Bergotong Royong Membersihkan Sekolah

Jurnalis : Juliana Santy, Fotografer : Juliana Santy
 

foto
Kamis, 27 Maret 2014, orang tua murid dan relawan berkumpul sebelum melakukan pembersihan dan pengecatan ulang sekolah.

“Kaget lihat kelas sudah ganti warna. Kemarin itu baru datang sekolah kan pertama berbaris, terus sudah datang dari yayasan, ngecat. Hari ini sudah senang banget, warnanya yang cerah, pokoknya warna coklat sudah hilang. senang kelas sudah bersih, belajar jadi tambah semangat,” cerita Virginia dengan gembira.

Jumat pagi itu ia dan teman-temannya sedang belajar mengambar, ibu guru memberikan arahan mengambar tentang gotong royong dan kerja sama, ia pun mengambar sekolahnya dengan setiap ruang kelas. Ia mau mengambar orang-orang yang bekerja sama membersihkan dan mencat sekolah, begitu pula dengan anak-anak lainnya banyak yang mengambar sekolah dikelilingi oleh orang-orang yang bekerja sama membuat sekolah menjadi indah. Seorang guru, Sherafina merasa sangat senang karena kelas telah menjadi lebih bersih, “Karena dengan adanya bantuan ini sekolah kami lebih kelihatan lebih bersih. Anak-anak jadi lebih senang, orang tua juga lebih tenang karena merasa kelasnya lebih sehat, kalau yang lalu kan dindingnya becek-becek dan pengap,” ucapnya di sela-sela waktu mengajar.

Sejak banjir, sudah lebih dari satu bulan murid-murid TK Katolik Santa Maria Magdalena, Manado dan SD Katolik XVI Santu Kornelius, Tikala Baru, Manado, belajar di kelas yang kotor karena sisa lumpur dari banjir, pembatas ruangan yang terbuat dari triplek pun tampak rusak. Walaupun begitu mereka tetap belajar di dalam kelas seperti biasanya.  Pada tanggal 25 Maret 2014, relawan Tzu Chi yang melakukan survei di wilayah Tikala Baru melihat sekolah tersebut masih belum kembali normal seperti biasanya karena bekas-bekas banjir masih terlihat di setiap dindingnya, oleh karena itu, relawan pun memutuskan untuk mengunjungi sekolah dan mengajukan bantuan untuk mengecat ulang sekolah dan merenovasi bagian yang rusak. Keesokan harinya relawan kembali mengunjungi sekolah dan di sana mereka juga berkesempatan berkumpul dengan beberapa orang tua murid mengenai apa yang akan dilakukan. Pada intinya relawan bukan ingin melakukan bersih-bersih saja, tetapi mau melibatkan semua orang tua murid untuk ikut serta dan bergotong royong membersihkan tempat di mana anak-anak  mereka menempuh pendidikan. Tidak disangka ajakan relawan mendapatkan sambutan yang positif dari orang tua murid. Mereka juga ingin anak-anak mereka kembali belajar di tempat yang lebih bersih dan sehat.

foto   foto

Keterangan :

  • Orang tua dan relawan bekerja sama membersihkan tempat dimana anak-anak mereka bersekolah. (kiri).
  • Inti kegiatan ini bukan hanya bersih-bersih tapi membangkitkan rasa kebersamaan dan gotong royong antara orang tua murid (kanan).

Kamis, 27 Maret 2014, pukul 7 pagi orang tua sudah berkumpul dan bersiap dengan peralatan masing-masing untuk melakukan pembersihan. Sekitar 60-an orang tua ikut serta membersihkan sekolah. Hari itu merupakan hari kerja, ada yang menyempatkan sedikit waktunya untuk membantu sebelum pergi bekerja, ada juga yang meninggalkan pekerjaannya untuk kerja bakti bersama di sekolah. Saat itu murid-murid dipindahkan sementara ke beberapa tempat di sekitar sekolah.

Kebanyakan orang tua yang ikut membantu adalah para ibu yang tentunya pekerjaan membersihkan tembok dan mengecat tembok bukan pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Memasak seolah lebih mudah bagi mereka, tapi mereka tetap bersemangat melakukannya, walaupun setelah itu mereka harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang tertinggal sementara.

foto   foto

Keterangan :

  • Kebanyakan yang ikut serta adalah ibu rumah tangga yang tidak terbiasa dengan mengecat, tapi mereka tetap bersemangat untuk melakukannya (kiri).
  • Keesokan harinya anak-anak kembali belajar di ruang kelas yang tidak lagi tertinggal bekas lumpur dari banjir (kanan).

“Acara ini bagus sekali,  karena jarang ada acara seperti ini, cinta kasih direalisasikan dengan bukti-bukti seperti ini. Kita kira masyarakat juga bisa melihat, Yayasan Buddha Tzu Chi turun langsung membersihkan. Walau dorang (kami) sebagian Katolik, tapi bekerjasama antar agama. Kita tidak melihat dari segi agama atau golongan tapi kita lihat dari partisipasi nyatanya yang langsung turun tangan,” ucap Paulus Wowiling yang dua cucunya bersekolah di tempat tersebut. Akibat penyakit asam urat, kakinya tidak dapat bergerak leluasa, tapi ia mau tetap membantu karena kedua cucunya bersekolah di sana. Ia menambahkan bahwa bantuan ini menjadi suatu kebanggaan bagi para orang tua murid.

foto   foto

Keterangan :

  • Keadaan sekolah sebelum dibersihkan, masih banyak sisa lumpur yang berbekas di tembok (kiri).
  • Keadaan sekolah yang sudah dibersihkan dan dicat ulang menjadi lebih bersih dan indah (kanan).

Sekitar pukul 4 sore, sekolah tampak berbeda, hampir sebagian besar ruangan telah selesai dibersihkan dan di-cat ulang. Beberapa orang tua pun masih bersemangat untuk men-cat. Melihat hal tersebut, Kepala Sekolah SD Katolik XVI Santu Kornelius, Henny Toad Rawung merasa sangat tersentuh. “Pikir-pikir mimpi apa karena kedatangan tamu yang tak terduga, kedatangan yamu yang luar biasa bagi kami, kami merasakan damai sukacita. Luar biasa karena memang jarang sekali orang tua bisa kumpul seperti ini. Kita sangat bangga bersyukur dan bertrima kasih karena sudah berkumpul bekerja sama. Dulu agak susah kumpulin orang tua untuk kerja bakti,” ucapnya bangga.

Perasaan bahwa setiap anak juga adalah anak mereka, itulah yang membawa insan Tzu Chi membantu sekolah tersebut. Mereka ingin setiap anak dapat kembali belajar dengan senang, tenang, dan tentunya di dalam lingkungan yang bersih dan sehat. Keesokan harinya anak-anak sudah dapat kembali belajar tanpa ada lagi bekas-bekas lumpur dari banjir yang menghiasi kelas mereka, sehingga mereka pun lebih bersemangat untuk belajar mengapai cita-cita mereka.

  
 

Artikel Terkait

Tak Merasa Sendirian Karena Mendapat Perhatian Relawan Tzu Chi

Tak Merasa Sendirian Karena Mendapat Perhatian Relawan Tzu Chi

16 Agustus 2022

Bantuan dari Tzu Chi juga perhatian para relawan membuat Wahyudianto (28) tak merasa sendirian. Yudi, begitu ia disapa sudah 17 tahun ini didera rasa sakit yang luar biasa karena penyakit TBC Tulang. Akibat penyakit ini, ia lumpuh. Dan untuk tetap bisa beraktifitas, Yudi pun mesti merangkak.

Bertekad Melestarikan Lingkungan

Bertekad Melestarikan Lingkungan

04 Juli 2017
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat sayur bagi kesehatan sudah lama dicanangkan oleh relawan Tzu Chi Sinar Mas di Xie Li Sumatera Utara. Hal itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan. Kali ini, relawan mengajak serta warga sekitar dalam gerakan Kebersihan Terpadu.
Suara Kasih: Memanfaatkan Tubuh dengan Baik dan Tidak Melupakan Budi Luhur

Suara Kasih: Memanfaatkan Tubuh dengan Baik dan Tidak Melupakan Budi Luhur

19 Juli 2013
Orang pada zaman dahulu sangat menjunjung tinggi nilai moralitas.  Sebagai anak-anak, mereka harus patuh pada orang tua. Berbakti pada orang tua merupakan hal yang sudah sepantasnya.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -