“Emas” yang Tak Lagi Terbuang

Jurnalis : Yan Sen (He Qi Utara), Fotografer : Yan Sen (He Qi Utara)
 
foto

Lina dan Amoi ini terinspirasi oleh program daur ulang sampah rumah tangga dari tayangan drama serial "Atho" di DAAI TV. Mereka kemudian juga mensosialisasikan kepada warga di sekitar tempat tinggal mereka.

Mereka adalah ibu rumah tangga yang awalnya hanya iseng mengumpulkan sampah daur ulang untuk dijual ke tempat penampungan daur ulang terdekat. Para ibu ini tinggal di sekitar Jelambar, Jakarta Barat—tidak berdekatan. Salah seorang ibu ini bernama Afa dan bertempat tinggal di Jalan Utama Sakti 1 No. 22 RT 001/01, Wijaya Kusuma, Jelambar Jakarta Barat. Bermula dari warung sembako milik Afa inilah mereka sering berkumpul dan berdiskusi berbagai ragam acara di sini.

Salah seorang relawan Tzu Chi bertempat tinggal dekat dengan mereka dan menceritakan tentang Tzu Chi dan juga DAAI TV. Dan kebetulan di bulan Januari dan Februari 2009, DAAI TV menayangkan drama serial ”Atho” mulai jam 19.00 Wib. Drama ini menceritakan bagaimana Atho (tokoh di dalam drama -red) mulai melakukan pemilahan sampah daur ulang untuk amal sosial, dan bagaimana ia menyembunyikan wajahnya saat dilihat oleh tetangganya. Ada pula seorang yang sedang memilah sampah di tempat pembuangan sampah dan bagaimana pula pandangan suaminya terhadap dirinya saat awal ia mulai mendaur ulang sampah.

Serial drama ini sangat mendidik untuk kita semua agar peduli dengan lingkungan. Selain itu, drama ini juga menceritakan bagaimana ”Atho” kembali yakin bahwa nama pemberian orangtuanya sangat bagus dan bermakna, tidak seperti pandangan kebanyakan orang yang mendengar nama Atho seolah-olah tidak cocok untuk dipakai di kota, karena kedengaran asing atau kampungan.

foto  foto

Ket : - Afa dan Mei-Mei saat memberikan sampah daur ulangnya untuk disumbangkan kepada Tzu Chi. (kiri)
           dan Puji Lestari tak sungkan-sungkan membantu relawan Tzu Chi memilah sampah daur ulang. Ini sebagai
           bentuk terima kasih mereka kepada Tzu Chi. (kiri)
         - Kervin dengan senang hati mengumpulkan sampah daur ulang untuk bahan pembuatan celengan bambu
           di rumahnya, Jelambar, Jakarta Barat. (kanan)

Untuk Membantu Orang yang Tidak Mampu
Sesuai dengan slogan Tzu Chi ”Mengubah Sampah Menjadi Emas”, akhirnya daur ulang yang mereka kumpulkan akhirnya juga disumbangkan untuk Tzu Chi. Sampah daur ulang rumah tangga yang ibu-ibu ini kumpulkan berupa plastik, kertas, kaca, kaleng, dan karton daur ulang untuk celengan bambu. Dari salah seorang ibu rumah tangga bernama Mei-Mei, tidak hanya melakukan daur ulang tapi ia juga mensosialisasikan kepada tetangga-tetangga dekat tentang daur ulangnya untuk membantu orang yang tidak mampu dan disumbangkan untuk Tzu Chi.

Awalnya ada pertanyaan, ”Bukankah itu berarti kita bersaing atau mengambil lahan mata pencaharian pemulung?” tanya salah seorang tetangga. ”Jelas itu sangat berbeda karena kita berbuat amal sosial dan kita memberitahu kepada semua orang tentang bahaya bumi kita akibat dari kita sembarangan membuang sampah,” terang Mei-Mei. Bagi Tzu Chi sendiri, ”Tidak masalah sampah-sampah itu disumbangkan ke Tzu Chi ataupun diberikan kepada pemulung, yang lebih penting adalah sampah-sampah itu bisa dimanfaatkan kembali,” terang Po San, salah seorang relawan Tzu Chi saat memberikan sosialisasi pelestarian lingkungan di berbagai tempat.

foto  

Ket : - Hancu, salah seorang warga yang turut berpartisipasi dalam kegiatan daur ulang Tzu Chi juga
           mengumpulkan sampah daur ulang di rumahnya dan membawanya ke mobil daur ulang Tzu Chi.

Mereka memilah sampah daur ulang di rumah masing-masing, dan setelah dipilah kemudian dikumpulkan di halaman rumah Mei-Mei, dan seorang relawan Tzu Chi bernama Hendri Shixiong di Jalan Utama Sakti 1 No. 50 B untuk penampungan sementara—karena di depan rumah mereka ada halaman. Dan mobil daur ulang Tzu Chi yang dikendarai oleh Roni dan Zaman Shixiong sering datang mengambil hasil daur ulang dari mereka.

Dengan senyuman Tzu Chi, Roni dan Zaman membantu memanggul sampah-sampah daur ulang tersebut, dan juga memberikan kantong plastik hitam kepada salah seorang relawan bernama Lina, untuk mengisi pilahan sampah daur ulang mereka. Walaupun tempat penampungan itu kecil, tetapi hasil daur ulang begitu rapi disusun. Hampir tidak terlihat ada sampah daur ulang di tempat mereka, karena sampah daur ulang sudah terpilah masing-masing langsung dikantong plastik hitam dan kebersihannya pun juga terjaga.

foto  

Ket : - Di warung sembako inilah mereka sering berkumpul di Jl. Utama Sakti 1 No 22, Wijaya Kusuma, Jelambar,
           Jakarta Barat. Mereka juga turut mensosialisakan kepada warga sekitar tentang Tzu Chi dan program
           daur ulangnya.

Semakin Banyak yang Berpartisipasi
Berkat ketulusan hati mereka mensosialisasikan tentang daur ulang sampah ini, sekarang sudah bertambah banyak relawan yang peduli terhadap lingkungan. Dengan berjalannya waktu, di antara para ibu rumah tangga ini juga sudah ada yang menjadi relawan Tzu Chi, dan bahkan turut mendukung anaknya untuk menjadi relawan Tzu Chi. Para relawan yang peduli lingkungan sekitarnya ini juga pernah ikut sosialisali Tzu Chi di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Jingsi Book & Cafe, Pluit, dan juga telah menerima celengan bambu Tzu Chi yang diberikan oleh seorang relawan Tzu Chi.

Dengan kesungguhan dan ketulusan dalam menjalankan program pelestarian lingkungan Tzu Chi ini, diharapkan lingkungan kita bisa menjadi bersih, nyaman, dan indah. Semua ini akan terwujud jika kita peduli terhadap lingkungan, terutama di sekitar tempat tinggal kita. Secara tidak kita sadari, dengan kita mendaur ulang sampah, maka kita telah menyayangi dan turut berperan dalam menjaga bumi kita ini.

 

Artikel Terkait

Satu dalam Cinta Kasih

Satu dalam Cinta Kasih

10 April 2015

"Saya berdoa kalau kita dikasih sehat lagi, bisa kumpulin rejeki lagi, semua dosa-dosa saya diampuni, Insya Allah, saya bisa bantu kembali, hutang budinya kita kembalikan ke Buddha Tzu Chi lagi. Mau bantu bagi-bagi untuk orang lain, Amin ya Allah,” tutup Abdul.

Suara Kasih: Makna Hari Cengbeng

Suara Kasih: Makna Hari Cengbeng

10 April 2012 Kita harus senantiasa bersyukur kepada leluhur kita. Kita harus senantiasa mengenang kebajikan leluhur dan orang tua kita. Kita harus senantiasa bersyukur. Berbakti adalah pangkal dari segala kebajikan.
Sejenak Bersama Opa Oma

Sejenak Bersama Opa Oma

08 Maret 2017
Dalam kunjungan kali ini, acara diisi dengan isyarat tangan dari anak-anak Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dan dilanjutkan dengan penampilan dari anak-anak Sekolah Santa Laurencia. Sebanyak 35 relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Barat bersama 70 anak Sekolah Cinta Kasih dan 25 anak dari Sekolah Santa Laurensia melakukan kunjungan kasih di panti jompo pada tanggal 26 Februari 2017.
Berbicaralah secukupnya sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Bila ditambah atau dikurangi, semuanya tidak bermanfaat.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -