Bersumbangsih dengan Penuh Sukacita

Jurnalis : Junaedy Sulaiman (Tzu Chi Lampung), Fotografer : Junaedy Sulaiman (Tzu Chi Lampung)
 
 

fotoRatna Shijie dan Budi Shixiong sedang menuntun nenek yang memiliki kesulitan dalam melihat.

 

Yayasan Buddha Tzu Chi Lampung akan mengadakan bakti sosial operasi  Katarak gratis untuk masyarakat tidak mampu yang hendak diselenggarakan pada bulan November 2011.  Dalam menyelenggarakan baksos kesehatan ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Lampung bekerjasama dengan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung.

 

 

 

Untuk persiapan awal baksos kesehatan, pasien-pasien yang berada di luar kota Bandar Lampung mulai di data satu persatu. Menengok kembali pada pengalaman yang lalu, dimana pada saat baksos kesehatan berjalan banyak pasien yang datang dari jauh ternyata bukan menderita katarak tetapi menderita penyakit mata yang lain, sehingga tidak hanya menghabiskan biaya dan waktu,  tapi hasilnya juga tidak maksimal.

Oleh karena itu, Suherman Harsono Shixiong dan Indra Halim Shixiong, PIC kegiatan baksos operasi katarak ini mengambil inisiatif untuk mendatangi daerah-daerah tempat asal pasien yang telah mendaftarkan diri. Terdapat empat daerah, yaitu di Way Mili, Kabupaten Lampung Timur,  Padang Cermin Kabupaten Pesawaran, Kota Agung di Kabupaten Tanggamus dan Krui di Kabupaten Lampung Barat.

Perjalanan menuju Way Mili
Pada tanggal 23 Oktober 201,1jam 8.00 pagi sejumlah relawan berkumpul di Kantor Tzu Chi Lampung untuk menuju Wihara Buddha Kirti bersama Dokter Arry Setyawan dari RS Abdul Muluk.  Lamanya waktu perjalanan dan area jalanan yang rusak, tidak memadamkan semangat relawan untuk mendata pasien yang akan berobat. Setelah 2 jam lamanya perjalanan sampailah relawan di Wihara Budha Kirti, Way Mili Lampung Timur. Di sana Romo (tokoh agama-red) Aken dan Romo (tokoh agama-red) Budi, selaku coordinator kegiatan pendataan pasien telah mempersiapkan semuanya dengan lancar.

foto  foto

Keterangan :

  • Fadilah (5), yang sedang diperiksa oleh dokter. ketika selesai pemeriksaan diketahui Fadilah menderita Kistadermoroid. (kiri)
  • Para relawan sedang mendata pasien-pasien yang akan mengikuti screening pada tanggal 19 November 2011 di RS. Bhayangkara. (kanan)

Sebanyak 108 pasien yang terdaftar telah datang. Relawan Tzu Chi yang telah tiba langsung berbagi tugas dan memulai kegiatan screening awal. Acara diawali dengan pemberian nomor urut,  pemeriksaan tekanan darah, visus tes penglihatan dari jarak beberapa meter untuk melihat tulisan huruf dan angka, terakhir pasien diperiksa oleh dokter. Ternyata pasien yang benar-benar menderita katarak sebanyak 47 orang dan akan diperiksa lebih lanjut pada tanggal 19 November oleh tim medis TIMA ( Tzu Chi International Medical Association) .

Kasran (58), petani dari dusun Libo mengatakan,”Mata saya buram seperti ada benang putih, lama-lama semakin banyak seperti berkabut.” Kasran baru mengetahui kalau itu gejala katarak setelah diberitahu oleh temannya. Pekerjaannya sebagai petani kecil membuat dirinya sulit untuk memenuhi keperluan makan sehari-hari. Dikarenakan faktor inilah Kasran tidak pernah berani untuk berobat ke dokter apalagi berpikir untuk mengoperasi matanya.” Sungguh saya berterima kasih kepada Tzu Chi yang memberikan kesempatan saya untuk sembuh tanpa harus membayar biaya operasi. Doakan saya lolos screening nanti sehingga mata saya bisa dioperasi,” tutur Kasran kepada Suherman Harsono, relawan Tzu Chi.

Selain  menderita katarak, ada juga warga yang datang dengan keluhan mata merah, gatal, mata berair serta terluka karena kena benda. Setelah mendapat obat tetes mata mereka langsung pulang. Dalam pendataan pasien baksos, terdapat pasien yang masih berusia muda atau kanak-kanak, yaitu Fadilah (5) dan Rendi Saputra (7), mereka berdua menderita tumbuh selaput lemak disudut bola mata kiri dan kanan. Untuk penyakit ini akan ditangani langsung di Rumah Sakit Abdul Muluk karena akan dianestasi secara menyeluruh.

Tidak terasa pendataan pasien selesai pada pukul 16.00,  relawan berterima kasih kepada  Romo Akenyang mengkoordinirkan kegiatan ini. Lalu relawan kembali ke Bandar Lampung dengan hati penuh sukacita. Perasaan sukacita karena telah bersumbangsih seperti kata-kata perenungan Master Cheng Yen, yakni "Bersumbangsih dengan hati penuh sukacita, berpartisipasi dengan rasa syukur, tidak akan terasa melelahkan."

  
 

Artikel Terkait

Gathering Relawan Tzu Chi He Qi Selatan

Gathering Relawan Tzu Chi He Qi Selatan

06 Februari 2015 Bersumbangsih bisa membuat kita bersyukur? Mengapa demikian?  Hing Kok Shixiong memberikan penjelasan mengenai hal tersebut dalam kegiatan Gathering Relawan Tzu Chi He Qi Selatan.
Wujud Cinta Kasih Lewat Bantuan Sepatu

Wujud Cinta Kasih Lewat Bantuan Sepatu

02 September 2022

Pada 18 Agustus 2022, relawan Tzu Chi Surabaya memberikan bantuan sepatu bagi siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Babul Huda, Wonosalam.

Setiap Orang Adalah Zhen Shan Mei

Setiap Orang Adalah Zhen Shan Mei

04 Mei 2018
Setiap kegiatan Tzu Chi yang dilakukan saat ini adalah sejarah di masa yang akan datang. Agar peristiwa bersejarah tersebut tidak lekang oleh waktu maka perlu adanya relawan yang mendokumentasikannya, di Tzu Chi relawan ini kerap dipanggil relawan Zhen Shan Mei
Sosialisasi Smartphone JournalismSosialisasi Smartphone Journalism
Bertambahnya satu orang baik di dalam masyarakat, akan menambah sebuah karma kebajikan di dunia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -