Minggu, 27 September 2020
Indonesia | English

Merangkul Penerima Bantuan di Tengah Pandemi

24 Agustus 2020 Jurnalis : Teddy Lianto
Fotografer : Teddy Lianto


Rabu, 19 Agustus 2020, Tzu Chi komunitas He Qi Pusat melakukan kunjungan ke-11 orang Penerima bantuan Tzu Chi untuk memberikan bantuan sembako.

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung di Indonesia, relawan Tzu Chi terus memberikan perhatian kepada warga terdampak dan juga penerima bantuan jangka panjang Tzu Chi.  Rabu, 19 Agustus 2020, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat melakukan kunjungan ke-11 orang penerima bantuan Tzu Chi. Pada kesempatan itu relawan memberikan bantuan sembako berupa 5 kg beras, 1 kg gula, 1 liter minyak goreng, dan 10 mi instan. Sebanyak 5 relawan berjalan dari rumah ke rumah untuk menyampaikan bantuan ke tangan penerima bantuan.

Sarpen, PIC kegiatan kali itu merasa haru dengan perhatian Yayasan Buddha Tzu Chi kepada warga Pademangan Barat. “Bantuan yang kami berikan hari ini, saya rasa sangat membantu sekali untuk para penerima bantuan. Seperti Pak Achmad Tamin yang pekerjaan sehari-hari memulung ataupun Robbi Zidni yang menderita jantung bocor sejak kecil,” ujar Sarpen yang merasa bahagia dapat menjadi perantara untuk menyalurkan bantuan kepada mereka.

Tak Menyerah Pada Rasa Sakit

Dengan penuh sabar, relawan menyusuri gangp-gang sempit yang padat menuju rumah Achmad Tamin (70) atau akrab disapa Tamin. Ketika tiba di tujuan, Tamin sedang bersiap-siap untuk pergi memulung. Melihat kehadiran relawan, senyum simpul pun tersirat di wajahnya. Ia merasa senang dengan kunjungan relawan Tzu Chi.

Tamin yang sudah berusia lanjut, baru saja pulih dari sakit. “Kaki sakit, makanya musti banyak jalan (memulung) biar badan nggak sakit,” candanya kepada relawan yang berkunjung.


Achmad Tamin yang sehari-hari sebagai adalah seorang pemulung merasa senang dikunjungi dan mendapat bantuan sembako dari relawan. Sarpen (kiri) merasa senang, bisa turut membantu meringankan beban keluarga Tamin.


Selepas kunjungan relawan, Tamin pun bersiap-siap untuk mulai berkeliling untuk memulung.

Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus menafkahi istri, anak, dan dua cucu lelaki. Beban di pundaknya pun semakin berat karena menantunya yang dulunya bisa diandalkan untuk membantu mencari nafkah, baru saja meninggal akibat penyakit liver.

“Baru aja empat puluh hari, mantu meninggal. Kalau saya nggak nyari begini (memulung), saya susah nyari makan dan bayar kontrakan rumah,” terang Tamin.

Sejak pukul 15.00 hingga pukul 01.00 pagi ia berkeliling di daerah Pademangan, jika kantong yang ia bawa sudah penuh, baru ia kembali ke rumah. Hasil sampah plastik yang ia kumpulkan, ia rapikan dan sebulan kemudian baru ia jual. Itu pun laku seharga dua ratus ribu rupiah, belum juga kontrakan rumah yang seharga enam ratus ribu perbulan dan biaya makan sehari-hari.

ketika kunjungan itu pula, relawan tidak hanya menanyakan kabar keluarga dan kondisi kesehatan Tamin, tetapi juga membawakan paket sembako, ia pun merasa tersentuh. “Senang sekali. Puji Tuhan. Dapat beras bisa cukup dua minggu. Cukup nggak cukup dicukupin aja, terima kasih banyak untuk bantuannya,” ujar Tamin penuh syukur.

Perhatian Tiada Henti

Di kunjungan berikutnya, Sarpen dan rombongan relawan berkunjung ke rumah Robbi Zidni (5) yang sejak usia 5 bulan sudah mengalami gangguan jantung.

“Robbi ini sejak kecil sudah pasang ring di jantung dan karena memiliki masalah jantung, berat badannya juga mengalami masalah. Kami bantu dia dua kaleng susu 850 gram,” jelas Sarpen.

Setibanya di sana, Siti romlah (36), ibu dari Robbi, sedang merapikan rumahnya. Ia tinggal di rumah kontrakan dengan biaya sewa tujuh ratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Rusdiana, suaminya sedang bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik.

“Makanya kami mengajukan bantuan ke Tzu Chi, karena ketika usia Robbi baru 5 bulan, beratnya kurang. Sekarang alhamdulilah, dapat bantuan susu dari Tzu Chi beratnya sudah normal. Robbi sudah masuk ke taman kanak-kanak, meskipun nggak setiap hari masuk,” ujar Siti seraya menerangkan bahwa saat Robbi berusia 5 bulan, berat badannya hanya 3 kg. Kini di usia ke-5 tahun, Robbi sudah memiliki berat badan 14 kg.


Relawan juga mengunjungi rumah Robbi Zidni, yang memiliki penyakit jantung.


Relawan merasa bersyukur, Robbi kini sudah sehat dan bisa kembali melanjutkan pendidikan di taman kanak kanak.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, berat badan ideal bayi berusia 5 tahun adalah 13,7 hingga 24,9 kilogram bagi bayi perempuan dan 14,1 hingga 24,2 kilogram bagi bayi laki-laki. Sedangkan saat bayi usia 5 bulan, berat badan yang ideal bagi bayi laki-laki berada di kisaran 6 kg hingga 9,5 kg.

Sama seperti Tamin, relawan juga membawakan bantuan sembako bagi Robbi dan keluarganya. Siti mengucap banyak terima kasih kepada relawan, kerena tiada hentinya memerhatikan dan membantu keluarganya. “Senang sekali, alhamdulilah, saya diperhatiin sama Yayasan Buddha Tzu Chi. Semoga relawan diberikan berkah kembali ya,”ujar Siti penuh haru.

Selepas membagikan sembako ke-11 rumah penerima bantuan, relawan pun pulang dengan penuh bahagia dan suka cita. Mereka merasa tidak hanya dapat memanfaatkan waktu untuk bersumbangsih, tetapi juga bisa memberikan sumbangsih berupa tenaga untuk menyampaikan bantuan sembako, serta bantuan penghiburan kepada para penerima bantuan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 224 kali


Berita Terkait


Merasakan Kehangatan Kasih Sayang di Dunia

28 Mei 2019

Satu Bulan Pascabencana, Distribusi Bantuan Tzu Chi Masih Berjalan

08 November 2018

Ada Ribuan Tangan Tengah Memulihkan Palu

11 Oktober 2018

Tzu Chi Merenovasi Rumah Mereka yang Berjasa

01 Maret 2018

Berbagi Kebahagiaan Menyambut Imlek

15 Februari 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat