Pada 12 Desember 2025, renovasi rumah Harry dimulai dengan pembacaan surat kesepakatan bersama oleh Vinson Theodoric selaku koordinator kegiatan renovasi rumah.
Rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah ruang tumbuhnya kebersamaan, tempat harapan disemai, dan sumber ketenangan bagi sebuah keluarga. Namun seiring waktu, kondisi rumah dapat menurun dan membutuhkan pembaruan agar tetap layak, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.
Inilah yang dialami oleh Harry Wijaya, anak penerima Beasiswa Tzu Chi, yang tinggal bersama bibinya, Herlina, dan neneknya, Kwek Sui No, di kawasan Sei Putih Timur, Medan. Dengan penghasilan terbatas, Herlina yang bekerja di sebuah tempat makan di Jalan Mandala, sementara sang nenek membantu memetik sayur taoge di Jalan PWS Gang Setia. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi tantangan, apalagi untuk memperbaiki rumah.
Kondisi hunian mereka jauh dari kata layak. Dinding yang lembap, atap yang bocor, serta plafon yang ambruk membuat kamar tidak dapat digunakan dengan nyaman. Ketika hujan turun, air merembes masuk ke dalam rumah karena posisi lantai yang lebih rendah dari bahu jalan. Situasi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berisiko bagi kesehatan.
Proses renovasi rumah Harry tengah berlangsung, mulai dari memperbaiki struktur atap dan plafon rumah, memperbaiki dinding yang lembap, hingga memperbaiki lantai rumah.
Dalam keterbatasan tersebut, keluarga Harry memberanikan diri mengajukan permohonan bantuan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Cabang Medan. Di balik permohonan itu, terselip doa-doa tulus yang terus dipanjatkan oleh sang bibi dan nenek, berharap rumah mereka dapat kembali menjadi tempat tinggal yang aman dan layak.
Harapan itu perlahan menemukan jalannya. Relawan Tzu Chi dari Komunitas Petisah datang meninjau langsung kondisi rumah. Setelah melakukan survei dan pembahasan bersama, diputuskan bahwa rumah Harry Wijaya akan direnovasi. Proses renovasi resmi dimulai pada 12 Desember 2025, ditandai dengan pembacaan surat kesepakatan oleh Vinson Theodoric selaku koordinator kegiatan, disaksikan oleh kepala lingkungan setempat, para relawan, serta keluarga Harry.
Pada 11 Februari 2026, pembacaan berita acara yang dihadiri oleh kepala lingkungan setempat, relawan Tzu Chi Medan Komunitas Petisah, serta nenek dan bibi Harry Wijaya.
Renovasi dilakukan secara menyeluruh. Struktur atap dan plafon diperbaiki, dinding yang lembap diperkuat, serta lantai ditinggikan agar tidak lagi kemasukan air saat hujan. Kini, posisi rumah pun lebih tinggi dari bahu jalan, memberikan perlindungan yang lebih baik dari genangan air. Selama proses berlangsung, relawan Tzu Chi secara rutin hadir setiap minggu untuk memantau perkembangan dan memastikan setiap tahap berjalan dengan baik.
Waktu pun berlalu dengan penuh harapan. Setelah sekitar satu setengah bulan pengerjaan, pada 6 Februari 2026, renovasi rumah Harry Wijaya akhirnya rampung. Menjelang perayaan Imlek, relawan bergerak cepat agar keluarga ini dapat menempati rumah barunya sebelum hari raya tiba, yang bisa menjadi sebuah hadiah kebahagiaan yang begitu berarti untuk keluarga ini.
Pada 11 Februari 2026, dilaksanakan acara serah terima rumah di kediaman Harry Wijaya. Kegiatan diawali dengan pembacaan berita acara oleh Vinson Theodoric, dihadiri oleh kepala lingkungan, relawan, serta keluarga Harry. Momen yang paling dinantikan pun tiba, yaitu penyerahan kunci rumah kepada bibi dan nenek Harry, menjadi simbol dimulainya kehidupan baru yang lebih layak dan penuh harapan.
Tampak depan rumah Harry Wijaya sesudah di renovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Cabang Medan.
Jimmy Afrizal, S.E., selaku Kepala Lingkungan III, Kelurahan Sei Putih Timur II, menyampaikan apresiaasi kepada Yayasan Budhha Tzu Chi. “Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah membantu warga kami. Keluarga Harry Wijaya ini sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nenek Harry setiap hari membawa pulang sayur taoge untuk dipetik sebagai tambahan penghasilan. Dengan rumah yang kini lebih layak, kami berharap mereka dapat hidup dengan lebih nyaman dan sejahtera.” tutur Jimmy Afrizal.
Herlina, bibi Harry Wijaya, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan. “Sebelumnya kami selalu khawatir setiap kali hujan turun karena air bisa masuk ke dalam rumah. Sekarang kami tidak perlu cemas lagi. Rumah kami sudah direnovasi dengan sangat baik. Saya tidak menyangka bisa menempati rumah yang nyaman seperti ini,” ujarnya.
Vinson Theodoric, relawan Tzu Chi yang menjadii koordinatro kegiatan, menyerahkan kunci rumah kepada nenek dan bibi Harry Wijaya.
Kwek Sui No, nenek Harry Wijaya, juga menyampaikan kebahagiaannya. “Seumur hidup saya, baru kali ini bisa merasakan tinggal di rumah yang baru dan nyaman. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi dan para relawan yang sudah membantu kami,” tuturnya dengan haru. Ia juga menambahkan bahwa ke depannya ia akan menyisihkan sebagian rezekinya ke dalam celengan bambu sebagai niat untuk ikut membantu orang lain.
Sebagai pelengkap kebahagiaan, relawan juga memberikan bantuan berupa dua lemari pakaian, tiga kasur baru, serta satu kompor gas untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Suasana syukur semakin terasa dengan pembagian nasi kuning kepada tetangga, relawan, dan para tamu yang hadir, ini merupakan bentuk sukacita dan wujud syukur atas selesainya renovasi rumah tersebut.
Selain merenovasi rumah, relawan Tzu Chi Medan juga memberikan lemari baju, kasur, dan kompor gas untuk keluarga Harry Wijaya.
Vinson Theodoric, relawan Tzu Chi yang menjadi koordinator kegiatan renovasi rumah, mengungkapkan rasa bahagianya melihat keluarga Harry Wijaya kini dapat menempati rumah yang lebih sehat dan layak huni. “Sebelumnya mereka tinggal di rumah yang lembap dan kurang baik bagi kesehatan. Sekarang, dengan kondisi tempat tinggal yang lebih nyaman, semoga mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan sejahtera,” ujarnya. Ia juga berpesan agar Harry Wijaya sebagai penerima Beasiswa Tzu Chi terus semangat belajar dan berusaha meraih cita-citanya di masa depan.
Melalui kegiatan ini, relawan Tzu Chi tidak hanya menghadirkan perubahan fisik pada sebuah rumah, tetapi juga menyalakan kembali harapan dalam kehidupan sebuah keluarga. Rumah yang layak menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik tempat tumbuhnya semangat, kesehatan, dan masa depan. Seperti kata perenungan Master Cheng Yen, “Paling indah di langit adalah bintang-bintang yang berkelap-kelip, paling indah di dunia adalah kehangatan cinta kasih.”
Editor: Fikhri Fathoni