“Harta Boleh Hilang, Semangat Tetap Harus Ada†(Bag. 2)
Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto|
|
| ||
| Saat ditanya mengapa ia mau dibantu dibersihkan rumahnya oleh relawan, sementara saat tetangga menawarkan bantuan ia menolak, Rudi menjawab, “Kalau relawan Tzu Chi, saya percaya, dari tatapan mata mereka saya bisa melihat ketulusan mereka.” Hal sama diungkapkan Ronald, putranya, mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, jurusan Teknik Elektro, semester 8 ini mengaku sangat terharu dengan apa yang dilakukan relawan Tzu Chi. “Sebelumnya Tzu Chi juga bantu kami dengan program cash for work, sekarang justru rumah saya yang dibantu dibersihkan.” Mencuci Noda Batin
Keterangan :
Dani sendiri adalah korban banjir. Rumah dan minimarketnya pun terendam air. Barang-barang di tokonya banyak yang rusak dan tak bisa dijual kembali. Hanya sedikit saja yang tersisa untuk bisa dijual kembali. “Kalau makanan saya bisa tukar ke distributor,” terangnya. Setelah rumahnya dibersihkan, kini giliran tokonya yang mulai ia rapikan. Sedikit demi sedikit ia mulai membersihkan, merapikan, dan membuka kembali usahanya. Menurut Lynda Suparto, relawan Tzu Chi, kepedulian Dani bisa menjadi inspirasi bagi sesama. “Padahal tokonya sendiri belum pulih, tetapi ia masih peduli dan mau ikut membersihkan rumah tetangganya,” puji Lynda. Bahkan Dani menyediakan air, selang, dan penyemprot untuk membantu membersihkan rumah Rudi. Dani juga turut bekerja bersama-sama insan Tzu Chi membersihkan rumah Rudi. Sebenarnya tidak mudah bagi para relawan untuk turun membantu membersihkan rumah orang lain, mengingat mayoritas relawan sendiri tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti ini di rumahnya. Seperti yang diakui Like Hermansyah, “Kalau di rumah nggak pernah kerjaain seperti ini, kan ada yang bantu-bantu.” Meski begitu, Like mengaku tidak merasa sungkan ataupun ragu mengerjakan tugas yang kasar, kotor, dan berbau ini. “Saya nggak geli, kita dah merasa ikhlas. Kita sadari bahwa itu hanya lumpur, dibersihkan juga nanti hilang,” tegasnya. Menurut Like, saat melihat sang pemilik rumah gembira dan merasakan suatu kebahagiaan yang tak terkira, di sanalah letak kebahagiaan para relawan, termasuk dirinya.
Keterangan :
Sebenarnya, dalam setiap kegiatan Tzu Chi, rasa syukur itu bukan hanya milik para penerima bantuan, tetapi juga merupakan ladang pembelajaran dan berkah bagi relawan sendiri. Seperti yang dialami Like, saat melihat bagaimana istri pemilik rumah yang tetap mencoba mempertahankan barang-barang yang sudah rusak, ia bisa memetik hikmah bahwa seorang manusia harus bisa belajar melepaskan kemelekatannya. “Juga jangan konsumtif, karena akhirnya itu hanya akan menjadi sampah yang nggak berguna,” pesannya. Meski seragam relawannya berpeluh keringat dan lumpur, Like tetap bersemangat untuk mengerjakannya. Ia mengibaratkan membersihkan lumpur laksana membersihkan kotoran batin. “Saya tadi sambil nyuci mikir, begitu kotornya pikiran dan hati saya. Seandainya begitu mudah dibersihkan mestinya kita lakukan karena kotoran batin itu jauh lebih penting untuk kita perhatikan. Butuh tekad yang besar untuk bisa membersihkan kekotoran batin kita,” ujarnya. Selesai | |||
Artikel Terkait
Perhatian untuk Korban Bencana Kebakaran di Kecamatan Tanjung Balai
22 April 2022Relawan Tzu Chi Tebing Tinggi memberikan perhatian dengan memberikan dana pemerhati kepada 66 keluarga yang menjadi korban musibah kebakaran di Desa Sei Apung Jaya, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan.
Praktik Daur Ulang di Bogor
23 Oktober 2023Aksi berbagi pengetahuan dan praktik tentang daur ulang dilakukan oleh relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Bogor pada Rabu, 11 Oktober 2023. Kegiatan yang dilakukan di Depo Pelestarian Lingkungan Bogor ini diikuti oleh 11 relawan.
250 Kg Beras untuk Pondok Pesantren Alkahiraat, Kaltim
16 April 2024Sebanyak 250 kg beras disalurkan oleh relawan Tzu Chi Sinar Mas Xie Li Kalimantan (Unit Rantau Panjang Mill) untuk Pondok Pesantren Alkahiraat Muara Wahau di bulan Ramadan.










Sitemap