjodoh dengan mobil PMI di tempat parkiran Mall Kelapa Gading 1, mencari tahu hingga kakinya terus melangkah menuju lokasi donor darah. Ia bercerita sebulan setengah kemarin, ia tidak bisa donor darah karena masih mengonsumsi obat-obatan untuk memulihkan kesehatannya. “Sudah tiga minggu yang lalu, saya sudah lepas dari obat,” cerita Heri tidak takut dengan jarum ataupun jarum suntik. Ia rutin melakukan cek (periksa) darah enam bulan sekali. Heri menambahkan beberapa waktu silam salah satu keluarganya membutuhkan darah, mencari darah sangat susah sehingga ia memutuskan menukarkan darahnya. “Darah itu perlu disirkulasi, tidak ada salahnya untuk didonorkan,” kata Heri.

Sepuluh tahun silam Yulia (39) pernah donor darah. Kali itu merupakan donornya yang ke-17 kali. “Sudah lama pengen donor darah lagi, cuma saya belum sempat ke tempat PMI. Biasa kalau saya mau donor, harus ke PMI. Sudah dua tahun, saya tidak ke PMI. Biasa dulu, saya tiga bulan sekali pasti ke PMI,” pungkas Yulia senang bisa berjodoh dengan tempat donor darah. Walau belum ada persiapan fisik, namun darahnya masih bisa diterima dan memenuhi syarat.

Dharmawati Djayaputra (55), merasa tubuhnya lebih enak dan lebih ringan setelah mendonorkan 350 cc darahnya. Sejak umur 25 tahun, Dharmawati Djajaputra, salah satu insan Tzu Chi telah aktif memberikan darahnya kepada PMI. “Jangan takut untuk donor. Jangan takut dengan jarum. Tidak sakit seperti digigit semut saja. Dengan donor darah, sirkulasi darah kita baru terus. Kita jadi lebih sehat,” tegas Dharmawati Djayaputra.

Bagi sebagian orang mendonorkan darah mungkin mengakibatkan ketakutan trauma dan rasa malas. Namun ada sebagian orang yang memiliki tekad untuk donor, tapi terhambat karena tidak memenuhi syarat sebagai donor. Dengan mendonorkan darah secara berkala, selain bermanfaat bagi kesehatan kita juga dapat menolong orang lain. Setiap tetes darah yang disumbangkan dapat memberikan kesempatan hidup bagi orang lain. Mari kita jadikan donor darah sebagai gaya hidup masa kini.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 267 kali


Berita Terkait


Menggunakan Kesempatan Berdonor darah

19 Agustus 2019

Donor Darah, Sebuah Wujud Kepedulian

30 Juli 2019

Donor Darah di RPTRA Alur Dahlia

25 Maret 2019

Menyempatkan Donor Darah di Sela-sela Pekerjaan

22 Maret 2019

Rasa Ingin Menolong, Mengalahkan Rasa Takut

29 November 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tanamkan rasa syukur pada anak-anak sejak kecil, setelah dewasa ia akan tahu bersumbangsih bagi masyarakat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat