Mengajar dalam Keheningan
Di sela-sela pengobatan, Alex Salim tetap berusaha menyebarkan semangat kepada sesama pasien yang sedang berjuang menghadapi penyakit. Melalui kisah dan pengalamannya, beliau mengajak orang lain untuk tetap menjaga harapan serta menemukan sukacita dalam Dharma.
Hari-hari di ICU menjadi masa yang sangat berat bagi kami. Setiap jam kunjungan, Mama, saya, dan saudara-saudara saya selalu berusaha mencari cara untuk menyemangati Papa. Kami menuliskan pesan-pesan sederhana di secarik kertas dan menempelkannya di sekitar tempat tidur beliau. Salah satunya bertuliskan, “You Are Our Best Father.” Kami ingin Papa tahu bahwa beliau dicintai dan tidak pernah berjuang sendirian.
Kami juga menyanyikan lagu-lagu yang beliau sukai, membacakan doa, mengingatkan satu sama lain untuk terus menguatkan hati, serta berusaha menenangkan pikiran Papa. Ketika berkesempatan masuk ke ruang ICU, kami membantu mengoleskan lotion ke kaki beliau, menggenggam tangannya, dan berbicara seperti biasa, seolah ingin mengisi ruang-ruang sunyi dengan kasih sayang yang selama ini telah beliau berikan kepada kami.
Sebelum memasuki ruang ICU, kami selalu menyempatkan diri berdoa di ruang doa yang berada di depan unit tersebut. Hari demi hari, kami terus berharap Papa dapat melewati masa kritis ini.
Namun pada siang hari tanggal 13 November 2025, ketidakkekalan kembali menunjukkan wajahnya.
Saat itu kami sedang berkumpul di tempat tinggal Papa dan Mama di Hualien. Seperti biasa, kami melantunkan doa sebelum bersiap menjenguk Papa pada jam kunjungan siang. Tiba-tiba sebuah telepon berbunyi. Ketika panggilan itu diangkat, perawat dari rumah sakit meminta kami segera datang karena tekanan darah Papa mendadak menurun.
Saat itu rasanya seluruh tubuh kami melemas. Tidak ada yang sanggup berkata-kata. Kami segera berangkat menuju rumah sakit dengan hati yang dipenuhi ketakutan dan harapan yang bercampur menjadi satu.
Padahal beberapa hari sebelumnya kondisi Papa masih terlihat cukup baik. Bahkan sehari sebelum pelantikan saya, kami sempat menunjukkan sebuah video berisi pesan semangat dari teman-teman relawan di Jakarta, Medan, para mentor, serta relawan yang akan dilantik bersama saya. Papa merespons video tersebut dengan sangat baik. Karena itu, kabar yang kami terima siang itu terasa begitu mendadak.
Sesampainya di rumah sakit, Ju Shifu dan beberapa Jing Si Shifu juga telah datang menemani kami. Kami diberi kesempatan untuk berkumpul di sisi Papa. Satu per satu anggota keluarga menggenggam tangan beliau dan menyampaikan hal-hal yang selama ini tersimpan di dalam hati.
Saat itu saya merasakan kesedihan yang sangat dalam. Ada rasa tidak rela yang terus muncul karena semuanya terjadi begitu cepat. Namun di saat yang sama, saya juga teringat bahwa setiap kehidupan memiliki naskahnya sendiri dan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindari ketidakkekalan.
Sambil menggenggam tangan Papa, saya berulang kali mengucapkan terima kasih karena beliau telah menjadi ayah terbaik dalam hidup saya. Saya mengatakan bahwa Papa adalah panutan saya, dan saya berharap suatu hari nanti dapat kembali menjadi anak beliau. Saya juga berjanji akan menjaga Mama dengan baik sehingga Papa tidak perlu merasa khawatir.
Satu per satu anggota keluarga juga menyampaikan isi hati mereka.
Ju Shifu turut berbicara kepada Papa, mengingatkan bahwa anak-anak dan keluarga sangat mencintainya. Shifu juga mengatakan bahwa Hualien telah menjadi rumah kedua bagi Papa dan bahwa beliau memiliki jalinan jodoh yang begitu dekat dengan Master. Tidak perlu takut menghadapi ketidakkekalan, karena perjalanan berikutnya juga akan dipenuhi oleh jalinan kasih yang sama.
Beberapa sahabat Papa pun datang memberikan penghormatan dan menyampaikan kata-kata terakhir mereka.
Setelah itu kami tetap berada di sisi Papa. Doa terus dilantunkan tanpa henti. Lagu-lagu Tzu Chi yang beliau sukai diperdengarkan dengan lembut. Salah satunya adalah Xiang Shi Dou (Lambang Kerinduan pada Guru), lagu yang sering didengarkan Papa karena mencerminkan tekad untuk terus mengikuti jalan Master.
Setiap kali lagu itu diputar, raut wajah Papa terlihat lebih tenang.
Alex Salim dan keluarga mendengarkan sharing Dharma dari De Ju Shifu saat berkunjung ke Griya Jing Si di Hualien. Melalui bimbingan para Shifu, keluarga memperoleh banyak kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi berbagai perjalanan kehidupan.
Malam itu, adik perempuan kami yang sedang menempuh pendidikan di Fo Guang Shan akhirnya tiba di Hualien. Tidak lama setelah kedatangannya, perawat menyampaikan bahwa Papa telah beristirahat dengan tenang.
Di tengah kesedihan yang mendalam, kami teringat kembali tekad yang pernah Papa sampaikan bertahun-tahun sebelumnya, ketika pertama kali mengenal makna seorang Silent Mentor di Taiwan.
Tekad itu tidak pernah berubah.
Karena itulah, ketika seluruh persyaratan medis dinyatakan memenuhi ketentuan, kami sekeluarga memutuskan untuk membantu mewujudkan ikrar yang telah Papa pegang selama ini. Bukan karena kami siap berpisah, melainkan karena kami ingin menghormati pilihan hidup yang telah beliau tetapkan dengan penuh kesadaran.
Pada akhirnya, Papa benar-benar menjadi seorang Silent Mentor, seperti yang pernah beliau cita-citakan.
Malam itu, kami membantu memakaikan seragam komite dan jas komite yang selama ini begitu berarti bagi beliau. Saya, Mama, dan adik perempuan saya kemudian mendampingi perjalanan terakhir Papa menuju Universitas Tzu Chi.
Sepanjang perjalanan di dalam ambulans, saya lebih banyak terdiam. Rasanya begitu banyak hal terjadi dalam waktu yang sangat singkat sehingga saya belum sepenuhnya mampu memahaminya.
Sesampainya di Universitas Tzu Chi, kami memberi tahu Papa bahwa beliau telah tiba di tempat yang selama ini begitu dekat di hatinya.
Ju Shifu dan beberapa Jing Si Shifu telah menunggu untuk memimpin doa dan memberikan penghormatan terakhir. Sebelum Papa dibawa ke ruang penyimpanan khusus, kami seluruh anak-anak memberikan penghormatan dengan penuh rasa syukur dan cinta.
Malam itu kami tidak langsung pulang. Kami melanjutkan doa hingga menjelang subuh.
Di tengah kesedihan yang kami rasakan, kami juga dipertemukan dengan begitu banyak kebaikan. Relawan Tzu Chi di Hualien, para Jing Si Shifu, relawan dari Indonesia, serta sahabat-sahabat dari berbagai tempat terus hadir memberikan dukungan dan menemani kami melewati masa yang tidak mudah tersebut.
Namun perjalanan Papa sebagai Silent Mentor belum berakhir.
Enam bulan kemudian, kami kembali ke Hualien untuk memenuhi satu janji terakhir yang telah beliau tanamkan sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Penghormatan Terakhir
Pada April 2026, enam bulan setelah kepergian Papa, kami sekeluarga kembali ke Hualien untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir sebelum Papa secara resmi menyelesaikan perjalanannya sebagai Silent Mentor. Prosesi penghormatan dilaksanakan pada 13 April 2026, sedangkan kremasi dilakukan keesokan harinya, pada 14 April 2026.
Sehari sebelum prosesi berlangsung, kami mengikuti rangkaian gladi resik yang diadakan di Universitas Tzu Chi. Pada kesempatan itu, para dokter memperkenalkan kembali para guru yang telah membimbing mereka selama proses pembelajaran, termasuk para Silent Mentor yang telah mendonasikan tubuh mereka untuk dunia pendidikan kedokteran. Momen tersebut sangat mengharukan.
Keluarga mendampingi dan merawat Alex Salim selama menjalani pengobatan di Hualien. Setiap perhatian sederhana, termasuk belajar memijat untuk membantu beliau lebih rileks dan nyaman, menjadi wujud kasih sayang yang menemani perjalanan pengobatan tersebut.
Satu per satu dokter menceritakan siapa guru mereka, bagaimana perjalanan hidupnya, serta alasan yang membuat mereka memilih menjadi Silent Mentor. Saya, Mama, dan keluarga Silent Mentor lainnya tidak kuasa menahan air mata. Kenangan tentang orang-orang yang kami cintai kembali hadir satu per satu. Dalam prosesi kali itu terdapat delapan Silent Mentor, dan Papa berada pada kelompok nomor lima.
Berbeda dengan yang sering kami lihat sebelumnya, kali ini bukan mahasiswa kedokteran yang belajar melalui para Silent Mentor, melainkan para dokter yang sedang mendalami keterampilan medis mereka. Mendengar bagaimana para dokter berbicara tentang para guru mereka membuat kami semakin merasakan bahwa keputusan Papa menjadi Silent Mentor benar-benar telah memberikan manfaat bagi banyak orang.
Keesokan harinya, prosesi penghormatan terakhir dimulai. Kami mengikuti mentor yang akan mendampingi keluarga sepanjang prosesi penghormatan hingga kremasi. Acara diawali dengan doa yang dipimpin oleh Jing Si Shifu. Para dokter turut melantunkan doa bersama, kemudian perwakilan keluarga memberikan penghormatan kepada para Silent Mentor.
Setelah itu, tibalah saat yang paling berat bagi saya. Untuk terakhir kalinya, kami diperbolehkan melihat Papa.
De Ju Shifu turut mendampingi Mama, kedua kakak saya, saya, dan keponakan kami. Li Zhen Shigu, yang selama ini banyak membantu relawan Indonesia di Hualien, juga ikut hadir dalam prosesi tersebut.
Kami berjalan menuju ruangan yang menyerupai ruang operasi. Saat tiba di kelompok nomor lima, tempat Papa berada, tubuh beliau masih tertutup kain putih.
Ketika dokter membuka kain tersebut, saya kembali melihat wajah Papa. Saat itulah saya benar-benar tersadar bahwa Papa telah pergi. Ini adalah terakhir kalinya saya dapat melihat beliau.
Wajah Papa terlihat sangat tenang. Tidak ada raut kesakitan. Wajahnya tampak segar dan damai, seolah sedang beristirahat dengan tenang. Melihat wajah itu, saya tidak mampu menahan air mata. Di dalam hati, saya terus mengucapkan rasa syukur karena telah memiliki seorang ayah yang begitu baik dan penuh cinta kasih kepada anak-anaknya.
Saya juga terus berdoa semoga masih ada jalinan jodoh ayah dan anak di kehidupan yang akan datang. Saya ingin menjadi anak Papa lagi. Saya ingin memiliki kesempatan untuk kembali berbakti kepada beliau dan membahagiakannya sekali lagi. Setelah memberikan penghormatan terakhir, kami perlahan meninggalkan ruangan tersebut.
Keluarga memberikan penghormatan terakhir kepada Alex Salim dalam prosesi Silent Mentor di Universitas Tzu Chi. Momen penuh haru ini menjadi wujud penghormatan sekaligus ungkapan syukur atas tekad beliau untuk terus bersumbangsih hingga napas terakhir.
Hari itu saya kembali merasakan begitu banyak kehangatan dari orang-orang di sekitar kami. De Wei Shifu yang saat itu sedang sangat sibuk tetap menyempatkan diri hadir dan memberikan perhatian kepada keluarga kami. Li Xian Shigu turut membantu menyiapkan konsumsi bagi keluarga Silent Mentor. Banyak Shifu dan Shigu yang datang memberikan dukungan, memeluk kami, dan menguatkan hati kami.
Mereka mengatakan bahwa Papa adalah seseorang yang penuh berkah. Melalui jalinan jodoh yang baik, beliau masih dapat membantu para dokter bahkan setelah napasnya berhenti. Kata-kata itu memberikan ketenangan tersendiri bagi kami sekeluarga.
Keesokan harinya, prosesi kremasi dilaksanakan.
Sejak pagi kami telah berkumpul di aula Universitas Tzu Chi. Prosesi diawali dengan doa bersama yang dihadiri keluarga para Silent Mentor, para dokter, staf universitas, serta para Shifu dari Griya Jing Si.
Setelah doa selesai, kami berjalan menuju peti Papa. Satu per satu kami meletakkan bunga dan memberikan penghormatan terakhir. Hari itu begitu banyak orang yang datang mengantar Papa.
Shijie Christina yang selama ini membantu mendampingi Papa ikut hadir. Li Xian Shigu, Li Zhen Shigu, Shelly Shigu, Sufei Mami, serta para Shigu dari Da Ai Tech Shop di Hualien juga turut mengantar beliau. Kami berjalan bersama hingga titik terakhir di depan Universitas Tzu Chi.
Selanjutnya hanya keluarga inti yang melanjutkan perjalanan menuju krematorium di Ji'an. Di sana, kami memberikan penghormatan terakhir kepada Papa.
Setelah prosesi kremasi selesai, kami kembali ke Universitas Tzu Chi dan mendengarkan presentasi para dokter mengenai pengalaman mereka belajar bersama para Silent Mentor. Salah satu perwakilan keluarga Silent Mentor juga menyampaikan kesannya.
Saat itu saya menyadari bahwa bukan hanya keluarga yang merasa kehilangan. Banyak dokter yang juga terharu. Banyak yang menangis. Mereka tidak hanya melihat para Silent Mentor sebagai sarana pembelajaran, tetapi sebagai guru yang telah memberikan pelajaran terakhir tentang kehidupan, pengabdian, dan cinta kasih.
Warisan yang Terus Hidup
Sebelum kami pulang, para dokter menyerahkan sebuah amplop besar kepada keluarga. Di dalamnya terdapat surat-surat yang mereka tulis setelah belajar bersama para Silent Mentor selama beberapa hari. Mereka menuliskan rasa terima kasih, rasa hormat, serta janji untuk menjadi dokter yang lebih baik di masa depan.
Bagi saya, surat-surat itu menjadi hadiah yang sangat berharga.
Melalui tulisan-tulisan tersebut, saya melihat bagaimana tekad Papa benar-benar terwujud. Bahkan setelah napasnya berhenti, beliau masih mengajar, memberi, dan membantu orang lain.
Dengan iringan doa dan rasa syukur, mendiang Alex Salim diantar menuju peristirahatan terakhirnya. Prosesi ini menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan hidup sekaligus awal dari warisan cinta kasih yang terus hidup dalam banyak hati.
Bagi Mama, Ng Siu Tju, perjalanan mendampingi Papa selama menjalani pengobatan di Tzu Chi Hospital Hualien juga meninggalkan banyak pelajaran yang tidak terlupakan.
Menurut Mama, sejak awal Papa sudah memahami Dharma Master Cheng Yen tentang ketidakkekalan kehidupan. Lahir, tua, sakit, dan meninggal merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari. Karena itu, ketika didiagnosis menderita kanker, Papa selalu mengingat pesan Master, bahwa urusan penyakit sebaiknya diserahkan kepada dokter yang ahli, sedangkan batin harus terus disiram dengan Dharma agar tetap ikhlas dan damai dalam menghadapi segala keadaan.
Pemahaman itulah yang membuat Papa menjalani pengobatan dengan begitu tenang. Selama mendampingi beliau, Mama melihat bagaimana Papa selalu berusaha disiplin mengikuti anjuran dokter, menjaga hubungan baik dengan para perawat, dokter, dan staf rumah sakit, serta tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.
Papa juga berusaha menjalankan pesan Master untuk menggenggam setiap kesempatan yang ada. Bahkan di sela-sela jadwal kemoterapi, ketika memiliki waktu jeda sekitar dua minggu, beliau masih menyempatkan diri pulang ke Indonesia untuk mengikuti kegiatan bakti sosial operasi katarak di Palembang maupun kegiatan donor darah di Jakarta. Setiap kali selesai bersumbangsih, Papa selalu merasa sangat bahagia. Bagi beliau, itulah sukacita dalam Dharma.
Mama juga mengungkapkan rasa syukurnya kepada Master karena kedua anak mereka, Benny Salim dan saya, Jessica Salim, telah dilantik menjadi relawan komite dan menjadi murid Master. Seperti yang sering disampaikan Master Cheng Yen, mewariskan semangat cinta kasih dari generasi ke generasi jauh lebih bermakna daripada mewariskan harta benda. Bagi Papa dan Mama, melihat anak-anak mereka melangkah di jalan Bodhisattva dan ikut bersumbangsih merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai.
Karena itu pula, ketika harapan terakhir Papa untuk menjadi Silent Mentor akhirnya dapat terwujud, Mama dan seluruh keluarga merasa sangat bersyukur. Seperti yang sering dikatakan Papa semasa hidupnya, beliau ingin terus bersumbangsih hingga napas terakhir. Tekad itulah yang akhirnya benar-benar diwujudkan oleh Papa, bahkan setelah kehidupan beliau berakhir.
Papa mungkin sudah tidak lagi bersama kami secara fisik, namun nilai-nilai yang beliau hidupi akan selalu tinggal dalam hati kami. Kesederhanaannya,kerendahan hatinya, kebiasaannya untuk selalu membantu orang lain, dan keyakinannya untuk terus memberi selama masih memiliki kesempatan.
Kami sekeluarga juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Master Cheng Yen, para Jing Si Shifu, keluarga besar Tzu Chi di Hualien maupun Indonesia, serta semua pihak yang telah mendampingi kami dalam melewati masa-masa yang tidak mudah ini.
Di tengah kesedihan, mereka membantu kami memahami bahwa cinta kasih tidak berhenti pada pertemuan maupun perpisahan. Melalui bimbingan para Shifu, kami belajar perlahan melepaskan keterikatan dan mengubah Xiao Ai menjadi Da Ai, mengubah cinta kasih yang hanya tertuju pada keluarga menjadi cinta kasih yang lebih luas bagi semua orang.
Para dokter memberikan penghormatan kepada mendiang Alex Salim dalam prosesi Silent Mentor di Universitas Tzu Chi. Bagi mereka, beliau bukan sekadar pendonor tubuh, melainkan seorang guru yang mengajarkan nilai kemanusiaan, rasa hormat, dan cinta kasih melalui tindakan nyata.
Dari perjalanan Papa, kami belajar bahwa hidup seseorang tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari manfaat yang ditinggalkannya bagi orang lain. Di masa pengobatan, kami belajar tentang kesabaran. Di masa-masa sulit, kami belajar tentang kebersamaan. Dan melalui keputusan Papa menjadi Silent Mentor, kami belajar bahwa perpisahan tidak selalu berakhir dengan kehilangan. Kadang-kadang, perpisahan justru berubah menjadi cinta kasih yang terus hidup dan mengalir kepada banyak orang.
Papa mungkin sudah tidak lagi berada di sisi kami, namun beliau tetap hidup dalam setiap nilai yang diwariskannya, dalam setiap kebaikan yang pernah ditanamkannya, dan dalam setiap orang yang kelak terbantu oleh ilmu yang dipelajari dari seorang Silent Mentor bernama Alex Salim.
Seakan-akan seluruh perjalanan hidup beliau bermuara pada satu pelajaran sederhana, bahwa bahkan di akhir kehidupan pun, seseorang masih bisa menjadi terang bagi orang lain.