Relawan Tzu Chi dan tim medis TIMA mendampingi dan memberi semangat kepada Farel yang baru pertama kali menjadi donor darah. Pelaksanaan donor darah ini berlangsung di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan Kompleks Grand Jati Junction, Medan.
Setetes darah mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit atau menjalani perawatan medis, darah dapat menjadi harapan untuk melanjutkan hidup. Berangkat dari kepedulian terhadap pentingnya ketersediaan stok darah bagi pasien yang membutuhkan, relawan Tzu Chi Medan dari komunitas Hu Ai Perintis menggelar kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Medan pada Minggu, 14 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kompleks Grand Jati Junction, Medan, ini menjadi wujud nyata cinta kasih yang diwujudkan melalui tindakan sederhana, yaitu mendonorkan darah untuk membantu sesama.
Informasi mengenai kegiatan donor darah telah disebarluaskan melalui media sosial dan spanduk yang dipasang beberapa waktu sebelum pelaksanaan kegiatan. Melalui aksi sederhana ini, setiap pendonor turut memberikan kesempatan hidup kepada orang lain tanpa mengenal siapa penerimanya, tanpa mengharapkan balasan, bahkan tanpa mengetahui kisah di balik darah yang didonorkan.
Pada kegiatan ini berhasil terkumpul 78 kantong darah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 kantong darah berasal dari pendonor pemula yang baru pertama kali mendonorkan darahnya.
Suasana kegiatan pemeriksaan peserta donor bekerja sama dengan tim medis dari PMI Kota Medan. Kegiatan donor darah telah disebarluaskan melalui media sosial dan spanduk yang dipasang beberapa waktu sebelum pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan donor darah ini juga menjadi kesempatan untuk menggarap ladang berkah. Relawan komunitas Hu Ai Perintis mengajak anak asuh dan penerima bantuan rutin Tzu Chi (Gan En Hu) untuk turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut.
Salah satunya adalah Farel Alqiano Siregar (20), anak asuh Tzu Chi yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan. Donor darah kali ini menjadi pengalaman pertamanya mendonorkan darah.
Farel mengaku mengetahui informasi kegiatan tersebut melalui akun Instagram Tzu Chi Medan dan langsung tertarik untuk berpartisipasi.
“Saya pernah melihat di media sosial ada orang yang sudah donor darah sampai 100 kali. Saya merasa itu sangat keren. Waktu itu saya ingin bisa seperti mereka, tetapi belum tahu bagaimana caranya. Kebetulan ada kegiatan ini dan saya didampingi relawan, jadi saya sangat antusias. Saya senang bisa menjadi donor darah untuk pertama kalinya. Semoga semakin banyak orang yang mendonorkan darah dan saya juga bisa rutin donor untuk membantu sesama,” ujar Farel.
Asmaini (49) sedang menjalani proses donor darah yang pertama kali. Melalui aksi sederhana ini, setiap pendonor turut memberikan kesempatan hidup kepada orang lain.
Semangat yang sama juga dirasakan oleh Asmaini (49), salah satu penerima bantuan rutin Tzu Chi. Selama ini ia sering mendengar berbagai manfaat donor darah, baik bagi kesehatan pendonor maupun bagi orang yang membutuhkan darah.
Sejak lama Asmaini memiliki keinginan untuk menjadi pendonor, tetapi kesibukan mengurus keluarga membuat niat tersebut belum pernah terwujud. Kesempatan itu akhirnya datang ketika relawan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih rutin ke rumahnya pada Sabtu, 13 Juni 2026, sekaligus mengundang keluarganya untuk mengikuti kegiatan donor darah.
Tanpa ragu, Asmaini datang bersama suami dan anaknya. Bahkan sang suami, Indra, turut mendonorkan darah sebagai bentuk dukungan terhadap aksi kemanusiaan tersebut.
“Saya sangat senang bisa ikut mendonorkan darah. Ini adalah donor darah pertama saya. Sudah lama sekali saya ingin donor darah, tetapi selalu ada halangan. Saya bersyukur hari ini akhirnya bisa ikut membantu sesama melalui darah yang saya donorkan,” ungkap Asmaini.
Koordinator Kegiatan, Mega Sari, turut serta mendonorkan darah. Pada hari itu terkumpul 78 kantong darah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 kantong darah berasal dari pendonor pemula yang baru pertama kali mendonorkan darahnya.
Bagi para peserta, donor darah bukan sekadar kegiatan kesehatan, melainkan wujud nyata kepedulian yang lahir dari hati yang tulus. Kegiatan ini mengajarkan bahwa membantu sesama tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar. Tindakan sederhana pun dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan orang lain.
Koordinator kegiatan, Mega Sari, mengaku bersyukur melihat antusiasme para peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, relawan, anak asuh, hingga penerima bantuan Tzu Chi.
“Terlihat peserta donor darah sangat antusias. Ada yang datang dari masyarakat umum, relawan, anak asuh, dan penerima bantuan Tzu Chi. Saya berharap semakin banyak orang peduli terhadap donor darah. Dengan mendonorkan darah, kita dapat membantu mereka yang membutuhkan sekaligus memperoleh manfaat kesehatan,” ujar Mega.
Setelah proses donor darah selesai, para peserta menikmati makanan bergizi yang telah disediakan panitia. Menariknya, area konsumsi menerapkan konsep pelestarian lingkungan. Peserta diajak mengambil makanan secukupnya, tidak menyisakan makanan, serta menjaga kebersihan dengan meletakkan peralatan makan pada tempat yang telah disediakan.
Donor darah yang diadakan secara rutin ini berlangsung di kantor Yayasan Tzu Chi Medan Kompleks Grand Jati Junction. Ada 64 orang relawan yang terlibat dalam kegiatan donor darah ini.
Di tengah kesibukan dan rutinitas sehari-hari, masih banyak orang yang bersedia meluangkan waktu untuk datang, mengulurkan lengan, dan berbagi tanpa mengenal siapa penerimanya. Mereka tidak mengharapkan pujian ataupun balasan. Yang mereka yakini hanyalah bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, akan membawa manfaat bagi sesama.
Seperti yang sering diingatkan oleh Master Cheng Yen, “Jangan meremehkan kebaikan kecil, karena dari tetesan-tetesan kecil itulah akan terkumpul lautan kebajikan.”
Master Cheng Yen juga mengajarkan bahwa kebajikan tidak diukur dari besar atau kecilnya pemberian, melainkan dari ketulusan hati saat memberi. Ketika seseorang rela menyisihkan waktu, menjaga kesehatannya, lalu mendonorkan darah untuk orang yang bahkan tidak dikenalnya, sesungguhnya ia sedang mempraktikkan cinta kasih tanpa syarat.
Kebaikan seperti inilah yang mampu menumbuhkan kehangatan di tengah masyarakat dan menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan.
Editor: Anand Yahya