"Jangan Lihat dari Jenis Bantuannya"

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya
 
foto

* Hemming Shixiong memberikan bantuan dengan rasa hormat kepada Odih, salah satu warga Kampung Rawagabus, Karawang yang terendam banjir.

Odih (65) duduk merenung di depan rumahnya bersama istrinya, Nimah (55), memandang ke hamparan sawah yang sedikit terkena banjir beberapa waktu yang lalu. Kulit tangan keriput dan rambut yang hampir semua memutih dan nafas yang sedikit tersengal-sengal seakan menutupi bahwa Odih adalah seorang pekerja keras sebagai petani. Sawah yang ia garap berada di sisi rumahnya. Walaupun sawah itu bukan miliknya namun hasil panennya dibagi hasil antara pemilik dengannya. Dalam setahun Odih bisa 2 kali panen.
Dalam sekali panen Odih menghasilkan 1 ton padi. Odih tinggal bersama istri dan Ecin (28), anak bungsunya. Mereka tinggal di rumah yang sederhana di Kampung Rawa Gabus Kaceot 2, Kelurahan Tunggak Jati, Kecamatan Karawang Barat, Karawang. Sedangkan anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal di rumahnya masing-masing. Saat ini Odih sangat bersyukur karena tanaman padinya baru berbuah, artinya tahun ini Odih bisa panen walaupun tidak memuaskan. Tapi ini lebih mendingan dibandingkan 2 tahun lalu dimana seluruh hamparan sawahnya habis terendam banjir.

Lain halnya dengan nasib 6 dusun yang ada di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya. Menurut Lurah Sedari, Rosmilah, banjir mulai melanda desanya sejak 12 Januari 2009 karena tanggul sungai di Dusun Tanggil jebol tidak kuat menahan derasnya air. Bantuan yang datang hanya satu, dan itu pun dari pihak swasta karena susahnya untuk mencapai lokasi ini. “Saat ini dari tiga dusun yang parah banjirnya hanya tinggal Dusun Neglasari ini yang masih terendam banjir yang dihuni oleh sekitar 400 kepala keluarga,” ungkapnya. “Saya atas nama warga Kecamatan Cibuaya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Bapak-bapak dari Yayasan Buddha Tzu Chi Jakarta yang sangat peduli terhadap warga di sini. Jangan lihat dari barang bantuannya, karena barang-barang ini akan habis dalam beberapa hari saja, tapi rasa kepedulian Bapak-bapak ini yang harus kita ingat. Bapak-bapak ini jauh-jauh dari Jakarta masih ingat dengan dusun kita, terutama Pak Dandy yang sudah mengantar para relawan Tzu Chi untuk datang ke sini,” jelasnya kepada para warga penerima bantuan.

foto  foto

Ket : - Odih dan Nimah di depan rumahnya yang masih terlihat sisa-sisa banjir dan lumpur di sekitar rumahnya.
           (kiri)
         - Bantuan Tzu Chi diletakkan di posko bantuan darurat di Kampung Rawagabus. Barang-barang bantuan
           tersebut diterima langsung oleh Ketua RW yang disaksikan langsung oleh warga. (kanan)

Sejak 17 Januari 2009 lalu relawan Tzu Chi Jakarta dibantu relawan dari Karawang terus mengirimkan bantuan berupa nasi bungkus, air mineral, selimut, mi instan dan biskuit. Pada tanggal 20 Januari, relawan Tzu Chi membagikan kembali bantuan serupa, namun kali ini lokasi yang dibagi cukup jauh ditambah jalannya masih tergenang air dan terisolir.

Jauh dan lelah tak mengendurkan semangat relawan Tzu Chi untuk membantu saudara kita yang dilanda banjir. Selama satu setengah jam perjalanan dari kota Karawang dengan jalan yang rusak dan beberapa ruas jalan yang masih tergenang air, menambah semangat para relawan untuk masuk ke dusun tersebut. Menurut relawan Tzu Chi dari Karawang, Dandy, wilayah Kecamatan Cibuaya ini paling parah dilanda banjir sehingga bantuan yang masuk sangat minim, terutama di tiga dusun tersebut. Beberapa kali mobil relawan terperosok di kubangan lumpur. Di sepanjang perjalanan masih membekas sisa-sisa banjir dan tanah berlumpur di rumah-rumah warga.

foto   foto

Ket : - Lurah Desa Sedari beserta aparat TNI datang menjemput bantuan Tzu Chi dengan menggunakan perahu
           motor melalui sungai. (kiri)
         - Para relawan Tzu Chi beserta warga dan aparat TNI bekerjasama mengeluarkan barang-barang bantuan
           yang akan dibagikan. (kanan)

Sampai pada akhirnya mobil bantuan Tzu Chi tidak dapat melanjutkan perjalanan hingga ke Dusun Neglasari karena air masih terlalu tinggi dan hari sudah mulai sore. Dandy memutuskan untuk membagi di sebuah sekolah yang pelatarannya cukup tinggi sehingga tidak merusak barang-barang bantuan. Untuk membaginya, Lurah Neglasari Telar Sari, dan Jaya Sari datang menggunakan perahu beserta anggota TNI dan warga setempat untuk membantu proses penyerahan bantuan ini.

Bantuan tersebut diserahkan kepada lurah yang mewakili 3 dusun dan kepada aparat TNI yang disaksikan oleh warga ketiga dusun tersebut. Bantuan untuk Kampung Rawa Gabus Kaceot 2 terdiri dari 66 karton mi instan, 24 dus air mineral, 132 lembar selimut, dan 132 pak biskuit. Seluruh barang tersebut diterima langsung oleh ketua RW Rawa Gabus, Wastun, di pelataran mushola. Sedangkan bantuan untuk Dusun Neglasari, Telar Sari, dan Jayasari (Desa Sedari) terdiri dari 150 lembar selimut, 15 karton biskuit, 75 karton air mineral, dan 150 karton mi instan.

foto   foto

Ket : - Heming menyerahkan 1 paket barang bantuan kepada Lurah Sedari untuk warganya yang terkena banjir.
           (kiri)
         - Dandy Shixiong menyerahkan paket bantuan kepada Komandan Rayon Militer (Danramil) Kecamatan
           Cibuaya, Kapten Kusnen. (kanan)

 

Artikel Terkait

Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan  Sehat di Sekolah

Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah

07 Juni 2023

Relawan Dharma Wanita Tzu Chi Cabang Sinar Mas (Dhawa) unit Kijang Mas Estate dan unit Kijang Mill Xie Li Kampar menyosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa-siswi SSDN 022 Kijang Makmur.

Semangat Cinta Kasih dari Timur

Semangat Cinta Kasih dari Timur

16 Desember 2016

Selain menggelar berbagai produk panganan vegetaris juga menyediakan barang-barang keperluan rumah tangga dan sembako. Relawan yang berpartisipasi pun tidak hanya dari Jakarta tetapi relawan luar kota juga turut hadir menggalang dana galang hati ini.

Kursi Roda Khusus untuk Almira

Kursi Roda Khusus untuk Almira

02 Maret 2021

Minggu, 28 Februari 2021 menjadi hari yang membahagiakan bagi orang tua Almira. Kursi roda yang mereka ajukan ke Tzu Chi untuk anak bungsu mereka yang Cerebral Palsy sudah berada di genggaman. “Saya bahagia sekali sampai-sampai mau menangis. Kalau beli kan nggak kebeli karena harganya mahal,” kata Mut Mainah. 

Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -