Baksos Degeneratif di Pulau Karas: Menerjang Ombak, Mengobati yang Sulit Terjangkau
Jurnalis : Nirpan (Tzu Chi Batam), Fotografer : Hoslan, Vemmy Ho (Tzu Chi Batam)
Sesampainya di Pulau Karas, para relawan saling bergotong royong melangsir barang perlengkapan, peralatan medis, dan juga obat turun dari kapal untuk dibawa ke lokasi baksos.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan, masih ada tangan-tangan yang terulur untuk membantu. Itulah inti dari kegiatan bakti sosial kesehatan yang dilaksanakan oleh Tzu Chi Batam pada Minggu, 26 Juli 2026 di Pulau Karas, Kota Batam. Bakti sosial ini merupakan bukti bahwa kepedulian tidak mengenal jarak dan status. Dari kota hingga ke pesisir pulau seperti Pulau Karas, kegiatan bakti sosial menjadi harapan bagi warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Suasana pagi hari sempat hujan tetapi tidak mnyurutkan langkah relawan. Sebanyak 75 peserta yang terdiri dari relawan Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia dan relawan Tzu Chi Batam berkumpul di Aula Jing Si Tzu Chi Batam. Setelah mendengarkan pengarahan singkat, para relawan beranjak menuju Pelabuhan Punggur yang berjarak 40 menit perjalanan mobil.
Sesampainya di Pelabuhan Punggur, para relawan saling bergotong royong melangsir barang perlengkapan, peralatan medis, dan juga obat ke dalam kapal. Perjalanan laut dari Pulau Batam ke Pulau Karas yang menempuh waktu 45 menit.
“Tantangannya pada saat perjalanan laut dimana harus merasakan ombak yang kuat karena pada saat itu cuaca kurang bersahabat dan di kapal pun seperti terbang dan terjun sehingga ada yang mabuk laut,” ujar Nasir, relawan Tzu Chi.

Yasin, salah satu relawan Tzu Chi Batam, memberikan kata sambutan untuk memperkenalkan Tzu Chi dan menjelaskan tujuan diadakannya Baksos Degeneratif.
Hal yang sama juga dialami para relawan Tzu Chi lainnya, salah satunya dari tim Zen Shan Mei (relawan dokumentasi), Vemmy Ho. Perjalanan menuju lokasi bukanlah hal yang mudah. Ombak kuat yang mengguncang kapal membuat perjalanan terasa penuh tantangan dan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
“Perjalanan menantang dimana pada saat di kapal merasakan naik-turun akibat ombak kuat. Jika ada jalur darat, saya akan memilih jalur darat meskipun jarak yang ditempuh lumayan lama,” ungkapnya.
Setiba di Pulau Karas, para warga sangat antusias berdatangan untuk membantu menurunkan barang-barang. Gerobak motor yang disedikan warga setempat sangat membantu relawan untuk membawa peralatan berat seperti tenda, galon air, dan tiang besi ke lokasi baksos, yakni SD Negeri 019 Galang.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Yasin, relawan, Tzu Chi Batam, ia menyampaikan bahwa Kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi di tengah masyarakat dilandasi oleh semangat cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama. Melalui misi kesehatan ini, kami hadir untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun kepentingan lainnya.
“Hari ini kami ke sini membawa salah satu misi yaitu Misi Kesehatan, kita ke sini ingin melayani bapak dan ibu. Kita dari Yayasan Buddha Tzu Chi tidak ada unsur apapun baik itu politik, agama atau kepentingan apapun, kita ke sini murni hanya ingin melayani dengan baik dari sisi layanan kesehatannya,” tuturnya.

Hujan deras tidak memudarkan semangat Soegiman, relawan sekaligus Koordinator Baksos, untuk melayani para pasien yang hadir untuk berobat.
Menurut Soegiman, relawan Tzu Chi sekaligus koordinator baksos ini, mengungkapkan bahwa keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat Pulau Karas. Kondisi tersebut mendorong terselenggaranya Bakti Sosial Degeneratif sebagai upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada warga.
“Kegiatan bakti sosial ini sudah dipersiapkan sekitar kurang lebih 1 bulan. Tujuan diadakan kegiatan Baksos Degeneratif di Pulau Karas ini adalah untuk membantu warga-warga yang kesulitan untuk berobat ke Puskesmas,” tuturnya.
Melayani Pasien dengan Penuh Welas Asih
Di tengah kegiatan berlangsung, hujan deras yang disertai angin kencang sempat menerbangkan tenda yang berada di lapangan. Para relawan Tzu Chi dengan sigap menahan tenda supaya tidak terbawa angin, mereka juga perlu menenangkan warga yang berada ditenda tersebut. Setelah hujan reda, relawan mulai membersihkan genangan air agar para pasien maupun relawan dapat berkegiatan denga naman dan nyaman.

Nurbaya, salah satu warga Pulau Karas yang menerima manfaat layanan kesehatan, merasakan bahwa bantuan yang diberikan dengan ketulusan tidak hanya meringankan beban untuknya, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman.
Sebanyak 145 orang datang untuk menerima layanan kesehatan. Mereka dilayani dengan penuh welas asih oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Setiap pasien menjalani pengukuran berat dan tinggi badan, tekanan darah, kadar gula, hingga kolesterol.
Nurbaya, salah satu warga Pulau Karas yang menerima manfaat layanan kesehatan, merasakan bahwa bantuan yang diberikan dengan ketulusan tidak hanya meringankan beban untuknya, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman.
“Sangat membantu bagi kami yang tidak mampu dan memang begitu tulus dalam membantu. Memang pelayanan semuanya sangat baik,” ujar Nurbaya.

Dengan penuh perhatian, tim medis TIMA mengunjungi rumah pasien yang kesulitan hadir langsung karena sakit yang dideritanya.
Bagi Ahmad, kehadirannya dalam pelayanan baksos kesehatan Yayasan Buddha Tzu Chi bukan sekadar untuk mendapatkan pemeriksaan, tetapi juga menjadi momen untuk mengenang bantuan yang pernah ia terima pada tahun 2009.
“Bapak sangat semangat sekali bisa hadir di sini, bisa menerima layanan kesehatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rudi Tan (Ketua Yayasan Tzu Chi Batam) karena telah membantu pengobatan saya pada 2009. Bapak Rudi Tan sangat mendukung dan membantu saya dengan menjemput saya di Sembulan selama delapan kali untuk melakukan pengobatan saat itu, sehingga saat ini kondisi saya sudah membaik,” kenang Ahmad.
Tidak terbatas hanya mengobati pasien yang hadir ke lokasi, para dokter dari relawan TIMA juga mengunjungi rumah pasien yang kesulitan hadir langsung karena sakit dengan penuh perhatian.
Editor: Fikhri Fathoni
Artikel Terkait
Baksos Degeneratif Tahap Ke-3 yang Digelar Tzu Chi Palembang
20 Oktober 2017Tzu Chi Palembang kembali mengadakan Baksos Degeneratif tahap ke-3 untuk
warga Kelurahan
13 &
14 Ilir Palembang, Minggu, 15 Oktober 2017. Baksos bertempat di SDN 42, Kelurahan 13 Ilir.
Baksos Tzu Chi Palembang, Memacu Warga untuk Hidup Lebih Sehat
10 September 2019Dengan perasaan bahagia, juga diiringi cuaca cerah, Tzu Chi Palembang kembali mengadakan bakti sosial degeneratif tahap III, Minggu 1 September 2019.
Sosialisasi Baksos Degeneratif di Kelurahan Kupang Raya Lampung
24 Agustus 2018Yayasan Buddha Tzu Chi Lampung mengadakan sosialisasi baksos Degeneratif di Kelurahan Kupang Raya, Kec, Teluk Betung Utara, Bandar Lampung, hari ini Jumat, 24 Agustus 2018.







Sitemap