Rabu, 22 November 2017
Indonesia | English

Pelatihan Relawan Tzu Chi Pekanbaru: Menggalang Barisan Bodhisatwa Dunia

14 November 2017 Jurnalis : Fera (Tzu Chi Pekanbaru)
Fotografer : Fera, Kho Ki Ho (Tzu Chi Pekanbaru)

doc tzu chi

Tzu Chi Pekanbaru mengadakan pelatihan relawan yang digelar selama dua hari, 4-5 November 2017.

Tzu Chi Pekanbaru mengadakan pelatihan relawan untuk menggalang barisan Bodhisatwa dunia. Pelatihan relawan ini diadakan selama dua hari, 4-5 November 2017. Hari pertama, pelatihan digelar di Kantor Tzu Chi Pekanbaru, sementara hari kedua digelar di Hotel Ameera Pekanbaru. Pada pelatihan relawan ini turut hadir relawan dari Jakarta yang memberikan sharing kepada para peserta, seperti Ketua Tzu Chi Indonesia Liu Su Mei, Eva, Like, Elvy, Wei Siong, Jhonny, Henry Tando, dan Merry.

Pada pelatihan hari pertama, jumlah peserta yang hadir sebanyak 78 orang. Adapun materinya tentang Misi Amal oleh Wei Siong, dan tentang Bodhisatwa Zhen Shan Mei oleh Henry Tando. Saat sesi tanya jawab, salah satu relawan, Soso Siskawati bertanya kepada Wei Siong tentang bagaimana membagi waktu antara keluarga dan berkegiatan Tzu Chi.

Berdasarkan pengalamannya, Wei Siong juga pernah mengalami hal yang sama, kesulitan mengatur waktu apalagi pihak keluarga menentangnya untuk melakukan kegiatan di Tzu Chi. Wei Siong pun tetap melakukan kegiatan Tzu Chi namun mengurangi intensitasnya dan lebih banyak meluangkan waktu untuk orang tua dan keluarga. Seiring berjalannya waktu, terjadilah perubahan ke arah yang lebih baik. Pihak keluarga saat ini sangat mendukungnya.  

Menurut Wei Siong, untuk mendapatkan dukungan dari pihak keluarga tak bisa hanya sekedar dengan kata-kata, namun harus dibuktikan dengan perbuatan.

doc tzu chi

Peserta bersama-sama mengikuti ice breaking hingga wajah mereka pun seketika menjadi ceria.

doc tzu chi

Yanti(tengah) saat berbagi kisah hidup dan juga kesannya mengikuti pelatihan ini.

“Lakukan dengan sungguh hati, walaupun sebulan cuma sekali dan saya percaya berkah itu ada,” ujarnya yang hal itu  terbukti dengan dukungan penuh dari pihak keluarga. Seperti yang dikatakan oleh Master Cheng Yen “Melakukan segala hal harus dimulai dari sebuah tekad, dari sebutir benih yang akan tumbuh menjadi pohon besar”.

Sedangkan di hari kedua, Minggu, 5 November 2017, pelatihan relawan ini dihadiri oleh 107 peserta. Kegiatan diawali dengan pemberian penghormatan kepada Master, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Tzu Chi, serta pengenalan 10 Sila kepada para relawan. Untuk mengurangi ketegangan, para peserta diajak melakukan ice breaking hingga wajah bahagia terpancar dari peserta pelatihan.

Materi yang dibawakan kali ini tentang Berkah Pelatihan Diri dalam Berkegiatan oleh Elvy, tentang Ada Tekad Ada Kekuatan oleh Jhonny, Menjaga Sebersit Niat oleh Wei Siong, Tanggung Jawab & Pewarisan oleh Like, lalu tentang Kehidupan yang Bahagia oleh Eva. Ada juga sharing dari peserta pelatihan dan juga pelantikan 16 relawan Abu Putih dan 3 orang Tzu Ching.

Asnani merupakan salah satu calon Relawan Komite yang memiliki semangat tinggi dalam menjalankan Misi Tzu Chi. Walaupun Asnani termasuk baru bergabung dengan Tzu Chi, namun dalam satu setengah tahun ini telah aktif menjalakan misi amal khususnya dari Xie li Lima Puluh dan juga menyempatkan diri untuk mengikuti Xun Fa Xiang di Kantor Tzu Chi. Asnani memiliki usaha sendiri sehingga ia dapat terus melakukan kegiatan Tzu Chi tanpa menganggu pekerjaannya.

Pada awal terjun di misi amal, Asnani tidak memiliki pengalaman sama sekali tentang survei kasus. Namun berkat arahan dari ketua Xie Li, ia sekarang mampu menjalankan misi amal. “Dengan melakukan survei kasus dan melihat begitu banyaknya penderitaan dari masing-masing pasien kasus, saya merasa kehidupan saya  begitu baik dibandingkan dengan mereka, saya merasa bersyukur sekali,” kata Asnani.

doc tzu chi

Relawan Abu Putih dan Tzu Ching yang dilantik.

doc tzu chi

Seluruh peserta pelatihan relawan pun berfoto bersama.

Master Cheng Yen pernah berkata, “Memiliki kemampuan dan menggunakannya untuk membantu orang lain adalah wujud rasa syukur. Dengan saling bersyukur dan membantu, setiap orang bisa hidup sejahtera dan penuh sukacita”.

Sharing dari Yanti, ia menceritakan, dirinya awalnya diajak oleh sang kakak mengikuti pelatihan relawan selama dua hari. Pada awal mendengarnya, ia langsung menolak karena yang terlintas dipikirannya badan akan pegal-pegal karena bakal duduk lama selama pelatihan berlangsung. Namun setelah mengikuti pelatihan ini, Yanti merasa bahwa keputusannya untuk ikut dalam pelatihan ini tidaklah salah.

Yanti awalnya hanya sebagai donatur Tzu Chi, dan setelah mengikuti pelatihan ini ia baru mengetahui visi misi Tzu Chi. Selain sebagai donatur, relawan juga perlu mendukung visi misi Tzu Chi, seperti melakukan kunjungan kasih, dan membantu orang lain. “Semua orang pasti mempunyai kesibukannya masing-masing, namun dari pelatihan ini saya bertemu dengan banyak orang-orang yang walaupun sibuk dengan pekerjaannya tetapi masih dapat bersumbangsih sebagai relawan,” kata Yanti.

Ada juga sharing yang dari Lusiani Fen yang berasal dari Kabupaten Kerinci. Lusiani Fen bercerita, sejak dulu ia selalu berbuat kebajikan, namun ia tidak bahagia. Dulu sesudah berbuat kebajikan, sampai di rumah masih marah-marah dan merasa seolah memakai topeng. Ia berbuat baik terhadap orang lain, tetapi tidak terhadap keluarga sendiri.

Jalinan jodoh Lusiani Fen berawal dari pementasan Sutra Bakti Seorang Anak yang pernah digelar Tzu Chi Pekanbaru. Dari pertama mengikuti latihan, ia mengaku air matanya terus bercucuran karena selama ini walaupun berbakti kepada orang tua tetapi sikapnya masih belum benar, masih kurang perhatian. Dan setiap kali orang tua menelepon ia selalu berkata sibuk.

“Sejak pementasan Sutra Bakti Seorang Anak, saya jadi sering ngobrol sama orang tua, bisa lebih berbakti, kalau diomelin papa mama bisa terima dengan senyum,” ungkapnya.

Setelah itu, Lusiani Fen pun mendaftarkan anaknya untuk mengikuti kelas budi pekerti Tzu Chi. Ia juga merasakan perubahan pada sang anak setelah mengikuti kelas budi pekerti ini. Anak yang dulunya sering marah dan membanting pintu mobil jika terlambat diantarkan makan siang, sekarang jadi lebih perhatian. Dan jika terlambat dijemput akan bertanya kepada mamanya kenapa terlambat dan akan tersenyum sambil mengucapkan “Gan en Mama”. Lusiani Fen ingin terus menjalin jodoh dengan Tzu Chi karena ia mengalami perubahan yang mungkin kecil bagi orang lain, namun besar bagi dirinya.

Yang ketiga adalah sharing dari salah satu relawan Abu Putih yang baru dilantik, Revi Marli. Revi merupakan salah satu penerima bantuan dari Tzu Chi karena keterbatasan anak keduanya. Revi sangat bersyukur atas berkah yang ia terima dari Tzu Chi, ini juga mendorongnya untuk selalu berusaha menciptakan berkah lagi untuk orang lain.

“Kami sekarang mungkin mengalami suatu kekurangan yang kami rasakan, tapi banyak hal yang saya terima di Yayasan Buddha Tzu Chi. Menurut saya keterbatasan pada anak kedua saya  membuat saya bisa instropeksi diri, belajar, bisa bersyukur dan dapat berbagi kasih sayang kepada sesama,” ujarnya.

Seperti kata Master Cheng Yen, “Beruntung atau malang hanya tergantung pada satu niat pikiran. Mampu bersumbangsih adalah keberuntungan, mengharapkan bantuan orang lain adalah kemalangan”. Pun dengan Revi Marli yang memutuskan untuk menciptakan berkah lagi untuk orang lain yang mengalami kesulitan.

Sementara itu, relawan Abu Putih yang baru dilantik, Subianto yang sebelumnya merupakan anggota Tzu Ching, rela menempuh perjalanan jauh dari Bagan Siapiapi ke Pekanbaru untuk mengikuti pelatihan relawan kali ini. Kegiatan ini pun ditutup dengan foto bersama dan penghormatan kepada Master Cheng Yen.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 190 kali


Berita Terkait


Pelatihan Relawan Tzu Chi Batam

06 November 2017

Pelatihan Abu Putih ke-2 Tzu Chi Batam

29 September 2017

Bahagia Dalam Jalan Bodhisatwa

20 April 2017

Lebih Bersungguh-Sungguh Menapaki Jalan Bodhisatwa

11 November 2016

Pelatihan Relawan Zhen Shan Mei di Medan

28 Oktober 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Menggunakan kekerasan hanya akan membesarkan masalah. Hati yang tenang dan sikap yang ramah baru benar-benar dapat menyelesaikan masalah.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat