Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Survei Bantuan di Asmat

24 Januari 2018 Jurnalis : Marcopolo (Tzu Chi Biak)
Fotografer : Marcopolo (Tzu Chi Biak)

doc tzu chi indonesia

Empat relawan Tzu Chi Biak dan Jayapura melakukan survei ke Kabupaten Asmat, Papua. Di rumah sakit, Adolfina, relawan Tzu Chi membantu perawat yang bertugas karena memang tenaga medis amat diperlukan dalam kondisi ini.

Mendengar adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papaua, Tzu Chi Biak segera mengadakan rapat koordinasi untuk membahas hal tersebut. Hasil rapat kemudian memutuskan untuk mengirimkan tim survei terlebih dahulu. Jumat, 19 Januari 2018, jam 5 pagi, tiga orang relawan Tzu Chi Biak: Indra Mahardany, Marcopolo, dan Adolfina Wamaer, serta Awi, relawan Tzu Chi Jayapura berangkat ke Timika menggunakan pesawat. Dari Timika ke Distrik Agats (Kapubaten Asmat) bisa menggunakan pesawat terbang, tetapi karena keterbatasan seat dan banyaknya orang yang menuju Asmat relawan kemudian memutuskan menggunakan trasportasi laut.

Kendala yang dihadapi adalah mahalnya sewa speed boat dari Timika ke Kabupaten Asmat yang mencapai puluhan juta rupiah. Pada saat tengah mencari speedboat di Pelabuhan Pomako, relawan mendapat info kalau ada kapal KM Leuser yang akan bertolak ke Agasts jam 3 dinihari. Tanpa menunggu lama relawan segera membeli tiket dan bersiap-siap menuju Asmat. Perjalanan ke Distrik Agats (Kab. Asmat) ditempuh selama 12 jam.

Sesampainya di Kabupaten Asmat relawan berkoordinasi dengan aparat Pemda setempat untuk bertemu dengan Bupati Asmat agar dapat dapat melaporkan kedatangan tim survei relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Relawan kemudian bertemu Tim Satgas KLB dan mengikuti rapat koordinasi dengan semua tim yang telah ada sebelumnya di Kabupaten Asmat.

doc tzu chi indonesia

Relawan Tzu Chi Biak dan Jayapura berkoordinasi dengan aparat Pemerintah di Kabupaten Timika untuk proses survei ini. Perjalanan dari Timika ke Asmat membutuhkan waktu 12 jam perjalanan dengan menggunakan kapal laut.

doc tzu chi indonesia

Aula GKI Betlehem Agats yang juga dipakai untuk posko pengobatan.

Sebelum rapat koordinasi relawan sempat menyaksikan evakuasi pasien ke RSUD Agats. Keterbatasan tempat menyebabkan beberapa pasien menunggu di depan rumah sakit umum daerah tersebut sebelum diarahkan ke tempat yang telah tersedia untuk menampung pasien. Pemerintah Kabupetan Asmat dan pihak TNI/Plori telah membentuk Satgas Bersama untuk menghadapi KLB ini. Sebanyak 8 posko didirikan di distrik-distrik dan menampung pasien. Karena terbatasnya Satgas dan tenaga medis jadi sementara hanya ada8 posko yang didirikan.

Kendala lain dalam evakuasi pasien dari posko di distrik-distrik ke RSUD Agats adalah jauhnya distrik tersebut dan sulitnya transportasi laut dalam menjangkau lokasi. Para pasien di distrik-distrik di Kabupaten Asmat di-screening terlebih dahulu di posko kesehatan tersebut, apabila ditemukan pasien yang kondisinya parah maka segera dievakuasi ke RSUD Agats. Pasien yang kondisinya masih ditangani diperiksa dan diberikan pengobatan terlebih dahulu di posko kesehatan sebelum kemudian dipulangkan. Pemda Asmat juga memberikan vaksin campak ke semua posko.

doc tzu chi indonesia

Speed boat menjadi sarana transportasi penghubung antar distrik di Kabupaten Asmat, Papua yang kondisi geografisnya merupakan tanah rawa.

Jumlah pasien yang meninggal dunia karena campak sangat banyak apabila dibandingkan dengan pasien penderita gizi buruk. Data dari Posko KLB Campak dan Gizi Buruk (tanggal 20 januari 2018) sebanyak 64 anak meninggal dunia akibat campak dan 3 anak akibat gizi buruk. Jumlah ini terus mengalami peningkatan karena masih ada distrik dan posko yang belum mengirimkan data-datanya.

Relawan kemudian melakukan survei ke RSUD Agats dan tempat-tempat lainnya. Di rumah sakit, Adolfina, relawan Tzu Chi membantu perawat yang bertugas karena memang tenaga medis amat diperlukan dalam kondisi ini. Di saat bersamaan relawan juga mendapat info kalau ada perkampungan kumuh di pinggiran Kota Agats. Masyarakatnya mayoritas bekerja serabutan untuk menghidupi keluarga. Yang memprihatinkan sekitar 350 anak dari umur 1 - 12 terlantar di tempat ini. Anak-anak usia sekolah tidak bersekolah sama sekali. Pastur Ino yang mempunyai keprihatin tinggi dengan warga Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Mbait membuka rumah baca didekat komunitas ini berada. Relawan memutuskan untuk juga memberikan bantuan di tempat ini karena kondisi masyarakatnya yang memprihatinkan .

Dari hasil survei ini diputuskan relawan Tzu Chi akan kembali ke Asmat, Papua dengan membawa barang-barang bantuan yang dibutuhkan oleh warga. Rencananya, tanggal 29 Januari 2018 relawan Tzu Chi akan berangkat kembali ke Kabupaten Asmat dari Timika Papua.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 1033 kali


Berita Terkait


Air Hujan Sebagai Sumber Kehidupan

26 Februari 2018

Menyebar Kasih ke Pedalaman Asmat

23 Februari 2018

Melihat dari Dekat Kehidupan Penduduk di Asmat

22 Februari 2018

Persiapan Bantuan Tzu Chi ke Asmat Gelombang 2

21 Februari 2018

Perhatian dan Kepedulian untuk Asmat

14 Februari 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat