Bahagianya Bisa Kembali Melihat Sanak Keluarga

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Anand Yahya

Relawan menemani Rodiah (kanan) dan Sahro (kiri) usai melakukan operasi katarak di Kantor Kodim 0612/Tasikmalaya 24 Agustus 2018. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Kodim 0612 Tasikmalaya dan Dinas Kesehatan mengadakan Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-122.

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi menjadi momen yang kerap kali mengharukan, terlebih ketika seorang pasien katarak yang tidak bisa melihat akhirnya bisa kembali menangkap bayangan cahaya. Seperti yang dirasakan Eva yang mengantarkan ibunya, Rodiah (59) dan kakeknya, Sahro (86). Ketika perban di mata mereka dibuka, keharuan langsung mereka rasakan karena bisa kembali melihat satu sama lain.

Penyakit karatak sudah bersarang di mata Rodiah dan Sahro sejak kira-kira satu tahun yang lalu. Walaupun begitu Rodiah masih tetap bisa sedikit melihat. “Saat itu masih sering periksa ke puskesmas. Dapat obat dan lumayan bikin mata ibu lebih terang,” kata Eva, anak pertama Rodiah. Kesibukan harian Rodiah pun kala itu masih bisa ia kerjakan sendiri, mulai dari mengurus rumah sampai ikut bekerja menjahit mukena dan baju gamis, khas Tasikmalaya.

Katarak telah membuat mata Rodiah dan ayahnya, Sahro tidak bisa melihat. Aktivitas mereka pun menjadi terbatas karena penyakit ini.

Dulu di rumahnya yang sederhana, Rodiah dan Eva biasa menjahit bersama dengan dua buah mesin jahit. Menjahit mukena dan bordir memang sudah menjadi pekerjaan yang umum di Kampung Leuwiliang karena kampung yang terletak di Kecamatan Kawalu ini memang menjadi salah satu wilayah Sentra Bordir di Kota Tasikmalaya. Dari sana produk-produk bordir dan jahitan dikerjakan rumahan, baru setelah itu mereka setorkan lagi ke pabrik sebelum dijual ke berbagai wilayah di Indonesia. Satu jahitan mukena ukuran besar, dihargai 5.000 rupiah. Sedangkan ukuran kecilnya dihargai 2.000 rupiah. Di sana, rata-rata per orang bisa menjahit 20 hingga 25 mukena per harinya.

Saat itu penghasilan keluarga Rodiah dikatakan bisa mencukupi kebutuhan keluarga karena ia masih aktif menjahit. Namun Rodiah dipaksa ikhlas berhenti melakukan pekerjaan yang telah ia lakukan sejak remaja itu, karena sejak Mei 2018 mata kanannya sudah sama sekali tidak bisa melihat. “Saya larang ibu buat jahit lagi karena takut ketusuk jarum, sudah nggak bisa lihat matanya,” ucap Eva.

Penyakit katarak memang membatasi aktivitas dan ruang gerak pederitanya, serta membuat kualitas hidup sebuah keluarga menjadi menurun drastis. “Apabila di sebuah keluarga ada satu orang yang menderita katarak, minimal akan mengakibatkan 3 orang di rumah itu menjadi tidak produktif. Tiga orang itu siapa saja? Pertama adalah si penderita, lalu dua anggota keluarga yang harus mengawasinya secara bergantian,” begitu kata Marudin Muhammad mewakili Dinas Kesehatan Tasikamalaya. Lebih lanjut Marudin menambahkan bahwa katarak membuat mereka yang dulunya aktif mencari nafkah, kini tidak bisa lagi. Perekonomian keluarga pun menjadi menurun karena katarak.

Eva, anak sulung Rodiah tetap bersemangat membantu menanggung kebutuhan perekonomian keluarga. Setelah Rodiah tidak bisa menjahit karena katarak, penghasilan keluarga mereka sangat menurun. Beruntung ibu dan kakeknya bisa mendapatkan bantuan operasi dari Tzu Chi.

Benar saja, setelah Rodiah tidak lagi menjahit, penghasilan keluarga otomatis menurun drastis, namun Eva tidak mengeluh. Ia tetap mengurus keluarga dan juga menjaga ibunya. “Selama ini saya nggak pernah merasa terbebani sama orang tua saya, karena saya sayang sama mereka,” ujar Eva. Baginya, sosok ibu merupakan contoh nyata tentang semangat dan kedisiplinan. “Ibu itu semangat kerja besar, walaupun ibu keras tapi kami tahu kalau semua itu dilakukan karena ibu sayang sama anak-anaknya. Seperti sekarang ini, walaupun mata ibu sudah tidak bisa lihat, tapi ibu tetap bantu pisah-pisahkan kain untuk dijahit,” lanjut sulung dari 4 bersaudara ini.

Keinginan Eva untuk menyembuhkan penyakit ibu dan kakeknya pun sangat besar, namun ia menunggu program pemerintah untuk melakukan operasi. Biasanya, Dinas Kesehatan Tasikmalaya bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Tasikmalaya setiap tahunnya menggelar baksos katarak, namun tahun ini baksos tersebut absen dilakukan. Beruntung tahun ini Dinas Kesehatan menggandeng Kodim 0612 Tasikmalaya dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-122.

Senyum dan kebahagiaan terpancar di wajah Rodiah (kanan) dan Sahro (kiri) ketika usai menjalani operasi katarak. Sementara itu Eva (tengah) menahan haru karena melihat ibu dan kakeknya kembali bisa melihat.

“Infonya saya dapat dari Bapak TNI (Babinsa), senang bukan main ada baksos ini,” ucap Eva. Saat ikut dalam screening yang dilakukan oleh tim medis Tzu Chi di kantor Kodim 0612 Tasikmalaya (28/07/18) pun mata ibu dan kakeknya sudah positif katarak dan siap dioperasi.

Pada baksos yang dilaksanakan tanggal 24 Agustus 2018, Rodiah dan Sahro menjadi pasien yang berhasil dioperasi. Seluruhnya ada 231 pasien katarak, 8 pasien pterygium, 15 pasien hernia, 4 minor, dan 3 pasien sumbing yang berhasil dioperasi oleh tim medis Tzu Chi. “Saya berterima kasih sekali sama semua dokter dan relawan yang sudah membantu kami. Waktu yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang, kami sangat tertolong,” ucap Eva penuh haru. Sementara itu wajah gembira terpancar dari Rodiah dan Kakek Sahro.

Editor: Yuliati


Artikel Terkait

Bahagianya Bisa Kembali Melihat Sanak Keluarga

Bahagianya Bisa Kembali Melihat Sanak Keluarga

30 Agustus 2018

Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi menjadi momen yang kerap kali mengharukan, terlebih ketika seorang pasien katarak yang tidak bisa melihat akhirnya bisa kembali menangkap bayangan cahaya. 

Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -