Cinta Kasih Di Pinang Sebatang Timur

Jurnalis : Mettayani (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Yunus Andy Salimin (Tzu Chi Pekanbaru)

Mengawali kegiatan baksos dengan  mengalungkan nomor urut antrian kepada pasien secara simbolis

Minggu tanggal 24 Agustus 2014 merupakan hari yang dinanti oleh warga Desa Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Perawang. Tzu Chi Pekanbaru mengadakan Baksos Kesehatan ke-32. Sebanyak 71 relawan ikut bersumbangsih dalam kegiatan ini, diantaranya 37 relawan dari Pekanbaru (termasuk 4 dokter dan 6 perawat). Mereka berangkat pada hari Sabtu petang pukul 18.30 WIB dan hari Minggu pagi pukul 05.00 WIB. Selain itu  34 relawan setempat (Perawang) juga tidak mau ketinggalan untuk bersumbangsih bagi masyarakat.

Beberapa relawan Abu Putih dan Rompi yang berdomisili di Perawang menyambut kegiatan baksos ini dengan sukacita dan penuh semangat. Kegiatan baksos ini termasuk baksos kedua untuk daerah Perawang. Wiliani shijie  salah seorang relawan abu putih Perawang juga mengajak serta kedua anaknya Jessica dan Randy untuk ikut dalam kegiatan baksos. Jessica pun mengajak kedua temannya, Janice dan Shelly. Wiliani shijie punya harapan agar anak-anaknya dapat menjadi anak yang punya kepedulian sosial yang tinggi dan bisa melihat secara nyata bagaimana kehidupan saudara-saudara kita yang hidup pas-pasan dan dapat membangkit rasa syukur dan cinta kasih mereka untuk membantu sesama. Keempat anak ini mulai mengenal Tzu Chi ketika diajak oleh Wiliani shijie nonton acara Sutra Bakti Seorang Anak yang pernah diadakan oleh Tzu Chi Pekanbaru setahun silam. Dan kebetulan juga Jessica, Janice dan Shelly juga merupakan muda-mudi yang aktif di Vihara Dhamma Santi, Perawang. Mereka mengajar Sekolah Minggu tingkat SD. Semoga jalinan jodoh ini bisa berlanjut dan mereka bisa menjadi generasi penerus Tzu Chi untuk daerah Perawang.  

Pukul 07.00 WIB pagi relawan sudah mulai berdatangan ke lokasi baksos untuk mempersiapkan segala perlengkapan. Tepat pukul 08.15 WIB kegiatan dimulai dengan sambutan dari Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Pekanbaru, Hong Thay shixiong dan Pak Suswanto, Ketua RT setempat dan memulai kegiatan baksos dengan  mengalungkan nomor urut antrian kepada pasien secara simbolis.  Masyarakat yang berdomisili di daerah ini umumnya adalah pendatang yang mencoba mengadu nasib di kota industri Perawang. Terdiri dari etnis Nias, Batak, Jawa, dan lain-lain serta penduduk di area ini cukup padat.

Cinta Kasih Orangtua Tidak Luntur Oleh Waktu

Sepasang suami istri yaitu Abas (72 tahun) dan Nurbaya (71 tahun) menempuh jarak 9 KM dari rumahnya ke lokasi baksos dengan mengendarai sepeda motor. Mereka tinggal berdua di sebuah gubuk kecil di dekat hutan. Terkadang Nurbaya juga harus ditinggal sendiri karena suaminya bekerja sebagai pemotong karet. Mendapatkan informasi baksos melalui selebaran, Abas membawa istrinya untuk berobat. Nurbaya menderita katarak, darah tinggi dan asam urat yang menyebabkan kakinya jadi lemah. Abas dan Nurbaya adalah duda dan janda yang dipertemukan oleh jalinan jodoh. Istri Abas meninggal dunia saat melahirkan putranya. Anak ini kemudian diasuh oleh Nurbaya layaknya anak kandung. Namun karena kehilafan dan kegelapan batin, sang anak harus mendekam di bui dengan hukuman selama 7 tahun. Cinta kasih seorang ibu sungguh luar biasa dan tak terbalaskan. Sejak anaknya di bui, Nurbaya selalu khawatir. Khawatir anaknya mendapatkan perlakuan yang tidak baik selama di tahanan, takut tidak bisa bertemu dengan anaknya. Akibat memikirkan hal tersebut Nurbaya susah tidur dan tensi darah menjadi naik mencapai angka 220. Meskipun dalam kondisi sakit, ibu ini masih saja mencemaskan sang anak. Sungguh cinta kasih yang luar biasa. 

Bapak Abas menceritakan kronologis penyakit yang selama ini dialami oleh ibu Nurbaya

Selain itu menantu Nurbaya saat ini juga sedang membutuhkan bantuan untuk biaya operasi buka pen kaki yang patah akibat kecelakaan kerja. Kontraktor tempat bekerja dulu sudah tidak bisa dihubungi. Saat ini menantu tidak bisa bekerja akibat kecelakaan dan mengandalkan anak Nurbaya yang berjualan sarapan pagi dengan penghasilan yang tidak mencukupi, hidup pun menumpang di kebun orang lain. Kasus Nurbaya dimasukkan dalam daftar guan huai untuk relawan Perawang agar dapat ditindaklanjuti kembali. Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, tujuan terpenting dari kegiatan baksos adalah menjalin jodoh baik dengan masyarakat dan dapat mengajak lebih banyak orang untuk peduli kepada sesama dengan menyebarkan cinta kasih universal. Total pasien di baksos ini hanya berkisar 192 orang pasien. Terbilang sedikit untuk daerah yang cukup padat penduduk dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Salah satu penyebab kurangnya jumlah pasien rasa traumatik masyarakat pada baksos beberapa waktu yang lalu yang diadakan oleh suatu instansi lain. Menurut Pak Suswanto, pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi kali ini adalah pelayanan kesehatan yang sesungguhnya, pasien diperlakukan dengan begitu baik dan penuh rasa kekeluargaan. Dengan pelayanan yang begitu baik, sekian persen penyakit pun sudah disembuhkan. Dari total 192 pasien ada 1 pasien seorang ibu yang hernia dan 3 pasien anak bibir sumbing yang ditindaklanjuti  untuk operasi di Pekanbaru yang sudah dilakukan minggu ini.

Dari total 192 pasien ada 1 pasien hernia dan 3 anak bibir sumbing yang ditindaklanjuti dilakukan operasi di Pekanbaru yang sudah dilakukan minggu ini

Dalam kesempatan ini juga masyarakat dibagikan Buletin Tzu Chi supaya mereka dapat mengenal lebih dekat Tzu Chi. Semoga jalinan jodoh dengan masyarakat di Pinang Sebatang Timur ini bisa berlanjut dan dapat melayani lebih banyak masyarakat. Sebenarnya banyak sekali lahan berkah di daerah ini karena rata-rata masyarakatnya adalah pekerja golongan bawah. Kegiatan baksos ini juga melibatkan beberapa orang gan en hu di Perawang. Salah satunya adalah Medriati. Afwan, suami Medriati merupakan tulang punggung keluarga tiba-tiba mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan kedua kaki patah dan satu kakinya harus diamputasi. Mata pencahariannya pun hilang, pendapatan keluarga menurun drastis. Berkat bantuan warga dan Yayasan Buddha Tzu Chi, Medriati mencoba bangkit dari cobaan hidup ini dengan berjualan kue-kue. Medriati merasa bahagia dapat berkontribusi di baksos ini dan berharap baksos bisa dilakukan di daerah tempat tinggalnya di Desa Tualang-Perawang. Semoga jalinan jodoh dengan masyarakat desa Tualang bisa terwujud.

Wajah bahagia insan Tzu Chi usai bersumbangsih bagi masyarakat


Artikel Terkait

Semangat Muda Menyelamatkan Dunia

Semangat Muda Menyelamatkan Dunia

13 Juni 2016

Minggu, 12 Juni 2016, Tzu Ching Binus mengadakan Waves (We Are Vegetarian and Earth Saviors) untuk membersihkan beberapa ruas jalan di wilayah kelurahan Palmerah, Jakarta Barat. dan berkreasi menggunakan barang-barang bekas.

WAVES di Car Free Day

WAVES di Car Free Day

06 Oktober 2016
Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) Jakarta mengadakan kegiatan WAVES (We Are Vegetarians and Earth Saviors) di kawasan bundaran HI saat acara Car Free Day (CFD) pada hari Minggu, 2 Oktober 2016, dengan tema “Take Action, Show Love for the Earth.   
Kolaborasi dalam Perbedaan

Kolaborasi dalam Perbedaan

28 November 2014 konsep pelestarian lingkungan yang diterapkan di Tzu Chi salah satunya adalah konsep re-think (memikirkan kembali). “Re-think itu bagaimana berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya akan menimbulkan sampah. Kalau kita beli barang yang kita ingin atau butuh?
Orang yang selalu bersumbangsih akan senantiasa diliputi sukacita. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa dilimpahi berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -