Banjir Jakarta: “Lakukan Selagi Masih Bisaâ€
Jurnalis : Erli Tan (He Qi Utara), Fotografer : Yusniaty, Erli Tan, Feranika Husodo (He Qi Utara)
|
| ||
| Keesokan harinya Minggu, 19 Januari 2014 jam 07.00, relawan kembali berkumpul di bagian dapur Tzu Chi Centre untuk menyiapkan 5.000 nasi bungkus hangat yang akan dibagikan langsung kepada korban banjir. Di antara kerumunan relawan yang sedang bekerja, Usman Sutanto Shixiong terlihat tertatih-tatih berjalan untuk memindahkan satu kardus berisi penuh nasi yang telah dibungkus dan akan disalurkan. “Duh…Shixiong, cari kerjaan yang tidak pake jalan-jalan aja,” ujar saya spontan saat melihatnya. Telapak kaki kirinya terkena pecahan kaca beberapa hari sebelumnya, dan saat itu darah mengucur deras sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Namun luka ini tidak memudarkan semangatnya dalam bersumbangsih. Relawan yang sehari-harinya memang aktif di bagian logistik ini hanya tersenyum. Yuli Shijie yang bertugas sebagai koordinator bungkus nasi saat itu juga menimpali, “Iya Shixiong, jangan jalan-jalan lagi.” Teguran ini kembali ia tanggapi dengan senyum yang memperlihatkan gurat-gurat jelas di wajah. Ketika seseorang mendapat luka cukup parah yang mengakibatkan pergerakan jadi tidak efisien, biasanya ia akan istirahat saja di rumah. Tapi lain halnya dengan Usman Shixiong, baginya bersumbangsih merupakan sebuah kewajiban yang tak mampu dielaknya.
Keterangan :
Keseimbangan Batin
Keterangan :
“Tadi siang sempat pulang sejenak dan ke rumah orang tua saya, karena setiap Minggu kami punya kebiasaan pulang melihat orang tua. Sebelum kembali lagi ke sini saya sempat keluar dulu membeli bahan, saat itu malah mereka berdua (anak-anak) yang tidak sabaran, saya ditelepon dan ditanya apakah beli bahannya sudah selesai dan apakah sudah bisa berangkat?” tukas Usman dengan sedikit senyum dan gelengan kepala. Sekeluarga mereka berempat setiap hari berlangganan menikmati drama DAAI TV, dan bagi Usman ini merupakan sebuah kebahagiaan. Ceramah Master Cheng Yen tentunya juga tidak terlewatkan olehnya. “Dulu saya sangat aktif di wihara, hanya mendengar dharma dan melafalkan sutra. Tapi di Tzu Chi, Master bukan hanya mengajarkan Dharma, di sini kita juga bisa berkontribusi. Dan melalui ceramah Master, kita bisa melihat secara visual (nyata), sehingga (dharma) mudah dicerna dan mudah dimengerti,” tuturnya. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya sumbangsih yang diberikan, ia merasa pilihannya tidak keliru. Keseimbangan batin yang terasa membuatnya merasa yakin, inilah jalan yang benar, sehingga memantapkan batinnya untuk terus berjalan. “Selagi masih bisa, saya akan lakukan terus,” ujarnya mantap. Hari itu Usman bahkan sempat turun ke lapangan, ikut membagi-bagikan nasi hangat di posko Tzu Chi Kapuk Muara. “Menggenggam setiap saat”, yang sering diucapkan oleh Master Cheng Yen dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh Usman Shixiong sebagai murid. Walaupun sibuk, walaupun kaki sakit dan harus berjalan jinjit sebelah, tidak mengurungkan niatnya untuk terus berjalan di jalan Bodhisatwa.
| |||
Artikel Terkait
Merayakan Waisak di Summarecon Mall Serpong
28 Mei 2014 Bertemakan “Doa Jutaan Insan” di tahun 2014 ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kembali mengadakan perayaan Waisak, Hari Ibu, dan Hari Tzu Chi sedunia. Perayaan ini diadakan di Jakarta, dan beberapa kota besar lainnya. Dengan menghimpun jalinan jodoh yang baik, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Tangerang juga turut mengadakan prosesi waisak beserta pameran Jing Si.Perpisahan Awal dari Pertemuan
19 Juni 2019Sebanyak 99 orang peserta mengikuti Kelas Pendidikan Budi Pekerti Tzu Chi (Tzu Shao: setingkat SMP dan SMA). Ada yang baru mendaftar, dan ada pula anggota Tzu Shao yang akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di kota lain.
Memperkenalkan Seni Dokumentasi Jejak Cinta Kasih
06 November 2023Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan perekrutan dan pelatihan tim dokumentasi yang berfokus pada teknik pembuatan artikel dan fotografi.










Sitemap