Bacang untuk Tiga Perayaan
Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Apriyanto|
|
| ||
| Itulah yang kini tengah dikerjakan oleh 15 relawan Tzu Chi pada hari Rabu, tanggal 27 April 2011 lalu. Demi menyemarakkan peringatan tersebut para relawan Tzu Chi sudah datang sejak pagi hari di dapur umum Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat. Dengan antusias mereka memilah daun bambu, mencucinya dan lantas merebusnya. Sebagian relawan lain juga dengan tekun mencuci jamur dan memotongnya. Semua pekerjaan itu dikerjakan dengan sepenuh hati karena relawan Tzu Chi menganggap ketiga peringatan tersebut adalah hari penting untuk mengenang “Empat Budi Besar” (Budi Buddha, orang tua, negara, dan semua mahkluk). Mengingat jumlah undangan yang hadir cukup banyak dan konsentrasi relawan akan mengerucut di acara, maka relawan yang bertugas di bidang konsusmsi sudah sibuk mempersiapkan bacang vegetarian jauh-jauh hari. Bacang dipilih karena didasari oleh aspek keringkasan dan manfaat dari bacang itu sendiri. Ringkas karena dapat dimakan dengan mudah tanpa membutuhkan wadah dan bermanfaat karena bacang adalah panganan padat yang cukup mengenyangkan. “Tadinya kita berencana menyediakan makanan nasi beserta lauknya. Tapi setelah dipikirkan itu kurang ringkas dan para pengunjung pun belum tentu semuanya memiliki waktu untuk santap makanan. Makanya kita siapkan bacang agar lebih ringkas,” kata Xu Bi Ling relawan yang terlibat dalam pembuatan bacang.
Keterangan :
Menurutnya. semua bahan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Mulai dari daun bambu pembungkus bacang, hingga sayur dan bumbunya harus yang berkualitas baik. “Daun bambunya harus yang lebar dan bagus,” kata Bi Ling. Selama pembuatan bacang itu, kebersihan menjadi yang paling diutamakan selain soal rasa bacang itu sendiri. Karena itu setiap helai daun bambu dilap bersih terlebih dahulu oleh para relawan yang kemudian direbus dalam air mendidih untuk menghilangkan bulu-bulu dan debu yang menempel.
Keterangan :
Xu Bi Ling juga menjelaskan bahwa kualitas daun bambu akan memengaruhi aroma dari bacang itu sendiri. “Jika daun bambu yang digunakan bagus, maka aroma juga akan harum,” jelasnya. Para relawan juga tidak menghilangkan unsur tradisional yang telah turun temurun diwariskan dari Tiongkok, seperti pemilihan daun dan cara membungkusnya. “Membuat bacang bisa juga pakai daun lain selain daun bambu, tetapi bacang yang kita buat mengikuti cara asli dari tradisional Tingkok,” tambah Xu Bi Ling. Maka relawan yang terlibat dalam pembuatan bacang ini juga tidak terlalu banyak mengingat tidak semua relawan menguasai teknik pembuatannya. “Yang menjadi tim konsumsi berasal dari semua He Qi (Barat, Utara, Timur, dan Selatan),” jelas Xu Bi Ling. | |||
Artikel Terkait
Bersama-sama Melestarikan Lingkungan Hidup
21 Oktober 2013Semangat Bergabung di Tzu Chi Hospital
05 Februari 2021Sejak 1 hingga 4 Februari 2021, Tzu Chi Hospital melakukan Program Orientasi Umum Karyawan Baru tahap 2.
"Dari Padang ke Bengkulu: Langkah Kecil, Cinta Besar"
27 Mei 2025Prihatin dengan musibah gempa bumi di Bengkulu, enam orang relawan Tzu Chi Padang segera berangkat ke Bengkulu pada Minggu, 25 Mei 2025. Mereka menempuh perjalanan darat dengan menggunakan mobil selama 14 jam lebih.










Sitemap