Berjuang Menaklukkan Kanker Sembari Bersumbangsih

Jurnalis : Erli Tan, Fotografer : Erli Tan

Berjuang Menaklukkan Kanker Sembari Bersumbangsih

Aliong menyerahkan celengan bambunya kepada relawan untuk disetorkan dananya ke Yayasan Buddha Tzu Chi. Aliong mulai merasakan kebahagiaan dalam bersumbangsih.

“Setiap pagi melek mata, depan saya itu kuburan,” ujar Jap Kian Liong (46 tahun) atau yang akrab disapa Aliong, saat relawan mengunjunginya di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Sejak April 2016, Aliong yang merupakan salah satu penerima bantuan Tzu Chi ini  tinggal di sebuah bangunan, yaitu Gedung Sarana & Prasarana milik Yayasan Tulus Bakti Jaya, Jl. TPU Kalimulya III, Depok. Persis di depan bangunan itu terdapat pemakaman Taman Makam Pahlawan, penduduk sekitar menyebutnya sebagai Pekuburan Cina.

Bangunan yang hanya beratap itu terdapat dapur, toilet, ruang tamu, ruang tidur, dan gudang. Elektronik paling modern yang terlihat adalah TV, VCD player, dan dua speaker yang menggantung di atasnya, dan tempat tidur Aliong terletak di sudut ruang tamu. Malam saat tidur ia memasang kelambu untuk mengantisipasi gigitan nyamuk. Jika hujan, ia memasang terpal agar air hujan tidak masuk. Bangunan berlantai keramik itu dihimpit Sungai Ciliwung dan pekuburan, sehingga saat Aliong bangun dan membuka mata, pemandangan yang terlihat adalah kuburan.

Untuk tiba di sana, para relawan Tzu Chi harus menempuh perjalanan selama satu setengah jam dari Tzu Chi Center, Jakarta Utara. Di sana, suasana pedesaan terasa kental, terdengar kokok ayam, terasa gigitan nyamuk di kulit, dan tercium bau asap hasil pembakaran sampah di dekat sungai. Sedangkan mata melihat banyak pepohonan hijau. Saat pagi udaranya cukup segar, Aliong biasanya berolahraga dengan jalan pagi di sekitar kuburan tersebut.

Pada bulan Januari 2015, Aliong mengira benjolan di pembuangannya adalah ambeien. Ia pun berobat ke pengobatan ambeien di Jl. Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Saat itu ia berprofesi sebagai supir di daerah Kemayoran. Gaji yang didapatnya pada hari Sabtu, kemudian dipergunakan untuk berobat pada hari Senin. Berkali-kali berobat, tapi ambeiennya tak kunjung sembuh, malah dari pembuangannya terus keluar nanah.

Berjuang Menaklukkan Kanker Sembari Bersumbangsih

Sejak Aliong pindah ke Depok, relawan Tzu Chi rutin mengunjunginya di RS Dharmais. Dalam satu bulan, relawan bergiliran memberi perhatian kepada Aliong hingga empat kali kunjungan.


Relawan juga membawakan makanan hangat untuk Aliong yang sedang menunggu kamar di rumah sakit.

“Waktu itu saya gak punya duit, saya dianjurkan bikin BPJS dulu, baru saya periksa di RS Husada. Ternyata diperiksa, ini dalamnya ada tumor. Mendengar itu saya kaget,” ujarnya.

Jalan keluarnya, perut Aliong harus dibuka, buang air besar dari perut, kemudian bagian pembuangan ditutup, lalu tumor diangkat. Aliong shock dan lemas mendengar vonis tersebut, membuatnya tak bertenaga saat pulang dari rumah sakit. Perasaan Aliong berkecamuk, faktor biaya pun membuatnya menunda pengobatan, “Sempat berpikir gak mungkin saya kena penyakit itu, tapi setelah diperiksa lagi di RS Tarakan barulah saya tahu itu kanker usus. Sesudah itu, saya pikir-pikir sampe dua bulan. Makin hari saya makin kurus,” tambahnya.

Akhirnya Aliong pun pasrah dan menyatakan bersedia dioperasi. Aliong lalu menjalani operasi buka perut di Rumah Sakit Tarakan pada bulan Maret 2015, pembuangannya ditutup seumur hidup. Biaya operasi saat itu sudah menggunakan BPJS. Karena sudah tidak bisa bekerja, untuk menutupi biaya sehari-hari Aliong mendapat bantuan dari teman dan gereja, “Dari gereja sebagian, dan dari teman-teman, kita minta sumbangan dari saudara juga, dari duit itulah untuk biaya hidup,” kata Aliong.

Relawan juga membawakan makanan hangat untuk Aliong yang sedang menunggu kamar di rumah sakit.

Tanggal 10 Januari 2016, relawan melakukan kunjungan kasih dan membawakan barang bantuan berupa dana dan popok sekali pakai kepada Aliong.

Sejak 10 Januari 2016, relawan sudah melakukan kunjungan kasih dan membawakan barang bantuan berupa dana dan popok sekali pakai kepada Aliong.

Relawan Tzu Chi menjenguk Aliong di tempat tinggalnya sekarang di Depok. Kondisi tempat tidurnya menghadap kuburan, sedangkan belakang bangunan adalah Sungai Ciliwung.

Bantuan itu berjalan hingga delapan bulan lamanya hingga akhirnya ia mendapat bantuan dari Tzu Chi melalui seorang kenalan di gereja. Aliong kemudian dirujuk ke RS Dharmais untuk mulai menjalani terapi. Ia menunggu hingga Juli 2015 untuk mendapat giliran radioterapi. Lalu di bulan Agustus 2015 mulai kemoterapi. Sebelum bertemu Tzu Chi, saat tak punya uang, Aliong beberapa kali menunda pengobatan ke rumah sakit dan membuat penyakitnya bertambah parah.

“Sekali ke rumah sakit kan makan biaya. kalo gak ada biaya kan gak bisa walaupun pakai BPJS, karena harus makan, harus pake uang ongkos taksi, waktu itu kan gak bisa naik angkutan umum, gak bisa duduk, gak bisa jalan, mau gak mau harus orang gotong, naik taxi, digotong lagi,” tutur Aliong mengenang kesulitan dan rasa perih pada masa itu.

Hingga September 2016, Aliong sudah menjalani kemoterapi sebanyak lima tahap, dengan jumlah kemoterapi mencapai 30 kali. Sejak mendapat bantuan Tzu Chi pada November 2015, Aliong pun mendapat kunjungan dan perhatian rutin dari relawan. Bantuan yang ia dapat dari Tzu Chi adalah dana untuk membayar obat yang tidak ditanggung BPJS, biaya transportasi ke rumah sakit, biaya hidup bulanan, dan popok sekali pakai. Bantuan yang ia dapat dari Tzu Chi ini membuatnya tenang saat menjalani pengobatan.

Relawan Tzu Chi menjenguk Aliong di tempat tinggalnya sekarang di Depok. Kondisi tempat tidurnya menghadap kuburan, sedangkan belakang bangunan adalah Sungai Ciliwung.

Tempat tinggal Aliong saat ini, yaitu di Gedung Sarana & Prasarana Yayasan Tulus Bakti Jaya Depok.

Sebelum tinggal di samping kuburan, Aliong mengontrak sebuah kamar kecil di lantai 2 sebuah kelenteng di Jl.Gedong Panjang Gg.Sukarela No.11, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Karena keterbatasan dana, ia berusaha menghemat, selain itu dia juga tidak mau merepotkan orang lain dan berusaha tidak mengeluh. Makan hanya seadanya, kadang satu hari makan tidak sampai 3 kali. Karena urusan kemoterapi, ia harus bolak balik ke RS Dharmais. Ia harus ganti beberapa angkutan demi berhemat. Sambil menahan sakit ia naik becak lalu lanjut angkutan kota, kemudian bajaj, barulah bisa tiba di RS Dharmais. Kadang saat sakitnya sedang hebat, ia harus mengkonsumsi obat anti nyeri.

Sejak pindah di yayasan samping kuburan, rutenya pun berubah. Ia kini naik kereta, dan tetap harus pindah beberapa angkutan untuk tiba di rumah sakit. Kadang ia didampingi oleh Usman, salah satu pekerja pemakaman yang tinggal di yayasan juga. Usman menjaganya berhari-hari di rumah sakit, padahal menjaga Aliong bukan bagian dari pekerjaan Usman. “Itu seikhlas saya saja, tiba-tiba saja hati nurani saya bilang ikhlaslah, tidak pamrih apa-apa. Hati nurani saya merasa kasihan melihat dia. Ya, saya bantu-bantu dia, kalo sempat saya bantu cuci (bajunya), saya juga pijitin dia,” ungkap bapak beranak tiga asal Bandung ini.

Kini di tempat tinggalnya sekarang, Aliong mendapat perhatian dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Jap Chai Kim atau Akim adalah kakak ke-4 Aliong, kakaknya yang lain ada di Kalimantan. Sejak Aliong sakit, Akim yang menjaganya. Akim yang sudah terlebih dulu tinggal di yayasan ini, mendapat izin untuk membawa Aliong tinggal bersama. Di sini, Akim bisa menjaga Aliong, memasak untuknya, sehingga tiga kali makan dalam sehari Aliong pun dapat terpenuhi.

Relawan Tzu Chi yang rutin membawa bantuan untuk Aliong pun kerap datang menjenguknya di rumah sakit. Dalam sebulan, relawan berkunjung tiga hingga empat kali. Perhatian, ketelatenan, dan kesungguhan hati relawan dapat dirasakan Aliong. “Saya banyak terima kasih dengan Buddha Tzu Chi, walaupun saya kemo di rumah sakit, selalu datang dan hadir teman-teman dari Buddha Tzu Chi, dan semuanya sangat memperhatikan. Saat kondisi saya lemah usai kemoterapi dan berjalan tidak stabil, relawan membawakan tongkat agar dapat membantu saya berjalan,” ujarnya.

Relawan juga kerap kali menyemangati Aliong agar ikhlas menerima kondisi, dan harus semangat menghadapi penyakitnya. Jika ada keresahan dalam hati Aliong, relawan pun mengucapkan hal-hal baik sehingga Aliong merasa tenang dan jauh dari pikiran negatif. Relawan juga tidak pernah bosan memberi nasehat mengenai jenis makanan yang harus dikonsumsi dan yang harus dihindari pasien kanker. Sesekali relawan juga membawakan makanan hangat untuknya saat sedang menunggu mendapatkan kamar di rumah sakit. “Banyak terima kasih, luar biasa.. luar biasa kebaikannya, saya sangat terharu. Saya banyak terima kasih pada relawan Buddha Tzu Chi, ini benar-benar sangat luar biasa memperhatikan…,” Aliong terharu hingga tak dapat menyelesaikan kata-katanya.

Relawan juga membawakan celengan bambu agar Aliong dapat menanam berkah. Aliong menerima celengan itu pada 3 Februari 2016 dan mengisinya. Bagi orang lain dana itu mungkin tidak banyak. Pada 9 Agustus 2016, untuk pertama kalinya Aliong menyetorkan sumbangannya ke Tzu Chi melalui relawan. Ia pun mulai merasakan kebahagiaan dari bersumbangsih. “Saya kalau udah bisa jalan normal, udah dioperasi, udah sembuh, saya akan kunjung ke Buddha Tzu Chi, saya akan mau tahu, dan saya akan masuk yayasan itu. Saya akan membalas budi, saya akan datangi juga kepada orang-orang yang sakit, seperti saya didatangi orang,” ujar Aliong dan bertekad sebulat-bulatnya.

Kondisi Aliong saat ini, ketika duduk harus dialasi bantal kecil. Ia tengah menunggu kondisinya memungkinkan untuk operasi pengangkatan tumor. Jika kondisinya belum memungkinkan maka ia harus lanjut menjalani kemoterapi lagi. Menjalani kemoterapi hingga puluhan kali dengan intensitas yang makin menyiksa, membuatnya jera. Sempat juga ia putus asa dan takut saat mengetahui di RS Dharmais ada pasien yang meninggal setelah dioperasi.

Aliong yang dulu sebelum sakit, takut melihat kuburan, namun setelah sakit sudah tidak merasa takut, membuatnya menyadari adanya ketidakkekalan yang tak dapat diramal oleh manusia. Tiap pagi bangun, yang pertama kali terlihat adalah pemakaman, dan baginya kini itu hanyalah pemandangan biasa.


Artikel Terkait

Menyatukan Keping-Keping Kehidupan

Menyatukan Keping-Keping Kehidupan

12 Agustus 2019
Kehidupan bagai keping-keping puzzle yang terkadang porak poranda tanpa gambaran yang nyata. Namun ketika keping-keping itu disatukan akan terbentuk gambar indah dan sempurna. Itulah salah satu pelajaran yang dipetik dari Kunjungan Kasih yang dilakukan oleh insan Tzu Chi di komunitas He Qi Barat 2 pada Minggu, 4 Agustus 2019. 
Kisah Hartono Harus Hidup Tanpa Pita Suara

Kisah Hartono Harus Hidup Tanpa Pita Suara

02 Juni 2022

Relawan Tzu Chi di Bekasi mengunjungi Hartono yang menderita kanker laring untuk terus memberikan bantuan moril dan materiil bagi mereka sekeluarga.

Berbagi Keceriaan Natal di Panti Asuhan Vita Dulcedo Pematang Siantar

Berbagi Keceriaan Natal di Panti Asuhan Vita Dulcedo Pematang Siantar

20 Desember 2023

Menyambut Natal, para relawan Tzu Chi di Komunitas Xie Li Pematang Siantar berkunjung ke Panti Asuhan Vita Dulcedo. Walaupun hujan, tidak menyurutkan langkah kaki relawan dalam menyebarkan cinta kasih.

Menggunakan kekerasan hanya akan membesarkan masalah. Hati yang tenang dan sikap yang ramah baru benar-benar dapat menyelesaikan masalah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -