Relawan yang baru dilantik berdiri dengan wajah cerah dan penuh sukacita. Senyum yang terpancar menggambarkan kebahagiaan sekaligus tekad untuk melangkah di jalan berbagi dan melayani dengan hati.
Minggu pagi, 26 April 2026, Langkah semangat 52 orang relawan Tzu Chi datang menghadiri training relawan Abu Putih ke-2 yang diselenggarakan di Kantor Tzu Chi Surabaya.
Training yang dilaksanakan secara hybrid bersama tim relawan Jakarta ini diikuti oleh kantor perwakilan Tzu Chi dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak empat materi disampaikan sebagai bekal dalam menjalankan peran sebagai relawan Abu Putih.
Meneladani Sejarah dan Semangat Master Cheng Yen
Sesi pertama dibawakan oleh Dora Shijie yang mengulas tentang sejarah kehidupan Master Cheng Yen dalam mendirikan Yayasan Buddha Tzu Chi. Relawan diajak mengingat kembali tantangan awal serta prinsip kemandirian Master Cheng Yen yang masih diterapkan hingga saat ini.
Dora Shijie menekankan bahwa seluruh kegiatan Tzu Chi sangat terhubung dengan perjalanan kehidupan Master Cheng Yen. Contohnya, saat mengunjungi Gan En Hu (penerima bantuan khusus Tzu Chi), relawan tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memberikan perhatian yang tulus. Menurut Dora Shijie, menjadi relawan Tzu Chi berarti menjadikan semangat dan teladan masa lalu Master Cheng Yen sebagai pedoman dasar dalam setiap langkah di Tzu Chi.
Penyerahan suvenir dan pemasangan name tag kepada relawan yang baru dilantik menjadi simbol amanah serta awal perjalanan dalam menapaki jalan kemanusiaan bersama Tzu Chi dengan penuh ketulusan.
Misi Kesehatan: Memutus Rantai Kesakitan dan Kemiskinan
Wey Alam Shixiong, menyampaikan sejarah dan semangat Misi Kesehatan Tzu Chi. Wey Alam Shixiong menceritakan dasar pemikiran rumah sakit Tzu Chi yang tidak memungut biaya jaminan terlebih dahulu. Hal ini berawal dari pengalaman Master Cheng Yen saat melihat bercak darah di lantai sebuah rumah sakit karena seorang ibu yang mengalami keguguran dan ditolak pihak rumah sakit karena tidak ada biaya jaminan.
Master Cheng Yen menyadari bahwa penyakit adalah sumber kemiskinan. Ketika salah satu anggota keluarga sakit, fokus dan sumber daya seluruh anggota keluarga akan terkuras. Pada masa awal Tzu Chi melakukan bakti sosial, masyarakat bersemangat untuk ikut serta. Namun, kondisi kekurangan alat kesehatan yang memadai membuat penanganan pasien berpenyakit berat tidak dapat ditindaklanjuti dan harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Proses ini memerlukan biaya serta waktu yang besar sehingga sering kali pasien tidak tertolong.
Tekad Pembangunan Rumah Sakit di Hualien
Kondisi tersebut membuat Master Cheng Yen bertekad membangun rumah sakit di Hualien demi melepaskan masyarakat dari jerat kemiskinan akibat sakit. Rumah sakit ini bentuk keberlanjutan semangat kemanusiaan sekaligus warisan kebajikan bagi generasi mendatang.
Dalam prosesnya, Master Cheng Yen menghadapi tantangan besar terkait biaya, lokasi, hingga kebutuhan tenaga medis. Master Cheng Yen memiliki semangat agar rumah sakit ini didirikan dan dimiliki oleh masyarakat. Oleh karena itu, dana pembangunan dikumpulkan dari setiap warga meskipun dengan nominal yang kecil. Berkat kegigihan Master Cheng Yen, banyak masyarakat tergerak hatinya untuk menjadi donatur sehingga Tzu Chi dapat mendirikan rumah sakit pertama di Hualien dengan dukungan tenaga kesehatan yang profesional.
Wey Alam Shixiong mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini, Misi Kesehatan Tzu Chi telah berkembang hingga memiliki rumah sakit di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kesungguhan hati Master Cheng Yen dalam mendirikan Misi Kesehatan ini pun tergambar dalam kata perenungan Master Cheng Yen: “Orang yang memiliki idealisme hendaknya terus melangkah maju dengan tekad yang teguh hingga akhirnya mencapai tujuan.”
Relawan Tzu Chi Surabaya dengan penuh perhatian mengikuti penyampaian materi pelatihan melalui Zoom, memperdalam pemahaman serta memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Menggalang Dana dan Menggalang Hati
Materi berikutnya dituturkan oleh Jhonny Shixiong . Jhonny Shixiong mengajak relawan untuk mengingat awal perjalanan Master Cheng Yen dalam menggalang dana untuk membantu sesama dan membangkitkan niat baik setiap hari. Meskipun mengelola dana donasi, Master Cheng Yen bersama murid-muridnya tetap memegang prinsip kemandirian, di mana kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil bekerja sendiri.
Jhonny Shixiong mengajak relawan untuk turut bersumbangsih, tidak hanya dengan berdonasi, tetapi juga dengan menggalang hati. Menggalang dana sendiri merupakan sarana bagi relawan untuk menceritakan Visi dan Misi Yayasan Tzu Chi kepada orang lain.
Yayasan Buddha Tzu Chi tidak menekankan besar atau kecilnya dana, karena yang terpenting adalah keikhlasan. Menggalang dana merupakan kesempatan berharga untuk menjalin jodoh yang baik dan melatih diri, yang dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga orang-orang terdekat.
Pada sesi break, relawan Tzu Chi Surabaya saling mengingatkan untuk tetap menjaga sikap humanis, mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kehangatan dalam setiap interaksi.
Keindahan Budaya Humanis Tzu Chi
Di akhir pelatihan, Nelley Shijie memberikan materi tentang keindahan Budaya Humanis. Nelley Shijie menjelaskan setiap orang memiliki benih cinta kasih. Melalui prinsip ini, Tzu Chi berupaya menginspirasi orang yang mampu serta membantu mereka yang membutuhkan.
Budaya humanis ini diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga nilai utama, yaitu Bersyukur (Gan En), Menghormati (Zun Zhong), dan Cinta kasih (Ai). Melalui Gan En sebagai wujud syukur atas berkah yang dimiliki dan rasa terima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk berbuat kebajikan. Saat memberikan bantuan, relawan harus menerapkan sikap Zun Zhong dan menjaga martabat penerima bantuan (Gan En Hu).
Budaya humanis Tzu Chi juga dicerminkan melalui tampilan diri dan tata krama. Master Cheng Yen berpesan agar para relawan selalu menjaga penampilan, karena hal tersebut merupakan cerminan dari kepribadian seseorang. Dengan kepribadian yang baik, relawan dapat menjalin jodoh yang baik dengan sesama melalui Tzu Chi.
Master Cheng Yen berharap praktik budaya humanis ini menjadi sarana untuk meningkatkan keindahan diri, sebagaimana tertuang dalam kata perenungan: “Rajutlah keindahan diri sendiri menjadi keindahan kelompok, sehingga dengan demikian kita telah memperindah diri sendiri dan kelompok.”
Pelantikan dan Tekad Relawan
Pada akhir pelatihan, momen khidmat pelantikan relawan Abu Putih pun dilaksanakan. Terdapat lima relawan Tzu Chi Surabaya yang dilantik, yaitu Sugianto, Verlin, Yenti, Umma, dan Hero.
Yenti Shijie menceritakan awalnya dirinya mencari kegiatan tambahan, namun setelah bergabung dan ikut berkegiatan, Yenti merasa sangat bahagia karena dapat membantu sesama sekaligus memperoleh pengalaman berharga. Hal serupa dirasakan oleh Verlin Shijie. Di tengah kesibukannya bekerja, ia bertekad untuk semakin giat mengikuti kegiatan Tzu Chi. Baginya, ini adalah jalan untuk terus menambah wawasan serta menolong lebih banyak orang yang membutuhkan.
Suasana terasa akrab dan tulus, bukan sekadar memberi jawaban, tetapi juga menyambut relawan baru dengan sepenuh hati.
Livia Shijie menyampaikan pesan cinta kasih untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya mengenal kisah Master Cheng Yen dan sejarah Misi Kesehatan yang lahir dari keinginan luhur untuk membantu masyarakat tidak mampu.
Dalam hal menggalang hati dan dana, Livia Shijie menekankan agar relawan sering menceritakan kisah Tzu Chi kepada orang lain. Proses ini untuk melatih diri dan belajar merendahkan hati. Begitu pula dengan budaya humanis yang menjadi kesepakatan bersama untuk menjaga keindahan dalam kelompok.
Anggi Shijie, relawan Surabaya yang hadir hari itu, membagikan pengalamannya dalam menggalang dana. “Saat ini, donatur saya kebanyakan berasal dari orang-orang terdekat, seperti saudara dan rekan kerja. Mereka sering mengatakan bahwa berdana itu seperti tabungan akhirat. Jadi, setiap bulan saya selalu mengajak, ayo kita menabung kebaikan bersama,” jelas Anggi.
“Usia saya sudah tidak muda lagi, jadi daya serap terhadap materi memang tidak seperti dulu. Namun, melalui training ini, saya tidak ingin berhenti belajar. Saya dapat kembali memperdalam pengetahuan tentang Master dan Tzu Chi. Saya juga bertekad untuk mengajak lebih banyak orang agar ikut menjadi donatur,” lanjut Anggi.
Para peserta juga disuguhkan tayangan video Lentera Kehidupan Master Cheng Yen. Master Cheng Yen berpesan agar kita tidak mencari keuntungan, melainkan fokus pada upaya melindungi kehidupan. Dalam Empat Misi Tzu Chi, yang dijaga bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan batin.
Khusus dalam Misi Kesehatan, tujuannya tidak hanya menyelamatkan orang sakit atau meringankan beban mereka, tetapi juga berupaya melenyapkan penderitaan manusia. Master Cheng Yen mengajak setiap relawan untuk bertekad melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama. Dengan demikian, kita dapat terus memaknai nilai kehidupan melalui kebajikan.
Editor: Anand Yahya