Banjir Manado: Survei Pertama ke Wilayah Bantuan

Jurnalis : Juliana Santy, Fotografer : Anand Yahya
 
 

foto
Pada tanggal 19 Januari 2014, sejumlah relawan yang berada di Manado melakukan survei di wilayah perumahan penduduk.

 

Di bulan Januari 2014, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Manado akan terjadi penumpukan awan yang sangat tebal dan akan turun hujan yang lebat. Mulai dari tanggal 14 malam, Manado dilanda hujan yang sangat lebat hingga pagi hari, akibatnya permukaan air naik.

Di wilayah perbukitan juga turun hujan deras dan menyebabkan pintu air Tomohon harus dibuka, akibatnya air mengalir ke sekitar aliran sungai di Manado. Manado berada di tepi laut dan wilayahnya dikelilingi perbukitan, sehingga seperti di Jakarta dan Bogor, jika Bogor dilanda hujan deras, dan pintu air harus dibuka maka beberapa wilayah di Jakarta akan terkena banjir.


Hujan yang turun deras dan dibukanya pintu air membuat luapan sungai menjadi sangat luar biasa dan pada tanggal 15 Januari pagi Manado dilanda banjir terparah yang pernah menimpa wilayah tersebut. Ketinggian air meluap dari kondisi normal hingga mencapai tinggi 7-10 meter dari kondisi sungai normal dan cakupan banjir kali ini lebih luas dibandingkan dengan banjir yang pernah melanda Manado pada tahun 2000 silam. Walikota Manado Vicky Lumentut mengumumkan penetapan status darurat bencana bagi Kota Manado setelah banjir bandang melumpuhkan kota itu. Status darurat bencana ditetapkan mulai tanggal 15 hingga 29 Januari 2014.

foto  foto

Keterangan :

  • Joe Riadi, Ketua Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi diterima oleh Walikota Manado Vicky Lumentut di rumah dinas (19/01/2014). Pertemuan ini untuk koordinasi bantuan Tzu Chi di Kota Manado. (kiri).
  • Walikota Manado Vicky Lumentut beserta istri yang juga Ketua PMI Kota Manado memberi petunjuk daerah-daerah yang sangat membutuhkan bantuan di kediaman rumah dinas Walikota Manado (19/01/2014). (kanan).

Pada Minggu pagi, 19 Januari 2014, sejumlah relawan Tzu Chi datang ke rumah dinas Walikota Manado untuk melakukan koordinasi mengenai pembagiaan bantuan di wilayah tersebut. Koordinasi ini dilakukan agar pembagian bantuan nanti dapat lebih tepat sasaran ke wilayah-wilayah yang sangat membutuhkan. Walikota Manado menyebutkan bahwa keadaan Kota Manado sampai tadi malam (18/1) tampak porak poranda. Berdasarkan data hingga 18 Januari malam, banjir ini menimpa 87 ribu penduduk, memakan korban jiwa di wilayah Manado sebanyak 6 orang, menghanyutkan 535 rumah, dan sekitar 10 ribu rumah rusak ringan dan berat. Kejadian ini juga menyebabkan sulitnya pasokan air bersih serta listrik yang masih belum diaktifkan di sebagian tempat. Warga juga kesulitan untuk melakukan aktivitas memasak, jika pun dapat memasak, bahan mentah untuk masakan sulit didapatkan karena dari 6 pasar tradisional di Manado, hanya 1 pasar yang beroperasi.

 

foto  foto

Keterangan :

  • Kondisi rumah warga yang terkena banjir bandang. (kiri).
  • Seorang bapak berada di depan rumahnya yang telah hilang tertimpa sampah-sampah. (kanan).

Rasa syukur diungkapkan oleh WaliKota Manado Vicky Lumentut, atas kehadiran insan Tzu Chi untuk ikut serta membantu warga di Manado. “Walaupun tidak ada hubungan dengan Manado, tetapi juga ikut membantu, karena prinsip kemanusian. Secara cepat, termasuk tenaga sebanyak 26 relawan dikirim untuk membantu. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Kami sangat terbantu untuk pelayanan yang sangat tulus ini,” ucapnya.

Usai melakukan koordinasi dengan walikota dan mendapatkan informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan, relawan langsung bergerak melakukan survei ke lokasi bencana. Tempat yang dikunjungi adalah Gereja Siloam yang menjadi tempat pengungsian warga di sekitar wilayah Dendengan. Di tempat tersebut juga relawan membangun posko kesehatan darurat selama beberapa jam bagi warga pengungsi. Usai dari posko kesehatan darurat, sebagian relawan melakukan survei ke dalam daerah perumahan warga di Kampung Arab. Di wilayah tersebut banjir mencapai hingga atap rumah warga. Baik jalan maupun rumah dipenuhi dengan lumpur dan sampah-sampah. Di lokasi tersebut relawan berkeliling untuk mencari tempat mendirikan posko bantuan bagi warga.

 

  
 

Artikel Terkait

Menyambut Penerima bantuan Layaknya Keluarga

Menyambut Penerima bantuan Layaknya Keluarga

20 Januari 2020

Relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Medan Selatan mengundang para penerima bantuan pulang ke Depo Pelestarian Lingkungan Titi Kuning (5/1/2020). Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun untuk lebih mendekatkan penerima bantuan beserta keluarganya dengan Tzu Chi. Kepulangan para penerima bantuan ini selalu disambut hangat layaknya keluarga.

Suara Kasih: Empat Pikiran Tanpa Batas

Suara Kasih: Empat Pikiran Tanpa Batas

29 Juni 2012
Kalian telah memiliki semangat untuk mewariskan ajaran Jing Si. Ajaran Jing Si adalah giat mempraktikkan jalan kebenaran. Dalam melatih diri, setiap orang harus meneguhkan pikiran, tidak takut akan kesulitan, dan harus tahu cara mengatasi berbagai kesulitandi dalam kehidupan.
Bulan Tujuh Penuh Berkah: Kembali ke Kehidupan yang Sederhana

Bulan Tujuh Penuh Berkah: Kembali ke Kehidupan yang Sederhana

23 Agustus 2015 Isyarat tangan "A Pa Khan Cui Gu" (Ayah menuntun kerbau) yang membuka drama dalam rangkaian acara Bulan Tujuh Penuh Berkah, Minggu 23 Agustus 2015 di Aula Jing Si Lantai 3, Tzu  Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Lagu bernada ceria dan membangkitkan semangat ini dipilih karena sesuai dengan alur drama yaitu seorang petani (kakek) yang menuntun kerbaunya melewati perkebunan yang penuh dengan sawi putih segar serta perkebunan tebu manis yang mengundang liur.
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -