Waisak 2556: Doa dan Ketulusan

Jurnalis : Moralis (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun), Fotografer : Mie Li (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun)
 

fotoUsai upacara pemandian rupang Buddha, relawan memperingati hari ibu dengan menyuguhkan teh kepada para ibu sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Setiap tahunnya di bulan ke-5 minggu ke-2, bagi seluruh insan Tzu Chi yang tinggal di kota, pedesaan bahkan di seluruh pelosok, pada hari ini merupakan hari yang amat istimewa dan juga menjadi hari yang patut disyukuri. Setiap tahunnya pada hari ini merupakan hari peringatan untuk 3 hari raya besar, Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Sebagai wujud ungkapan syukur kepada 3 budi besar yaitu, budi 3 mustika ( Buddha, Dhamma, Sangha),  budi orang tua, dan budi semua makhluk.

 

Bertempat di SD Maha Bodhi, tahun ini adalah untuk pertama kalinya kantor penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan perayaan hari Waisak di luar ruangan. Satu minggu sebelum hari perayaan relawan Tzu Chi mulai mengundang masyarakat umum untuk menghadiri perayaan Waisak yang khidmat. Para relawan juga dengan sepenuh hati mendekorasi tempat dan panggung perayaan. Relawan yang diundang untuk mengikuti gladi bersih tanpa mengenal lelah berjuang langkah demi langkah, dengan harapan dapat mempersembahkan perayaan waisak dengan tertib dan khidmat, kesungguhan dan tekad hati dari relawan telah menginspirasi relawan lainnya, membuat keluhan hati mencair menjadi rasa bahagia.

Malam sebelum hari raya tempat perayaan diguyur oleh hujan deras begitu pula ketika hari perayaan terjadi hujan gerimis, hal ini membuat relawan merasa cemas akan pelaksaan hari Waisak ini. Akan tetapi, yang patut disyukuri adalah beberapa saat sebelum perayaan hujan akhirnya berhenti, cuaca pun perlahan-lahan menjadi cerah. Tepat pukul 9 pagi, 79 relawan membuka babak pertama perayaan Waisak.

Dengan ketulusan hati “bersujud di kaki Buddha dan menerima harumnya bunga”, dengan harapan ajaran dan jiwa Buddha dapat terserap di dalam hati, demi membentuk jiwa yang dipenuh dengan rasa cinta dan rasa syukur. Babak pertama perayaan Waisak telah usai, para relawan mulai memegang kartu bodhi, serta menulis harapan mereka di kartu tersebut, kemudian menggantung kartu tersebut ke atas batang pohon. Hal ini telah memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengungkapkan harapannya, karena dengan adanya harapan maka timbullah kekuatan.

foto   foto

Keterangan :

  • Tahun ini adalah untuk pertama kalinya kantor penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan perayaan hari Waisak di luar ruangan (kiri).
  • Setiap orang menulis harapan mereka di kartu berbentuk daun bodhi, kemudian menggantung kartu tersebut ke atas batang pohon (kanan).

Kemudian setelah itu 71 orang tamu mulai berdatangan satu persatu. Orang tua yang umurnya sudah lewat dari setengah abad, ataupun Bodhisatwa tua yang beragama Kristen, serta balita yang masih digendong dalam pelukan ibunya juga hadir di perayaan ini, untuk merasakan kebijaksanaan Buddha yang bagai laut luas. Babak kedua perayaan Waisak dibuka dengan sempurna melalui alunan musik yang indah. Cai Ai-ling salah satu relawan Tzu Chi yang diwawancara pada saat itu menyatakan tidak menyangka perayaan Waisak kali ini dapat tertib dan teratur seperti ini, karena di malam sebelum perayaan dia sempat mencemaskan meditasi pradaksina akan berantakan, namun tidak seperti yang dibayangkan olehnya, hari ini semua relawan sangat rapi saat berjalan, hal ini membuatnya merasa sangat terkejut.

Salah satu relawan yang baru pertama kali menghadiri acara perayaan Waisak  Mai Yi-xian mengatakan sangat senang dapat menghadiri perayaan Waisak ini, dia berharap tahun depan akan ada lebih banyak relawan yang hadir dalam kegiatan yang sangat bermakna ini, karena dia ingin membagikan rasa senang dalam hatinya untuk semua orang.

Setelah perayaan Waisak berakhir, para relawan mempersembahkan sebuah lagu “Tangan Ibu” kepada seluruh Ibu yang hadir, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas pengorbanan Ibu selama ini. kemudian diadakan upacara pemberian teh, anak-anak dengan tertib berlutut dihadapan Ibu, kemudian mempersembahkan segelas teh untuk ibunya, terakhir ditambah dengan sebuah pelukan hangat, mata para ibu yang sedang duduk pun memerah karena peristiwa ini. karena rasa haru ini, sehingga merasa pengorbanannya selama ini layak dilakukan.

Setelah peristiwa mengharukan ini, perayaan acara Waisak telah mendekati akhir. Semoga perayaan Waisak yang khidmat dan tertib ini, doa serta harapan tulus dari semua orang dapat terdengar oleh Tuhan, hati manusia menjadi bersih, masyarakat tentram, dunia damai tanpa ada bencana.

  
 

Artikel Terkait

Hidup Sehat di Kala Senja

Hidup Sehat di Kala Senja

29 Desember 2011 Dokter mengajak opa dan oma melakukan lebih banyak gerakan. Jika tidak memungkinkan bisa dilakukan dengan kursi roda atau tongkat penyangga sambil didampingi anak-anak mereka, serta lebih sering berjemur di atas sinar matahari. Saran ini akan sangat membantu kesembuhan opa oma.
Hal-hal yang Sering Luput dari Perhatian Guru

Hal-hal yang Sering Luput dari Perhatian Guru

06 November 2018

Perkembangan dan well being pada anak dipaparkan secara mendalam oleh Elizabeth Santosa, seorang psikolog anak dalam seminar pendidikan yang diadakan Tzu Chi Indonesia pada Sabtu, 3 November 2018. Sementara bagaimana mendidik karakter anak di tengah pesatnya kemajuan teknologi di sampaikan dengan gamblang oleh Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.PD.

Suara Kasih: Menjalankan Misi Tzu Chi

Suara Kasih: Menjalankan Misi Tzu Chi

20 Mei 2011
Dalam memperingati 3 hari raya sekaligus, kita dapat melihat insan Tzu Chi dari berbagai negara bersatu hati demi ajaran Buddha dan demi semua makhluk. Selain itu, mereka juga terjun ke tengah masyarakat untuk mengimbau orang agar bertobat dan bervegetarian.
Memiliki sepasang tangan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, sama saja seperti orang yang tidak memiliki tangan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -