Bedah Buku: Belajar Mengubah Tabiat Buruk
Jurnalis : Ciu Yen (He Qi Utara), Fotografer : Stephen Ang (He Qi Utara)|
|
| ||
Pembicara malam ini adalah Surya Lie shixiong, mengangkat topik berdasarkan buku Dharma Master Cheng Yen Bercerita Bagian I Bab 4: Ular yang Keras Kepala. Setelah membaca kisah ini saya sedikit terkejut karena ternyata murid sang Buddha yang dengan tingkat pelatihan diri dan bijaksana tinggi yaitu Sariputra pun masih memiliki sisa tabiat buruk akibat dari kehidupan masa lampaunya. Saya pun kemudian menyadari bahwa setiap orang memiliki tabiat buruk. Meski begitu, bukan berarti kebiasaan (tabiat buruk) ini tidak dapat diubah. Namun, yang lebih membahayakan adalah jika kita tidak menyadari apa tabiat buruk kita. Setiap manusia memiliki kelemahan yang berbeda–beda, bisa saja kelemahan kita ada di keserakahan, kebencian, kebodohan, kecurigaan, atau pun kesombongan. Sungguh kita harus menyadari apa tabiat buruk kita dan berusaha untuk mengubahnya. “Ular Yang Keras Kepala” menceritakan satu kisah di masa Sang Buddha tentang seorang biksu muda dan Biksu Sariputra. Dari kisah tersebut kita melihat “benar” dan “salah” sungguh sulit untuk dijelaskan, terkadang kita sering kali melakukan suatu tindakan yang kita anggap benar meskipun hal itu mungkin saja memang adalah benar namun ada sebagian besar orang yang menganggap itu tidak benar. Dalam kehidupan sehari-hari pun persoalan “benar” dan “salah” kerap kita jumpai, semua kembali lagi kepada diri kita masing-masing bagaimana cara kita menyikapi setiap persoalan yang ada itulah yang akan menentukan sikap kita. “Saya berpikir segala sesuatu terjadi sesuai dengan jodohnya tidak ada yang salah melainkan hanya “keadaan” selalu bersyukur jangan sampai kita membuang cinta kasih hanya untuk menjadi benar,” ungkap Posan Shixiong dalam sharingnya. Saat merasa benar kita suka mempertahankannya sehingga terkadang menimbulkan konflik dengan orang lain. Saat konflik terjadi itu artinya kita telah membuang cinta kasih hanya untuk menjadi benar, kita marah hanya untuk menjadi benar. Marilah kita senantiasa bersyukur, berpikiran terbuka, jangan sampai melepaskan jodoh yang telah terjalin baik hanya untuk mempertahankan pendapat kita saja. Kita mungkin tidak bisa mengubah satu keadaan tapi kita bisa mengubah pola pikir kita sendiri agar tetap tenang, karena hanya dalam kondisi batin yang tenanglah kita akan mampu mengatasi setiap situasi dan kondisi atau pun kesulitan dalam kehidupan ini dengan baik.
Keterangan :
Beberapa faktor penyebab tabiat buruk diantaranya adalah kebiasaan di masa lalu (karma), setiap orang terlahir dengan membawa karmanya masing-masing termasuk kebiasaan-kebiasaan di masa lalunya, apakah itu kebiasaan baik atau kebiasaan buruk sedikit banyak akan mempengaruhi kebiasaan di kehidupan yang sekarang. Lingkungan pergaulan yang tidak sehat, banyak berteman dengan teman yang tidak baik, selalu berpikir secara negatif juga merupakan faktor penyebab tabiat buruk seseorang. Mengubah Tabiat Buruk Mari bersama-sama kita melatih diri meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Kita harus berlomba dengan waktu, menggengam dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Jangan biarkan hari demi hari berlalu sia-sia tanpa menghasilkan sesuatu. Terlahir menjadi manusia dan berkesempatan mengenal Dharma sungguh merupakan satu kesempatan yang luar biasa, oleh sebab itu marilah isi hari-hari kita dengan melakukan hal-hal yang bermafaat sehingga kehidupan ini kita lalui dengan penuh makna. | |||
Artikel Terkait
Petani Myanmar Membalas Budi
23 Juni 2014 U Thein Tun memilih untuk tidak menggunakan pestisida dan setiap hari mengucapkan kata-kata baik pada tanaman padinya. Setelah sekian tahun berlalu, kondisi keuangannya meningkat karena hasil panen yang baik. Lalu ia menyewa satu hektar lahan pertanian dan berencana menyumbang beras yang dihasilkan lahan itu untuk Tzu Chi.
Suara Kasih: Kisah-kisah Keteladanan
27 Januari 2012 Pada ulang tahun yang ke-45, Tzu Chi mengadakan pementasan adaptasi Sutra Dharma Bagaikan Air. Dalam pementasan, seorang relawan memberikan sharing mengenai pertobatannya di atas panggung. Istrinya bervegetarian selama 108 hari.
Pelatihan 4 in 1: Berbekal Dharma untuk Memperpanjang Barisan Bodhisatwa
13 Maret 2023Kamp Pelatihan 4 in 1 yang berlangsung di Gedung Aula Jing Si, Tzu Chi Center pada 11-12 Maret 2023 diikuti oleh para pengurus 4 in 1 dan juga relawan yang dilantik menjadi Calon Komite.








Sitemap