Selasa, 13 April 2021
Indonesia | English

Secangkir Teh Hangat untuk Ayah dan Ibu

04 Januari 2021 Jurnalis : Irawati M, Yumin Tati (He Qi Barat 1)
Fotografer : Bobby, Hema, Yumin (He Qi Barat 1)


Dua MC, Jie jie Meibin dan Jie Jie Marisa saat memulai acara.

Cuaca mendung pada Minggu, 20 Desember 2020 tak menyurutkan semangat peserta kelas budi pekerti Tzu Chi di He Qi Barat untuk mengikuti Temu Kangen secara virtual yang mengusung tema “Bakti kepada Orang Tua”. Kegiatan kali ini sungguh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang juga berlangsung secara virtual akibat pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai.

Kali ini siswa-siswi kelas Budi Pekerti (Qin Zi Ban) kelas kecil dan besar yang berusia 5 sampai 12 tahun turut berpartisipasi bersama- sama dengan siswa -siswi dari kelas Pendewasaan (Tzu Shao Ban), yang sudah memasuki usia remaja dari usia 13 sampai 16 tahun. Acara ini juga diramaikan oleh kehadiran papa mama, orang tua dari para peserta yang turut bersukacita mendampingi buah hati mereka. Suasana terasa meriah di ruangan webinar dengan kehadiran 65 peserta ditambah dengan 32 relawan Misi Pendidikan Da Ai Mama dan Da Ai Papa. 

Kehangatan di ruang webinar makin terasa saat acara dibuka oleh duet MC Jie Jie Meibin dan Jie Jie Marisa yang menyapa para peserta dengan riang, yang biasa disebut dengan Bodhisattva Kecil / Xiao Pu Sa dan Tzu Shao men  untuk memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen.


Penampilan murid-murid Qin Zi Ban Kecil menyanyikan lagu Shi Shang Zhi You Mama Hao.

Irawati Shigu sebagai perwakilan panitia kelas Budi Pekerti menyampaikan terima kasih khususnya kepada para orang tua yang telah meluangkan waktu di sela kesibukan mereka untuk mendampingi putra putri mereka. Walaupun acara ini dilakukan secara online, diharapkan semua peserta tetap bisa fokus dari awal hingga akhir.

Acara yang  mengusung tema “Bakti kepada Orang Tua” ini diawali dengan penampilan siswa-siswi Kelas Qin Zi Ban kecil yang menyanyikan lagu “Shi Shang Zhi You Mama Hao dengan penuh penghayatan. Lagu tersebut mengingatkan kita semua tentang kasih sayang Mama-  lah yang terbaik di dunia ini. Saat video kompilasi lagu ini ditayangkan, terasa sekali nuansa haru dari para peserta, bahkan ada yang menitikkan air mata. Kehidupan tanpa pelukan kasih sayang mama bagaikan ilalang liar.

Penampilan siswa-siswi kelas Qin Zi Ban besar juga tidak kalah serunya dengan mempersembahkan Pembacaan Kata Perenungan (Jingsi Yu) yang diikuti oleh 34 peserta yang terbagi dalam dua video.  Darrius Nevando, peserta kelas Qin  Zi Ban besar dari grup Zhi Zu  yang mengawali pembacaan Kata Perenungan dengan penuh keyakinan, mengucapkan Jiātíng shì yǒngjiǔ de xuéxiào, fùmǔ shì zhōngshēng de lǎoshī, keluarga adalah tempat bersekolah selamanya dan orang tua adalah guru selamanya.”


Penampilan murid-murid Qin Zi Ban Besar membacakan kata perenungan Jingsi Yu (Darrius).

Tidak hanya sekedar membaca, Darrius juga menambahkan penjelasan bahwa “Keluarga harus kita sayangi dengan sepenuh hati, dan para orang tua harus kita hormati.”  Walaupun tidak semua peserta bisa melafalkan kata perenungan dalam bahasa Mandarin yang fasih, namun semangat mereka saat melafalkan patut mendapatkan pujian.

Keharuan kembali terasa saat melihat penampilan siswa-siswi remaja Tzu Shao Ban yang melantunkan lagu “Senyuman Terindah”.  Syair-syair yang terkandung dalam lagu tersebut dinyanyikan dengan kesungguhan hati, dipadukan dengan gerakan isyarat tangan yang menarik, memukau hati siapa pun yang menyaksikan penampilan mereka. Lantunan lagu yang dinyanyikan terasa begitu penuh penghayatan hingga menyentuh kalbu hati. Tanpa terasa, mata pun mulai tergenang oleh air mata yang mengingat akan kenakalan-kenakalan yang selalu dimaafkan oleh orang tua dengan Senyuman Terindah mereka yang begitu menyentuh sukma.

Setelah menyaksikan penampilan dari siswa-siswi, ada satu acara puncak yang ditunggu-tunggu, tak lain adalah memberikan Persembahan Teh dan Kue dari anak-anak kepada para orang tuanya, yang dipandu oleh Linda Budiman Shigu, dengan mengawali ucapan kata bijak dari Master Cheng Yen yang menyebutkan bahwa “Mendidik anak dan mengasihi mereka adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Berbakti kepada orang tua dan merawat mereka adalah kewajiban sebagai anak”.


Penampilan murid Tzu Shao Ban menyanyikan lagu Senyuman Terindah.

Linda Shigu mengajak semua peserta untuk sama-sama merenungkan perhatian dan kasih sayang orang tua yang tanpa pamrih. Kadang mungkin di saat kita sedang asyik bermain, perhatian dari orang tua bisa terasa mengganggu, namun orang tua tidak pernah merasa lelah untuk terus menyayangi putra-putri mereka.  

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi mama dan papa, mama dan papa adalah hadiah terindah dari Tuhan.” Ucap Shigu Linda.

Keharuan terasa makin memuncak dengan tayangan dua video singkat yang berkisah tentang pengorbanan seorang Ibu dan juga tentang perjuangan seorang Ayah yang kesehatannya sudah menurun seiring dengan bertambahnya usia. Momen acara terus bergulir penuh keharuan sampai ketika para peserta berlutut di depan orang tua, menyuapi orang tua dengan memberikan persembahan kue, dan secangkir teh sebagai wujud rasa bakti kepada orang tua yang selama ini telah merawat mereka.

Lalu semua peserta diajak untuk memijat papa mama sebagai bentuk rasa sayang yang pastinya akan mengusir kelelahan jiwa raga para orang tua yang telah bekerja keras merawat  anak-anak mereka. Diakhiri dengan berpelukan bersama-sama untuk mempererat tali kasih sayang di antara mereka. 

Suasana penuh keharuan perlahan diselimuti perasaan khidmat  yang hadir saat menyaksikan kompilasi video dari Shigu dan Shibo, para pembimbing kelas Budi Pekerti yang biasa disapa dengan Da Ai Mama dan Da Ai Papa yang mempersembahkan sebuah isyarat tangan lagu “Gui Yang Tu”, yang berkisah tentang lukisan anak kambing yang berlutut sebagai tanda hormat kepada orang tuanya, yang telah melahirkannya dan memberikan air susu sebagai nutrisi yang penting bagi pertumbuhan anak kambing tersebut.

 

Linda Shiqu saat memandu acara persembahan teh (memutar video).

Kompilasi video yang dirancang Jusui Shigu (yang juga salah satu koordinator tim Budi Pekerti komunitas He Qi Barat) tersebut sangat menarik dengan dilatarbelakangi foto-foto keluarga favorit siswa-siswi. Sungguh memberikan sukacita yang tak terucap mengalirkan energi kebahagiaan di dalam batin masing-masing. Berbakti merupakan dasar dari segala kebajikan. Seiring dengan pertumbuhan anak yang makin besar, saat bersamaan, usia orang tua juga terus menua. Karenanya, berbakti kepada orang tua adalah sesuatu yang tak boleh ditunda.

Sesi webinar makin lengkap dengan kesediaan beberapa orang tua yang turut berbagi cerita tentang kesan-kesan mereka. Dengan terisak menahan haru, Marlina Shijie yang merupakan Mama dari Michelle dari Kelas Qin Zi Ban kecil berkata, “Gan en, terima kasih dikasih kesempatan belajar, suka terharu Michelle bisa ikut di Tzu Chi, mengajarkan ilmu tentang kebaikan, cinta kasih, baru empat kali pertemuan perubahan nya bagus tambah baik,” ucapnya yang masih menahan rasa haru.

Ada lagi Ping Ping Shijie yang ketiga anaknya masih mengikuti bimbingan kelas Budi Pekerti hingga saat ini. Ia mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas bimbingan Shigu Shibo yang selama ini dirasa sangat positif, salah satu anaknya yaitu Tricia sangat bersemangat dan antusias mengikuti kelas Budi Pekerti yang sudah bergabung sejak masih usia dini hingga kini tumbuh menjadi seorang putri remaja yang cantik. “Kalau ada kerjaan rumah, tidak perlu disuruh bisa membantu,” ujar Shijie Ping Ping yang kini juga sudah menjadi Daai Mama.


Sesi persembahan teh dan kue kepada orang tua.

Dengan mengutip Kata Perenungan dari Master Cheng Yen, Lasmi Shijie yang mewakili sharing orang tua dari kelas dewasa Tzu Shao Ban juga mengatakan bahwa, “Kata Perenungan ini meski hanya berupa kalimat-kalimat singkat, tapi bila dapat diingat di dalam batin, akan sangat bermanfaat dalam kehidupan.” Ia yang saat ini juga sudah bergabung menjadi relawan juga merasakan kesungguhan hati para Da Ai Mama dan Da Ai Papa dalam membimbing anak-anak.

Ada lagi Bety Shijie, mama dari Alina yang mengikuti homeschooling yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya, juga mengatakan bahwa Alina banyak belajar nilai-nilai luhur, bagaimana harus menghormati orang lain dan juga bisa belajar menerima orang lain. Alina sendiri sangat menikmati dan aktif pada setiap sesi pembelajaran kelas budi pekerti ini, walaupun saat ini dilakukan secara online namun Alina tetap semangat dan bisa belajar dari contoh-contoh nyata yang tentunya bisa dipraktekkan.

“Sering membantu mama di rumah mengepel, mencuci piring, menjemur baju, mengangkat jemuran, melipat baju, memijat mama jika mama kelelahan, menyiapkan obat dan air minum jika mama kurang sehat,” jawab Alina dengan mantap saat ditanya MC bagaimana berbakti kepada orang tua. 

Lalu ada Valerie, 15 tahun dari Tzu Shao Ban, yang terbiasa membantu orang tuanya mengurus adiknya yang masih berusia 5 tahun, karena orang tuanya harus bekerja dan pulang malam.

 

Da Ai Mama mempersembahkan Gui Yang Tu (Lukisan anak kambing berlutut).

Mendengar tutur langsung dari siswa-siswi kelas Budi Pekerti ini sangat memotivasi para Da Ai Mama dan Da Ai Papa untuk terus memberikan yang terbaik kepada siswa-siswi.

“Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari tahun 2020 ini. Tahun  ini merupakan pelajaran bagi kita semua untuk  meningkatkan kewaspadaan dan  kesehatan, Shigu berharap kita selalu menjaga stamina dengan baik,  banyak makan sayur dan buah,  tidak main game  sampai larut malam dan tidak lupa membantu orang tua dalam pekerjaan di rumah. Gan en kepada dukungan Papa Mama yang telah mendampingi. Semoga tahun 2021 membaik sehingga kelas Budi Pekerti dapat dilangsungkan secara tatap muka.” Demikian pesan cinta kasih yang disampaikan Goh Poh Peng Shigu selaku pembimbing senior kelas Budi Pekerti, yang biasa disapa “Nai Nai”. Perhatian dan kasih sayang dari Nai Nai  menggambarkan dunia Tzu Chi bagaikan sebuah keluarga besar yang terus saling membimbing kita semua ke arah yang lebih baik.

Usai sudah sesi hari itu yang ditutup dengan mendoakan kesehatan dan keselamatan bagi kita semua dan dunia dijauhkan dari bencana.  Acara hari bakti telah berlalu, tetapi wujud rasa bakti hendaknya terus dipraktikkan dalam keseharian. Semoga akar kebajikan ini terus bertumbuh dalam diri Xiao Pu Sa dan Tzu Shao men hingga kelak dewasa nanti, dan tidak mudah tergerus oleh putaran waktu.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 532 kali


Berita Terkait


Terus Belajar dan Menanam Benih untuk Masa Depan

05 April 2021

Ketulusan Membawa Kedamaian

31 Maret 2021

Wujud Cinta Kasih kepada Semua Makhluk Hidup

24 November 2020

Menjadi Pribadi yang baik

02 November 2020

Menghargai Diri Sendiri

02 Oktober 2020


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat