“Aku Cinta Lingkungan”

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto
 
 

fotoSebanyak 90 anak SD Santa Ursula (kelas IV dan V) mengunjungi Sekolah dan Posko Daur Ulang Tzu Chi. Di antara mereka juga terdapat puluhan anggota "Acil" (Aku Cinta Lingkungan) yang menjadi penggerak dan pelopor pelestarian lingkungan di sekolah mereka.

Usia mereka rata-rata belum genap 12 tahun, tetapi soal komitmen merawat lingkungan, sepertinya tak perlu diragukan lagi. “Merekalah pelopor pelestarian lingkungan di sekolah kami,” kata Darmadji, Wakil Kepada Sekolah Dasar Santa Ursula Jakarta. Menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan pelestarian lingkungan di sekolah, pihak SD Santa Ursula pun merekrut dari setiap kelas 5 orang siswa untuk menjadi anggota “Acil” (Aku Cinta Lingkungan). Saat ini anggota Acil sudah berjumlah 60 orang dan mereka tidak hanya melakukan aksi kebersihan, tetapi juga menjadi teladan bagi teman-temannya.

Agar anggota Acil dan para siswa lainnya mendapatkan gambaran lengkap tentang pelestarian lingkungan dan masalah pemilahan sampah, maka mereka pun berkunjung ke Sekolah dan Posko Daur Ulang Tzu Chi. “Kami menganggap di sini (Tzu Chi) adalah media yang tepat bagi anak-anak untuk mempraktikkan langsung bagaimana cara melestarikan lingkungan, salah satunya lewat pemilahan sampah,” kata Darmadji, “ini merupakan pengalaman baru untuk mereka.”

Konsep “5R” (Re-Think, Reduce, Reuse, Repair, and Recycle)
Kamis, 11 Maret 2010, sebanyak 90 siswa SD Santa Ursula Jakarta mengadakan kunjungan ke Sekolah dan Posko Daur Ulang Tzu Chi. Tujuan kunjungan ini adalah untuk menumbuhkan kepedulian para siswa mempraktikkan konsep 3 R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Di Tzu Chi, konsep ini ditambah 2 menjadi 5 R (Re-Think: memikirkan kembali, Reduce: mengurangi, Reuse: menggunakan kembali, Repair: memperbaiki, dan Recycle: mengolah kembali). “Jadi, adik-adik kalau mau membeli mainan baru, harus dipikirkan kembali apakah mainan itu benar-benar diperlukan atau tidak,” kata Jasin, relawan Tzu Chi yang memberikan penjelasan tentang pelestarian lingkungan.

Bertempat di Aula Lantai 3 Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, para siswa-siswi SD Santa Ursula ini tidak hanya mendapatkan penjelasan tentang konsep pelestarian di Tzu Chi, tetapi mereka juga memperoleh informasi dan pengetahuan tentang Tzu Chi, pendiri Tzu Chi: Master Cheng Yen, dan bagaimana Tzu Chi memulai kegiatan sosialnya. Untuk menyegarkan suasana, salah seorang relawan Tzu Chi, Mei Rong, mengajak para siswa-siswi ini bermain games yang menuntut konsentrasi, kecepatan bergerak dan berpikir anak. Sebuah games yang juga ternyata membawa keceriaan dan kebahagiaan bagi mereka.

foto  foto

Ket : - Selain menjelaskan tentang Yayasan Buddha Tzu Chi, Chi Mei Rong yang seorang relawan Tzu Chi           juga mengajak anak-anak bermain games untuk menghidupkan suasana. (kiri)
       - Para siswa pun berani mengungkapkan perasaan mereka terhadap masalah lingkungan. tampak Jasin,          relawan Tzu Chi sedang mengajak anak-anak untuk belajar mengurangi pemakaian barang yang tidak          perlu. (kanan)

Saatnya Memilah Sampah
Usai memperoleh penjelasan tentang daur ulang, para siswa pun diajak menuju ke Posko Daur Ulang Tzu Chi. Dengan mengenakan masker dan sarung tangan, mereka secara berkelompok membentuk barisan panjang yang rapi. Setiap kelompok didampingi oleh satu perwakilan orangtua murid. Begitu sampai di posko daur ulang, setiap anak tampak antusias memilah sampah. Sampah botol plastik, kertas, dan kaleng mereka pilah sesuai dengan jenisnya. Tak nampak rasa jijik ataupun enggan untuk memegang sampah-sampah yang sebenarnya jauh dari kehidupan mereka sehari-hari.

Viky Bernadeth Tjia, siswi kelas 5 B yang juga Ketua Acil mengatakan, “Seru banget, menyenangkan, dan senang bisa berpartisipasi melestarikan lingkungan.” Viky sendiri secara sukarela menjadi anggota Acil karena merasa bahwa merawat dan melestarikan lingkungan harus dibangun dari kesadaran diri sendiri. “Kalau lingkungan kita sehat, nyaman, dan bersih, kita pun akan dapat belajar dengan tenang,” kata Viky.

Sementara bagi Chelsea, anggota Acil lainnya, “Seru, ngalamin yang pertama kali (memilah sampah).” “Senang bisa ikut menjaga lingkungan, sekaligus menambah pengetahuan kita dalam pemilahan sampah,” tambah Georgie yang mengaku pernah melakukan sosialisasi tentang komposter di lingkungan tempat tinggalnya.

foto  foto

Ket : - Wakil Kepala SD Santa Ursula, Darmadji menyerahkan cindera mata dari sekolahnya untuk Kepala SD             Cinta Kasih Tzu Chi. (kiri).
        - Memilah sampah merupakan pengalaman pertama bagi mayoritas siswa-siswi SD Santa Ursula             Jakarta. “Seru, ngalamin yang pertama kali (memilah sampah),” kata Chelsea, salah satu siswi SD             Santa Ursula. (kanan)

Acil yang Beragam
Kegiatan Acil sendiri cukup beragam, mulai dari pembuatan komposter, pemilahan sampah, hingga mengambil (memungut) sampah yang dibuang sembarangan oleh siswa lainnya. “Kalau masih ada orangnya kita akan tegur untuk tidak membuang sampah sembarangan,” tegas Viky.

Pemanfaatan sampah daur ulang pun sudah mereka lakukan. Para siswa dianjurkan untuk membuang sampah secara terpisah sesuai jenisnya: organik dan non-organik. Yang organik dijadikan kompos dan pupuk cair, sedangkan yang non-organik: plastik, kertas koran dan lain-lain dijual ke pengepul. “Seminggu sekali kita jual, dan hasilnya dimanfaatkan untuk kegiatan study tour siswa untuk menunjang pembelajaran,” kata Darmadji.

Melalui kunjungan ini, Darmadji berharap kepedulian para siswa terhadap lingkungan semakin meningkat. “Dengan melihat sendiri dan mempraktikkannya, saya harap anak-anak bisa menghargai sampah dan tidak lagi membuang sembarangan,” kata Darmadji, “tujuan akhirnya sebenarnya menumbuhkan kesadaran pada anak-anak untuk tidak menghasilkan atau memperbanyak sampah.”

  
 
 

Artikel Terkait

Cinta Kasih Bersemi di Antara Pohon Sawit

Cinta Kasih Bersemi di Antara Pohon Sawit

01 Februari 2007 Propinsi Riau ternyata tidak hanya memiliki tanah yang subur yang ditandai dengan banyaknya perkebunan kelapa sawit, namun juga memiliki ’lahan’ yang subur untuk ditanami cinta kasih. Tzu Chi pada tanggal 21 Januari 2007 menanaminya dengan cinta kasih di sela-sela perkebunan kelapa sawit.
Waisak 2022: Ungkapan Ketulusan Tiga Hari Besar

Waisak 2022: Ungkapan Ketulusan Tiga Hari Besar

20 Mei 2022

Para relawan Tzu Chi Pekanbaru bersama-sama mengikuti serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Raya Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi sedunia.

Membangkitkan Cinta Kasih untuk Bumi Sejak Dini

Membangkitkan Cinta Kasih untuk Bumi Sejak Dini

31 Juli 2019
Kelas bimbingan budi pekerti He Qi Pusat pada Minggu, 14 Juli 2019 mengusung tema pemilahan sumber daya dan menyanyangi, serta menghargai bumi. Sebanyak 24 murid qing zi ban besar, 27 murid tzu shao ban, dan 14 orang tua murid hadir mengikuti kelas yang berlangsung di ITC Mangga Dua lantai 6 ini. 
Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -