Bersama Mendalami Dharma

Jurnalis : Agus Lee (Tzu Chi Batam) , Fotografer : Agus Lee (Tzu Chi Batam)


Sebanyak 40 relawan ikut dalam kelas “Jing Jing Ri” yang diadakan oleh Tzu Chi Batam, 6 April 2014.

Kita semua memiliki jalinan jodoh yang sedemikian besarnya sehingga bisa bergabung dalam Tzu Chi dan memiliki kesempatan untuk mendengarkan Dharma. Di Tzu Chi, selain membimbing kehidupan orang lain untuk menjadi lebih baik, juga merupakan sarana pelatihan diri untuk menjadikan diri kita sendiri lebih baik. Maka dari itu, Tzu Chi Batam kembali mengadakan kelas “Jing Jing Ri” pada tanggal 6 April 2014 setelah sempat terhenti selama beberapa bulan untuk menyelami lautan Dharma melalui kebaktian dan sharing dari murid Master Cheng Yen. Pelatihan yang singkat ini dihadiri oleh 40 orang relawan Tzu Chi Batam, diantaranya ada 7 orang relawan Tzu Chi yang berasal dari Tanjung Pinang.

Kebaktian merupakan suatu kegiatan yang kerap dilakukan oleh relawan Tzu Chi, namun dalam pelaksanaannya seringkali terjadi kesalahan. Oleh karena itu, sebelum memulai kebaktian pagi hari ini, Budi Shixiong membeberkan cara mendengar incin agar para relawan semakin mengerti kapan harus bersujud dan kapan harus berdiri kembali. Pada acara kali ini, relawan membacakan sutra 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan kemudian dilanjutkan Rao Fo Rao Fa atau meditasi berjalan.

Setelah kebaktian, para relawan dengan seksama sharing De Yue Shifu mengenai ajaran Jing Si adalah giat mempraktikkan Jalan Kebenaran, mazhab Tzu Chi adalah Jalan Bodhisatwa di dunia. Melalui sharing ini, para relawan semakin mengerti apa saja yang diinginkan Master kepada muridnya. Mereka bertekad untuk mempelajari hati Tzu Chi dan melatih sifat luhur dari ajaran Jing Si agar Master tidak khawatir lagi.


Dengan adanya pelatihan kali ini, kesalahan yang dilakukan relawan pada saat kebaktian akan menjadi minim.


Budi Shixiong sedang membawakan presentasi tentang tata cara pradaksina kebaktian.

Selain sharing melalui video, Budi Shixiong juga menyiapkan presentasi mengenai kontruksi bangunan Griya Jing Si, halaman batin setiap insan Tzu Chi. Yang menjadi ciri khas setiap bangunan Tzu Chi adalah bentuk atap yang berbentuk huruf 人 (manusia/saling menopang) yang berfungsi mengingatkan setiap manusia hidup bersosial.

Di kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini, apakah kita harus hidup bersenang-senang atau hidup penuh kebencian? Tentu saja tidak. Hati yang lapang akan memperoleh kedamaian. Master menginginkan kita senantiasa mendisiplinkan hati dan pikiran dan memahami makna dalam hidup ini. Semoga dalam Jing Jing Ri kali ini, relawan semakin mengerti dalam mengenai Tzu Chi dan jalan Bodhisatwa yang penuh rintangan ini. “Mulai tanggal 6 April 2014 sampai 21 April 2014 juga akan diadakan kebaktian setiap malam harinya pukul 06.30,” begitulah pesan Budi Shixiong. Marilah kita bersama-sama menciptakan karma baik dan menuai berkah kebahagiaan.


Artikel Terkait

Mewariskan dan Menyebarkan Cinta Kasih Universal kepada Semua Makhluk

Mewariskan dan Menyebarkan Cinta Kasih Universal kepada Semua Makhluk

13 Desember 2023

Pelatihan Relawan Abu Putih di komunitas He Qi Utara 2 ini mengangkat tema “Mewujudkan Cinta Kasih Universal”. Topik-topik yang diangkat berfokus pada nilai-nilai cinta kasih Tzu Chi yang harus dikembangkan dari generasi ke generasi.

Kamp Pelatihan Relawan Komite & Calon Komite 2017: Tzu Chi sebagai Ladang Pelatihan Diri

Kamp Pelatihan Relawan Komite & Calon Komite 2017: Tzu Chi sebagai Ladang Pelatihan Diri

13 Maret 2017

Selama dua hari, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengadakan Kamp Pelatihan Relawan Komite & Calon Komite 2017. Kamp berlangsung di Gedung Aula Jing Si, Tzu Chi Center. Kamp dibuka tanggal 11 Maret 2017 dan dihadiri oleh 580 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada Tekad Tentu ada Tenaga

Ada Tekad Tentu ada Tenaga

21 Juni 2019

Tujuh puluh tiga relawan Calon Komite Tzu Chi mendalami Dharma dengan mengikuti pelatihan pada Minggu, 16 Juni 2019. “Tujuannya agar lebih mengerti Dharma, serta memahami tugas dan tanggung jawab sebagai murid Master Cheng Yen,” kata Desnita, koordinator kegiatan ini.

Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -