Berbuat Kebajikan Sedini Mungkin

Jurnalis : Ivana, Fotografer : Ivana
 
foto

Sejumlah 46 celengan diserahkan pada Tzu Chi oleh anak-anak Sekolah Minggu Dharma Jaya. Mereka mulai menabung sejak 4 bulan lalu untuk membantu orang yang membutuhkan.

Minggu siang, 24 Februari 2008 hujan deras mengguyur Vihara Dharma Jaya, Segitiga Senen, Jakarta Pusat. Relawan Tzu Chi Xie Li 10, He Qi Utara duduk berkeliling di ruang kebaktian kecil. Bunyi denting uang logam atau gemersik uang kertas berulang kali terdengar ditingkahi bunyi rintik hujan. Para relawan rupanya sedang menghitung uang dari 46 celengan yang diserahkan anak-anak Sekolah Minggu vihara ini. Deretan uang yang telah dirapikan mereka sisihkan dan dihitung. Nominal uang yang dibawa pulang mencapai 7 digit angka.

Dana kemanusiaan yang diterima Tzu Chi ini merupakan persembahan dari hati-hati kecil yang masih polos. Untuk membantu orang miskin, demikian ucap anak-anak itu menjelaskan niat mereka mengumpulkan uang. Sudah 4 bulan ini, mereka mengumpulkan butir demi butir cinta kasih mereka ke dalam celengan yang dibagikan oleh guru Sekolah Minggu. Tak terkecuali, sebagian uang ang pau yang diterima, juga masuk ke dalam lubang kecil celengan berbentuk hewan tersebut. Dalam salah satu celengan, setiap uang kertasnya terlipat membentuk segitiga, membuat relawan yang merapikan harus membuka kembali lipatan itu satu per satu. Lipatan itu mewakili kesungguhan hati anak yang menyumbangkannya.

Hasil Didikan Ibu
“Aku nggak ada warna kuning,” kata Dany sambil melihat kotak pensil warnanya. Ia memerlukannya untuk mewarnai gambar burung kecilnya.
“Ini aku ada,” jawab Varianto menawarkan pensil warna kuningnya.
“Aku pinjam ya,” kata Dany.

Kepolosan dan kerukunan dua anak laki-laki yang belum lagi berusia 10 tahun ini menarik perhatian saya, dalam sesi mewarnai gambar yang dipandu relawan. Sebelum menerima celengan bambu dari anak-anak Sekolah Minggu Dharma Jaya, para relawan menggelar sejumlah kegiatan seperti melipat burung kertas, menonton kartun, membacakan dongeng, serta mewarnai gambar. Varianto dan Dany duduk bersebelahan di barisan paling depan. Meski sama-sama bersekolah di St. Cecilia, mereka berselisih 1 tahun. Dengan kerja sama yang baik, mereka menyelesaikan gambar dan mengumpulkan gambar beserta pensil warna itu pada relawan Tzu Chi.

foto  foto

Ket : - Sebagai ganti celengan yang diterima, relawan Tzu Chi membagikan celengan bambu Tzu Chi. Kali ini
           sekitar 70 celengan diberikan. Rencananya setelah diisi, celengan-celengan ini akan dikembalikan pada
           Tzu Chi 5 bulan mendatang. (kiri)
         - Dany (kiri) dan Varianto (kanan) duduk berdampingan saat kegiatan mewarnai gambar. Kedua anak ini
           dengan rukun saling meminjamkan pensil warna. (kanan)

Varianto rupanya juga dipilih untuk secara simbolis menyerahkan celengannya kepada Tzu Chi. Ia pun memindahkan celengan singa kuning dalam dekapannya pada Like, komite Tzu Chi yang turut hadir. Sebagai gantinya, ia menerima celengan bambu dari Tzu Chi.

Sejak menerima celengan dari Lily Hendrayani, guru Sekolah Minggunya pada bulan November 2007 lalu, Varianto berusaha untuk mengisinya setiap hari. “Kadang-kadang nabung Rp 500,-, kadang-kadang Rp 1.000,-?katanya. Untuk menyisihkan uang ini, Varianto harus menghemat uang jajan hariannya yang sebesar Rp 2.000,- Dibanding membeli bakso seharga Rp 2.500,- seperti teman-temannya yang lain, ia lebih memilih beli biskuit seharga Rp 500,- supaya sisa uangnya bisa ditabung. Sejak kecil, ibunyalah yang membiasakan Varianto untuk menghemat dan menabung. Biasanya tabungan itu diserahkan pada ibu.

Ajaran dari Su hu bahwa masih banyak orang susah yang memerlukan bantuan, tertanam dalam hati anak ini. “Kita harus bantu mereka, biar nggak susah lagi,” katanya mantap.

foto  foto

Ket : - Like menerima celengan dari Varianto. Anak ini mengisi celengannya hampir setiap hari dengan uang saku
           yang dihematnya. (kiri)
         - Lily Hendrayani dikelilingi oleh anak-anak sekolah minggu yang telah diasuhnya selama 17 tahun.
           Terinspirasi oleh DAAI TV dan ceramah seorang Samaneri, ia dan pengasuh yang lain mencanangkan
           menabung untuk berbuat kebajikan. (kanan)

Rasa Bahagia yang Tidak Terlukiskan
Lily Hendrayani adalah orang di balik realisasi program celengan ini di Sekolah Minggu Dharma Jaya. “Pertama-tama saya mengetahui dari DAAI TV tentang celengan bambu, tapi waktu itu belum terbuka niat untuk melakukannya di sini. Trus ada ceramah Samaneri dari Cilincing yang mengajarkan anak-anak untuk menabung dari kecil untuk bisa membantu sesama,“ kisahnya. Maka para pengasuh Sekolah Minggu mulai mencanangkan program celengan ini. Seorang umat vihara ikut membantu dengan menyumbangkan 50 celengan plastik berbentuk hewan.

Sejak itu, setiap minggu, Lily dan pengasuh yang lain selalu mengingatkan anak-anak itu untuk menyisihkan uang ke dalam tabungan. “Anak-anak ini kalau dari kecil untuk menyumbang yang besar kan belum mampu. Mereka kan belum punya penghasilan sendiri, sementara setiap minggu kita mengajarkan untuk berdana. Karena lewat celengan ini sedikit-sedikit mereka bisa menabung,” jelasnya. Awalnya, mereka sempat berencana bahwa hasil tabungan ini akan disalurkan ke panti asuhan. Rencana ini berubah ketika kinerja sungguh-sungguh dari relawan Tzu Chi dapat meyakinkan Lily dan teman-temannya untuk menyerahkan hasil tabungan itu ke Tzu Chi.

foto  

Ket : - Relawan Tzu Chi dan anak-anak mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat dan bahagia.

Sudah 17 tahun Lily mengasuh sekolah minggu ini. Perempuan 35 tahun yang penuh semangat ini sendiri belum lama juga bergabung menjadi relawan Tzu Chi. “Kalau membantu orang ada rasa senang yang sulit didapatkan,” ia beralasan. Pertaliannya dengan Tzu Chi, tidak lain diawali dari nonton DAAI TV juga.

Selama mencanangkan program celengan ini, Lily bertutur mendapat dukungan yang baik dari orangtua anak-anak dalam asuhannya. “Saya berharap mereka sedikit demi sedikit dari kecil sudah bisa melakukan kebajikan juga bisa diperluas hingga ke umat-umat di vihara ini,” ungkapnya.

 

Artikel Terkait

Kita Sehat, Mereka Selamat

Kita Sehat, Mereka Selamat

28 April 2015
Alasannya, Susanto mengaku dengan berdonor dapat membantu kelancaran sirkulasi darah sehingga membuat tubuh donor lebih sehat. Pengakuan Susanto ini selaras dengan slogan dari PMI sendiri yaitu “Kita Sehat, Mereka Selamat”. “Ada kepuasan pribadi karena ada kesempatan membantu sesama. Sehingga kita mengulangi perbuatan baik ini dan mengajak orang lain untuk ikut serta,” tambah Susanto.
Tetap Waspada, Jangan Sampai Lengah Menjaga Diri Dari Virus Corona

Tetap Waspada, Jangan Sampai Lengah Menjaga Diri Dari Virus Corona

08 Juni 2020

Kantor Kecamatan Tanjung Priok pada Jumat sore itu, 5 Juni 2020 masih tampak ramai. Apalagi saat Yopie Budiyanto, dan dua relawan Tzu Chi lainnya turun dari mobil dengan membawa puluhan dus berisi bantuan kebutuhan medis. Bantuan ini ditujukan bagi 13 Puskesmas yang ada di Kec. Tanjung Priok.

Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -