Bahagia Menjadi Keluarga Besar Kelas Budi Pekerti Tzu Chi

Jurnalis : Lina Lecin, Yuliana (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Karlishia, Jesselin Jeo, Denilson (Tzu Chi Pekanbaru)

Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, Tzu Chi Pekanbaru mengadakan pertemuan 3 kelas budi pekerti (Qin Zi Ban Kecil, kelas Qin Zi Ban Besar, dan Tzu Shao). Dalam kegiatan ini juga ada pementasan drama Kisah Celengan Bambu Tzu Chi yang diperankan oleh anak-anak kelas budi pekerti.

Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, diadakan pertemuan pertama untuk Kelas Budi Pekerti Qin Zi Ban Kecil (1-3 SD), Qin Zi Ban Besar (4-6 SD), dan Tzu Shao (SMP-SMA) di Kantor Tzu Chi Pekanbaru pada Minggu, 12 Juli 2026. Banyak murid-murid baru maupun lama yang kembali mengikuti kelas dengan semangat serta didampingi oleh orang tua dan Duifu Mama. Untuk kelas Qin Zi Ban Kecil diikuti oleh 29 murid, kelas Qin Zi Ban Besar 39 murid, kelas Tzu Shao 84 murid, dan 69 orang tua juga turut hadir dari gabungan ketiga kelas tersebut.

Materi yang dijelaskan di ketiga kelas kali ini adalah mengenai Pengenalan Tzu Chi agar murid-murid lebih mengenal awal mula terbentuknya Tzu Chi hingga sekarang. Di kelas Qin Zi Ban besar dan Tzu Shao, Relawan Duifu Mama, Yanti menceritakan 3 jalinan jodoh Master Cheng Yen saat mendirikan Tzu Chi, seperti melihat bercak darah di rumah sakit, kunjungan 3 biarawati Katolik, dan 30 ibu rumah tangga yang menyisihkan 50 sen ke dalam celengan bambu. Kisah ini dipaparkan relawan Yanti dengan penuh semangat, termasuk slogan Dana Kecil Amal Besar.

Relawan Tzu Chi Pekanbaru, Lina menyampaikan materi tentang Keindahan Budaya Humanis Tzu Chi.

Para murid memerankan drama sejarah Tzu Chi tentang celengan bambu di kelas Qin Zi Ban kecil dan besar. "Lai aaa...Lai aaa, Lai bue cai" (mari, mari, datang membeli sayuran)," tutur Xiaopusa (Bodhisatwa Cilik) Eldrick memulai drama kisah Kisah Celengan Bambu Tzu Chi. Kemudian disusul Xiaopusa lainnya yang berperan sebagai ibu-ibu pembeli sayur di pasar. Terjadi interaksi percakapan antara pembeli dan penjual sayuran. Salah seorang pembeli sayur, diperankan Xiaopusa Charlotte, sebelum pergi ke pasar, menyisihkan 50 sen dulu untuk dimasukkan ke dalam celengan bambu, kemudian ketika sampai di pasar berusaha mengurangi membeli lebih sedikit sayuran dari biasanya, oleh penjual sayur kemudian menanyakan alasannya.

Xiaopusa Charlotte kemudian menuturkan, “Guru kami berpesan. ‘Tetesan air dapat membentuk sungai, butiran padi dapat memenuhi lumbung’. Saya setiap hari menyisihkan uang 50 sen ditambah 50 sen dari setiap orang, dapat digunakan untuk menolong orang."

Mendengar ucapan tersebut, kemudian para pembeli sayur lainnya termotivasi ikut memasukkan uang ke celengan cinta kasih, "Ani gua mah be" (kalo begitu, saya juga mau ikut serta), kemudian disusul pembeli sayur lainnya, "gua mah be" (saya juga mau ikut serta)," sahut ibu-ibu pembeli sayuran lainnya di pasar. Demikianlah cerita tentang Kisah Celengan Bambu Tzu Chi mulai tersebar, dimulai dari kisah penjual sayur di pasar hingga jalinan cinta kasih Tzu Chi tersebar hingga ke seluruh dunia.

Para orang tua dan Xiaopusa berdiri membentuk lingkaran sambil bermain bersama para relawan Tzu Chi.

Lewat drama Kisah Celengan Bambu Tzu Chi, Xiaopusa Charlotte mendapat kesan batin bahwa membantu orang itu mudah. “Ternyata membantu orang tidaklah susah, walaupun dana yang kita miliki tidak banyak tetapi tetap bisa membantu orang yang membutuhkan,” ucapnya.

Di kelas Qin Zi Ban Besar, relawan Tzu Chi Pekanbaru, Lina menyampaikan materi tentang Keindahan Budaya Humanis Tzu Chi. Materi ini dimulai dari tata cara berpakaian, tata rambut, cara berdiri bagaikan pohon pinus, berjalan dengan ringan seperti angin sepoi-sepoi, duduk seperti sebuah lonceng dan tidur bagaikan busur sesuai budaya humanis di Tzu Chi. Lina juga mengingatkan Xiaopusa agar bervegetarian ketika berseragam.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan games perkenalan dengan bola berwarna-warni yang dipandu oleh relawan Tzu Chi Pekanbaru, Athing dan Leihong. Musik berputar dan bola akan dioper dari satu peserta ke peserta lainnya. Bila musiknya berhenti, maka peserta yang mendapatkan bola harus menjawab sesuai pertanyaan yang ada di bola warna. Suasana penuh semangat dan tawa riuh mewarnai sesi permainan ini.

Di kelas Tzu Shao, juga diadakan permainan untuk mencairkan suasana sekaligus membuat para murid bisa saling mengenal.

Sedangkan di kelas Tzu Shao, suasana menjadi riuh dengan games lingkaran tepuk tangan yang dibawakan 2 orang Duifu jie jie yaitu relawan Evelyn Wijaya dan Michelle Kho. Games ini melatih fokus para peserta, mengingat jam kelas Tzu Shao adalah jam rawan mengantuk. Diawali dengan instruksi dimana jika tepuk 2 kali, maka semuanya juga mengikut tepuk 2 kali. Jika ada yang salah, maka akan diajak kedepan untuk memperkenalkan dirinya. 

Lewat kegiatan kelas hari ini diharapkan para peserta dapat menjalin jodoh baik antar sesama teman serta selalu bahagia berada di Keluarga Besar Kelas Budi Pekerti Tzu Chi. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan makan sajian vegetarian.

Editor: Arimami Suryo A

Artikel Terkait

Mendidik Anak-anak Kelas Budi Pekerti dengan Penuh Kasih

Mendidik Anak-anak Kelas Budi Pekerti dengan Penuh Kasih

05 April 2017

Kegiatan Er Tong Ban Camp digelar setiap tahun. Tahun ini kamp digelar di awal tahun supaya anak-anak kelas budi pekerti dapat mengenal teman-temannya lebih dalam lagi.

Selamatkan Bumi dengan Kedua Tangan Kita

Selamatkan Bumi dengan Kedua Tangan Kita

06 Januari 2016

Kelas Budi Pekerti pada Minggu, 13 Desember 2015, di Kantor Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengangkat topik pelestarian lingkungan untuk menanamkan semangat pelestarian lingkungan kepada anak-anak Tzu Shao yang hadir.

Bukan Sekedar Bantuan Materi

Bukan Sekedar Bantuan Materi

12 April 2019

Kelas budi pekerti anak teratai merupakan kelas bimbingan bagi anak-anak penerima bantuan biaya pendidikan Tzu Chi. Tzu Chi dalam memberikan bantuan pendidikan tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga membimbing agar anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik. Sebulan sekali kelas ini diadakan.

Saat membantu orang lain, yang paling banyak memperoleh keuntungan abadi adalah diri kita sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -