Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-50 Summarecon, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Summarecon Bandung dan TIMA Indonesia, menggelar bakti sosial operasi katarak gratis untuk warga bandung dan sekitarnya.
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-50 Summarecon, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Summarecon Bandung dan Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia, menggelar bakti sosial operasi katarak gratis di RS Murni Teguh Naripan, Bandung.
Kegiatan ini merupakan bakti sosial kesehatan besar Tzu Chi Indonesia yang ke-154. Kegiatan kemanusiaan ini berhasil melayani sebanyak 104 pasien dari berbagai daerah yang sebelumnya telah mengikuti proses skrining kesehatan pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Plaza Balerea Summarecon Bandung.
Program operasi katarak gratis ini menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan, khususnya Lansia dan warga prasejahtera yang kesulitan mendapatkan akses pengobatan. Sejak dini hari, para pasien bersama keluarga tampak memenuhi area rumah sakit dengan penuh harapan untuk dapat kembali melihat lebih jelas.
Dewi Indah Widyastuti, Head of Operation SMB 2 Summarecon Bandung sekaligus koordinator baksos pada kesempatan ini, menyampaikan bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam momentum perjalanan 50 tahun perusahaan.
“Summarecon sudah bekerjasama dengan Tzu Chi dalam berbagai hal, terutama dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Kami melihat Tzu Chi mempunyai pengalaman yang sangat banyak dalam melaksanakan bakti sosial. Selain itu kegiatan bakti sosial ini selaras dengan budaya perusahaan kami yaitu caring. Terutama dinilai care atau kepedulian” ucap Dewei Indah.
Dengan penuh cinta kasih, relawan Tzu Chi mendampingi pasien setelah menjalani operasi katarak.
relawan dari Summarecon, juga turut memberikan perhatian kepada pasien yang akan menjalani operasi katarak.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak rumah sakit yang mendampingi pasien sejak proses registrasi, pemeriksaan, hingga pascaoperasi. Dokter Ruly Sjambali, FCN, Sp.GK (K), M.Kes., Direktur Rumah Sakit Murni Teguh Naripan Bandung, mengapresiasi hal ini. Menurutnya, kegiatan yang telah terjalin sebelumnya memiliki perhatian khusus untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
“Ini suatu kebanggaan dan penghargaan buat kita bahwa Tzu Chi, Summarecon bisa bekerjasama dengan Muni Tegu. Nah Murni Tegu Naripan Bandung pun mempunyai misi sosial dimana kita juga bagaimana berkontribusi dengan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Kebetulan disini pihak Tzu Chi dan Summarecon juga artinya berkolaborasi untuk ikut sama-sama dalam misi sosial ini” Ujar dr. Ruly.
Selain tindakan operasi, pasien juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, serta kontrol lanjutan untuk memastikan proses pemulihan berjalan baik. Suasana hangat dan penuh kepedulian terlihat sepanjang kegiatan berlangsung melalui pendampingan para relawan Tzu Chi.
Selain itu, baksos operasi katarak juga membantu pemerintah dalam menekan angka penderita katarak, khususnya di wilayah Bandung Raya. “penderita katarak di wilayah Bandung kemarin dari dinas keshatan Banudng, jumalh katarak ini meningkat dari tahun sebelumnnya sehingga baksos ini diharapakn juga membantu masyarakat untuk menangguangi pensderita katarak” ucap dr. Subekti N. Kartasasmita, Ketua Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Bandung.
Dokter Subekti N. Kartasasmita (kiri), Ketua Tima Bandung, bersama dr. Ruly Sjambali (tengah), Dirut RS. Murni Teguh Naripan Bandung, memberikan perhatian kepada setiap pasien yang akan atau sudah menjalani operasi.
Dapat Melihat Lebih Jelas Kembali
Di balik pelaksanaan operasi katarak ini, tersimpan kisah perjuangan para pasien yang selama bertahun-tahun hidup dengan penglihatan yang semakin menurun. Salah satunya dialami oleh Dede (63), yang mengaku sudah hampir 40 tahun mengalami penglihatan kabur. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya menjadi terbatas.
“Saya katatak dari anak pertama lahir aja, sekarang anak pertama sudah 41 tahun. Ya dua-duanya katarak jadi susah liat juga. Baca dekat aja gak keliatan sama sekali gitu, buram dan tidak jelas,” cerita Dede.
Keterbatasan biaya membuat Dede belum mampu menjalani operasi secara mandiri. Karena itu, ia merasa sangat bersyukur saat mengetahui adanya program operasi katarak gratis ini. Ia mengalami katarak di kedua matanya dan keduanya dioperasi oleh Tzu Chi.
“Enggak punya biaya buat operasi, cukup mahal juga, lalu anak saya lihat brosur ada operasi gratis di Tzu Chi, ya sudah anak saya daftar untuk operasi gratis. Sebelumnnya juga sudah di operasi oleh Tzu Chi mata kanan. Dan sekarang ada operasi gratis lagi saya ikut lagi untuk operasi mata kiri saya, bener ketemu lagi sama yayasan Alhahamdulillah jodoh pisan terima kasih banyak,” tambah Dede.
Dede (kanan), warga Kecamatan Gedebage didampingi relawan Tzu Chi sebelum masuk ke ruang operasi. Dede mengaku begitu bahagia bisa menjalin jodoh kembali dengan Tzu Chi Indonesia untuk operasi mata yang kedua.
Eva, menantu dari anak pertama Dede, begitu senang mertuanya telah menjalani operasi katarak di kedua matanya. Kini Dede bisa beraktivitas kembali. Penglihatan yang sebelumnya kabur, kini bisa kembali melihat dengan jelas.
“saya seneng banget ibu saya bisa operasi dua matanya sama Tzu Chi, ibu bisa lihat lagi bisa berkatifitas normal lagi ini kebaikanyang kami dapat. Keluarga senang banget ya ibu bisa lihat jelas lagi bisa ya main lagi senang. Terima kasih banyak sekali” ucap Eva dengan semangat.
Cerita serupa juga datang dari Saeful Wahyudin (48). Ia datang jauh-jauh dari Garut untuk menjalani serangkaian tahap agar bisa menjalani operas katarak pada mata kanannya. Saeful merupakan pekerja bangunan yang telah mengidap katarak sejak setahun silam.
“Saya dari Garut, sudah katarak ini ya kurang lebih satu tahun ya. Saya kerja di bangunan, jadi kerja juga susah. Waktu itu bangun tidur tiba-tiba mata kabur gak jelas yang kanan” cerita Saeful.
Kendala kurangnya fasilitas medis untuk menunjang kesehatan menjadi alasan Saeful mengikuti operasi katarak ini. Tak hanya itu, faktor ekonomi juga membuat sebagian warga sulit mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
“Mau operasi gak ada uang, urus BPJS sudah tapi banyak kendala itu juga. Fasilitas di tempat saya juga susah. Anak ada yang tahu baksos operasi gratis ini, ya saya coba ikut, Alhamdulillah bisa di operasi sama Yayasan Tzu Chi, saya senang sekali,” haru Saeful.
Membasuh kaki sebelum memulai operasi merupakan salah satu Budaya Humanis Tzu Chi. Hal tersebut dimaknai sebagai tanda bakti dan kasih sayang terhadap orang terkasih. Inilah yang dilakukan para pendamping pasien yang akan dioperasi. Para pendamping tersebut merupakan anggota keluarga pasien.
Atikah Ifalia Ulfah saat mencuci kaki Ibunya, Yulia Mestika Sari (54). Rasa bahagia ia rasakan karena ibunya akan bisa melihat lagi dengan jelas dan beraktifitas kembali tanpa kendala.
Salah satunya Atikah Ifalia Ulfah (24), yang membasuh kaki ibunya, Yulia Mestika Sari (54), sebelum memasuki ruang operasi. Menurut Atikah, membasuh kaki orang tua mencerminkan kasih sayang yang tulus terhadap orang tuanya.
“Membasuh kaki sebelum operasi ini membuat saya juga terharu ya, karena operasi mata sebelumnnya juga tidak begitu, tapi disini harus membasuh kaki. Tadi basuh kaki mamah, sambil saya berharap mamah bisa pulih lagi, bisa melihat jelas karena sayang mamah,” haru Atikah.
Bagi para pasien, bantuan operasi katarak ini bukan hanya soal kesehatan mata, tetapi juga tentang harapan untuk kembali menjalani hidup dengan lebih mandiri dan penuh semangat. Melalui kegiatan ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Summarecon Bandung dan TIMA Indonesia, berharap dapat terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus menebarkan semangat cinta kasih dan kepedulian kepada sesama.
Editor: FIkhri Fathoni