Relawan Tzu Chi saat mengunjungi Panti Jamrud Biru, (13/3/2026). Kehadiran mereka membawa semangat baru bagi pasien yang sedang berjuang memulihkan kesehatan mentalnya.
Irama rancak lagu Tabola Bale mendadak pecah, mengubah keheningan pagi di Yayasan Jamrud Biru menjadi ledakan tawa. Tanpa sekat maupun canggung, para relawan Tzu Chi dan penghuni panti ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) di Bekasi tersebut menari bersama, mengikuti detak musik yang menghidupkan suasana.
Pemandangan hangat ini mewarnai kunjungan relawan Tzu Chi dari Hu Ai Bekasi pada Jumat 13 Maret 2026. Melihat para relawan memperlakukan para pasien dengan penuh empati, Suhartono, pendiri yayasan tak kuasa menyembunyikan kebahagiannya.
“Suatu keberkahan yang luar biasa. Rombongan Tzu Chi seakan merangkul. Ini kebahagiaan besar buat saya, dan yang paling penting, membuat pasien gembira,” ungkap Suhartono haru.
Kunjungan dari Tzu Chi memang selalu dinanti. Pagi itu para relawan tak datang dengan tangan kosong. Berbagai bantuan disalurkan, mulai dari satu ton beras, obat-obatan, 200 buah roti, hingga 4 dus DAAI Mi, dan 2 peti telur. Tak ketinggalan, 150 stel baju olahraga baru turut dibagikan, yang langsung dikenakan para penghuni.
Suhartono (kiri), sosok di balik Jamrud Biru, menyambut hangat rombongan Tzu Chi. Baginya, perhatian tulus dari dunia luar adalah obat mujarab bagi kebahagiaan para pasiennya.
“Kami sudah kenal Yayasan Jamrud Biru sejak sebelum pandemi, bahkan saat mereka masih di gedung lama. Hubungan dengan Yayasan Jamrud Biru terus berlanjut hingga sekarang dan berkembang menjadi yayasan yang lebih maju lagi,” ujar Denasari, koordinator relawan.
Dari pengamatannya, Denasari melihat kondisi penghuni yang beragam, ada yang komunikatif, ada pula yang pembicaraannya sulit dipahami. Ia juga melihat bahwa kesehatan mental setiap orang berbeda-beda, sehingga butuh pendekatan yang penuh empati.
"Dari kunjungan ini kami juga memetik pelajaran bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu lebih berhati-hati dalam bersikap. Candaan yang kita anggap sepele bisa melukai mereka yang sedang rapuh secara mental," tuturnya.
Wajah-wajah antusias para penghuni panti saat berbaris rapi menunggu giliran menerima roti yang dibagikan relawan Tzu Chi pagi itu.
Sementara itu, Suhartono mendirikan Jamrud Biru enam belas tahun lalu, setelah mengabdi selama 25 tahun di panti serupa. Berbekal latar belakang pendidikan kesejahteraan sosial dan psikologi, ia kini mengasuh 135 penghuni, termasuk 15 orang yang sedang berobat jalan.
Menariknya, pasien di sini tak hanya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, tapi juga titipan lembaga PBB (UNHCR) dari negara seperti Afghanistan, Amerika, dan Somalia. Dalam menjalankan yayasan dengan 30 pengurus ini, Suhartono rutin bersinergi dengan dinas sosial serta RSJ Jati Sampurna. Baginya, kesembuhan jiwa adalah proses penyatuan antara perilaku dan ucapan.
“Ada yang tingkah lakunya sudah sembuh, tapi bicaranya belum, atau sebaliknya. Keduanya harus selaras,” jelas Suhartono.
Untuk itu, ia menerapkan target pemulihan terukur selama sembilan bulan, tiga bulan pertama fokus pada perilaku, disusul kemampuan komunikasi, dan diakhiri dengan masa penyesuaian diri sebelum kembali ke masyarakat.
Suhartono juga menyoroti fenomena pasien laki-laki yang cenderung memiliki beban lebih kompleks karena sering memendam masalah sendirian. "Laki-laki itu jarang curhat, semua ditelan sendiri. Itulah yang membuat mereka lebih rentan," ungkapnya.
Denasari, koordinator relawan tampak berbincang akrab dengan salah satu penghuni. Kunjungan ini menjadi pengingat betapa pentingnya empati dan menjaga lisan dalam berinteraksi dengan sesama.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan zaman. Pasien di Jamrud Biru mencakup rentang usia 18 hingga 83 tahun dengan pemicu yang sangat relevan saat ini, mulai dari jeratan judi online, candu game, pinjaman online (pinjol), hingga kegagalan kontestasi politik (caleg).
Metode pemulihan di Jamrud Biru dilakukan secara komprehensif, diawali pendekatan personal untuk menggali akar masalah, lalu diikuti deteksi medis oleh psikiater dan psikolog, serta dipadukan dengan terapi spiritual. Bagi Suhartono, kunci utamanya adalah memanusiakan mereka kembali.
"Mereka tidak berbeda dengan kita, hanya nasib dan takdirnya yang berbeda. Kita yang lebih beruntung wajib membantu mereka," tegasnya.
Pesan ini selaras dengan lagu Satu Keluarga yang dibawakan oleh para relawan Tzu Chi dalam kunjungan kali ini.
"Seperti lagu yang dinyanyikan relawan tadi, lagu Satu Keluarga, kita semua ini adalah satu keluarga yang saling membutuhkan," tutup Suhartono hangat, sambil memperhatikan para pasiennya yang tampak jauh lebih ceria pagi itu.
Editor: Arimami Suryo A.