“Jangan Lupakan Bahasa Sendiri”

Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Apriyanto
 
 

foto
Para mahasiswa diajak untuk mengenal budaya humanis Tzu Chi melalui produk-produk Tzu Chi di Jing Book & Café.

Memasuki era globalisasi dan informasi, bangsa Indonesia dituntut  mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam berbagai bidang kehidupan. Dan tentunya pada masa ini penguasaan bahasa asing menempatkan posisi yang sangat strategis. Sebagai penunjang dalam proses pembelajaran ilmu praktis maka pada Jumat, 5 April 2013, sebanyak 145 mahasiswa fakultas sastra Mandarin dari Universitas Bunda Mulia Jakarta mengunjungi Tzu Chi Center PIK dalam rangka kunjungan industri dan seminar.

Begitu tiba di Tzu Chi Center para mahasiswa langsung diajak untuk mengenal visi-misi Tzu Chi yang dijelaskan oleh Rossa Shijie. Setelah itu para mahasiswa juga diajak untuk mengelilingi Aula Jing Si dan melihat budaya humanis Tzu Chi melalui poster-poster yang terpasang di dinding lorong Fa Hua Aula Jing Si. Selama tur inilah para mahasiswa mendapat banyak informasi tentang budaya Tzu Chi dan filosofi Mandarin dari relawan pendamping.

Mengenal Budaya Humanis Tzu Chi
Menurut Metta Cahyandra salah seorang panitia di kegiatan mahasiswa, ia merasa mendapatkan banyak masukan materi terutama tentang pemaknaan bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa dari relawan Tzu Chi. Sebelum kuliah di Universitas Bunda Mulia UBM), Metta pernah menjalani kursus bahasa Mandarin ke negeri Tiongkok selama satu tahun. Tapi menurutnya itu tidaklah cukup, karena materi yang ia dapat hanya bersifat dasar. Makanya sepulang dari Tiongkok ia langsung melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Mandarin. Dan pada kunjungan kali ini ia merasa puas karena ia tak sekadar mendapatkan materi tentang teknik penerjemahan bahasa Mandari modern, tapi juga tentang budaya Tionghoa dan budaya humanis Tzu Chi yang menyentuh.

foto   foto

Keterangan :

  • Li Wan (baju biru) sedang menjelaskan tentang poster-poster yang tertempel di lorong Fa Hua. Setiap poster memiliki cerita yang khas dan menyentuh (kiri).
  • Tony Yuwono, salah seorang penerjemah di Tim Media Cetak Tzu Chi (kemeja putih) menejelaskan tentang tata cara penerjemahan bahasa Mandarin yang baik dan benar (kanan).

Seperti yang dituturkan oleh Tony Yuwono staf budaya kemanusiaan Tzu Chi, bahwa seorang penerjemah sebaiknya harus benar-benar menguasai bahasa “ibu” (bahasa Indonesia) dan budaya Indonesia selain bahasa dan budaya asing. Di depan para mahasiswa Tony juga menerangkan kalau seorang penerjemah harus bisa menerjemahkan secara akurat, alamiah, dan beruntun. Kendati demikian apa yang diterjemahkan pun harus tetap indah berdasarkan kaidah budaya setempat. Namun permasalahannya adalah banyak orang yang pandai berbahasa asing namun tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Inilah yang menjadi akar permasalahan mengapa sering ditemukan hasil penerjemahan yang tidak sesuai dengan arti sebenarnya atau tidak indah dibaca. Singkatnya untuk menjadi penerjemah yang baik maka seorang penerjemah harus berusaha untuk bisa menguasai dua bahasa (Indonesia – Mandarin) dengan baik dan benar. Bukan hanya bahasanya, tetapi juga budayanya. Itulah yang membuat karya mereka bisa diterima oleh semua golongan dan mampu menginspirasi setiap pembacanya.

Maria Caroline Cindy Iskandar seorang dosen di Fakultas Sastra Mandarin menjelaskan bahwa wawasan seperti inilah yang diharapkan didapat oleh para mahasiswa. Maksudnya melalui kunjungan itu para mahasiswa mampu memahami kebudayaan negara yang dipelajari tanpa mengesampingkan budaya sendiri. Sehingga nantinya akan melahirkan sarjana-sarjana sastra yang dapat diserap di dunia kerja, dan bahkan mampu menciptakan lapangan kerja. “Hari ini saya rasa para mahasiswa mendapatkan banyak materi terutama tentang penerjemahan di media cetak. Setidaknya pada hari ini para mahasiswa mendapatkan pengetahuan praktis di luar mata kuliah,” terang Maria.

  
 

Artikel Terkait

Penggalangan Hati yang Tulus

Penggalangan Hati yang Tulus

23 Juni 2015
“Siapa saja bisa menjadi relawan Tzu Chi, yang terpenting adalah dilandasi dengan hati yang tulus dan cinta kasih untuk menolong sesama makhluk hidup. Selain itu, juga mau menebarkan cinta kasihnya kepada masyarakat luas,” pungkas Herman Widjaja, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Bandung.
Bukan Sekedar Bantuan Materi

Bukan Sekedar Bantuan Materi

12 April 2019

Kelas budi pekerti anak teratai merupakan kelas bimbingan bagi anak-anak penerima bantuan biaya pendidikan Tzu Chi. Tzu Chi dalam memberikan bantuan pendidikan tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga membimbing agar anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik. Sebulan sekali kelas ini diadakan.

Menabung Berkah, Memperkaya Batin

Menabung Berkah, Memperkaya Batin

05 November 2014 Pendidikan di Tzu Chi mengajarkan para generasi muda untuk menabung dengan tujuan memiliki kekayaan batin. Bahwa menabung bukan hanya bisa berguna untuk diri sendiri, namun juga bisa bermanfaat bagi orang lain.
Cinta kasih tidak akan berkurang karena dibagikan, malah sebaliknya akan semakin tumbuh berkembang karena diteruskan kepada orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -