Bencana Bukan Akhir Segalanya

Jurnalis : Sandy Gunarso (DAAI TV), Fotografer : Achiru Afandy (DAAI TV)
 
 

fotoTidak mudah bagi relawan untuk menjangkau tempat pengungsian warga korban longsor di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Jalanan berbatu disertai lumpur dan tanah liat, membuat relawan harus berusaha keras untuk dapat memberi bantuan pada warga.

Longsornya lahan perkebunan Teh Dewata di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, meluluhlantakkan sekitar dua hektar areal permukinan warga. Korban jiwa pun berjatuhan akibat bencana alam ini.

Musibah ini juga merusak sejumlah infrastuktur vital milik perusahaan perkebunan Teh Dewata, seperti ruang kendali mesin pabrik, tempat ibadah, sampai gudang penyimpanan teh yang siap dipasarkan. Selain itu, 21 satu rumah pekerja pun ikut hancur tertelan ratusan meter kubik tanah merah dari pegunungan itu.

Usai berhenti bergerak, tanah merah yang terbawa air hujan, perlahan mengisi aliran sungai. Akibatnya, air sungai yang semula jernih dan dapat dimanfaatkan serta dikonsumsi warga, kini berubah menjadi keruh dan tak layak dikonsumsi. Warga kian terpuruk dalam kondisi penderitaan akibat kehilangan rumah serta kesulitan untuk memperoleh makanan dan minuman.

Uluran Cinta Universal
Melihat serta menyaksikan tayangan dari media nasional tentang musibah longsornya lahan perkebunan, spontan hal itu menggerakkan kepedulian relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Penghubung Bandung untuk menyalurkan bantuan sandang, seperti selimut, handuk dan minyak kayu putih kepada para korban selamat yang masih menempati tenda-tenda darurat

Tak mudah bagi mereka menjangkau tempat pengungsian. Jalanan berbatu disertai lumpur tanah liat yang tebal, membuat kunjungan kasih itu kian melelahkan. Bukan relawan Tzu Chi bila permasalahan itu mencegah kehadiran mereka di sana. Kerelaan para relawan, menguatkan tekad untuk terus melangkah membantu warga yang selamat melalui malam dingin di hari kedua.

foto  foto

Ket : - Relawan Tzu Chi Bandung memberikan selimut kepada para pengungsi korban longsor di Ciwidey,              Kabupaten Bandung. (kiri)
       - Kehadiran relawan membuat para pengungsi mendapat sedikit kehangatan dalam melalui malam             mereka yang dingin. (kanan)

Menjelang malam, ketika itu kabut mulai perlahan turun. Seiring asap putih ini berkumpul, hawa dingin pun ikut menyergap di sekeliling wilayah pengungsian. Perjalanan yang memakan waktu 7 jam dari Kota Bandung, seolah tidak terasa saat relawan tiba di lokasi kejadian.

Warga yang sudah dua malam menempati tenda pengungsian yang hanya terbuat dari terpal seadanya, mulai menuju ke arah relawan Tzu Chi. Kemudian, mereka pun didata agar selimut dapat didistribusikan secara menyeluruh dan semua warga mendapatkannya.

”Kita melihat ada bencana alam di TV, terus ada informasi dari PMI (Bandung), di Ciwidey ini ada longsor. Tadinya kita mau bawa bahan makanan, kita bertiga ini berpikir bahwa waktunya sudah mepet dan pasti sudah banyak yang memberikan bantuan makanan, jadi kita lebih baik memberikan bantuan yang belum sampai, terutama selimut,” jelas Harun Lam selaku koordinator kegiatan.

Tanpa terasa, relawan Tzu Chi sudah membagikan tak kurang dari seratus selimut bermotif garis. Cara mereka membagikannya pun tergolong sederhana. Selesai membagikan di satu tenda, mereka lanjutkan dengan membagikan ke tenda berikutnya. Hingga dalam waktu dua jam, warga pengungsi mendapat satu per satu selimut.

foto  foto

Ket : - “Mengucapkan terima kasih kepada Bapak semua yang telah memberikan segala macam kebutuhan               kami,” kata Ikha sambil menyusui anaknya. (kiri)
        - Warga menyambut gembira kedatangan relawan Tzu Chi, yang tidak hanya memberi bantuan, tapi juga            membesarkan hati mereka. (kanan)

Syukur Tiada Henti
Mayoritas tenda pengungsian itu dibangun warga seadanya di atas bukit perkebunan teh yang masih tersisa dari longsoran tanah. Kendati dingin terasa, namun warga masih mensyukuri berkah atas karunia Tuhan.

Warga menyambut gembira kedatangan relawan Tzu Chi dan mengucapkan terima kasih. Pasalnya, mereka mendapat sandang untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya udara malam hari.

“Mengucapkan terima kasih kepada Bapak semua yang telah memberikan segala macam kebutuhan di tenda ini, buat saya di sini. Terima kasih atas segalanya, mudah-mudahan Allah memberikan yang lebih daripada yang bapak berikan,” kata Ikha yang duduk sambil menyusui anak semata wayangnya.

Anan Juhana, Ketua RW 11 pun merasa tersanjung dengan perlakuan relawan Tzu Chi pada mereka. Ia menerima dan mengawasi langsung jalannya pembagian selimut. ”Saya mengucapkan terima kasih kepada tim dari luar kota, maupun bapak pimpinan yang sudah memberikan sumbangan kepada kami. Mudah mudahan (sumbangan) ini bisa dimanfaatkan oleh warga, dan mudah-mudahan amal dari Bapak dapat diterima oleh Gusti Allah,” kata Anan dengan santun.

Bencana bukan akhir dari segalanya, melainkan awal bagi tiap insan Tzu Chi untuk belajar berbagi kasih pada sesama. Dengan tetap memberi bantuan nyata pada warga Tenjolaya, maka pemulihan mereka akan lebih cepat untuk menata kembali kehidupan mereka seperti semula.

  
 
 

Artikel Terkait

Tzu Chi Bersama Pemprov DKI Jakarta Bersiap Melakukan Program Bebenah Kampung Dimulai Dari Palmerah

Tzu Chi Bersama Pemprov DKI Jakarta Bersiap Melakukan Program Bebenah Kampung Dimulai Dari Palmerah

08 Agustus 2023
Tzu Chi Indonesia kembali menjalin kemitraan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kali ini dalam program Bebenah Kampung. Program kemitraan ini rencananya akan dilaksanakan secara bertahap di 5 Kota di DKI Jakarta melalui pembangunan rumah tinggal layak huni.
Peletakan Batu Pertama Dormitory Rumah Sakit Tzu Chi

Peletakan Batu Pertama Dormitory Rumah Sakit Tzu Chi

26 Mei 2014 Kita harapkan rumah sakit itu bukan hanya memberikan pengobatan, tetapi bagaimana kita bisa memberikan pengobatan dengan cinta kasih. Misalnya after carenya untuk pasien.”
Pertukaran Budaya dan Pengetahuan

Pertukaran Budaya dan Pengetahuan

21 Juli 2009
“Jadi para mahasiswa ini bisa punya cinta kasih yang besar kepada sesama. Tidak hanya tahu belajar dan membaca saja, mereka juga tahu akan kehidupan anak-anak lain di berbagai negara dan menjalin persahabatan. Dengan demikian, maka dunia ini akan menjadi lebih baik,” kata Ming Zhen.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -