Suasana Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 sesi 2 dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan. Selama dua hari, para relawan mendapatkan berbagai pelajaran berharga sebagai bekal menjalankan visi dan misi Tzu Chi.
Di tengah riuh semangat para peserta Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 sesi 2 (18-19 April 2026), terselip sebuah kisah reflektif tentang kepulangan seorang relawan ke rumah batinnya. Phoebe Chandra, relawan Zhen Shan Mei asal Palembang, membagikan sebuah bagian kehidupan yang emosional, tentang bagaimana benih kebajikan tidak pernah benar-benar mati, meski sempat terkubur oleh jarak, waktu, dan hiruk-pikuk duniawi.
Langkah Phoebe di jalan Tzu Chi sebenarnya telah berakar kuat sejak ia bergabung sebagai relawan Tzu Ching dan mengikuti kamp pertamanya di Jakarta pada tahun 2010. Namun, ketika dunia kerja mulai menyita ruang dan tuntutan hidup sebagai perantau semakin mendesak, perlahan-lahan langkah Phoebe melambat. Selama hampir satu dekade, komitmennya mengalami pasang-surut; ia ada, namun hatinya tidak lagi sepenuhnya menetap.
Dalam keheningan masa vakum tersebut, Phoebe mengakui adanya kegelisahan yang terus mengusik batinnya. "Saya merasakan ada sesuatu yang hilang, sebuah missing piece di dalam hati saya,” ungkapnya lembut. Kerinduan yang terpendam itu akhirnya menemukan muaranya pada tahun 2022, ketika sebuah panggilan dari relawan Tzu Chi senior, Subianto, memintanya mengemban tanggung jawab sebagai koordinator perayaan Waisak di Palembang. Tanpa ragu, ia menyambut undangan tersebut bukan sekadar sebagai tugas, melainkan sebagai pintu untuk pulang ke rumah yang selama ini ia rindukan.
Phoebe Chandra (kedua dari kanan), relawan Zhen Shan Mei asal Palembang, mengikuti kamp pelatihan dan menerima materi serta praktik langsung Tata Krama Tzu Chi.
Kepulangan setelah satu dekade ini ia jalani dengan kerendahhatian yang tulus. Bukannya merasa sebagai orang lama, Phoebe justru memilih untuk menanggalkan seluruh pengalaman masa lalunya dan memulai segalanya dari titik nol. "Saya merasakan sukacita mendalam yang tidak bisa diungkapkan. Saya memilih untuk kembali belajar dari awal, seperti selembar buku kosong,” tuturnya. Transformasi batin ini membawanya pada tanggung jawab yang lebih besar secara bertahap; dimulai dengan mengemban peran sebagai Wakil Koordinator Bidang Pelatihan, hingga kini ia dipercaya menjadi Koordinator Bidang Kegiatan serta Kebaktian di komunitas Hu Ai Palembang Timur.
Bagi Phoebe, pelatihan diri di Tzu Chi bukan sekadar tentang seberapa banyak bantuan fisik yang disalurkan, melainkan sebuah proses internal untuk melampaui batasan diri sendiri. Mengutip pesan dari Novriko, ia menyadari bahwa tantangan terberat seorang relawan adalah menaklukkan gejolak di dalam dada. "Di sini kita belajar meletakkan ego. Sangat sulit untuk mengalahkan kebencian, kemarahan, atau rasa malas dalam diri kita. Namun, jika kita teguh di jalan ini, saya yakin kita semua bisa melewati batasan tersebut dan melayani dengan ketulusan yang murni."
Puncak dari pergulatan batin Phoebe terjadi saat ia meresapi pesan Livia Tjhin tentang konsep "Lai bu ji", sebuah peringatan bahwa waktu tidak akan pernah menunggu siapa pun. Kata-kata itu seketika menjadi alarm yang membangunkan jiwanya dari zona nyaman. Mengingat usia pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen, yang kini telah memasuki usia 90 tahun, Phoebe merasakan urgensi yang mendesak untuk segera bersumbangsih tanpa lagi menunda.
"Saya khawatir tidak bisa memberikan hormat secara langsung kepada Master Cheng Yen, atau lalai mendengarkan Dharma yang Beliau sampaikan karena kelalaian saya di masa lalu,” ujarnya dengan nada yang bergetar oleh rasa bakti. Tekadnya kini telah bulat untuk menjadi murid yang mempraktikkan ajaran Jing Si dalam setiap tindakan nyata. Janji setia itu ia titipkan dalam sebuah doa yang menyentuh, "Master jangan khawatir... man man de zou (berjalanlah perlahan). Kami selalu ada di sini. Jangan biarkan Master berjalan sendirian."
Phoebe Chandra membagikan perjalanan hidupnya dalam Kamp Pelatihan Relawan Komite dan APL 2026 sesi 2, membawa pesan tentang pentingnya tidak menunda waktu (Lai Bu Ji) serta komitmen untuk kembali bersumbangsih di Tzu Chi.
Kisah Phoebe Chandra adalah pengingat teduh bagi setiap relawan bahwa sejauh apa pun langkah sempat terhenti, pintu Tzu Chi selalu terbuka lebar bagi mereka yang ingin kembali bersumbangsih. Kini, ia menapaki jalan kebajikan di komunitas Hu Ai Palembang Timur dengan kesadaran penuh sebagai seorang "petani batin”yang sabar dalam berproses.
"Ingatlah bahwa kita semua adalah petani batin yang sedang menanam di tanah yang subur. Masa menanam dan masa panen tidak pernah sama, karena itu jangan pernah menyerah meski harus menghadapi badai,” pungkasnya.
Kebaikan Kecil yang Menginspirasi
Tidak semua perjalanan dimulai dari “kembali”. Ada juga yang berawal dari rasa penasaran sederhana, dari hal-hal kecil yang perlahan menumbuhkan niat besar dalam hati. Seperti kisah Wina Yunara. Perkenalannya dengan Tzu Chi bermula sejak tahun 2016, tapi saat itu hanya sebatas rasa penasaran. Ia sering melihat para relawan mengenakan seragam di mal saat bazar kue bulan, atau di rumah sakit ketika menjenguk pasien yang bahkan bukan keluarga mereka.
“Dalam hati saya, ini orang-orang ngapain ya?” kenangnya.
Rasa ingin tahu itu terus ia simpan, hingga akhirnya mendorongnya mencari tahu lebih dalam. Ia pun memberanikan diri mendekat saat melihat kegiatan bazar di mal. Di sanalah ia bertemu dengan seorang relawan, yang masih ia ingat hingga sekarang.
“Cece, saya mau ikut gabung, ini apa?” tanyanya polos.
Dari situ, langkahnya dimulai. Ia mulai ikut kegiatan, dari kunjungan kasih hingga survei kasus. Pengalaman itu membuka matanya. Ia melihat langsung kondisi orang-orang yang jauh lebih membutuhkan.
Wina Yunara, relawan Tzu Chi Batam, memberikan sharing yang menginspirasi di hadapan peserta. Meski harus menahan sakit akibat keseleo dua hari sebelum kegiatan, ia tetap bertekad mengikuti kamp.
“Saya pikir masalah saya sudah berat, ternyata ada yang jauh lebih berat,” ungkapnya. Dari sana tumbuh rasa syukur yang dalam. Ia merasa Tuhan begitu baik, karena telah membuka mata dan hatinya melalui perjalanan ini.
Selalu menerima kebaikan dari orang lain membuat Wina Yunara ingin membalas kembali kebaikan tersebut. Namun, membalas dengan materi tentu ada keterbatasan. Wina merasa bahwa menjadi “tangan di atas” adalah sesuatu yang lebih baik untuk diupayakan. Di Tzu Chi, ia bisa bersumbangsih dan merasa mampu membantu orang lain. Ia pun melanjutkan jodohnya bersama Tzu Chi.
Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Sebagai seorang muslim, ia sempat mendapat pertanyaan dari lingkungan sekitarnya. “Ngapain kamu ke kelenteng? Mau pindah agama ya? Kan banyak organisasi Muslim, kenapa malah pilih yang Buddha?”
Dengan tenang, Wina menjelaskan bahwa Tzu Chi adalah yayasan sosial kemanusiaan yang tidak membedakan agama. Ia tetap menjalankan ibadahnya seperti biasa. “Bahkan ketika saya mau sholat, relawan di sana mempersilakan, menyiapkan tempat, menyalakan AC. Saya merasa sangat dihargai,” tuturnya haru. “Masyaallah… Terima kasih Tzu Chi, yang tidak membedakan saya.”
Pengalaman-pengalaman itu membuatnya semakin mantap berjalan di jalan ini. “Biarkan orang berpikir apa. Kita jalan saja, karena yang kita lakukan adalah hal baik,” ujarnya.
Wina Yunara bersukacita saat menerima pelantikan relawan Abu Putih Logo, yang semakin menguatkan tekad dan tanggung jawabnya dalam menyebarkan Visi dan Misi Tzu Chi.
Perjuangannya untuk hadir di pelatihan pun tidak mudah. Dua hari sebelum berangkat ke Jakarta, ia mengalami cedera hingga kakinya bengkak dan terasa sangat sakit. “Saya sempat berpikir, bagaimana saya bisa berangkat? Jangan sampai gagal,” kenangnya.
Namun satu kalimat dari Master Cheng Yen terus terngiang dalam benaknya, sehari tidak bekerja, sehari tidak makan. Bagi Wina, kalimat ini bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik. Karena itu, meski dalam kondisi menahan rasa sakit, ia tetap memantapkan diri untuk datang, mengikuti pelatihan, bahkan berdiri untuk berbagi kisahnya.
“Terima kasih kepada semua relawan yang sudah membantu saya berjalan, memapah saya,” ucapnya penuh haru. Kini, Wina telah memegang tanggung jawab sebagai fungsionaris di bidang pengobatan, bidang yang ia sukai karena bisa langsung terjun dalam kegiatan bakti sosial.
Tak Lagi Menolak Ajakan Berbuat Baik
Berbeda dengan dua kisah sebelumnya, ada juga perjalanan yang dimulai dari penolakan. Dari hati yang belum siap, hingga akhirnya luluh oleh ketulusan yang terus mengetuk. Ini adalah kisah Marintan, relawan Tzu Chi Medan yang mana tengah bersukacita ketika akhirnya ia dilantik menjadi relawan Abu Putih Logo.
Ia pertama kali diajak bergabung oleh seorang relawan. Namun karena merasa belum siap dan mungkin juga karena keterbatasan diri, ia selalu menolak. Bukan sekali dua kali, bahkan lebih dari sepuluh kali ajakan itu ia tolak.
“Jalinan jodoh saya mungkin belum matang, jadi saya selalu ada aja alasan untuk tidak ikut,” tuturnya jujur.
Meski begitu, sosok yang mengajaknya tidak pernah menyerah. Wina, seorang relawan yang juga sudah ia kenal, terus dengan sabar memberikan info kegiatan padanya sekaligus mengajaknya terlibat dalam kegiatan Tzu Chi. Selama itu pula, Marintan yang sudah menjadi donatur, menolak ikut serta. Dulu menurutnya menjadi donatur saja ya sudah cukup.
Marintan (kiri), relawan Tzu Chi Medan, bersama kelompoknya usai melakukan praktik tata krama Tzu Chi dan berbagi di hadapan peserta lainnya.
Hingga suatu hari, ia mulai merasa tidak enak hati karena terus menolak. “Rasanya saya kejam kali ya, nolak orang terus,” katanya sambil tersenyum.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba ikut satu kegiatan. Hari itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia mengikuti kegiatan Kepulangan Gan En Hu, dan pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam.
“Anehnya, pas saya ikut itu rasanya sukacita. Relawan di sana ramah sekali, melayani penerima bantuan dengan tulus. Saya sampai berpikir, kalau saya disuruh seperti mereka, kok saya kayaknya nggak bisa ya,” ungkapnya.
Sejak saat itu, pada tahun 2024, ia baru merasakan “ketagihan” untuk terus ikut kegiatan.
Bagi Marintan, kehadiran Tzu Chi membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia yang sehari-hari bekerja di bidang administrasi perusahaan kelapa sawit, dulunya merasa hidup berjalan monoton. “Dulu hidup saya begitu-begitu saja. Bangun, kerja, pulang, selesai,” katanya.
Namun sejak mengenal Tzu Chi, hidupnya terasa lebih berwarna. Ia menemukan banyak teman, pengalaman baru, dan kesempatan untuk menggali potensi dirinya. “Saya pikir dulu saya nggak bisa ini itu, tapi ternyata setelah diberi tanggung jawab, saya bisa jalankan juga,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Marintan turut berbagi kisah perjalanannya, mengungkapkan perubahan positif dalam dirinya sejak menjadi relawan Tzu Chi.
Berbagai peran pun ia jalani, mulai dari PIC kegiatan, menjadi MC, hingga terlibat sebagai Daai Mama, yang mana merupakan peran yang sangat ia sukai karena selaras dengan pengalamannya mengajar selama tujuh tahun.
“Kalau hari Minggu nggak ada kegiatan, rasanya ada yang hilang,” katanya sambil tertawa.
Tak hanya itu, perubahan juga terjadi dalam dirinya. Ia merasa menjadi pribadi yang lebih tenang dan tidak mudah putus asa. “Dulu saya emosian, sedikit masalah langsung putus asa. Sekarang saya belajar menerima dan menjalani,” ungkapnya.
Meski lelah setelah kegiatan, ia tidak pernah merasa terbebani. “Capek pasti ada, tapi sukacitanya itu masih tinggal di hati,” tuturnya.
Baginya, setiap tanggung jawab bukanlah beban, melainkan berkah. “Jangan fokus pada masalahnya. Saya anggap itu sebagai berkah dan saya jalani dengan sungguh-sungguh,” katanya mantap.
Kini, ia bahkan telah dipercaya sebagai Wakil Koordinator Bidang Kebaktian, sebuah tanggung jawab yang ia terima dengan penuh syukur karena juga sejalan dengan kecintaannya pada kegiatan kebaktian dan xun fa xiang.
Perjalanan yang ia jalani mungkin berawal dari keraguan dan penolakan. Namun kini, ia berdiri dengan keyakinan yang berbeda. Ia menutup kisahnya dengan satu kalimat perenungan yang sangat menginspirasi dirinya, “Jangan meremehkan diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.”
Tiga kisah ini mungkin berawal dari jalan yang berbeda. Ada yang kembali, ada juga yang memulai dari rasa ingin tahu, dan ada yang sempat menolak. Namun semuanya bermuara pada satu hal yang sama, yaitu tekad bersumbangsih di jalan kebaikan. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Saat hati sudah terbuka, jalan itu akan terlihat dengan sendirinya.
Editor: Arimami Suryo A.