”Terima Kasih Tzu Chi, Anak Saya Sudah ...

Jurnalis : Leo Samuel Salim (Tzu Chi Bali), Fotografer : Khimberly Wen(Tzu Chi Bali)
 
foto

* Sesampainya di Bandara Ngurah Rai, Bali sepulang berobat (operasi) di Jakarta, Ni Kadek Suarjani disambut oleh para relawan Tzu Chi Bali.

Ni Kadek Suarjani atau yang akrab dipanggil Kadek barulah berumur 2 tahun. Tetapi selama 8 bulan terakhir, kesehatannya terus memburuk. Kadek selalu kelihatan pucat dan sewaktu buang air besar selalu terdapat darah. Orangtua Kadek, I Kadek Suantara yang bekerja sebagai penjaga di tempat wisata arung jeram (Rafting) tidak bisa berbuat banyak untuk mengobati sakit putrinya. Suantara telah berkeliling mencari cara untuk mengobati anak keduanya ini, mulai dari dokter medis sampai mencari pengobatan alternatif, tapi hasilnya tetap nihil dan tidak diketahui jenis penyakit apa yang menyerang hingga membuat Kadek kondisinya makin memburuk. Tubuh Kadek semakin kurus dan pucat serta tidak bertenaga.
“Pernah dokter mengatakan, ada luka di usus,” ujar Suantara sewaktu menceritakan pengalamannya berobat. “Dokter tersebut hanya memberikan obat yang sifatnya sementara. Setelah obatnya habis, kondisi Kadek kembali seperti semula,” tambahnya. Tak kenal lelah dan dengan biaya seadanya, Suantara terus mencari cara agar anaknya ini bisa sembuh. Dalam 8 bulan belakangan ini, Kadek sudah 7 kali keluar-masuk Rumah Sakit Umum Sanglah di Denpasar. Jarak yang cukup jauh antara Karangasem dengan Denpasar tidak dihiraukan oleh Suantara. ”Baru dua minggu di rumah, kembali lagi ke Sanglah,” ujarnya. Dokter-dokter di Sanglah pernah sempat mendiagnosa kalau Kadek mengalami penyakit anemia, sehingga hanya diberikan obat anemia saja tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Hingga pada suatu hari, dr Windi yang bertugas di kompleks Jempiring di RSUP Sanglah, di bagian khusus anak-anak menceritakan kasus ini kepada Herman, relawan Tzu Chi Bali dan langsung ditanggapi dengan berkunjung langsung ke sana. Sesampainya di sana, Herman langsung menanyakan kondisi Kadek kepada orangtuanya dan kemudian berdiskusi dengan para dokter di sana perihal penyakit yang diderita Kadek. “Setelah dipertimbangkan dengan dokter-dokter di Sanglah, kami memutuskan untuk merujuknya ke Jakarta untuk ditinjau lebih lanjut,“ kata Herman. Herman langsung menelepon Lulu, relawan Tzu Chi Jakarta untuk menanyakan pendapatnya. Lulu menganjurkan Herman untuk mengumpulkan semua data-data medis Kadek yang didapat dari dokter untuk dikirim ke Jakarta.

foto  foto

Ket : - Bersama kedua orangtuanya dan relawan Tzu Chi Bali, Ni Kadek Suarjani (2) berada dalam pesawat yang
           akan membawanya kembali ke Denpasar, Bali sepulang berobat dari Jakarta. (kiri)
         - Orangtua, keluarga dan relawan Tzu Chi Bali bersama-sama berdoa dan bersyukur atas kesembuhan
            kadek. (kanan)

Tak lama kemudian, kabar baik datang dari Jakarta, Lulu menganjurkan untuk membawa Kadek ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan. “Saya sangat senang sekali, anak saya bisa berobat di sana,” ujar Suantara dan langsung meminta izin kepada bosnya dan diberikan libur sampai anaknya sembuh. Maka berangkatlah Kadek beserta kedua orangtuanya ke Jakarta pada tanggal 28 Januari 2009 dengan didampingi I Wayan Kertha, relawan Tzu Chi Bali. Sesampainya di Jakarta, mereka dijemput oleh Lulu dan langsung menuju ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat. Keesokan harinya, orangtua Kadek dan Wayan Kertha beserta relawan Tzu Chi Jakarta menuju RSCM untuk mendaftarkan Kadek ke bagian anak-anak. Setelah mendapat kamar, Kadek lalu diperiksa oleh 5 orang dokter dan mengatakan bahwa tidak ada kelainan pada ususnya, tetapi kelainan justru terdapat di bagian bawah lambung. Meski demikian, pemeriksaan demi pemeriksaan terus dilakukan agar bisa memastikan jenis penyakit Kadek.

Pada tanggal 9 Februari 2009, para dokter memutuskan untuk mengoperasi Kadek. Operasi yang berjalan selama kurang lebih 5 jam itu berjalan lancar. Pada operasi tersebut, dokter mengangkat sebuah tumor jinak yang terdapat pada usus halus. Dokter terpaksa harus memotong sebagian usus tersebut dan kemudian menyambungnya kembali. Setelah dioperasi, Kadek dibawa ke ruang pemulihan. “Pada saat sebelum operasi, dokter bilang harus siapkan darah, mana tahu nanti Kadek kekurangan darah. Pada saat itu saya bingung sekali, di mana mau cari darah,” kata Suantara. Rupanya kerisauan ini terbaca oleh salah seorang petugas satpam yang bertugas di RSCM dan langsung bersedia mendonorkan darahnya. Kesembuhan Kadek bisa dibilang termasuk sangat cepat. Ini dibuktikan dalam waktu dua hari saja, Kadek sudah bisa mengonsumsi makanan padat.

foto  foto

Ket : - Catherin, relawan Tzu Chi Bali menyuapkan kue kepada Kadek dan berharap agar Kadek bisa tumbuh
           normal dan ceria seperti anak-anak lainnya. (kiri)
        - Ayah Kadek, Suantara memperlihatkan bekas jahitan bekas operasi di perut Kadek. (kanan)

Setelah sembuh, Kadek dan orangtuanya pulang ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Selama di rusun, orangtua Kadek ikut bergabung menjadi relawan daur ulang. Sewaktu ditanya apa yang dikerjakan selama menjadi relawan daur ulang, Suantara menjawab, “Memilah sampah seperti botol-botol, kaleng-kaleng, koran, dan lain-lain. Pernah ada, Dewi (Tzu Ching) menjelaskan alasan mengapa di (Yayasan) Buddha Tzu Chi ada daur ulang, katanya, untuk mengurangi sampah dan melindungi bumi.”

Pada tanggal 22 Februari 2009, Suantara sekeluarga beserta Wayan Kertha kembali menuju Bali. Sesampainya di Bali, Kadek disambut oleh relawan Tu Chi Bali dan menghadiahkan sebuah boneka besar berwarna merah jambu. Pada keesokkan harinya, Relawan Tzu Chi Bali mengadakan acara syukuran atas kesembuhan Kadek. Suantara tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Tzu Chi, “Terima kasih kepada (Yayasan Buddha) Tzu Chi, anak saya bisa sembuh. Tak lupa saya juga berterima kasih kepada semua dokter-dokter dan relawan di Jakarta,” tambahnya. Bukan hanya itu saja, Suantara juga berniat menjadi relawan Tzu Chi.

foto  foto

Ket : - Orangtua Kadek bersama dengan relawan Tzu Chi Bali merayakan kesembuhan Kadek. Setelah dioperasi
           di Jakarta, Kadek akhirnya bisa sembuh total dari penyakit tumor di ususnya. (kiri)
        - Sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia, Kadek dibantu ibunya meniup lilin dalam acara syukuran
           kesembuhannya. (kanan)

 

Artikel Terkait

Tsunami Selat Sunda

Tsunami Selat Sunda

11 Januari 2019
 Bencana tsunami melanda Banten dan Lampung Selatan (22/12/18), mengakibatkan ratusan orang meninggal, dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Sehari pascatsunami, relawan Tzu Chi Lampung segera memberikan bantuan untuk meringankan duka mereka yang sedang terkena musibah. Sementara di Jakarta,  Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi juga langsung bergerak menyalurkan 1.000 paket bantuan untuk membantu para korban di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten pada tanggal 27 Desember 2018. 
Melestarikan Lingkungan dan Menciptakan Berkah

Melestarikan Lingkungan dan Menciptakan Berkah

24 Januari 2019

Setiap akhir tahun lunar, Tzu Chi Medan mengundang para Gan En Hu untuk berkumpul bersama. Pada Minggu 20 Januari 2019, relawan di komunitas Hu Ai Medan Utara mengundang 48 Gan En Hu (penerima bantuan) atau 110 tamu undangan (penerima bantuan beserta keluarga). Acara kumpul bersama ini dikenal dengan sebutan Pemberkahan Akhir Tahun Gan En Hu.  


Bulan Penuh Berkah: Memaknai Sutra Makna Tanpa Batas

Bulan Penuh Berkah: Memaknai Sutra Makna Tanpa Batas

29 Agustus 2013 Di Jakarta, melalui program bebenah kampung, warga yang telah dibantu ini dibimbing oleh relawan akan prinsip-prinsip kerelaan dari berdana. Membantu sesama yang membutuhkan dengan berdana lewat celengan bambu.
Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -