Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Sepatu Cinta Kasih untuk Anak-anak di Wamena

01 Maret 2018 Jurnalis : Marcopolo (Tzu Chi Biak)
Fotografer : Marcopolo (Tzu Chi Biak)

doc tzu chi indonesia

Murid-murid SD YPPK Santo Yakobus Honelama menerima sepatu dengan sukacita.

Mentari masih belum menampakan diri, tetapi relawan Tzu Chi Biak sudah bangun sejak pukul 4 pagi untuk bersiap-siap berangkat ke Kota Wamena, di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Sehari sebelumnya relawan telah tiba di Jayapura, tetapi karena tidak terkoneksi dengan pesawat ke Wamena, relawan pun bermalam di Jayapura. Perjalanan ke Wamena ditempuh dengan menggunakan transportasi udara selama satu jam. Tidak bisa dengan transportasi laut ataupun darat karena Kota Wamena berada di ketinggian 1600 mdpl.

Kali ini relawan menuju SD YPPK Santo Yakobus Honelama. Sebelumnya pada Oktober 2017, relawan mendampingi tim Tzu Chi Tree meliput satu suku di Wamena.  Relawan pun mendapat informasi jika di SD tersebut banyak murid yang tidak menggunakan sepatu saat bersekolah. Padahal cuaca di Kota Wamena saat itu cukup dingin.

Relawan juga menemukan fakta membludaknya jumlah murid, di mana siswa kelas 1-6 berjumlah 505 anak, sementara tenaga pengajarnya hanya 15 guru.  Setelah berkunjung dan melakukan survey kondisi murid-murid sekolah, relawan kembali ke Biak dan merencanakan untuk kembali ke Wamena.

doc tzu chi indonesia

Selama ini sebagian murid SD YPPK Santo Yakobus Honelama berangkat ke sekolah tanpa alas kaki.

doc tzu chi indonesia

Dokter Irene Mariani relawan TIMA bersama Chandra Ferdian, relawan Tzu Chi mengangkat dus sepatu.

Barulah pada 26 Februari 2018, relawan bisa kembali. Kali ini relawan membawa bantuan sepatu. Perhatian relawan ini dikarenakan dinginnya cuaca di Kota Wamena. Memang di SD ini tidak semua tidak memakai sepatu, ada juga yang menggunakan sepatu.

Wanto Wenda (7) siswa kelas 1A, tak henti-hentinya tersenyum karena mendapatkan sepatu baru dan kaos kaki. Keterbatasan ekonomi orang tuanya membuatnya tak bisa memakai sepatu. Setiap hari di tengah udara yang dingin ia berjalan pulang pergi sejauh 2 km untuk bersekolah.

doc tzu chi indonesia

Keterbatasan ekonomi membuat siswa-siswi ini tak bisa memiliki sepatu. Padahal setiap hari di tengah udara yang dingin mereka berjalan pulang pergi sejauh 2 km.

doc tzu chi indonesia

Susanto Pirono, Ketua Tzu Chi Biak berpesan kepada anak-anak untuk belajar yang rajin dan semangat dalam menggapai cita-cita.

“Terima kasih buat Tzu Chi karena saya mendapatkan sepatu ini. Saya sangat senang sekali pakai sepatu,” ujarnya dengan gembira.  

Kondisi Wanto dan keluarganya merupakan gambaran umum kondisi warga Wamena lainnya. Mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan berkebun, yang hasilnya tidak seberapa untuk biaya hidup satu keluarga.

doc tzu chi indonesia

Wanto Wenda tak henti-hentinya tersenyum usai mendapatkan sepatu baru dan kaos kaki.

doc tzu chi indonesia

Terlihat murid-murid saling membandingkan sepatu yang mereka terima.

“Banyaknya murid yang bersekolah berasal dari beberapa kabupaten pemekaran dari Jayawijaya.  Para penduduk membawa anaknya ke Wamena dan menyekolahkan di SD Santo Yakobus Honelama karena lebih dekat dan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik,” Salvina Tandilino, Wali Kelas 5B menuturkan.

Susanto Pirono, selaku Ketua Tzu Chi Biak juga berpesan kepada anak-anak ini. “Rajin-rajinlah belajar, jangan bermalas-malasan. Gapailah cita-citamu setinggi langit,” ujarnya kepada anak-anak.

Menurut Susanto, bantuan ini sendiri merupakan bentuk perhatian dari Tzu Chi kepada generasi penerus bangsa agar dapat menggapai cita-cita dan kehidupan yang lebih baik lagi.

Editor: Khusnul Khotimah
Selama ini sebagian murid SD YPPK Santo Yakobus Honelama berangkat ke sekolah tanpa alas kaki.

Artikel dibaca sebanyak : 881 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat