Senin, 18 November 2019
Indonesia | English

Waisak 2019: Mari Menopang Bumi dengan Dua Tangan Kita

14 Mei 2019 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Arimami Suryo A, Metta Wulandari, Sukardi (He Qi Utara 2)


Relawan Tzu Chi He Qi Utara 2 – Xie Li Pluit Ai Xin berfoto bersama dengan gaya menopang Bumi di bola dunia yang ditampilkan di Lobi Cibei, Lt.1 Aula Jing Si.

Sebuah bola besar dengan diameter sekitar 2 meter mencuri perhatian setiap mata peserta Waisak yang datang ke Aula Jing Si, kemarin (12/5/19). Dari yang sekadar melirik, mendekat, hingga penasaran dan meraba-raba tekstur si bola.

“Oh, ternyata botol plastik,” kata mereka bergumam.

Sebanyak 3.232 botol plastik yang tersusun dari tiga warna itu merepresentasikan Bumi. Warna putih (bening) membentuk gugusan daratan, sementara kombinasi biru muda dan biru tua membentuk lautan yang luas. Pulau-pulau di lima benua yang terpisah lautan pun terpampang sangat jelas di sana.

Sesuai tema Perayaan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia, Pelestarian Lingkungan dan Vegetarian, bola dunia dibuat untuk menunjukkan wajah Bumi yang kian mengkhawatirkan.

Sampah Dimana-mana
“Ini sih keren banget, unik,” kata Shelley, lulusan Trisakti School of Management yang datang bersama tiga temannya. Sembari menuang celengan bambu yang mereka bawa, mereka mengagumi replika Bumi di belakang mereka. “Tapi jadi jelek ya…, karena ada sampah-sampah nempel di laut-lautannya,” lanjutnya sedikit kecewa.

Relawan mengantre untuk foto di bola dunia. Sesuai tema Perayaan Tiga Hari Besar, Pelestarian Lingkungan dan Vegetarian, bola dunia dibuat untuk menunjukkan wajah Bumi yang kian mengkhawatirkan.

Mereka boleh saja kecewa, tapi begitulah sekiranya kondisi Bumi saat ini. Sampah, tidak lagi hanya ada di daratan.

Berton-ton sampah yang dihasilkan manusia perharinya, sebagian dari mereka berakhir di air. Dari mulai got, parit, kali, sungai, dan berkumpul menjadi satu di lautan. Sampah-sampah itu mengikuti aliran air kemanapun ia berarah. Mereka seakan bertemu satu sama lain lalu membentuk koloni hingga menjadi pulau sampah. Yang paling mengerikan, mereka bisa merusak ekosistem laut.

“Kalau lihat kondisi saat ini, rasanya kasihan sekali sama makhluk-makhluk laut yang tidak bisa memilih makanannya hingga akhirnya makan sampah. Banyak berita yang membuat kita semua prihatin dengan kondisi ini,” ucap Caroline Widjanarko, Kepala SD Tzu Chi Indonesia seusai berfoto di depan bola dunia dan membaca poster tentang pelestarian lingkungan.

Menjaga Masa Depan
Perasaan kecewa dan prihatin itulah yang sengaja ingin ditumbuhkan oleh tim dekor yang selama kurang lebih sebulan menyiapkan konsep bola dunia. “Pada saat para pengunjung melihat bola dunia ini, tujuannya biar mereka menyadari kalau kondisi alam kita sudah sangat memprihatinkan,” kata Lim Jeniliwaty, PIC dekor bola dunia. “Global warming sudah berpengaruh di daratan, lautan. Sampah itu nyatanya tidak hanya di sekitar kita, tapi di lautan juga ada dan sangat besar, sebesar pulau. Makanya ada pulau sampah,” lanjutnya.

Shelley (kedua dari kiri) dan teman-temannya terkesan dengan bola dunia yang terbuat dari ribuan plastik. Namun mereka menyayangkan sampah-sampah yang ada di lautannya.

Di dalam bola dunia itu, Jeni – panggilan karib relawan yang sudah sejak 2008 bergabung menjadi relawan Tzu Chi ini, menambahkan tumpukkan pulau sampah dan 11 kota yang terdeteksi akan mengalami krisis air bersih. Dari 11 kota di dunia, Jakarta, menduduki peringkat ke-6. “Ini sudah tidak bisa dianggap remeh lagi,” ungkapnya khawatir. “Ini masalah kita bersama,” tegas Jeni.

Tentu bukan hanya rasa kecewa dan prihatin saja yang ingin ditumbuhkan. Yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran dari masing-masing individu untuk ikut dalam aksi menjaga lingkungan dan menghemat pemakaian air bersih. Menurut Jeni, menjaga lingkungan sama dengan menjaga masa depan untuk nanti bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Shelley dan teman-temannya pun setuju bahwa kesadaran masyarakat luas dan kepedulian para kaum milenial turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian dunia. Terlebih, menurut mereka, kebiasaan buruk masyarakat yang selalu mengandalkan plastik, baik botol plastik, gelas plastik, sedotan plastik, kantong plastik, apapun yang berbentuk plastik, sangat menyumbang sampah.

Dibantu oleh beberapa relawan, Lim Jeniliwaty (seragam biru) menyusun bola dunia. Ia berharap bisa menyampaikan pesan pelestarian lingkungan melalui bola dunia ini.

“Contoh kecilnya seperti hobi minum kopi. Kalau dirata-rata, mungkin kebiasaan anak zaman sekarang, sehari bisa pesan kopi kemasan gelas plastik itu sekali. Hari tertentu bisa lebih. Itu ternyata sangat bikin sampah ya,” sambut Shelley. Menurutnya, membawa botol minum pribadi menjadi solusi baik untuk permasalahan ini. Shelley yang mengenal Tzu Chi sejak masih menjadi mahasiswa itu pun sudah melakukan kebiasaan baik tersebut.

Membiasakan Hal-hal Baik
Caroline Widjanarko melalui Sekolah Tzu Chi Indonesia juga terus mendukung aksi pelestarian lingkungan Tzu Chi. “Kalau pendidikan pelestarian lingkungan memang selalu dilakukan di sekolah yang kemudian dijadikan kebiasaan,” kata Caroline. “Menggunakan alat makan dan minum pribadi, selalu dilakukan. Pemilahan sampah juga terus digalakkan,” lanjutnya. Sekolah juga menyediakan pojok-pojok daur ulang yang ada di setiap lantai untuk memudahkan siswa memilah sampah mana saja yang bisa dan tidak bisa didaur ulang. Secara pribadi, Caroline sekeluarga telah bervegetaris untuk mendukung aksi pelestarian lingkungan dan menyebarkan cinta kasih kepada sesama.

Caroline Widjanarko, Kepala SD Tzu Chi Indonesia sangat mendukung aksi pelestarian lingkungan. Baik di sekolah maupun dalam kehidupan keluarganya.

Bukan hanya di Sekolah Tzu Chi Indonesia, hal serupa juga dilakukan oleh relawan He Qi Utara 2 – Xie Li Pluit Ai Xin. Aina Indrano, Linah, Jap Bon Kiun, Triana Putri, dan Henny Yohannes yang datang bersamaan mengaku rajin melakukan daur ulang seperti memilah sampah dan menghemat penggunaan plastik. “Saya juga suka kumpulkan karet gelang lho shijie. Kecil-kecil kan kadang kita suka kelupaan. Nah kalau sudah kumpul banyak, saya kasih ke tukang sayur biar bisa dipakai lagi,” kata Triana. “Kalau saya kumpulkan isi stapler,” imbuh Henny Yohannes.

Mereka pun tak lupa berswafoto dengan bola dunia. Usai berfoto, Aina Indrano seperti kembali diingatkan untuk melestarikan lingkungan dan menjaga bumi. “Kalau saya dengan langkah sederhana dengan sebisa mungkin menghargai berkah dengan tidak menyia-nyiakan apa yang kita punya. Tidak boleh asal buang trus beli baru,” kata Aina, “lebih baik mulai mengurangi belanja dan berbelanja sesuai kebutuhan.”

Andy Setioharto berfoto di depan bola dunia. Melihat bola dunia yang tersusun dari ribuan plastik, Andy terpukau sekaligus cemas karena menyadari sampah manusia terus bertambah.

Selain Aina, Linah, Jap Bon Kiun, Triana Putri, dan Henny Yohannes pun sepakat. “Kita harus bersatu hati. Tidak bisa hanya satu orang yang melakukan. Kita mulai dari diri kita sendiri untuk menjaga bumi ini. Semoga semakin banyak yang menyadari dan mengerti. Semoga kita juga bisa menginspirasi yang lain untuk menjaga bumi,” harap mereka.

Wariskan yang Baik
Menginspirasi sesama untuk melakukan pelestarian lingkungan tak luput oleh Andy Setioharto, relawan He Qi Barat 2 – Xie Li Tangerang. Sudah satu tahun ke belakang ini ia membuka titik pemilahan sampah di rumahnya, di Cipondoh. Tak hanya membuka, dirinya mengajak relawan dan warga lingkungan perumahannya yang bersedia untuk melakukan pemilahan sampah setiap hari Minggu di pekan ketiga per bulannya.

“Dulu sekitar tahun 2012, kami pernah buka titik pemilahan di rumah tapi bertahan cuma tiga empat bulan. Setelah itu warga masih suka antar sampah ke rumah saya. Akhirnya saya cuma telepon ke depo Gading Serpong untuk ambil saja,” jelas Andy.


Di rumahnya di wilayah Cipondoh, Andy Setioharto membuka titik pemilahan sampah. Kini mereka melakukan pemilahan sampah setiap hari Minggu di pekan ketiga per bulannya.

Menyadari bahwa manusia menciptakan banyak sampah ditambah dengan imbauan pelestarian lingkungan yang terus digalakkan oleh Tzu Chi. Titik pemilahan yang sempat vakum tersebut, hidup kembali pada Februari 2018. “Saat ini ada sekitar 10 relawan yang rutin melakukan pemilahan sampah. Mereka yang dulunya hanya tetangga saya, sekarang menjadi mitra bajik saya di Tzu Chi. Semua sudah bergabung menjadi relawan,” tutur relawan yang bergabung dengan Tzu Chi tahun 2008 itu senang.

Melihat bola dunia yang tersusun dari ribuan plastik, Andy terpukau sekaligus cemas karena menyadari sampah manusia terus bertambah. Padahal manusia hanya mempunyai satu Bumi saja. Untuk itu ia mengimbau setiap relawan bisa melakukan pelestarian lingkungan dan menyebarluaskan aksi peduli Bumi.

“Keinginan Master Cheng Yen itu supaya dunia ini bisa kita wariskan dengan baik ke generasi mendatang. Semoga kita bisa membantu mewujudkannya,” harap Andy.

Jeni, PIC dekor pun turut mengharapkan hal yang sama. “Semoga lebih banyak orang sadar bahwa setiap hari kita memproduksi sampah yang sangat banyak dan menggunakan air sangat banyak. Jadi ke depannya semoga kita bisa diet plastik dan menghemat air,” tegasnya.


Editor: Arimami Suryo A.

Artikel dibaca sebanyak : 853 kali


Berita Terkait


BEM FIB Universitas Indonesia Kembali Kunjungi Tzu Chi Center

11 Juni 2019

Waisak 2019: Membalut Perayaan Waisak dengan Aksi Pelestarian Lingkungan

20 Mei 2019

Waisak 2019: Sebagai Ungkapan Terima Kasih

20 Mei 2019

Waisak 2019: Sederhana Namun Penuh Makna

14 Mei 2019

Waisak 2019: Indahnya Formasi dan Makna Di dalamnya

13 Mei 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tanamkan rasa syukur pada anak-anak sejak kecil, setelah dewasa ia akan tahu bersumbangsih bagi masyarakat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat