Menjadi Guru Hingga Akhir Hayat
Dituturkan oleh Jessica Salim
Pada masa hidupnya, Mendiang Alex Salim dan sang Istri, Ng Siu Tju aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan Tzu Chi, termasuk mengunjungi para pengungsi korban letusan Gunung Sinabung. Melalui kebersamaan, perhatian, dan sukacita yang dibagikan, keduanya berupaya menghadirkan kehangatan bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit.
“Bagi saya, ayah adalah sosok ayah terbaik, yang mengajarkan banyak hal penting dalam hidup saya. Sosok teladan dan pribadi sederhana yang terus menggenggam setiap kesempatan untuk bersumbangsih, bahkan di tengah kondisi tubuh yang melemah. Tekad ayah menjadi Silent Mentor bukan hanya menjadi pilihan terakhir, tetapi warisan kehidupan yang terus mengajar dalam keheningan. Dari perjalanan kehidupan ayah, saya belajar bahwa perpisahan tidak selalu berarti kehilangan, melainkan cinta kasih yang terus hidup dan mengalir bagi banyak orang.” (Jessica Salim)
*****
Papa saya, yang Shixiong-Shijie kenal dengan nama Alex Salim, adalah sosok yang selalu berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat baik. Bagi kami sekeluarga, beliau adalah pribadi yang ringan tangan, rendah hati, dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Sejak mengenal Tzu Chi, Papa semakin banyak memberikan teladan melalui tindakan nyata dan berbagai pembelajaran yang beliau bagikan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kesibukannya, Papa tetap aktif berkegiatan dan meluangkan waktu untuk membantu sesama.
Salah satu nilai yang selalu dipegang Papa adalah bahwa hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, ketika mengikuti Camp Pengusaha di Tzu Chi Taiwan dan mendengar penjelasan mengenai Silent Mentor, hati Papa langsung tersentuh.
Saat itu, Papa mendengar bahwa setelah seseorang meninggal dunia, tubuhnya masih dapat memberikan manfaat bagi para mahasiswa kedokteran sebagai sarana pembelajaran. Melalui proses tersebut, para calon dokter diharapkan dapat memahami tubuh manusia dengan lebih baik sehingga kelak mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
Penjelasan itu sangat membekas di hati Papa. Beliau melihat bahwa bahkan setelah kehidupan berakhir, seseorang masih dapat terus memberi manfaat bagi banyak orang. Sejak saat itulah Papa menyampaikan tekadnya untuk suatu hari nanti menjadi seorang Silent Mentor.
Tekad itu tidak pernah hilang. Justru seiring waktu, semakin menjadi bagian dari cara Papa memandang kehidupan. Bagi beliau, kesempatan untuk berbuat baik tidak berhenti ketika seseorang masih sehat atau berada dalam kondisi terbaiknya. Selama masih memiliki waktu, tenaga, dan kemampuan, selalu ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu orang lain.
Pandangan itulah yang kemudian terlihat dalam keseharian Papa. Beliau tidak pernah menyukai hidup yang berlebihan. Kesederhanaan menjadi bagian yang sangat melekat dalam dirinya. Meskipun memperoleh kehidupan yang baik melalui kerja keras dan usahanya sendiri, Papa selalu memilih hidup secara bersahaja. Menurut beliau, tidak ada alasan untuk merasa gengsi. Selama suatu barang masih dapat digunakan, maka sebaiknya digunakan sebaik mungkin.
Untuk urusan makan, pakaian, maupun kebutuhan sehari-hari, Papa selalu memilih yang sederhana dan secukupnya. Namun ketika berbicara tentang membantu orang lain, beliau tidak pernah ragu. Untuk berdonasi, membantu keluarga yang membutuhkan biaya pengobatan, atau mendukung kegiatan kemanusiaan, Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Sikap itu juga terlihat selama Papa menjalani pengobatan di Hualien. Di tengah kondisi kesehatannya yang menurun, beliau tetap bersyukur dengan tempat tinggal sederhana yang ditempati selama masa pengobatan, menikmati masakan rumahan yang disiapkan Mama, serta terbiasa memperbaiki barang-barang yang masih dapat digunakan sebelum memutuskan membeli yang baru.

Bersama sang istri, Ng Siu Tju, Alex Salim aktif mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan dan kunjungan kasih Tzu Chi. Di mana pun berada, keduanya selalu berusaha menebarkan kehangatan, menjalin jodoh baik, dan menghadirkan sukacita bagi sesama.
Papa juga bukan tipe orang yang bisa berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Jika sedang berada di tempat tinggal, beliau selalu menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Kadang memperbaiki peralatan yang rusak, menjahit atau memperbaiki pakaian yang sudah longgar, memilah sampah, hingga menunggu petugas kebersihan datang mengambil sampah yang telah dipisahkan dengan rapi.
Di sela-sela jadwal pengobatan, Papa juga beberapa kali kembali ke Indonesia untuk mengikuti kegiatan bakti sosial kesehatan. Beliau sempat ikut membantu dalam kegiatan di Jakarta maupun Palembang. Bagi Papa, kondisi kesehatan yang sedang menurun bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Selama masih mampu melangkah, beliau ingin tetap hadir dan membantu sesama.
Bahkan ketika menjalani perawatan di Tzu Chi Hospital Hualien, Papa tetap berusaha memberi semangat kepada orang lain. Saya masih ingat, suatu ketika ada seorang Shigu (relawan wanita) pemerhati dari Hsinchu yang sedang melakukan guan huai di rumah sakit. Melihat semangat dan keceriaan Papa selama menjalani pengobatan, Shigu tersebut mengundang Papa untuk berbagi pengalaman kepada para pasien lain dalam sebuah acara yang diadakan di lobi rumah sakit.
Saat itu sebenarnya kondisi Papa cukup lelah karena baru menjalani salah satu siklus kemoterapi. Namun beliau tetap bersedia hadir dan berbagi dengan penuh semangat. Papa menceritakan pengalamannya menjalani pengobatan dan memberikan semangat kepada pasien-pasien lain yang sedang berjuang. Bahkan di luar kegiatan tersebut, Papa juga kerap menelepon teman-temannya yang sedang menjalani pengobatan untuk saling menguatkan.
Di luar jadwal pengobatan, Papa juga sering menyempatkan diri kembali ke Griya Jing Si untuk bertemu Shifu dan membantu berbagai pekerjaan yang dapat beliau lakukan. Terkadang beliau ikut memetik sayuran atau membantu pekerjaan sederhana lainnya. Bagi Papa, selama masih mampu bergerak dan berkarya, selalu ada hal yang bisa dilakukan untuk membantu.
Mungkin karena itulah, ada satu kalimat yang sering kami dengar dari Papa. Beliau selalu mengatakan bahwa dirinya ingin menggenggam setiap kesempatan yang ada karena tidak pernah tahu kapan ketidakkekalan akan datang, apakah hari ini atau hari esok.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun ketika melihat cara Papa menjalani hidupnya, saya memahami bahwa beliau sungguh-sungguh menjalankannya. Papa tidak menunggu waktu yang sempurna untuk berbuat baik. Beliau memilih melakukannya sekarang, selagi masih memiliki kesempatan.
Menjalani Hari-Hari dengan Hati yang Tenang
Pada tahun 2024, kondisi kesehatan Papa kembali menurun. Setelah berdiskusi bersama, kami sekeluarga memutuskan untuk membawa Papa menjalani pengobatan di Tzu Chi Hospital Hualien. Selain mempertimbangkan kualitas pelayanan medis yang ada, kami juga merasa bahwa sebagai keluarga relawan Tzu Chi, menjalani pengobatan di rumah sakit Tzu Chi dapat memberikan ketenangan batin bagi Papa. Di sana, Papa juga merasa lebih dekat dengan Master Cheng Yen, sesuatu yang menjadi sumber kekuatan tersendiri baginya selama menjalani pengobatan.
Bersama keluarga, Alex Salim beberapa kali berkunjung ke Griya Jing Si Taiwan untuk belajar Dharma dan mengikuti berbagai kegiatan Tzu Chi. Kedekatan dengan lingkungan Jing Si turut memperkuat tekad beliau untuk menjalani hidup yang sederhana, bermanfaat, dan penuh cinta kasih.
Selama berada di Hualien, Papa dan Mama (Ng Siu Tju) beberapa kali berkesempatan bertemu dengan Master. Dalam kesempatan tersebut, mereka menceritakan bahwa Papa sedang menjalani pengobatan di Tzu Chi Hospital Hualien. Master selalu berpesan agar menjaga hati tetap tenang dan menyerahkan urusan tubuh kepada para dokter yang merawat.
Pesan sederhana itu terus diingat oleh Papa dan menjadi pegangan selama menjalani proses pengobatan.
Karena itulah, apa pun yang harus dijalani, Papa selalu berusaha menerimanya dengan tenang. Lebih dari tiga puluh kali kemoterapi, terapi target, radioterapi, hingga imunoterapi dijalani satu per satu tanpa banyak keluhan. Sebagai anak, saya melihat sendiri bagaimana Papa berusaha menghadapi semuanya dengan keteguhan hati yang luar biasa. Tentu ada masa-masa yang tidak mudah, tetapi Papa selalu menunjukkan sikap yang tenang dan penuh keyakinan, seolah terus mengingat pesan Master Cheng Yen untuk menjaga hati tetap damai dalam keadaan apa pun.
Ketenangan hati Papa selama menjalani pengobatan juga tidak lepas dari peran Mama. Sebagai pendamping hidup yang selalu berada di sisinya, Mama senantiasa menemani Papa dengan penuh kesabaran dan ketulusan.
Setiap pagi, Mama mendengarkan Xun Fa Xiang (menghirup harumnya dharma) dan kemudian membagikan Dharma Master yang didengarnya kepada Papa. Tidak jarang Mama juga membagikan cerita-cerita sederhana dan kata-kata yang membangkitkan semangat. Kehangatan dan sikap positif Mama menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi Papa dalam menjalani hari-harinya.
Sebagai anak, saya melihat Papa dan Mama menjalani masa pengobatan ini dengan cara yang berbeda. Mereka tidak melihatnya sebagai penderitaan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan kehidupan yang perlu dijalani dengan hati yang lapang. Di tengah berbagai proses pengobatan yang panjang dan tidak mudah, keduanya tetap berusaha menjalani hari-hari dengan rasa syukur.
Alex Salim yang ditemani Ng Siu Tju menjalani rutinitas berjalan pagi di lingkungan Universitas Tzu Chi Hualien selama masa pengobatan. Dari tempat inilah mereka beberapa kali menyaksikan prosesi penghormatan para Silent Mentor, sebuah pengalaman yang semakin menguatkan tekad Alex untuk suatu hari ikut menapaki jalan yang sama.
Sikap mereka banyak mengajarkan saya. Tentu saya sering merasa cemas dan takut menghadapi ketidakpastian. Saya selalu berdoa agar kedua orang tua saya diberikan kesehatan. Namun melihat keteguhan hati Papa dan Mama, saya belajar untuk tidak larut dalam kekhawatiran. Ketenangan mereka perlahan menular kepada saya dan membuat saya belajar melihat segala sesuatu dengan lebih positif.
Di tengah berbagai proses pengobatan yang panjang itu, ada satu kebiasaan sederhana yang hampir selalu dilakukan Papa dan Mama setiap pagi. Kebiasaan itulah yang tanpa disadari semakin menguatkan tekad Papa untuk suatu hari nanti benar-benar menjadi seorang Silent Mentor.
Waktu yang Ditunggu dan Ketidakkekalan yang Datang
Di tengah berbagai proses pengobatan yang panjang itu, ada satu kebiasaan sederhana yang hampir selalu dilakukan Papa dan Mama setiap pagi. Keduanya sering berjalan kaki di sekitar area depan Universitas Tzu Chi. Dari kebiasaan itulah mereka beberapa kali menyaksikan prosesi penghormatan dan pengantaran para Silent Mentor.
Hingga saat itu, Papa dan Mama sudah sekitar enam kali mengikuti prosesi tersebut, meskipun hanya dari kejauhan. Namun setiap kali menyaksikannya, keduanya selalu merasa tersentuh. Suasana yang tenang, penuh penghormatan, dan sarat makna meninggalkan kesan yang mendalam. Biasanya mereka akan berdiri di bawah pepohonan di sekitar area prosesi, ikut berdoa dan memberikan penghormatan dengan khusyuk. Saya sendiri pernah ikut dua kali menyaksikannya ketika berkesempatan menjenguk Papa di sana.
Di sela-sela masa pengobatan di Hualien, Alex Salim tetap menyempatkan diri membantu berbagai kegiatan di Griya Jing Si, termasuk menyiapkan sayuran untuk kebutuhan dapur. Bagi beliau, selama masih memiliki tenaga dan kesempatan, selalu ada hal yang dapat dilakukan untuk membantu sesama.
Bagi Papa, prosesi itu bukan sekadar sebuah upacara. Setiap kali melihat para Silent Mentor diantar dengan penuh rasa hormat, beliau kembali teringat pada tekad yang pernah disampaikannya bertahun-tahun sebelumnya. Tekad untuk suatu hari nanti juga dapat menjadi bagian dari perjalanan mulia tersebut.
Di sisi lain, prosesi-prosesi itu juga mengingatkan Papa bahwa tidak ada seorang pun yang pernah mengetahui kapan ketidakkekalan akan datang. Karena itulah, lagi dan lagi, beliau selalu mengatakan bahwa setiap kesempatan harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Tidak ada yang tahu apakah kesempatan itu masih ada esok hari atau justru berakhir hari ini.
Mungkin itulah pula yang menjadi alasan Papa selalu berusaha menjalani setiap hari dengan penuh makna. Bahkan ketika sedang menjalani pengobatan, beliau tetap berusaha membantu orang lain, tetap berbagi semangat, dan tetap menjalani kehidupan dengan rasa syukur.
Namun ketidakkekalan datang lebih cepat daripada yang kami bayangkan.
Salah satu momen yang paling dinantikan Papa adalah pelantikan saya sebagai relawan komite pada tanggal 10 November 2025. Sejak lama beliau menantikan hari tersebut. Bahkan beberapa minggu sebelumnya, Papa sempat berlatih menguatkan kakinya agar dapat hadir secara langsung. Saya tahu betapa besar harapan Papa untuk dapat menyaksikan momen itu bersama kami.
Namun pada akhir Oktober 2025, kondisi kesehatan Papa mulai memburuk. Infeksi yang menyerang tubuhnya berkembang dengan sangat cepat dan agresif. Pada malam tanggal 3 November 2025, Papa harus dipindahkan ke ruang ICU.
Malam itu menjadi salah satu malam yang paling berat bagi keluarga kami. Saat Papa akan dibawa ke ICU, kami semua berusaha saling menguatkan. Di tengah kekhawatiran yang begitu besar, kami masih menyimpan harapan bahwa Papa akan mampu melewati masa kritis ini seperti yang pernah beliau lakukan sebelumnya.
Sebelum dipindahkan, Papa sempat mengatakan bahwa beliau teringat pesan Master. Papa merasa telah menerima blessing dari Master sehingga hatinya menjadi lebih tenang dan siap berusaha menjalani apa pun yang ada di depan mata. Kami juga menempatkan foto Master yang diberikan oleh Jing Si Shifu di samping tempat tidur Papa di ruang ICU.
Di sela-sela menjalani pengobatan di Tzu Chi Hospital Hualien, Alex Salim masih menyempatkan diri pulang ke Indonesia dan bersumbangsih dalam beberapa kegiatan bakti sosial kesehatan di Palembang dan Jakarta.
Hari-hari pertama di ICU dipenuhi harapan sekaligus kegelisahan. Tim dokter terus berupaya menemukan antibiotik yang paling tepat untuk mengatasi infeksi yang ada. Karena aturan rumah sakit, kami hanya dapat menjenguk Papa pada jam-jam tertentu. Di luar waktu itu, yang dapat kami lakukan hanyalah menunggu dan berdoa.
Setiap pagi, siang, dan malam, kami melantunkan doa tanpa henti. Doa menjadi pegangan yang menguatkan hati kami di tengah ketidakpastian. Saat itu saya benar-benar memahami apa yang sering disampaikan Master, bahwa ketika satu anggota keluarga sedang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan kegelisahannya.
Di tengah masa yang tidak mudah itu, kami juga menerima begitu banyak perhatian dan dukungan. Beberapa Shigu dan Shixiong datang menjenguk Papa serta memberikan semangat kepada kami sekeluarga. Ju Shifu dan beberapa Jing Si Shifu juga beberapa kali datang menemui Papa, menyampaikan pesan-pesan Master yang menenangkan, dan berbicara langsung kepada beliau di ruang ICU.
Tanggal 10 November 2025 akhirnya tiba.
Hari itu saya resmi dilantik menjadi relawan komite. Seharusnya itu menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan bagi Papa. Di tengah rasa syukur yang saya rasakan, ada kesedihan yang begitu besar karena beliau tidak dapat hadir secara langsung.
Setelah pelantikan selesai, saya segera bergegas menuju rumah sakit. Saya berdiri di depan ruang ICU dengan harapan dapat segera bertemu Papa, namun saat itu bukan jam kunjungan dan Papa juga sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Keesokan harinya, ketika akhirnya saya dapat menjenguk beliau, saya menyampaikan bahwa saya telah resmi dilantik. Saat itulah seorang perawat menghampiri saya dan menceritakan sesuatu yang sangat membekas di hati saya.
Pada pagi hari saat pelantikan berlangsung, perawat tersebut sempat berbincang dengan Papa. Ia mengatakan kepada Papa bahwa hari itu putrinya sedang dilantik menjadi relawan komite. Menurut cerita perawat tersebut, Papa mengangguk dan tersenyum dari balik ventilator yang terpasang. Beliau tampak ingin merespons dan berbicara, meskipun tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata.
Mendengar cerita itu, hati saya terasa hangat sekaligus haru. Saya tahu Papa mendengarnya dan saya tahu beliau ikut berbahagia.