Jumat, 13 Desember 2019
Indonesia | English

Wajah-Wajah Bahagia di Pelestarian Lingkungan

23 April 2019 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Metta Wulandari


Yessie Christina bersama para orang tua penuh berkah memilah sampah bersama di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi PIK, Jakarta Utara. Kegiatan pemilahan sampah ini mereka lakukan rutin setiap hari Selasa tiap pekannya.

Semilir angin tertiup dari lubang-lubang pagar Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Di dalamnya ada sekitar 25 orang, relawan dan juga warga masyarakat sekitaran wilayah PIK. Mereka berbincang dengan topik ini itu, hangat, dan diselingi dengan canda tawa. Siapa sangka mereka baru saja saling kenal. “Baru dua kali ketemu,” kata Cing Mei mengomentari orang di sebelahnya, Sany.

Cing Mei tahun ini berusia 68 tahun. Kesibukannya tidak banyak, hanya ikut komunitas senam beberapa kali seminggu dan sisanya hanya di rumah. “Paling nonton tv, tidur. Itu juga susah tidur karena sudah kebanyakan tidur. Jadi bosan, keluar masuk kamar saja,” ceritanya sambil menyobek dan memilah kertas bekas.

Rutinitas Cing Mei juga sama seperti kegiatan sehari-hari Lie Ie Ing. Nenek berusia 76 itu lelah hanya menganggur di rumah. “Cucu semuanya sudah besar, sudah tidak perlu dijagain lagi,” katanya sedikit tersenyum. Jadilah mereka selalu merasa kesepian. Makanya ketika mendengar gerakan Orang Tua Penuh Berkah, mereka seperti mendapat undangan pesta.

Selayaknya pesta, pertemuan para relawan lanjut usia ini selalu ramai karena ada 10 lebih orang tua yang sudah ikut dalam Gerakan Orang Tua Penuh Berkah ini. Keadaannya bertolak belakang dengan kondisi mereka di rumah yang lelah karena hanya menonton televisi. “Di sini kan ada banyak teman baru, teman ngobrol. Tangan gerak, badan aktif,” ujar Lie Ie Ing. “Lagian kalau pulang dari sini, badan rasanya enteng dan karena sudah capek, jadi gampang tidur,” tambahnya senang.


Lie Ie Ing merasa senang bisa ikut menjadi bagian dari gerakan orang tua penuh berkah. Melalui kegiatan pilah sampah ini dirinya bisa lebih aktif dan bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Lalu, apa yang mereka lakukan? Mereka memilah sampah. Di pesta ini mereka dijamu dengan berbagai hidangan: kertas-kertas bekas, botol plastik, kaleng, dan barang daur ulang lainnya. Bukannya menampik, mereka malah senang. “Ini kan sampah ya, kalau dibiarkan saja tidak akan baik, tapi kalau bisa dimanfaatkan, akan menjadi baik,” kata Lie Ie Ing yang mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari orang tua yang penuh berkah. “Hidup saya kan sudah nyaman, perlu bersyukur masih sehat. Jadi lewat kegiatan ini, saya bersyukur masih bisa beraktivitas,” katanya bangga.

Menjadi Orang yang Penuh Berkah

Gerakan Orang Tua Penuh Berkah adalah gerakan yang digagas Yessie Christina, relawan He Qi Utara 1, yang menginginkan kegiatan pelestarian lingkungan bisa terlaksana di komunitasnya. Awalnya ia tidak ada niatan sama sekali menggalang hati para lansia di sekitaran rumahnya di PIK. Mengingat warga di wilayah ini termasuk orang-orang yang tingkat perekonomiannya menengah ke atas. Pasti susah untuk mengajak mereka melakukan pemilahan sampah. Dan memang benar adanya.

Penolakan demi penolakan diterima oleh Yessie ketika berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajak tetangganya ikut kegiatan pelestarian lingkungan. “Ada yang langsung menolak, ada yang kasih isyarat penolakan, pokoknya semua menolak,” ingat Yessie. Baginya menggalang hati kali ini lebih sulit daripada menggalang dana. Tapi Yessie tidak ingin begitu saja mundur karena ia mengingat Master Cheng Yen terus menyerukan aksi pelestarian lingkungan. Ia juga mengingat bagaimana Master sudah tidak lagi muda dan ingin membuat Master tidak khawatir dengan keadaan lingkungan.


Berbagai barang yang dipilah dalam kegiatan hari itu meliputi botol plastik, kertas, dan kaleng. Relawan berharap pemilahan sampah ini bisa mengurangi dampak buruk sampah untuk lingkungan dan hasilnya bisa bermanfaat untuk orang yang membutuhkan.

Dari penolakan di wilayahnya, ia dan relawan He Qi Utara 1 lainnya memulai sosialisasi memilah sampah di kantin Tzu Chi Center, Yessie mulai memperkenalkan pelestarian lingkungan kepada masyarakat umum. Berbagai tanggapan kembali mereka terima, ada yang menolak, ada juga yang menerima. Baginya itu juga merupakan latihan kesabaran. Yang pasti ia berpegang teguh pada tekadnya, mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan. Ia juga mengangkat gerakan Orang Tua Penuh Berkah dalam mengajak setiap orang.

Dari sosialisasi tersebut, satu per satu mulai tergerak. Yessie juga bercerita mengenai bagaimana sumbangsih depo pelestarian lingkungan terhadap bumi, lingkungan, dan sesama yang membutuhkan. “Dengan begitu mereka ke depo bukan untuk pilah sampah, melainkan pilah emas dan permata menjadi cinta kasih. Cinta kasih menyinari semua kegelapan,” ungkap Yessie. “Kami bilang mereka sungguh orang tua yang penuh berkah karena yang mereka lakukan dengan kedua tangannya adalah demi cinta kasih bukan untuk kantong pribadi,” lanjut ibu tiga anak itu.

Bergerilya Bersama

Dari satu orang ke orang lainnya, kabar tentang pesta kecil-kecilan itu tersebar semakin luas. Gerakan Orang Tua Penuh Berkah itu semakin terdengar. Dari telinga Ng Tjai Phin, karib Yessie, kabar itu ia sebarkan ke komunitas senam pagi di wilayahnya. “Saya tawarkan ke teman-teman saya, siapa tahu ada yang peduli dan bersedia ikut,” kata Tjai Pin. Tak disangka, beberapa dari anggota senam langsung tertarik dan merasa penuh berkah. Dia pun ikut bersemangat.


Wajah-wajah bahagia tercermin dalam kegiatan pemilahan sampah karena para orang tua yang sebelumnya bosan dengan rutinitasnya kini bisa bertemu dengan teman-teman baru dan melakukan kegiatan bersama.

Satu, dua orang mulai menghubunginya untuk bertanya jadwal dan lokasi kegiatan. Wilayah Pantai Indah Kapuk yang terbilang luas menjadi satu kendala tersendiri. Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi PIK yang berada di ujung sebelah utara wilayah ini dirasa punya jarak yang cukup jauh untuk ditempuh. Apalagi bagi para lansia.

Relawan tak habis akal. Ibu-ibu yang mandiri ini membentuk satu tim lagi bernama tim mobil penuh berkah. Isinya para relawan, yang bersedia menyediakan kendaraan akomodasi untuk menjemput dan mengantar para orang tua - lansia untuk mengikuti pemilahan sampah di depo. Tak hanya satu, tapi ada enam relawan yang langsung bersedia menjadi sopir untuk menjemput meraka. “Master mengatakan bahwa kalau ada niat, pasti ada jalan. Saya bersyukur memiliki mitra bajik yang saling mendukung untuk berbuat kebajikan bersama,” ungkap Yessie.

“Saya sama sekali tidak keberatan untuk menjemput dan mengantar para oma ini, malah senang karena mereka mau ikut jadi semangatnya menular ke saya,” aku Tjai Pin yang kadang bisa dua kali bolak balik menjemput para relawan lansia. “Di sini kan bersumbangsih, berbagi, jadi pembawaannya bahagia aja,” tegasnya.


Ng Tjai Phin (seragam relawan) tidak hanya menemani para relawan lansia saat memilah sampah. Ia juga siap sedia menjemput dan mengantar mereka kembali setelah usai berkegiatan.

Walaupun masih seperti bayi, para relawan He Qi Utara 1 optimis bisa terus mengembangkan gerakan Orang Tua Penuh Berkah ini. Paling tidak mereka bisa membagikan inspirasi ini kepada masyarakat luas untuk ‘yuk saling bergandengan tangan menyelamatkan bumi yang sedang sakit’. Kegiatan yang dilakukan setiap hari Selasa tiap pekan itu juga diharapkan bisa menggalang lebih banyak Bodhisatwa yang peduli akan pelestarian lingkungan.

“Semoga kegiatan ini bisa memberikan influence kepada relawan dan kita semua sehingga kita sama-sama melakukan pelestarian lingkungan atau membentuk gerakan seperti ini juga. Intinya saya berharap akan ada banyak titik-titik pemilahan sampah di wilayah lain,” harap Yessie.


Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 412 kali


Berita Terkait


Sudahkah Reuse Menjadi Bagian Hidup Kita?

06 Desember 2019

Pelestarian Lingkungan, salah satu Ladang Cinta Kasih

25 November 2019

Bazar Reuse, Demi Pelestarian Lingkungan, Lalu untuk Amal

07 Oktober 2019

Stop Buang-buang Makanan!

06 September 2019

Semangat Pelestarian Lingkungan di Festival Tzu Chi Xie Li Kampar

14 Agustus 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kita sendiri harus bersumbangsih terlebih dahulu, baru dapat menggerakkan orang lain untuk berperan serta.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat