Minggu, 27 September 2020
Indonesia | English

Tetes Cinta Kasih Tzu Chi untuk Dian dan Maliki

18 Agustus 2020 Jurnalis : Nur Azizah (DAAI TV Medan)
Fotografer : Nur Azizah (DAAI TV Medan), Dok. Tzu Chi

Secara berkala Liani (ketiga dari kiri) dan relawan Tzu Chi lain mengunjungi Dian dan Maliki untuk melihat kondisi mereka.

Bak pepatah, sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Melalui tetes cinta kasih yang tulus, relawan Tzu Chi bukan hanya memberikan perhatian bantuan pendidikan kepada Maliki, seorang anak asuh Tzu Chi, namun juga dapat menyembuhkan Dian, kakak Maliki dari gangguan kejiwaan. Hal ini memberikan secercah harapan dan luapan semangat bagi ibu mereka untuk tetap tegar berjuang, membesarkan kedua anaknya.

Alif... lam.. zai.. ya...” lirih suara Dian terdengar membaca susunan huruf Hijaiyah (berbahasa Arab) yang ia tulis sendiri di sebuah buku. Meski terbata-bata, Dian berusaha keras membacanya. Ia tak peduli dengan jumlah huruf yang salah baca. Namun dengan percaya diri Dian terus membaca dan menunjukkan kemampuan pesatnya kepada relawan Tzu Chi yang kala itu datang berkunjung ke rumahnya di Jalan Karya Bersama, Medan.

Dian Rahmatsyah (18) atau yang akrab disapa Dian adalah anak asuh Tzu Chi yang baru sembuh dari gangguan kejiwaan. “Padahal dahulu keadaan Dian sangat mengkhawatirkan. Dian suka marah, memukul, dan merusak benda yang ada di sekitarnya,” ucap Neneng, ibunda Dian yang juga memperhatikan anaknya membaca.

Takjub sekaligus bangga, ini yang dirasa relawan Tzu Chi melihat kemajuan pesat yang ada pada Dian. Jika mengingat kejadian sekitar 2 tahun lalu, sulit rasanya membayangkan jika Dian bisa sembuh. Namun kegigihan para relawan dalam memberi semangat dan harapan ternyata membantu Dian dan keluarganya.


Meski bekerja seharian, Neneng (tengah) selalu berusaha meluangkan waktu untuk kedua buah hatinya. Ibu pejuang keluarga ini begitu gigih dalam membesarkan anak-anaknya.


Semangat dan perhatian tulus dari relawan akan selalu ada di dalam hati Maliki.

Ibu Pejuang Kelurga

Neneng sendiri adalah ibu pejuang keluarga, seorang single parent. Ia sudah lama berpisah dari suaminya dan berjuang sendiri membesarkan kedua buah hatinya, Dian dan Maliki. Sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh cuci di 4 rumah. Ia berangkat sekitar pukul 8 pagi dan pulang sekitar pukul 1 siang. Setelah beristirahat sebentar, ia pun melanjutkan pekerjaan ke rumah lainnya sejak jam 2 siang hingga malam hari.

“Bagi saya, anak adalah titipan dari Tuhan yang harus dirawat dan dibesarkan sebaik mungkin. Saya memang bertekad membesarkan kedua anak saya dengan hasil jerih payah sendiri. Mudah-mudahan dengan hasil jerih payah ini, anak-anak bisa mandiri di kemudian hari,” ujar Neneng.

Diakui oleh Neneng, sejak kecil Dian memang memiliki gangguan pada perkembangannya. Ia yang harus bekerja dari pagi sampai malam tidak mampu membawa Dian untuk konsultasi ke dokter. Alhasil, Dian tumbuh dengan perhatian yang kurang dari ibunya. Semakin beranjak remaja, kondisi Dian semakin kurang baik. Emosinya tidak terkontrol. Bahkan ia sempat dikurung di suatu kamar karena khawatir mengganggu orang lain.


Kunjungan kasih adalah bentuk perhatian relawan Tzu Chi kepada Dian dan Maliki. Relawan tidak berhenti memberikan perhatian dan semangat untuk mereka. 


Liani membawa Dian konsultasi ke psikiater, dr. Taufik Wijaya. Kondisi Dian semakin membaik dengan konsultasi rutin yang dilakukan relawan dan keluarga Dian.

Beruntung Dian memiliki adik bernama Maliki (16). Maliki yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di sebuah Madrasah Aliyah Swasta di kota Medan adalah anak yang berbakti dan sayang keluarga. Ia memiliki tekad yang kuat untuk membantu ibu dan menjaga kakaknya. Maliki juga memiliki prestasi, akhlak, dan budi pekerti yang baik.

“Maliki adalah anak yang saleh. Anak yang berbakti. Untuk saat ini kami membantu biaya pendidikannya di sekolah yang baru. Karena dia berbakat di bidang keagamaan. Jadi sekolah yang dia masuki itu juga fokus di keagamaan. Kalau di kalangan remaja, dia memiliki prestasi, suka ikut kegiatan di masjid. Terakhir dia juga menjadi peserta terbaik dalam mengikuti kegiatan pesantren kilat,” ungkap Liani, relawan Tzu Chi yang kerap datang berkunjung.

Memulai Jalinan Jodoh

Suatu hari secara tidak sengaja, Neneng mendengar info mengenai bantuan pendidikan Tzu Chi dari salah satu tetangganya. Info ini ibarat berkah dari Tuhan yang sangat penting untuknya. Lalu pada 23 Maret 2018, ia pun mengantar surat permohonan ke Tzu Chi. Permohonan ini berisi bantuan biaya pendidikan Dian agar bisa sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan bantuan pendidikan untuk adiknya Dian yang bernama Maliki agar bisa bersekolah di sekolah Islam.

Permohonan biaya pendidikan untuk Maliki dikabulkan oleh Tzu Chi. Setiap bulan, Maliki memperoleh biaya pendidikan hingga kini. Sementara untuk Dian, relawan Tzu Chi justru memberikan perhatian lebih dengan membawanya konsultasi ke psikiater, dr. Taufik Wijaya. Sejak awal, Liani lah yang menangani kasus Dian dan Maliki. Sebagai relawan Tzu Chi, ia merasa terpanggil menangani kasus Dian yang kala itu mengalami gangguan kejiwaan yang cukup parah. “Pertama kali kami datang ke sini, kondisi Dian sangat labil. Orangnya pendiam tapi emosian. Waktu itu, interaksi dengan kami pun tidak mau,” kenang Liani.

Setelah diajak konsultasi ke psikiater, usahanya membuahkan hasil, yakni perubahan pada diri Dian. Para relawan semakin memberikan semangat dan perhatian kepada Dian dan keluarganya. Liani juga meminta kepada ibunda Dian yang kala itu sudah putus asa untuk mengurus Kartu Indonesia Sehat (KIS - BPJS) agar Dian bisa ditangani lebih lanjut. Neneng pun mengurusnya dan mendapatkan kartu itu sehingga Dian semakin intens berobat. Meski ditangani lewat BPJS, para relawan kerap berkunjung dan melihat perkembangan Dian sekaligus memberikan dukungan kepada Maliki.


Liani dan beberapa relawan Tzu Chi mengunjungi Neneng dan anak-anaknya. Para relawan sudah seperti keluarga bagi mereka.


Relawan mengajak menonton televisi dan bernyanyi untuk menghibur diri. Kondisi Dian semakin membaik. Selain bisa bernyanyi, Dian bahkan sudah bisa perkalian dan mengaji.

Saat ini, Dian sudah tidak dikurung. Ia sudah banyak berubah. Ia bahkan ikut sekolah mengaji dan sering salat ke masjid bersama Maliki. “Nyanyi-nyanyi juga sama kami. Melihat hal itu, hati kami sangat sukacita, karena berhasil menumbuhkan rasa percaya diri Dian sampai hari ini,” ujar Liani.

Liani sendiri memetik pelajaran dan berkah dengan menangani kasus ini bahwa, perhatian dan kasih sayang tulus justru dapat memberikan perubahan yang luar biasa bagi hidup orang lain. “Kami memberikan bantuan bukan hanya berupa materi yang diperlukan. Dengan memperhatikan Maliki dan Dian ini saya merasakan bahwa mereka adalah kelurga kami, mereka adalah anak-anak kami yang telah berhasil kami bimbing sehingga ada Maliki dan Dian hari ini,” ujar Liani.

Liani juga berharap semoga kelak mereka menjadi anak yang mandiri dan berbakti pada orang tua. “Saya berharap semoga Dian dan Maliki tetap jadi anak yang berbakti pada orang tua mereka. Tetap dapat menjalin jodoh baik dengan Tzu Chi,” lanjutnya.

Senada dengan Liani, Neneng pun menghaturkan rasa syukur atas jalinan jodohnya dengan Tzu Chi. Ia dan anak-anaknya bahkan sudah menganggap Liani dan relawan Tzu Chi seperti keluarga sendiri. Anaknya Dian dan Maliki malah menganggap Liani sebagai ibu angkat mereka.

“Peran Tzu Chi memang luar biasa dalam kehidupan saya. Dan saya mau berterima kasih untuk orang tua asuh Maliki, ibu Liani yang telah memperjuangkan anak-anak saya selama ini. Mudah-mudahan ia diberi kesehatan dan murah rezekinya,” ucap Neneng.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 339 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat