Buka Puasa Bersama, Buka Hati Bersama

Jurnalis : Wie Sioeng (He Qi Timur), Fotografer : Wie Sioeng (He Qi Timur)
 
 

foto
Minggu 5 Agustus 2012, relawan Tzu Chi mengadakan kegiatan berbuka puasa bersama warga penerima bantuan bebenah rumah di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara

“Cinta kasih universal  tidak membedakan mulia atau hina, semua makhluk adalah setara tanpa membedakan dia, engkau atau aku, jika berhati baik tentu akan selalu harmonis.” 
Kata Perenungan Master Cheng Yen

 

 

Minggu 5 Agustus 2012, jam menunjukan pukul 15.00 WIB ketika langkah sepatu putih ini memasuki Jing Si Books & Café Mal Kelapa Gading. Suasana terasa hening dan sejuk, berbeda dengan cuaca di luar sana yang panas terik. Tetapi saat memasuki ruangan dalam, terlihat kesibukan dari beberapa shixiong dan shijie yang sedang mempersiapkan kotak-kotak berisi menu makanan untuk acara berbuka puasa bersama warga penerima bantuan Bebenah Kampung di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara sore nanti.

Semua menu makanan diolah di rumah beberapa relawan dan dibawa ke Jing Si Books & café untuk dimasukkan ke dalam wadah kotak-kotak plastik yang akan diberikan kepada para warga dan nanti wadahnya masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Ini juga mendukung misi pelestarian lingkungan Tzu Chi yang ditanamkan kepada warga penerima bantuan bebenah kampung agar bisa memanfaatkan barang-barang yang masih bisa dipakai kembali dan mulai mengurangi barang-barang sekali pakai, karena kita semua harus menghargai berkah yang ada yang sudah disediakan oleh bumi tercinta ini.

foto  foto

Keterangan :

  • Sekitar 180 warga Cilincing berkumpul di kantor kelurahan untuk melakukan buka puasa bersama dengan menu vegetarian (kiri).
  • Sesaat sebelum berbuka, Ustad H. Hermanto memberikan kultum (kuliah tujuh menit) (kanan).

Tak terasa sudah waktunya semua relawan berangkat menuju tempat acara yang bertempat di Kantor Kelurahan Cilincing, Jakarta utara. Perjalanan kami lalui dari Kelapa Gading dengan melintasi daerah Semper yang begitu padat sore ini. Ada perasaan was-was takut terlambat menghantui kami karena kemacetan yang ada, tapi semua berjalan lancar dan kami tiba tepat waktu. Langsung shixiong dan shijie semua mempersiapkan dan menyusun kotak-kotak menu buka puasa bersama hari ini dengan rapi. Dengan senyum yang sumringah, beberapa relawan lainnya mempersiapkan tajil berupa es blewah untuk membatalkan puasa pada saat Adzan Maghrib tanda berbuka berbunyi nantinya. Semua dilaksanakan oleh para relawan dengan cepat, tenang, dan rapi sesuai tugasnya masing-masing.

Warga sudah berdatangan satu persatu bersama anggota keluarganya, total ada sekitar 180 warga dari 104 rumah yang dibedah. Para tokoh masyarakat, termasuk Adi Djaja, perwakilan dari PT. Bogasari dipersilakan menempati tempat yang disediakan di halaman kantor kelurahan Cilincing dengan menggunakan tikar-tikar secara lesehan beralur rapi sebaris demi sebaris, membuat suasana semakin akrab. Pukul 17:00 WIB, acara dimulai dengan kata sambutan oleh Johan Shixiong, koordinator acara hari ini yang menjelaskan sekilas tentang visi dan misi Yayasan Buddha Tzu Chi kepada para hadirin dan tokoh masyarakat yang hadir.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Lurah Cilincing, Purnomo, yang berharap agar semangat persatuan dan kebersamaan harus tertanam di hati yang terdalam setiap warga, karena manfaatnya sudah nyata dengan adanya Program Bebenah Kampung yang dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Indofood, BCA, Agung Podomoro Group, Agung Sedayu Group dan SCTV di wilayah Kelurahan Cilincing terhadap warga-warga yang tidak mampu dan sangat membutuhkan. Akhir kata, Purnomo juga berharap warganya juga bisa berbagi kepada sesamanya yang juga membutuhkan nantinya.

Acara terus berlanjut kali ini sharing dari Endang Shixiong yang juga seorang Muslim, ia bercerita bagaimana ia bisa berjodoh dan bergabung dalam satu keluarga besar relawan Tzu Chi serta apa yang ia rasakan selama ini. Ia merasakan bahwa Tzu Chi adalah sebuah yayasan lintas ras, agama, suku serta bangsa, di mana tidak ada membeda-bedakan di dalamnya baik, bagi relawan maupun penerima bantuannya semua dipandang sama dan setara.

foto  foto

Keterangan :

  • Relawan menyusun menu berbuka yang dihidangkan dalam kotak yang bisa dipakai lagi. Masakan yang disiapkan merupakan sumbangsih dari para relawan (kiri).
  • Dalam acara ini juga diselenggarakan penandatanganan surat perjanjian penggunaan rumah (kanan).

Tak mau ketinggalan, beberapa warga penerima bantuan juga sharing, salah satunya Ahmad Safarrudin yang juga ketua RT 003. Ia mengatakan, saat rumahnya belum dibedah, hidup terasa sulit karena saat hujan sekeluarga yang saat itu berjumlah 3 orang tidak bisa tidur karena hampir semua ruang yang ada di rumahnya mengalami kebocoran, kondisi terasa lebih berat karena sang istri saat itu sedang hamil. Ia mengatakan, jangankan bermimpi memperbaiki kondisi rumah, ketika itu WC yang rusak saja tidak punya biaya untuk membiayainya. Saat ini nilai prestasi sekolah anak pertamanya, Alfin Raihan, yang saat ini SMP kelas 2 sangat baik dan sangat membanggakan karena sudah nyaman belajar maupun istirahat di rumah baru itu. Kenyamanan juga dirasakan anak keduanya, Guzanfar yang saat ini berusia 5 bulan. Ahmad merasa sangat bersyukur karena saat Guzanfar lahir sudah bisa menepati rumah baru berukuran 3 X 11 m2 yang layak, bersih dan nyaman, tidak seperti dulu kotor dan tidak layak, bahkan kalau mau masuk harus menunduk karena kondisi rumah yang rendah. Sambil berkaca-kaca matanya, ia mengucapkan terima kasih bagai mimpi yang menjadi nyata katanya karena adanya sumbangsih suci dari Tzu Chi kepada warga yang tidak mampu seperti dirinya.

Tak terasa, waktu berbuka akan segera menjelang, maka Bapak Ustad H.Hermanto memberikan Kultum (kuliah tujuh menit). Ia mengajak warga untuk benar-benar mensyukuri ridho Allah yang mereka terima melalui Yayasan Buddha Tzu Chi serta Indofood, BCA, Agung Podomoro Group, Agung Sedayu Group dan SCTV juga relawan-relawannya yang sudah membantu dari proses awal hingga saat ini rumah-rumah yang dibedah sudah bisa ditempati. Ustad juga mengingatkan bila saat ini dibantu, di kemudian hari bila ada sedikit kemampuan bisa berbagi kepada sesamanya sesuai kemampuan yang ada.

Bunyi beduk dan Adzan dari Masjid yang bersebelahan dengan kantor kelurahan menandakan berbuka puasa dimulai. Dengan dibimbing dan dilayani para relawan, para wargamengambil minuman berbuka dengan antri tertib dan teratur. Setelah menjalankan puasa hari ini, mereka menjalani shalat maghrib dan setelahnya dilanjutkan dengan berbuka puasa dengan menu vegetarian. Hari ini, sekitar 60 kepala keluarga dari 104 rumah yang dibedah menandatangani perjanjian penggunaan rumah yang selesai dibedah, yaitu tidak boleh dipindahtangankan selama 10 tahun. Setelah penandatanganan selesai, acara berbuka puasa bersama yang berlangsung dengan tertib dan aman ditutup sekitar pukul 19:30. Satu persatu, warga dan keluarga kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

Semoga acara hari ini menjadi sebutir benih yang akan tumbuh dan bersemai di hati setiap warga untuk dapat merasakan dan menyebarkan cinta kasih bersama-sama.

 

 
 

Artikel Terkait

Ladang Berkah di Desa Cikadu

Ladang Berkah di Desa Cikadu

24 Agustus 2017

Hidup sehat harus dimulai dari hal kecil, seperti menjaga pola makan sampai dengan mengatur gaya hidup. Padatnya aktivitas sering membuat kita lupa akan pentingnya kesehatan. Hal ini membuat tubuh rentan terkena penyakit.

Pentingnya Saling Berbagi

Pentingnya Saling Berbagi

10 Januari 2014

Sosialisasi Tzu Chi dan celengan bambu pada masyarakat umum mulai gencar dilakukan. Tidak hanya ke instansi pendidikan, tetapi juga ke beberapa perusahaan.

Gan En, Gan en Fu !

Gan En, Gan en Fu !

31 Agustus 2010 14 Agustus 2010 lalu, terlihat keramaian di ITC Mangga Dua Lantai 6. Bukanlah keramaian para pengunjung yang ingin membeli pakaian grosir atau sandal yang menggunung. Mereka adalah para Gan En Fu. Mendaftarkan kehadirannya sebelum masuk ke dalam ruang Yayasan Buddha Tzu Chi untuk mengikuti kegiatan yang rutin dilakukan tiap bulannya.
Seulas senyuman mampu menenteramkan hati yang cemas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -