Bedah Buku: Mengikis Noda Batin
Jurnalis : Lo Wahyuni (He Qi Utara), Fotografer : Anand Yahya|
|
| ||
| “Selamat sore Shixiong-Shijie, mari kita saksikan tayangan video Sanubari teduh dari Master Cheng Yen,” demikian Hendry Cahyadi Shixiong menyapa para hadirin di acara bedah buku yang dihadiri oleh 27 peserta dari 4 He Qi (Utara, Barat, Timur, dan Selatan), staf DaAi TV dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Membersihkan Kekotoran Batin Begitu banyaknya kekotoran noda batin manusia sehingga kita perlu melakukan pertobatan. Maksud dari bertobat ini bukanlah pergi ke tempat ibadah dengan cara membaca naskah “Pertobatan ”. Esensi terpenting dari Pertobatan Air Samadhi adalah menyampaikan rasa bersalah secara “terbuka” dan mengungkapkan rasa penyesalannya kepada orang lain untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Setiap manusia perlu bertobat sebab sejak lahir sampai sekarang , semua anggota tubuh manusia dan ucapan dan pikiran, tidak ada yang tidak berbuat dosa (melakukan karma buruk). Oleh karena itu sangatlah perlu melakukan pertobatan yang tulus . Ada pun yang menyebabkan timbulnya noda-noda batin manusia ada 3 hal: kerisauan, karma, dan buah karma. Oleh karena itu perlu adanya Dharma. Sebab Dharma bagaikan air yang mampu membersihkan kekotoran noda batin manusia. Batin yang bersih mampu menyerap Dharma dengan baik sehingga dapat mendalami Dharma (Kebenaran) dan akhirnya dapat meningkatkan kebijaksanaan.
Keterangan :
Di dalam Dharma kita harus menjalankan 5 sila, yaitu: “Tidak Membunuh , Tidak Mencuri, Tidak Berbuat Asusila , Tidak Berbohong, dan Tidak Minum-minuman Keras” . Namun, kita hendaknya dapat mempraktekkan 10 kebajikan yang dirangkum dari melakukan kebajikan oleh “Tubuh, Ucapan, dan Pikiran”. Adapun melakukan 3 Kebajikan oleh tubuh jasmani: tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak berbuat asusila, kemudian menjaga ucapan (perkataan) kita dari 4 hal: tidak berkata-kata yang kasar, tidak bergunjing, tidak berdusta, dan tidak berkata-kata kosong. Sedangkan dari pikiran yang harus dilakukan adalah mengikis 3 hal: “Kesombongan, Kebencian, dan Kebodohan” (kegelapan batin). Terlahir sebagai manusia, sebagai makhluk yang termulia dari semua makhluk, kita harus dapat menggunakan setiap kesempatan untuk membina diri dengan baik dengan menanamkan 3 sifat utama di dalam batin, yaitu:
Pada saat batin manusia terbebas dari kekotoran noda itu dapat disebut memiliki sifat hakiki setara Budha. Ketika kondisi batin yang tenang tanpa kerisauan, dunia akan dipenuhi kedamaian dan kehidupan manusia akan dipenuhi keharmonisan. Hal yang terpenting adalah menjaga batin dari kesombongan seperti kisah mahaguru Wu Da yang dalam 10 x reinkarnasi kehidupannya selalu berbuat kebajikan, namun karena memiliki keangkuhan hati sehingga pintu karma terbuka dan karma buruk dapat berbuah. Kesombongan dapat mengikis habis semua karma baik yang dimiliki.
Keterangan :
Para peserta sangat bersyukur dengan pembabaran Dharma dari Master Cheng Yen tentang Mempraktikkan Jalan Kebajikan. Saya juga sangat terkesan dengan pencerahan dari buku Pertobatan Air Samadhi yang ditulis oleh Mahaguru Wu Da, yang dipaparkan dengan lugas oleh Hendry Shixiong . Tepat pukul 19.28 WIB acara bedah buku ini ditutup oleh Wen Yu Shijie dengan harapan agar setiap orang dapat memperoleh manfaat dari kegiatan bedah buku ini dengan mendapat peningkatan kebijaksanaannya. Master Cheng Yen senantiasa mengingatkan insan Tzu Chi dalam melakukan kegiatan-kegiatan kebajikan di jalan Bodhisatwa, kita harus bersumbangsih tanpa pamrih dan dengan tulus agar tidak timbul kemelekatan, sebab perbuatan baik yang dilakukan juga dapat menghalangi menuju jalan pencerahan apabila ada kemelekatan di dalamnya. Sebagai seorang Bodhisatwa (orang yang suka menolong orang lain dan membimbing orang lain untuk berbuat kebaikan), harus dengan batin yang tulus melakukan dan senantiasa membimbing orang lain turut serta melakukan kebajikan. Melakukan kebajikan dengan tulus maka batin akan menerimanya dengan sukacita sebab batin menjadi semakin tenang tanpa beban bila kita memberi dengan tulus ikhlas. Kita harus senantiasa menyadari, menghargai dan menciptakan berkah di ladang kebajikan Tzu Chi. Kehidupan yang penuh berkah dan kepuasan adalah ketika mampu menjadikan kegembiraan orang lain menjadi kegembiraan diri sendiri serta menjadikan keberhasilan orang lain sebagai kebanggaan diri sendiri. Lakukanlah hal-hal yang benar tanpa ragu-ragu dan jangan berhenti di tengah jalan. Walaupun kehidupan dapat berakhir, namun kemilau cahaya kesadaran jiwa akan menerangi alam kehidupan. Inilah makna kehidupan yang sesungguhnya. Menghadiri acara bedah buku dan Jing Si Talk secara rutin sangatlah penting, sebab menjadi vitamin dan nutrisi batin yang akan berbuah kebijaksanaan. Hikmah kebijaksanaan yang baik akan dimiliki oleh mereka yang bertekad untuk mempraktikkan Dharma secara nyata dalam kehidupannya, terutama saat melakukan kegiatan-kegiatan kebajikan di Tzu Chi. Atasi kesombongan dengan berdana, atasi kebencian dengan welas asih dan atasi kegelapan batin (kebodohan) dengan kebijaksanaan. | |||
Artikel Terkait
Penantian yang Berbuah Manis
04 November 2020Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama BPBD Kabupaten Sigi melanjutkan verifikasi dan pengundian nomor rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Tzu Chi menyiapkan 500 unit rumah di wilayah Pombewe Sigi.
BEM FIB Universitas Indonesia Kembali Kunjungi Tzu Chi Center
11 Juni 2019Tim Departemen Pengabdi Masyarakat dan Lingkungan BEM FIB Universitas Indonesia pun kembali berkunjung ke Tzu Chi PIK. Ini merupakan kedatangan mereka yang kedua kalinya. Kedatangan kali ini berbeda dari sebelumnya, sekarang Sphatika mengajak 43 teman-teman komunitas BEM dari berbagai jurusan.
Meringankan Duka Korban Kebakaran di Simprug, Jakarta Selatan
02 September 2022Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Pusat (Xie Li Selatan) memberikan 170 paket bantuan kepada korban musibah kebakaran di Jl. Simprug Golf II, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.










Sitemap