Belajar dari Pengalaman Ketua Tzu Chi Indonesia

Jurnalis : Juliana Santy, Fotografer : Deliana Sanjaya, Rudy Darwin

Pada kegiatan Tzu Ching Kamp 2014 ini Tzu Ching mendapatkan kesempatan yang berharga karena dapat mendengar sharing Liu Su Mei Shigu tentang perjalanannya bersama Tzu Chi Indonesia.

Sebuah sharing pengalaman yang berharga didapat oleh Tzu Ching Indonesia pada saat Tzu Ching Camp 2014 yang dilaksanakan pada tanggal 5-7 September 2014 di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Sharing pengalaman itu berasal seorang ibu sekaligus relawan yang sudah 20 tahun lebih mendedikasikan dirinya bagi Tzu Chi di Indonesia, ia adalah salah satu benih awal Tzu Chi Indonesia dan hingga saat ini masih mengemban tanggung jawab sebagai ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, siapa lagi jika bukan Liu Su Mei Shigu.

Sungguh suatu kesempatan yang berharga karena muda-mudi Tzu Chi ini dapat belajar dari pengalaman dan perjalanan Su Mei Shigu di Tzu Chi. Su Mei Shigu memulai cerita dengan bagaimana perjalanannya ke Indonesia hingga akhirnya mengenal Tzu Chi. Awalnya Su Mei Shigu datang ke Indonesia untuk mengurus usaha bersama suami, hingga akhirnya ia bertemu dengan Liang Cheung dan mengenal Tzu Chi , ia pun dengan senang hati menerima ajakan ikut membantu melakukan kegiatan sosial.

 Pada saat itu Tzu Chi Indonesia belum resmi berdiri, Su Mei Shigu pun belum memahami Tzu Chi lebih dalam, hingga akhirnya pada tahun 1993, sebanyak 6 ibu rumah tangga pulang ke Griya Jing Si untuk melihat Tzu Chi lebih jauh. Kunjungan ini membuat Su Mei Shigu berpikir dan merasa bahwa bertemu guru seperti itu merupakan kesempatan yang langka, bertemu dengan kesempatan yang baik seperti itu maka harus belajar.  Saat itu ia pun bertanya kepada Master Cheng Yen, bolehkah menjalankan Tzu Chi di Indonesia? ia pun langsung mendapat jawaban dari Master Cheng Yen, yaitu “Kalian hidup di luar negeri, berteduh di bawah langit orang, berpijak diatas tanah orang, maka harus bersyukur dan membalas budi kebaikan warga dan sumber daya setempat”.

Kembali ke Indonesia, mereka memulai kegiatan sosial bersama. Pada saat itu kebanyakan adalah ibu-ibu rumah tangga dan kebanyakan adalah orang Taiwan. Walau terkendala bahasa dan mereka hanya bisa menggunakan isyarat tangan untuk berinteraksi, tetap saja mereka mampu menjalankan Tzu Chi. Masa itu tidak sebebas saat ini dimana kita bisa bebas lakukan sosialisasi ataupun training dengan begitu banyak orang. Dahulu mereka hanya menjalankan dari rumah ke rumah, saat pulang ke Taiwan, buku Tzu Chi yang semua berbahasa Mandarin mereka simpan baik-baik di dalam koper agar dapat melewati pemeriksaan di Bandara. Begitu sampai mereka membacanya bergiliran. Pernah suatu saat ketika sedang mengadakan sosialisasi pertama di Sekolah Taipei, pihak kepolisian, BIN, hingga Imigrasi, semua menghampiri relawan.  Pada saat itu mereka dicurigai karena berkumpul banyak orang dan Tzu Chi belum teregistrasi.

Bagaimana Shigu dan yang lainnya bisa mengatasi kesulitan seperti ini? Mereka mengingat ajaran Master Cheng Yen agar dapat bersumbangsih tanpa pamrih. Melihat aktivitas mereka, pihak pemerintah, kepolisian, dan lainnya melihat bahwa mereka tidak ada kepentingan politik, tidak ada tujuan yang macam-macam, dan akhirnya perlahan-lahan kepercayaan tumbuh dan Tzu Chi bisa resmi terdaftar di Indonesia.

Mendengar sharing shigu yang penuh kesulitan pada masa awal membuat Tzu Ching merubah pikirannya bahwa setiap kesulitan yang mereka temui saat ini di Tzu Chi masih lebih mudah jika dibandingkan dengan masa awal.

Pada saat itu sebenarnya ia juga tidak tahu 20 tahun kemudian Tzu Chi Indonesia akan seperti saat ini, pada saat itu yang terlintas dipikiran adalah ada perbuatan baik maka lakukan saja, jadilah Tzu Chi seperti hari ini di Indonesia. “Melakukan Tzu Chi, menjalankan Tzu Chi yang penting adalah kita menjaga pikiran, menjaga hati kita sendiri, lalu kita harus bersandar pada Dharma bukan pada orang. Jadi kita datang ke Tzu Chi itu mau belajar, belajar dengan Master. Jangan karena ada sebagian masalah dengan relawan sendiri membuat kita mau mundur, kita harus sangat jelas pada diri kita sendiri, yang kita mau belajar itu Dharma dari Master,” ucapnya.  

Su Mei Shigu pun berpesan kepada  84 Tzu Ching yang mengikuti kamp selama 3 hari 2 malam ini. Pada saat kita di Tzu Chi melakukan banyak hal, kita menanggung banyak tanggung jawab, pada saat kita ada sebersit niat untuk mundur, pada saat itu kita ingat master. Master Yin Shun, memberi nasihat hanya enam suku kata, demi ajaran Buddha demi semua makhluk, dengar nasihat itu Shigong Shangren (Master Cheng Yen) bersungguh hati menjalankan. Dan ketika kita menjalankan Tzu Chi belum tentu semua orang bisa setuju dengan cara kita.  Tapi Master bilang, asalkan itu benar ya kita harus lakukan.

Tempaan Membuat Kita Belajar
“Apa yang ada dibalik keberhasilan Tzu Chi saat ini?” Shigu menjawab dengan sebuah kisah dari penari balet yang mampu menari dengan indah, tapi ketika pebalet itu melepas sepatunya, kita akan melihat kaki tersebut memiliki banyak luka.  Hanya ketika kita menghadapi,melewati, dan menjalani berbagai tempaan, kita baru bisa berhasil.

Mendengar sharing pengalaman dari Su Mei Shigu ini banyak Tzu Ching yang terinspirasi dan terbangkitkan lagi tekadnya. Sharing tersebut membuat mereka menyadari kesulitan yang mereka hadapi selama ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi oleh pendiri awal Tzu Chi. “Ternyata kesulitan yang selama ini dirasakannya hanya sepotong sobekan kertas kecil yang sama skelai tidak sebanding dengan perjuangan Liu Su Mei Shigu dan Perjuangan Shigong Shangren,” ucap seorang peserta dalam kertas sharing.

Di hari Kamp kader Tzu Ching Indonesia ini Su Mei Shigu juga berpesan kepada Tzu Ching, “Anggota Tzu Ching adalah penerus Tzu Chi, jadi boleh dikatakan mereka ini sangat penting. Sekarang Tzu Ching sudah mampu berinisiatif untuk melakukan kegiatan, tidak perlu dikhawatirkan oleh Shigu Shibo, dan ini merupakan poin yang sangat dikagumi Shigu Shibo. Bagaimana cara kita untuk meneruskan semangat Tzu Ching? Tentunya perlu meneruskan pesan Master Yin Shun kepada Master Cheng Yen, yakni Demi Ajaran Buddha, Demi semua makhluk hidup, seperti ini beban ini cukup berat, tapi andaikan semua orang sehati untuk mengemban beban ini, maka beban ini tidak seberat yang kita bayangkan. Di indonesia kita mempunyai anggota Tzu Ching, ini sangat baik, karena dari Tzu Ching Indonesia kita melihat generasi penerus, kita melihat penerusan semangat Tzu Chi, dan juga harapan. “


Artikel Terkait

Tzu Ching Camp: Jodoh yang Baik

Tzu Ching Camp: Jodoh yang Baik

29 November 2011 Ajaran yang universal diajarkan Master Cheng Yen (pendiri Yayasan Budha Tzu Chi) tanpa memandang perbedaaan agama, suku, ras, maupun golongan. Beberapa peserta ada yang menganut agama Islam yang ikut serta sebagai peserta Tzu Ching Camp.
Tzu Ching Camp VII: Satu Akar

Tzu Ching Camp VII: Satu Akar

29 Oktober 2012 Semangat inilah yang berusaha ditanamkan kepada para peserta Tzu Ching Camp ke-VII yang diadakan sejak tanggal 26-28 Oktober 2012. Pada hari kedua, para peserta mendapatkan materi yang mendalam tentang filosofi Tzu Chi, khususnya tentang keteladanan Master Cheng Yen.
Menghargai Berkah yang Dimiliki

Menghargai Berkah yang Dimiliki

02 September 2019

Peserta kamp dijelaskan tentang Misi Amal Tzu Chi. Para peserta kemudian dibagi beberapa tim dan untuk melakukan kunjungan kasih ke rumah para penerima bantuan Tzu Chi jangka panjang (Gan En hu).

Dalam berhubungan dengan sesama hendaknya melepas ego, berjiwa besar, bersikap santun, saling mengalah, dan saling mengasihi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -