DAAI Impact Forum 2026: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Nilai Kemanusiaan

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Arimami Suryo A.

DAAI TV Indonesia mengadakan DAAI Impact Forum 2026 yang mengajak masyarakat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijaksana tanpa kehilangan nilai kemanusiaan, kesadaran diri, dan kreativitas.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), manusia dihadapkan pada tantangan baru, yakni bagaimana memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan?

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam DAAI Impact Forum 2026 yang diselenggarakan DAAI TV, pada Kamis, 29 Juli 2026, di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta. Mengangkat tema tentang Media, AI, dan Kemanusiaan, forum ini menjadi ajang diskusi untuk melihat bagaimana perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bijaksana sekaligus menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.

GM Corporate Communication DAAI TV, Paulus Florianus, dalam sambutannya mengajak peserta untuk merenungkan kembali hubungan antara kemajuan teknologi dan kualitas kemanusiaan. Ia mengutip pemikiran Yuval Noah Harari, sejarawan dan filsuf asal Israel, yang mempertanyakan apakah manusia yang menyebut dirinya sebagai Homo sapiens atau manusia bijaksana benar-benar telah menggunakan kebijaksanaannya dalam menjalani kehidupan.

Mengutip Yuval Noah Harari, sepanjang sejarah manusia telah menghasilkan berbagai kemajuan luar biasa, mulai dari pencapaian teknologi hingga perkembangan kecerdasan buatan. Namun, di sisi lain, manusia juga masih melakukan tindakan yang merugikan sesama dan alam semesta. Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah informasi.

Informasi yang keliru dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Dalam hal ini, media memiliki peran penting, bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.

"Apa yang ditayangkan oleh media bisa membentuk pola pikir, pola perilaku, dan tindakan kita. Jika setiap hari media menayangkan hal-hal yang negatif, lama-kelamaan kita merasa bahwa hal-hal negatif itu adalah sesuatu yang wajar. Sebaliknya, jika media banyak menayangkan hal-hal positif, semakin banyak orang yang terdorong melakukan kebaikan," ungkap Paulus.

GM Corporate Communication DAAI TV, Paulus Florianus, dalam sambutannya mengajak peserta untuk merenungkan kembali hubungan antara kemajuan teknologi dan kualitas kemanusiaan.

Selama 19 tahun, DAAI TV konsisten menghadirkan berita positif dan inspiratif yang mengangkat berbagai kisah kebaikan di tengah masyarakat. Namun, menghadapi perubahan lanskap media di era digital, DAAI TV ingin mengambil peran lebih jauh. Kini tidak hanya menayangkan hal-hal baik, DAAI TV juga ingin menggerakkan lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan secara nyata.

“Sebab, kebaikan sekecil apa pun, apabila dilakukan bersama-sama dan saling menginspirasi, dapat menggerakkan kebaikan dan berkembang menjadi dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” tutur Paulus.

Kesadaran Diri agar Tidak Diperbudak Teknologi
Dalam sesi diskusi, Dr. Reza Alexander Antonius Wattimena yang menjadi salah satu narasumber mengajak peserta melihat perkembangan AI dari sudut pandang yang lebih mendasar dan menggunakan kesadaran diri manusia sebagai pedomannya. Menurutnya, persoalan utama bukanlah seberapa canggih teknologi yang diciptakan, melainkan bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah perkembangan tersebut. Ia mengingatkan bahwa manusia harus tetap menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.

Dr. Reza Alexander Antonius Wattimena yang menjadi narasumber DAAI Impact Forum 2026 mengajak peserta melihat perkembangan AI dari sudut pandang yang lebih mendasar dan menggunakan kesadaran diri manusia sebagai pedomannya.

"Bagaimana supaya manusia menggunakan AI, bukan AI yang menggunakan manusia. Harus jelas siapa bosnya dan siapa asistennya. Yang berbahaya adalah ketika AI menjadi bos dan manusia menjadi asistennya," ujarnya.

Untuk menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepat, Dr. Reza menawarkan pentingnya membangun kesadaran. Ia menilai hidup berkesadaran akan sangat relevan untuk membantu manusia menjaga kejernihan batin dan keseimbangan mental di tengah berbagai perubahan kehidupan. Kesadaran di sini bukan sekadar mengetahui bahwa diri sedang terjaga, melainkan kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada saat ini, mengenali kondisi batin, pikiran, dan emosi, serta menyadari pilihan yang akan diambil.

"Pesan abadi dari tradisi filsafat Eropa dan Asia adalah sebelum kita mengubah dunia, ubah dirimu sendiri. Bersihkan dirimu dari kesalahan cara berpikir, dari kerakusan, kebencian, dan segala bentuk kecanduan. Karena AI mungkin dapat membantu manusia menghasilkan lebih banyak hal. Namun, bagaimana teknologi itu digunakan dan untuk tujuan apa, tetap merupakan tanggung jawab manusia. Maka dari itu, dengan batin yang lebih jernih, kecerdasan dan teknologi dapat diarahkan untuk ke arah yang baik,” tutur pendiri Rumah Filsafat itu.

Manusia Harus Tetap Memegang Kendali
Sejalan dengan pemikiran tersebut, Dr. Ignatius Haryanto Djoewanto, S.Sos., M.Hum., yang juga menjadi narasumber pada DAAI Impact Forum 2026 pun menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Namun, manusia perlu memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Dr. Ignatius Haryanto Djoewanto, S.Sos., M.Hum., narasumber pada DAAI Impact Forum 2026 pun menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari namun, manusia perlu mempunyai tanggung jawab dalam menggunakannya.

Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan sesuatu yang mengambil alih kendali manusia. Ketergantungan berlebihan terhadap AI, terutama dalam proses berpikir dan mengambil keputusan, berisiko membuat kemampuan manusia semakin berkurang. Ia memberikan contoh sederhana, yakni kebiasaan menggunakan telepon genggam untuk mengetik. Jika seseorang terlalu sering mengandalkan perangkat digital, kemampuan menulis tangannya pun bisa semakin jarang terlatih. Hal serupa dapat terjadi ketika manusia terus-menerus menyerahkan proses berpikir dan pemecahan masalah kepada AI.

"Kalau terus mengandalkan AI, pelan-pelan kita bisa kehilangan daya pikir kita. Nah ini kan sesuatu yang mengerikan begitu ya, jangan sampai nanti pelan pelan kita menjadi tanda kutip budak dari teknologi. Jangan sampai itu yang terjadi. Untuk itu kita tetap yang harus memegang kendali," ujarnya.

Ketua program Magister Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara itu juga mengingatkan bahwa AI memiliki keterbatasan. Salah satunya, teknologi ini tidak memiliki inisiatif seperti manusia. AI bekerja berdasarkan perintah atau pertanyaan yang diberikan, sementara manusia memiliki kemampuan untuk memulai sesuatu, mempertanyakan keadaan, dan menentukan arah tindakannya sendiri.

Tak cukup di sana, Dr. Hary pun menambahkan ada satu hal lain yang juga perlu dijaga dalam penggunaan AI adalah keunikan dan keberagaman manusia. Ia mengamati banyaknya konten visual yang dihasilkan AI memiliki pola serupa, mulai dari pilihan huruf hingga komposisi desain. Padahal, setiap manusia memiliki karakter dan sudut pandang yang berbeda.

“Itu yang bikin saya paling sebel sekarang ini,” tuturnya sambil tertawa. “Dengan berbagai jenis AI ya, semua orang sekarang bisa membuat poster, flyer, dan lainnya, tapi semua sama modelnya. Apakah itu menarik dilihat? Kan enggak juga, ya. Artinya semua hal menajdi seragam. Nah, manusia apakah seragam? Kan enggak. Manusia kan punya keunikan, keberagaman. Nah, keberagaman itu yang saya kira harus tetap ditonjolkan, dimunculkan. Bukan justru keseragaman ini,” lanjutnya.

AI Mempercepat Kreativitas, Bukan Menggantikan Orisinalitas
Mira Hoeng, salah satu tamu undangan yang hadir pun sangat tertarik dengan perbincangan mengenai perkembangan AI ini. Ia sendiri memberikan perspektif dari industri kreatif sesuai bidangnya. Seniman sekaligus pendiri MIWA Pattern ini tak menampik bahwa perkembangan AI telah memberikan peluang bagi industri kreatif. Baginya, teknologi ini dapat membantu mempercepat proses eksplorasi ide.

Dalam kesempatan itu Mira menceritakan pengalamannya ketika harus mengembangkan desain berdasarkan permintaan klien. Sebelum hadirnya AI, proses tersebut dapat membutuhkan waktu berhari-hari, mulai dari melakukan riset, mengembangkan konsep, hingga menyamakan persepsi mengenai desain yang diinginkan. “Dulu mungkin sekitar 10 sampai 14 hari lah itu baru keluar ide-idenya ya. Sekarang jauuh lebih cepat,” ungkapnya.

Dengan bantuan AI, kini Mira dapat membuat gambaran awal sebuah konsep dalam hitungan menit. Hal ini memudahkannya untuk langsung berdiskusi dan menyelaraskan ide bersama klien. "AI itu sangat membantu dunia desain. Yang tadinya membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari untuk mendapatkan gambaran ide, sekarang bisa terjadi saat itu juga. Setidaknya AI bisa membantu menyatukan visi dan pemikiran antara saya dengan klien," jelas Mira.

Mira Hoeng, salah satu tamu undangan yang hadir pun sangat tertarik dengan perbincangan mengenai perkembangan AI ini. Ia sendiri memberikan perspektif dari industri kreatif sesuai bidangnya.

Meski demikian, ia menilai AI tak akan mampu menggantikan keseluruhan proses kreatif seorang seniman. Dari pengalamannya, AI memang dapat membantu membuat mood board, menentukan palet warna, serta mengembangkan ide awal. Namun, ketika diminta menghasilkan motif yang benar-benar mencerminkan karakter MIWA Pattern, hasilnya malah kaku dan tidak memiliki sentuhan personal.

MIWA Pattern sendiri dikenal melalui motif-motif yang digambar langsung oleh Mira. Setiap karya lahir dari pengalaman dan perasaan yang dituangkan pada saat proses penciptaan berlangsung. Karakter desainnya cenderung penuh warna, berani, dan eksperimental, dengan semangat Happiness in Pattern sebagai identitasnya.

Bagi Mira, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada hasil visual, tetapi juga cerita dan jiwa yang menyertainya. Ia percaya bahwa setiap seniman memiliki keunikan yang tidak mudah diseragamkan oleh teknologi.

Hal serupa juga ia terapkan ketika menggunakan AI untuk membuat materi promosi atau poster. Hasil yang dihasilkan teknologi tetap perlu diolah dan disesuaikan kembali agar memiliki identitas serta karakter merek yang kuat.

"Untuk semua pekerja kreatif, jangan takut, dan teruslah berkarya. Kita tidak bisa menolak teknologi, tetapi kita harus beradaptasi dan belajar bagaimana menggunakannya untuk kemajuan. AI bisa membantu, tetapi belum bisa menggantikan pemikiran dan orisinalitas manusia. Untuk sekarang ya kita manfaatkan saja, kita bisa riding the way of amazing talent of AI dengan tetap mempertahankan orisinilitas kita," ungkapnya.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Bersama DAAI TV, Menyebarkan Kebajikan ke Seluruh Indonesia

Bersama DAAI TV, Menyebarkan Kebajikan ke Seluruh Indonesia

10 Maret 2015
Acara ini bertujuan mengajak para karyawan untuk menyamakan persepsi, mengenal visi dan misi perusahaan sekaligus menambah keakraban lintas divisi. Adapun pada sesi penutup, tanggal 8 Maret 2015, acara diisi dengan sharing dari para karyawan DAAI TV yang telah bersumbangsih selama 1 dasawarsa.
Seribu Anak Membasuh Kaki Ibu Bersama DAAI TV Indonesia

Seribu Anak Membasuh Kaki Ibu Bersama DAAI TV Indonesia

06 Desember 2021

Menyambut Hari Ibu di bulan Desember, DAAI TV Medan mengadakan kegiatan dengan tema “Membasuh Kaki Ibu” pada Minggu, 28 November 2021.

Buka Puasa Bersama DAAI TV

Buka Puasa Bersama DAAI TV

23 Agustus 2011
Sekolah yang berdiri sejak tahun 70-an ini diprakarsai oleh Yusuf Nurdin, seorang imam masjid di kampung itu. Sebagai seorang imam, Yusuf yang juga berprofesi sebagai pembuat perahu merasa risau ketika melihat anak-anak dari keluarga tidak mampu yang tidak sanggup bersekolah.
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -