Berbagi di Tengah Kekurangan

Jurnalis : Dea Paramita, Wismina (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Kho Ki Ho, Wiliyanti, Asriani (Tzu Chi Pekanbaru)
Para penerima bantuan yang datang ada yang membawa celengan cinta kasihnya.

Setelah sempat vakum hampir dua tahun lebih, akhirnya pertemuan dengan para penerima bantuan diaktifkan kembali pada Minggu, 5 Juni 2022 yang dikemas dalam acara Ramah Tamah dan Sharing Bersama. Pertemuan ini menjadi pertemuan pertama sejak pandemi dan merupakan bagian dari visi misi amal Tzu Chi yang tidak semata-mata hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga berupa pendampingan, dorongan semangat untuk mengubah kehidupan sendiri, serta membangkitkan cinta kasih dari para penerima bantuan untuk menolong orang lain yang membutuhkan.

Dengan tetap menaati protol kesehatan, kegiatan ini dilakukan di dua tempat, yaitu di Kantor Tzu Chi Pekanbaru, Jalan Rajawali yang dihadiri oleh para gan en hu dan pendamping sebanyak 55 orang dan sebanyak 83 orang di Kompleks Perkantoran Grand Sudirman.

Saniah yang biasa disapa dengan Kuilan sedang menjelaskan materi seputar kisah Tzu Chi yang mencakup semangat Master Cheng Yen dan semangat celengan bambu.

Salah satu penerima bantuan, ibu Dorothea yang merupakan orang tua tunggal sangat rutin berdana melalui celengan Dana Kecil Amal Besar.

Mengawali pertemuan, Gathering ini menampilkan kisah Tzu Chi yang mengandung semangat Master Cheng Yen dalam mengatasi kesulitan saat masa awal Tzu Chi, yang mana meskipun tidak bisa makan tiga kali sehari, namun membantu orang yang tidak mampu tetaplah harus dilakukan. Selain itu ditampilkan juga tentang semangat celengan “Dana Kecil Amal Besar”. Berkat Master Cheng Yen dan tiga puluh ibu rumah tangga yang merespon seruannya akan semangat celengan bambu, maka Tzu Chi hingga saat ini telah menyalurkan bantuan ke 128 negara.

“Dalam kondisi sakit begini, Tuhan tetap memberikan berkatNya untuk saya. Kasih Tuhan diberikan melalui tangan Yayasan Buddha Tzu Chi. Meskipun saya menerima bantuan tapi saya tetap akan berbagi juga melalui celengan amal ini meskipun jumlahnya sedikit yang penting bisa berbagi juga kepada orang lain yang membutuhkan,kata Pak Mia’lui, salah satu penerima bantuan yang tidak bisa hadir karena kondisi sakit, yang disampaikan kembali oleh Lina saat memandu sesi sharing.

Ibu Nurzakiah memotivasi hadirin harus bisa berbagi dan memberikan apa yang kita bisa, baik dalam bentuk materi ataupun tenaga.

Bersama-sama menuangkan celengan bambu.

Lina juga menyampaikan tiga kebaikan melalui celengan, yaitu berpikir dengan niat baik, berucap kata baik dan melakukan perbuatan baik.

“Di saat saya susah, saya benar-benar diberi pertolongan. Dan sekarang walaupun saya sudah tidak lagi menerima bantuan dari Tzu Chi, tapi saya tetap hadir dalam kegiatan hari ini, karena saya tidak bisa melupakan kebaikan dari Tzu Chi. Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi beserta relawan yang telah dengan ikhlas dan tulus memberi bantuan pada saya. Bagi saya, selama kita masih sehat dan sempurna, kita tetap harus bisa berbagi dan memberikan apa yang kita bisa, baik dalam bentuk materi ataupun tenaga,” ujar Nurzakiah di hadapan para hadirin yang disertai dengan tangis haru.

Pada akhir acara, sebelum penuangan celengan, Asep sebagai pembawa acara mengajak para Gan En Hu yang membawakan celengan untuk bersama-sama mengguncangkan celengan.

“Suara kerincingan ini merupakan suara kebaikan, suara kebersamaan, dan suara cinta kasih,” Asep menjelaskan.

Sebanyak 54 celengan yang terbagi setelah selesai acara, yang menandakan bertambahnya hati cinta kasih yang terbangkitkan.

Jatah bantuan diberikan kepada para Gan En Hu usai acara ramah tamah. 

Walaupun dana yang disumbangkan jumlahnya relatif tidak begitu besar, namun ketulusan serta cinta kasih di tengah kondisi yang masih kekurangan, sumbangsih para Gan En Hu pahalanya melebihi luasnya samudra. Hari itu, sebanyak 19 celengan terhimpun dalam lautan cinta kasih universal.

“Dari pertama kalinya mengikuti kegiatan ini, saya mendapat banyak pelajaran, terutama tentang cinta kasih. Walaupun kami menerima bantuan, kami tetap bisa bersumbangsih dan membantu, misalnya melalui tenaga,” ujar Masni Situmorang, Gan En Hu yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini.

Bagi para relawan Tzu Chi, sosok para Gan En Hu bukan hanya merupakan penerima bantuan saja. Para relawan sangat bersyukur berkat adanya Gan En Hu, sehingga para relawan mempunyai kesempatan bersumbangsih bagi masyarakat, memupuk karma baik, serta memetik berbagai pembelajaran dari kisah hidup mereka. Sebanyak 54 celengan yang terbagi setelah selesai acara, menandakan bertambahnya hati cinta kasih yang terbangkitkan.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Perayaan Natal Sekaligus Gathering Gan En Hu di Tzu Chi Batam

Perayaan Natal Sekaligus Gathering Gan En Hu di Tzu Chi Batam

18 Desember 2023

Perayaan Natal sekaligus Gathering Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) di Batam berlangsung penuh sukacita sekaligus haru. Acara di Aula Jing Si Batam ini dihadiri 247 Gan En Hu.

Pendampingan yang Tak Pernah Terhenti di Misi Amal Tzu Chi

Pendampingan yang Tak Pernah Terhenti di Misi Amal Tzu Chi

09 Oktober 2025

Kegiatan Kepulangan Gan En Hu di Tzu Chi Medan menjadi wadah pendampingan penuh makna bagi para penerima bantuan, mempererat tali silaturahmi dan menghadirkan semangat kebersamaan.

Gathering Gan En Hu Singkawang

Gathering Gan En Hu Singkawang

19 Juni 2012 Perubahan pemberian bingkisan kepada Gan En Hu dengan ‘pulang ke rumah’ seperti ini ternyata memberikan suasana gembira di hati para mereka. Selain mengenal lebih dekat kantor penghubung atau “rumah bersama’, juga mengenal sesama Gan En Hu sebagai satu keluarga.
Keharmonisan organisasi tercermin dari tutur kata dan perilaku yang lembut dari setiap anggota.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -