Bersiap-siap Menempati Gedung Sekolah Baru

Jurnalis : Sutar Soemithra, Fotografer : Anand Yahya
 
foto

* Murid-murid SDN Mesjid Priyayi dengan penuh keceriaan ikut mengangkat meja belajar yang baru saja tiba. Meja belajar dan perlengkapan belajar lainnya telah didatangkan menyusul selesainya pembangunan gedung yang sebelumnya rusak oleh angin puting beliung.

Memasuki tahun ajaran baru 2008/2009 yang dimulai secara serempak tanggal 14 Juli 2008, murid-murid SDN Mesjid Priyayi, Kasemen, Serang, Banten masih belajar di tenda penampungan sementara. Namun mereka sudah bisa menyunggingkan senyum karena di dekat tenda belajar mereka saat ini, gedung sekolah baru telah selesai dibangun dan siap ditempati. Kamis, 10 Juli 2008, empat hari sebelum tahun ajaran dimulai, perlengkapan pendukung mulai berdatangan. Dua buah mobil bak terbuka mengangkut 240 meja dan kursi kelas, 14 meja kantor, 6 lemari arsip, 6 alas kaki, 6 papan tulis, 1 white board, 6 papan absen, 1 set sofa, dan 1 filing cabinet. Beberapa relawan Tzu Chi menemani guru, murid dan beberapa orangtua murid menurunkan barang-barang tersebut dan menatanya di salah satu ruang kelas.

Anak-anak pun tidak mau ketinggalan ikut memindahkan meja dan kursi. Sesekali mereka saling bercanda dengan temannya. Banyak di antara mereka yang bertelanjang kaki. Wajah dan badan mereka juga terlihat belepotan tanah. Musim kemarau seperti saat ini memang menyebabkan debu mudah beterbangan dan menempel di badan. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk memperlihatkan keceriaan karena sebentar lagi akan memiliki sebuah gedung sekolah baru.

“Di sini senang
Di sana senang
Di mana-mana hatiku senang
Di rumah senang
Di sekolah senang
Di mana-mana hatiku senang.”

Anak-anak mendendangkan lagu secara serempak ketika Arifin, relawan Tzu Chi Tangerang, mengajak mereka bernyanyi. Mereka bernyanyi di dekat meja dan kursi yang baru saja mereka tata. “Kalau sekolah sudah bagus, anak-anak juga harus bagus. Harus rawat sekolah,” pesan Arifin kepada anak-anak yang segera disahut sikap setuju dengan serempak.

Gedung sekolah yang dibangun tahun 1977 itu sebelumnya mengalami kerusakan karena diterjang angin puting beliung pada tanggal 14 November 2007. Angin ganas menyapu atap gedung yang memang telah termakan usia. Tembok dan tiang-tiang kayu pun juga sudah rapuh. Keprihatinan ini mengundang simpati Tzu Chi yang memutuskan untuk membantu perbaikan gedung. Pembangunan pun langsung dimulai sejak dilakukan peletakan batu pertama tanggal 16 Februari 2008.

foto   foto

Ket : - Guru, siswa, dan orangtua murid SDN Mesjid Priyayi bergotong royong memindahkan perlengkapan sekolah
           dari atas mobil untuk dipindahkan ke dalam ruang kelas dan kantor guru.(kiri)
         - Saginem, Kepala Sekolah SDN Mesjid Priyayi pun ikut mengangkat meja bersama guru lain, murid, dan
           orangtua murid. (kanan)

Sejak peletakan batu pertama, semua gedung dibongkar sehingga anak-anak terpaksa harus belajar di bawah tenda. Di tengah perjalanan, karena tenda terlalu sempit, para guru akhirnya memindahkan tempat belajar ke SDN Masigit, sekitar 1 km dari SDN Mesjid Priyayi. Mereka belajar di sana pada sore hari bergantian dengan siswa-siswi SDN Masigit. Namun baru beberapa hari, para murid mulai menghilang satu per satu. Para orangtua murid kemudian menghampiri Saginem, kepala sekolah, “Tolonglah, Bu, kembali aja ke tenda, nggak usah ke Masigit.” Ternyata mereka khawatir karena SDN Masigit dekat dengan jalan raya dan irigasi. Selain itu, anak-anak juga meminta uang jajan lebih banyak sehingga memberatkan orangtua. Akhirnya mereka kembali lagi belajar di tenda.

Panas dan hujan adalah teman belajar sehari-hari anak-anak SDN Mesjid Priyayi ketika belajar di tenda. Terlebih di musim hujan. “Kadang basah. Kalau panas banyak debu,” tutur Tajudin, siswa kelas 5 SD. Menurut Saginem, ketika musim hujan, kegiatan belajar sangat sering harus menunggu hujan reda. Terpal telah berlubang di sana-sini. “Belajarnya kurang enak, kurang nyaman. Waktu musim hujan tidak bisa belajar dengan baik karena airnya masuk,” jelas Saginem.

SDN Mesjid Priyayi terdiri dari 6 kelas –6 tingkat, kelas 1 terdiri dari 2 kelas– dengan siswa mencapai 248 anak. Mereka kekurangan tenaga pengajar untuk mengurusi anak sebanyak itu. Saat ini hanya terdapat 1 kepala sekolah dan 6 guru. Mereka pun hanya memiliki 1 guru bidang studi yaitu guru agama, sedangkan guru kesenian dan olahraga belum ada.

foto   foto

Ket : - Relawan Tzu Chi berpesan kepada anak-anak untuk menjaga gedung sekolah baru agar selalu indah dan
           bersih. (kiri)
         - Di atas lahan seluas 700 meter persegi, SDN Mesjid Cinta Kasih berdiri dengan megah siap menelurkan
           tunas-tunas masa depan yang berkualitas. (kanan)

Gedung sekolah yang baru berdiri di atas tanah seluas 700 m2 terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang guru, 1 ruang kepala sekolah, 1 gudang, dan 2 kamar mandi. Temboknya bercat kombinasi warna putih redup dan abu yang mampu meredam silau. Pada siang hari, terik matahari memang terasa sangat silau di tempat itu. Atap berwarna biru seperti atap sekolah-sekolah lain yang dibantu Tzu Chi serta dihiasi logo teratai bergambar kapal layar. Tanah di halaman semua ditutup dengan paving block, sedangkan lantai gedung berupa keramik. SDN Mesjid Priyayi merupakan sekolah kesembilan belas yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan rencananya tidak lama lagi akan diresmikan. Padi di sawah-sawah yang mengelilingi sekolah sebentar lagi akan menampakkan bulir-bulirnya seperti halnya SDN Mesjid Priyayi yang akan segera menghasilkan tunas-tunas berkualitas setelah memiliki gedung baru.

 

Artikel Terkait

Setetes Darah Sejuta Kehidupan

Setetes Darah Sejuta Kehidupan

06 November 2023

Masih dalam rangka memperingati ulang tahun Tzu Ching Medan yang ke-13, Muda-mudi Tzu Chi atau biasa disebut Tzu Ching mengadakan donor darah di Universitas Prima Indonesia yang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia, kota Medan.

Jurnalisme Empati Sebagai Sarana Memberikan Pendidikan

Jurnalisme Empati Sebagai Sarana Memberikan Pendidikan

05 Desember 2016

Jurnalisme Empati yang merupakan salah satu metode penulisan dengan cara memandang jurnalisme dari sisi narasumber menjadi topik seminar yang membuka Festival Budaya Humanis Tzu Chi, di Tzu Chi Center, Minggu Desember 2016. Materi ini dibawakan oleh wartawan senior Harian Kompas, Maria Hartiningsih.

Menghargai Jalinan Jodoh dan Mewujudkan Keharmonisan di Jalan Tzu Chi

Menghargai Jalinan Jodoh dan Mewujudkan Keharmonisan di Jalan Tzu Chi

08 November 2022

Sebanyak 56 relawan Tzu Chi Medan mengikuti Pelatihan Pengurus 4 in 1 Indonesia Tahun 2022. Pelatihan bertema Menghargai Jalinan Jodoh dan Mewujudkan Keharmonisan ini berlangsung serentak di 14 kota dan terhubung secara online.

Lebih mudah sadar dari kesalahan yang besar; sangat sulit menghilangkan kebiasaan kecil yang buruk.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -