Berbagi Kebahagiaan di Tahun Baru

Jurnalis : Ivana, Fotografer : Ivana
 
foto

* Untuk menyambut tahun baru Imlek 2560, relawan Tzu Chi Bekasi membagikan 250 paket bahan makanan kepada warga Tionghoa yang kurang mampu.

Ada bermacam peringatan tahun baru dalam setahun, sesuai agama masing-masing. Semuanya punya aroma yang sama, kekeluargaan dan kehangatan.

“Kami ingin sedikit berbagi kasih dengan mereka di tahun baru Imlek ini,” kata Theresia, relawan Tzu Chi di Bekasi. Ini diungkapkannya di sela-sela kegiatan pembagian paket tahun baru kepada umat Vihara Manggala Dharma. Di beberapa titik daerah Bekasi, terdapat sekelompok warga keturunan Tionghoa yang ekonominya pas-pasan. Umumnya mereka tinggal di daerah pelosok yang sulit terjangkau transportasi umum. Dalam pembagian paket tanggal 7 Januari 2009 itu, relawan mengunjungi 3 lokasi yang jaraknya saling berjauhan, yaitu di Pondok Soga, Vihara Manggala Dharma, dan Vihara Buddha Dharma.

Perjalanan selama 1 jam menuju Desa Pantai Hurip, Pondok Soga tidak terasa nyaman. Setengah jalan yang dilalui belum diaspal, hanya berupa susunan batu hingga mobil para relawan terguncang-guncang. Setiba di tempat pembagian sudah masuk tengah hari, dan para ibu sudah berbaris mengantri panjang. Kebanyakan yang datang menukarkan kupon memang para ibu sebab para laki-lakinya sedang bekerja di sawah. Tanyu turut mengantri dengan tetangga-tetangganya, sejenak menghentikan kegiatannya menjajakan kue. Ibu 2 anak ini sudah 2 tahun menjanda. Semua kebutuhan rumah menggantungkan dari hasilnya berkeliling menjual ubi goreng, tahu, dan jajanan lain. “Dagang nggak tentu, kadang dapat 30 ribu sehari,” kata Tanyu. Menyambut tahun baru Imlek ini ia tidak punya persiapan khusus, hanya ada rasa bahagia karena dapat berkumpul dengan kedua anaknya, Riyanti (18) dan Riyanto (15). Walaupun dalam hati ia berharap mereka dapat segera bekerja yang berarti mereka harus pergi dari rumah, Tanyu punya harapan lain untuk selalu berkumpul. “Namanya anak ya gimana,” katanya.

Berada di daerah yang terpencil menyebabkan warga Pantai Hurip sulit pulang-pergi daerah di luar desa mereka. Maka, bagi anak yang meninggalkan desa itu, mereka hanya pulang sekali dalam setahun. Wilacih (55) sudah menanti-nanti kedatangan anak semata wayangnya, Rosiana beserta suami dan anak pada Imlek nanti. Di Pantai Hurip ini ia tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya yang buta. Wilacih sendiri sulit bepergian karena kakinya sering sakit. “Kalo Imlek gembiralah, rasanya beda. Anak pada pulang, bagi-bagi kue,” tutur ibu ini polos. Ia mengaku biasanya justru anaknya yang memberi angpau padanya.

foto   foto

Ket : - Kebanyakan yang datang untuk menukarkan kupon adalah para ibu, sebab siang hari itu banyak kaum pria
           yang sedang bekerja di sawah garapan. (kiri)
         - Tanyu meninggalkan sejenak rutinitasnya menjajakan kue. Hasilnya menjajakan kue itu yang menjadi
           sandaran untuk seluruh keluarga ibu yang sudah menjanda ini. (kanan)

Wilacih tidak punya harapan apapun untuk dirinya sendiri. Yang didoakan adalah agar rezeki anaknya lancar. Ia juga mengharapkan agar Tzu Chi semakin maju. Tzu Chi memang sudah dikenal masyarakat daerah ini sebab beberapa kali kegiatan seperti pembagian beras, baksos kesehatan, hingga bantuan banjir pernah diberikan di tempat ini. “Namanya insan Tzu Chi, biarpun jauh juga harus datengi. Yayasan Buddha Tzu Chi harus bisa menjangkau sampai ke pelosok-pelosok,” tekad Theresia. Di daerah ini, bibit cinta kasih Tzu Chi sudah bertunas 6 tahun lalu di diri Asim. Pria inilah yang mendata dan mengkoordinasikan warga penerima paket hari ini. Enam tahun lalu setelah putra bungsunya mendapat bantuan pengobatan dari Tzu Chi, ia tergugah untuk ikut bergabung membantu orang lain. Sejak itu ia menjadi relawan Tzu Chi. Maka, meski dirinya sendiri bukan keturunan Tionghoa, Asim bergembira dapat membantu para tetangganya merayakan Imlek dengan lebih meriah.

foto   foto

Ket : - Pembagian bantuan dari Tzu Chi kali ini banyak ditujukan untuk warga yang tinggal di pelosok.
           Menurut Theresia, bilamana lokasi yang dekat sudah banyak terjangkau oleh yayasan lain, maka Tzu Chi
           berusaha untuk menjangkau lokasi yang jarang didatangi. (kiri)
         - Dapat membagikan kasih di momen tahun baru ini memberikan kebahagiaan bagi relawan Tzu Chi, dan
           sekaligus merupakan berkah yang harus disyukuri. (kanan)

Paket bantuan yang diberikan meliputi 10 kg beras, 1 dus mi instan, 1 kg gula, 1 liter minyak, dan 2 pak biskuit. Bantuan ini memang sedikit meringankan beban warga Tionghoa dalam menyambut tahun baru. “Girang dapat bantuan,” kata Ibu Subur, warga dan umat Vihara Manggala Dharma. Ia mengaku perayaan Imlek di rumahnya biasa saja, hanya sembahyang. “Justru dapat ini (bantuan –red) mau untuk sembahyang,” lanjutnya sambil tersenyum lebar. Seharian itu 22 relawan berpindah tempat satu ke yang lain untuk membagi 250 paket tahun baru Imlek. Dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain di saat yang tepat, juga merupakan berkah bagi si pemberi bantuan itu sendiri.

 

Artikel Terkait

Sosialisasi Pelestarian Lingkungan bagi Jajaran Sekolah Brigjend Katamso 1 dan 2

Sosialisasi Pelestarian Lingkungan bagi Jajaran Sekolah Brigjend Katamso 1 dan 2

01 Desember 2023

Tzu Chi Medan berkesempatan menyampaikan materi pelestarian lingkungan kepada jajaran Sekolah Brigjend Katamso 1 dan 2 sekaligus praktik langsung pemilahan barang daur ulang.

Donor Darah, Donor Kebajikan

Donor Darah, Donor Kebajikan

21 September 2015 Kegiatan rutin tiga bulan, donor darah yang diadakan oleh Tzu Chi bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Bali kali ini diadakan pada tanggal 6 September 2015. Yang diikuti sebanyak 25 peserta dan 9 relawan yang dengan sepenuh hati melayani pendonor di kantor penghubung Tzu Chi lantai 1, Tuban-Kuta, Bali.
Zhen Shan Mei Day: Mengubah Tantangan Menjadi Kisah Penuh Makna

Zhen Shan Mei Day: Mengubah Tantangan Menjadi Kisah Penuh Makna

06 Desember 2023

Dalam menjalankan tugas liputan suatu kegiatan atau peristiwa, tak jarang relawan zhen shan mei dihadapkan berbagai hambatan dan tantangan. Lalu sebagai relawan zhen shan mei bagaimana menyikapi tantangan yang terjadi? Sesi talkshow di Zhen Shan Mei Day menjawab semua pertanyaan ini.

Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -