Berbakti, Akar dari Segala Kebajikan dan Kasih Ibu Sepanjang Masa
Jurnalis : Julia Anggelia, Vincent H (Tzu Chi Medan), Fotografer : Emelia, Helli, Ena, Julia Anggelia (Tzu Chi Medan)
Anak-anak penerima beasiswa Tzu Chi membasuh kaki ibu masing-masing sebagai wujud bakti dan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah merawat serta mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Prosesi ini berlangsung dalam kegiatan kepulangan rutin Gan En Hu (GEH) yang diikuti para penerima bantuan, anak asuh, dan relawan Tzu Chi Medan Komunitas Hu Ai Petisah.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Kantor Tzu Chi Medan saat relawan komunitas Hu Ai Petisah mengadakan kegiatan kepulangan rutin bagi para Gan En Hu (GEH) dan anak-anak penerima beasiswa Tzu Chi, Minggu, 3 Mei 2026. Mengangkat tema “Berbakti adalah akar dari segala kebajikan dan kasih ibu sepanjang masa”, kegiatan ini tidak hanya menjadi momen penyaluran bantuan, tetapi juga ruang berbagi kasih, rasa syukur, dan penguatan batin bagi para penerima bantuan.
Sejak pagi hari, para penerima bantuan dan anak-anak penerima beasiswa telah hadir dengan penuh antusiasme. Mereka disambut hangat oleh para relawan yang membantu proses registrasi dan mendampingi setiap peserta dengan ramah. Kehadiran para relawan membuat suasana terasa akrab, seolah menjadi pertemuan keluarga besar yang saling menguatkan.
Acara diawali dengan sesi perenungan yang dipandu Agus Salim. Dalam suasana tenang, peserta diajak menenangkan pikiran dan membuka hati sebelum mengikuti rangkaian kegiatan. Momen tersebut menjadi awal yang menyentuh sebelum para penerima bantuan membagikan kisah hidup mereka.
Salah satu penerima bantuan yang hadir adalah Ibu Asmani. Dengan suara bergetar menahan haru, ia menceritakan bagaimana perhatian para relawan Tzu Chi telah memberinya kekuatan untuk menjalani hari-hari sulit.

Suasana haru menyelimuti penutupan kegiatan saat anak-anak penerima beasiswa memeluk ibu mereka dengan penuh kasih sayang. Momen emosional ini menjadi bagian dari kegiatan kepulangan rutin Gan En Hu (GEH) dan penerima beasiswa Tzu Chi yang berlangsung di Kantor Tzu Chi Medan.
“Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Tzu Chi yang sudah perhatian, memberikan saya obat, dan selalu mengunjungi saya. Rasanya sangat bahagia dan merasa diperhatikan. Saya juga merasakan begitu banyak tali persaudaraan,” ucap Ibu Asmani.
Bagi Ibu Asmani, bantuan yang diterimanya bukan hanya soal pengobatan atau kebutuhan hidup, tetapi juga rasa ditemani dan tidak ditinggalkan saat menghadapi kesulitan.
Suasana semakin haru ketika Mimi membagikan kisah perjuangan dalam menghadapi penyakit kanker. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk dan perjuangan menghadapi penyakit, Mimi merasakan kehangatan dari perhatian para relawan Tzu Chi.
“Mungkin bagi sebagian orang bantuan yang saya terima hanya sebatas pengobatan ataupun barang. Namun bagi saya dan keluarga, bantuan ini seperti cahaya cinta kasih yang penuh kehangatan dan perhatian tulus di saat kami sedang berada dalam kesulitan,” tutur Mimi sambil menahan air mata.
Mimi juga mengungkapkan rasa syukurnya karena selama masa pengobatan, relawan Tzu Chi tidak hanya hadir membawa bantuan, tetapi juga memberikan semangat dan dukungan moral bagi dirinya dan keluarga.

Agus Salim membawakan sesi talkshow yang mengangkat kisah perjuangan dan perjalanan hidup para GEH selama berjodoh dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Kisah lain datang dari Boy, seorang buruh bangunan yang pernah berjuang mencari biaya pengobatan untuk anaknya yang menderita penyakit lupus. Dalam keterbatasan ekonomi, ia merasa tidak mampu menghadapi situasi tersebut seorang diri hingga akhirnya mengenal Tzu Chi.
“Melalui jalinan jodoh ini, anak saya mendapat pengobatan terbaik dan umurnya bisa bertambah lebih panjang. Saya sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan,” ungkapnya.
Meski sang anak akhirnya telah berpulang, Boy tetap menyimpan rasa syukur karena pernah mendapat kesempatan mendampingi anak menjalani pengobatan dengan layak.
Sementara itu, Bernadeta yang juga merupakan penerima bantuan pengobatan lupus mengaku banyak mendapatkan dukungan moral dari para relawan. Salah satunya dari relawan Elisa yang selalu menyemangatinya agar tidak menyerah.
“Elisa selalu mendukung dan memotivasi saya untuk tetap semangat. Bahkan beliau selalu mengingatkan saya untuk meluangkan waktu 30 menit saja untuk mengayunkan tangan,” ujar Bernadeta.
Perhatian sederhana tersebut menjadi penguat baginya untuk terus menjalani hidup dengan lebih optimis.

Rita bersama tim relawan pendidikan memandu permainan bertajuk “Yang Manakah Kaki Ibuku?” yang diikuti anak-anak penerima beasiswa dan orang tua. Permainan ini menghadirkan suasana hangat, penuh tawa, sekaligus haru.
Tidak hanya menghadirkan sesi berbagi kisah, kegiatan ini juga dipenuhi momen kebersamaan antara anak dan orang tua. Salah satu sesi yang paling mengundang tawa sekaligus haru adalah permainan “Yang Manakah Kaki Ibuku?”. Dalam permainan tersebut, anak-anak diminta mengenali kaki ibu mereka yang ditutupi kain panjang bersama peserta lain.
Suasana ruangan langsung dipenuhi gelak tawa ketika anak-anak mulai menebak dengan penuh keyakinan. Namun, setelah kain dibuka, seluruh anak ternyata berhasil mengenali kaki ibu mereka masing-masing. Momen sederhana itu berubah menjadi sangat emosional ketika anak-anak langsung memeluk ibu mereka dengan mata berkaca-kaca.
Puncak acara berlangsung saat prosesi berbakti kepada orang tua dimulai. Anak-anak membasuh kaki orang tua mereka sebagai simbol penghormatan dan permohonan maaf. Tangis haru pecah di berbagai sudut ruangan ketika anak-anak bersimpuh di hadapan orang tua mereka.
Prosesi dilanjutkan dengan penyajian teh dan penyuapan kue sebagai lambang cinta kasih dan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan mereka dengan penuh pengorbanan. Banyak orang tua maupun anak yang tidak mampu menahan air mata ketika saling menyampaikan ungkapan maaf dan terima kasih.
Orang tua Bernadeta mengaku sangat tersentuh mengikuti kegiatan tersebut.
“Kami merasa sangat dihargai. Bukan hanya bantuan materi yang kami terima, tetapi juga rasa kekeluargaan di Tzu Chi yang membuat kami merasa memiliki rumah kedua yang penuh kasih,” ujarnya.

Vincent dari relawan Misi Pendidikan memandu sesi pemutaran video dan sharing bertema “Kasih Ibu Sepanjang Masa” dalam gathering rutin Gan En Hu (GEH) dan anak-anak penerima beasiswa Tzu Chi di Kantor Tzu Chi Medan.
Di akhir kegiatan, para penerima bantuan menerima santunan bulanan, nasi lemak vegetarian, mi instan, dan kue mini. Namun, lebih dari itu, mereka pulang membawa kehangatan, perhatian, dan rasa bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap kehidupan mereka.
Koordinator kegiatan, Mina Tjandra, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai cinta kasih dan bakti kepada orang tua sejak dini.
“Melalui sesi berbakti ini, kami berharap anak-anak dapat belajar mengungkapkan rasa kasih sayang kepada orang tua. Seperti kata perenungan Master Cheng Yen, ada dua hal yang tidak bisa ditunda, yaitu berbakti kepada orang tua dan melakukan kebajikan,” ujarnya.
Di tengah kesederhanaan acara tersebut, tersimpan pesan yang mendalam: perhatian tulus, kasih sayang, dan penghormatan kepada orang tua adalah akar dari kebajikan yang akan terus tumbuh dalam kehidupan manusia.
Editor: Anand Yahya
Artikel Terkait
Menumbuhkan Harapan, Membangun Kemandirian
07 November 2025Pada Minggu, 2 November 2025, relawan Tzu Chi Medan komunitas He Qi Cemara mengadakan acara kepulangan para Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) dan anak-anak penerima beasiswa Tzu Chi.
“Saya tetap relawan sampai akhir hidup sayaâ€.
18 Februari 2014Tanggal 5 januari 2014, di aula Perguruan Sultan Agung Pematang Siantar, relawan Tzu Chi xie li Pematang Siantar kembali mengadakan acara Gan En Hu pulang ke rumah cinta kasih.
Sambut Imlek, Gathering di He Qi Cikarang Penuh Kegembiraan
09 Januari 2025Lagu Hao Xiang Hao Xiang yang terkenal di era 2000-an dibawakan Rini dengan apik dalam lomba menyanyi lagu Mandarin yang digelar komunitas Relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Cikarang, Minggu 5 Januari 2025.







Sitemap