Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Turut Memulihkan Kembali Kehidupan Korban Bencana

26 Oktober 2018 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Pusat)


Robert menghampiri relawan sambil memasukkan dana ke dalam kotak dana amal.

Gempa berkekuatan 7,7 SR pada 28 September 2018 yang lalu telah meluluhlantahkan Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah. Sejak 3 Oktober 2018, relawan Tzu Chi Indonesia bersama dengan tim medis TIMA datang ke Palu untuk memberikan bantuan.

Pada 15 Oktober 2018, dilakukan penandatanganan MoU antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama dengan Sinar Mas Group dan Indofood dalam upaya restorasi pascabencana gempa dengan membangun 3.000 unit rumah di Sulawesi Tengah (Palu dan Donggala) dan Nusa Tenggara Barat (Lombok).

Sejak MoU ditandatangani, insan Tzu Chi di Indonesia giat menggalang dana demi tercapainya pembangunan 3000 unit rumah tersebut. Penggalangan dana ini mulai bergaung sejak Sabtu dan Minggu, 20-21 Oktober 2018. Setiap komunitas Tzu Chi mulai bergerak menggalang dana di setiap titik daerah yang ramai, seperti pusat perbelanjaan. 


Wati Kurniasih senang berkesempatan untuk berdonasi.


Dengan langkah pasti, Alfianto turun tangga, menghampiri insan Tzu Chi dan memasukkan dana ke kotak dana Tzu Chi.

Di komunitas He Qi Pusat, penggalangan dana dilakukan di tiga wilayah dalam kurun waktu yang hampir bersamaan yakni di Pasar Sunter Podomoro, Jakarta Utara,  Gedung ITC Mangga 2 Jakarta Pusat, dan Gedung ITC Roxi Mas, Jakarta Barat.

Pada Sabtu pagi, 20 Oktober 2018, 12 insan Tzu Chi komunitas Sunter menyebar di beberapa pintu masuk Pasar Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Relawan mengajak para pengunjung yang berbelanja di sana untuk berdonasi. Sambil menunggu salah satu anggota keluarga yang sedang berbelanja di lantai 2, Robert mengeluarkan uang dari dompetnya, berjalan menghampiri salah satu relawan sambil memasukkan dana ke dalam kotak dana amal.

“Spontan. Zhe pei (hati welas asih-red), membantu saudara kita yang terkena bencana gempa,” kata Robert mengenai alasannya mengapa mau berdonasi.


Ng Soi Hong (73) langsung mengeluarkan uang kertas untuk didanakan ke kotak amal “Gempa Palu dan Lombok, setelah mendengar tujuan Tzu Chi menggalang dana di Pasar Sunter Podomoro.


William, salah satu pengunjung pasar juga turut berdonasi.

Sementara saat menuruni anak tangga ketiga, Wati Kurniasih (35), warga Sunter mengeluarkan sisa uang belanja pagi itu. Ia berjalan menuju ke salah satu kotak amal yang dipegang insan Tzu Chi.

“Dari hati, pengen ngasih saja,” ucap Wati, sapaan singkatnya.  Sejak gempa melanda, Wati sudah ingin memberikan bantuan dana. “Ingin sekali, dari kemarin-kemarin sih, tapi dananya belum ada, belum bisa berbagi. Kebetulan pagi ini ada sedikit, langsung kasih saja,” ujar Wati dengan mata berkaca-kaca. 

Sementara itu Alfianto (30), salah satu warga Sunter datang bersama istri dan anaknya yang masih balita tengah berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Sunter Podomoro. Walau mengalami cacat kaki, cacat tangan dan kesulitan untuk berbicara, tidak membuat Alfianto enggan berbagi. Dengan terpatah-patah kakinya melangkah menaiki anak tangga kedua, mata Alfianto melirik insan Tzu Chi sedang menggalang dana. Sejenak ia menghentikan langkahnya sambil berbicara dengan istrinya. Tak beberapa lama kemudian, istrinya mengeluarkan secarik uang kertas dan diberikan kepada Alfianto. Dengan langkah pasti, Alfianto turun menghampiri insan Tzu Chi dan memasukkan dana ke kotak dana Tzu Chi.

“Panggilan hati. Kita sebagai manusia harus saling membantu.” ungkap Alfianto. Ia juga bercerita, sebelum gempa melanda Palu, keponakannya berada di Palu. “Untung saja sudah pulang. Seminggu ia pulang, terjadi gempa,” katanya sangat bersyukur keponakannya terhindar dari gempa. “Sabar. Ini adalah ujian. Harus dihadapi dan dijalankan.” tutupnya seraya berjalan menuju ke arah istri anaknya yang sedang menunggunya.

“Niat berdana. Dana Paramitha. Semua sudah ada jodohnya. Pasti ada jalannya. Tabah,” kata William (42). Sebenarnya William ingin bisa menjadi sukarelawan di Palu, tapi waktunya belum memungkinkan  karena anaknya masih bayi, masih membutuhkan perhatian orangtua.


Yadi, warga Warakas, Tanjung Priok, sedang menunggu kakaknya berbelanja, juga menghampiri salah satu kotak dana.

Waktu pun telah menunjukkan pukul 10 siang lewat, walau hanya ada 5 relawan, tidaklah membuat insan tzu Chi pupus semangat untuk terus menggalang dana. Yadi (61), warga Warakas, Tanjung Priok, yang sedang menunggu kakaknya berbelanja, menghampiri salah satu kotak dana, memasukan dana sambil berucap layaknya seperti untaian doa singkat.

“Barangkali bermanfaat bagi teman-teman kita, saudara-saudara kita yang terkena musibah.” Yadi juga berbagi bahwa rekan-rekannya dari salah satu stasiun radio swasta, sudah berangkat ke lokasi bencana menjadi sukarelawan membantu korban bencana. “Semoga saudara kita yang di sana, cepat pulih kembali. Jangan sampai terulang kembali,” harapannya bagi korban bencana.

Penggalangan dana yang berlangsung selama 2 hari pada hari Sabtu Minggu, 20-21 Oktober 2018, di Pasar Sunter Podomoro mendapat sambutan baik dari para pengunjung pasar Sunter dan para pemilik toko pasar. Kebajikan harus dilakukan secara bersama-sama agar wilayah itu terhindar dari bencana.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 313 kali


Berita Terkait


Galang Dana 3.000 Rumah di Acara Komunitas Ibu dan Anak

27 November 2018

Menggalang Donasi dan Menggalang Hati

19 November 2018

Galang Dana untuk 3.000 Rumah di Palu dan Lombok

06 November 2018

Gempa Palu: Warga Palu Tak Sendirian

11 Oktober 2018


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keindahan kelompok bergantung pada pembinaan diri setiap individunya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat