Belajar Untuk Menyelamatkan Bumi

Jurnalis : Januar (Tzu Chi Medan), Fotografer : Saliman (Tzu Chi Medan)
 
foto

Para relawan Tzu Chi mengikuti pelatihan serta mempraktekkan hasil pelatihan melindungi bumi dalam peringatan Hari Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

Minggu (16/08), Tzu Chi Medan mengadakan serangkaian acara penyuluhan dalam rangka Hari Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Pagi harinya, diadakan pelatihan bagi sekitar 90 relawan Tzu Chi, sebagian besar adalah relawan yang baru bergabung. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para relawan dengan pengetahuan tentang Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, sebelum nantinya mereka akan ikut melakukan penyuluhan ke dalam masyarakat luas. Pelatihan diisi dengan tayangan video ceramah Master Cheng Yen yang berjudul, "Air merupakan sumber kehidupan", serta presentasi bertopik "Pemanasan Global" oleh Endang Kamal dan "Pengenalan Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi" oleh Arifin Djaja.

Pemanasan Global
Dalam 140 tahun ini, konsentrasi gas CO2, salah satu gas penyebab efek rumah kaca di lapisan atmosfer telah meningkat sebanyak 100 ppm. Akibatnya suhu rata-rata di permukaan bumi belahan utara meningkat lebih dari 1 derajat Celcius, dan sekarang masih terus meningkat. Peningkatan suhu global telah mendatangkan berbagai bencana, iklim abnormal, badai dan topan semakin sering menimpa, banjir dan kekeringan silih berganti, serta bencana-bencana alam lainnya. Pemanasan global ini sebetulnya merupakan akibat ulah manusia sendiri. Setiap kegiatan manusia terus menghasilkan pembuangan gas CO2, asap pembakaran terus saja dibuang, sedangkan hutan sebagai paru-paru dunia terus ditebang. Kita sebagai manusia harus menyelamatkan bumi ini, agar masih tersisa dunia yang dapat didiami anak cucu. Kita harus mengubah pola pikir dan pola hidup, hidup berhemat dengan mengurangi konsumsi sumber daya alam serta berupaya untuk mendaur ulang sumber daya alam.

Pelestarian lingkungan Tzu Chi
Pada Agustus 1990, Master Cheng Yen diundang untuk memberikan ceramah di kota Taichung Taiwan. Sekitar 30.000 hadirin bertepuk tangan saat Master memasuki ruangan acara. Dalam ceramahnya, Master menghimbau setiap hadirin agar mau mempergunakan sepasang tangan yang bertepuk tangan itu untuk melakukan kegiatan pelestarian lingkungan. Sejak tahun itu, hari Minggu kedua pada setiap bulannya ditetapkan sebagai "Hari Pelestarian Lingkungan Tzu Chi".

Pelestarian lingkungan berpegang pada konsep 5R. Reuse (pemakaian ulang), setiap orang membiasakan diri untuk memakai barang yang bisa dipakai berulang kali dan ramah lingkungan. Reduce (pengurangan volume sampah), kurangi pemakaian produk sekali pakai (disposable), seperti sumpit bambu atau botol minuman. Recycle (daur ulang), benda yang masih dapat didaur ulang seperti kertas, logam, atau plastik jangan dijadikan sampah. Repair (perbaiki), lakukan dahulu perbaikan sebelum suatu barang dibuang. Rethink (pikirkan kembali), sebelum membeli sesuatu, pertimbangkan lagi apakah itu merupakan kebutuhan atau hanya keinginan semata. Semua konsep ini harus dimulai dari diri kita sendiri.

foto  

Ket : - Sebelum terjun dari pintu ke pintu menggugah masyarakat ikut serta dalam pelestarian lingkungan, peserta
           pelatihan dibagi dalam beberapa kelompok.

Dalam kegiatan pelestarian lingkungan, kita perlu mengubah persepsi masyarakat. Master Cheng Yen mengatakan bahwa Tzu Chi bukan mengumpulkan sampah, namun hanya mengumpulkan barang yang masih bisa didaur ulang, seperti kertas, kaleng aluminium atau besi, botol air mineral, dan barang plastik.

Praktek lapangan
Usai sesi pelatihan (sekitar jam 11.30 WIB), dengan dipimpin Ketua Misi Pelestarian Lingkungan Johan Lestari, para relawan diajak untuk terjun ke lapangan. Para relawan dibagi dalam beberapa tim untuk melakukan penyuluhan dan pengumpulan barang daur ulang dari pintu ke pintu di Komplek Cemara Asri Medan. Sebagian lagi melakukan kegiatan pemilahan barang daur ulang di Depo Daur Ulang Tzu Chi Medan.

Salah seorang relawan, Rena Novayanty (26 tahun), wanita keturunan Batak yang berprofesi sebagai dosen, mengakui mengenal Tzu Chi tahun 2007 melalui tayangan DA AI TV Medan dan mendaftarkan diri melalui website Tzu Chi. Rena mengatakan sangat salut akan Tzu Chi yang memberikan cinta kasih universal tanpa membedakan ras, agama, bangsa, dan negara. Rena sangat terkesan dalam kegiatan daur ulang hari ini dan bertekad untuk menjadi relawan Tzu Chi dalam setiap kegiatannya.

Setelah melalui serangkaian kegiatan, para relawan berikrar akan aktif menggalakkan pelestarian lingkungan. Semoga dengan ikrar baik ini, setiap insan Tzu Chi dapat memulainya dari diri sendiri, serta dapat mengajak lebih banyak masyarakat untuk sadar lingkungan serta bergabung dalam kegiatan daur ulang. Semoga setiap orang dapat sedikit bersumbangsih demi menyelamatkan bumi kita satu-satunya ini.

 

Artikel Terkait

Keindahan Karya Seniman Fotografi

Keindahan Karya Seniman Fotografi

18 Oktober 2013

Aula Jing Si adalah benteng spiritual bagi insan Tzu Chi, terlebih lagi juga merupakan sarana “Pembabaran Dharma Tanpa Suara”, dan ladang berkah penggalangan Bodhisatwa dunia yang penuh welas asih.

Rumah Lambang Cinta Kasih

Rumah Lambang Cinta Kasih

20 Oktober 2020

Berawal dari jalinan jodoh Martin Hasibuan yang menjadi anak asuh Tzu Chi, ibunya yang bernama Doriska Sinaga, janda beranak tujuh yang berprofesi sebagai pengumpul barang-barang daur ulang ini mendapat bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi. Atap rumah yang dulunya bocor kini diganti dengan seng baru, dinding tepas kini diganti menjadi tripleks yang bagus. Rumah ini diharapkan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi Doriskha dan anak-anaknya.

Internasional: Trofi untuk Master Cheng Yen

Internasional: Trofi untuk Master Cheng Yen

24 Oktober 2011 Tanggal 9 Oktober 2011, Direktur dan Kepala Eksekutif Institut Franklin dan Eleanor Roosevelt, Andrew Rich dan anggota Direksi Institut Roosevelt, Anna E. Roosevelt mempersembahkan Trofi Penghargaan kepada Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi.
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -