Lily Santoso, Ketua He Qi Tangerang Periode 2026-2027 membawakan Materi yang pertama tentang Kisah Master Cheng Yen. Pelatihan ini dirancang sebagai sarana memperdalam pemahaman relawan tentang Misi Kesehatan yang berlandaskan cinta kasih universal.
Pada Minggu, 25 Januari 2026, relawan komunitas He Qi Tangerang kembali menyelenggarakan Pelatihan Abu Putih ke-2 tahun 2026 dengan tema “Mengembangkan Jalinan Jodoh dan Cinta Kasih dengan Misi Kesehatan”. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan nilai bagi para relawan dalam menjalankan misi Kesehatan Tzu Chi. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, pelatihan kali ini dilaksanakan di Auditorium Guo Yi Ting, lantai 3, Tzu Chi Pantai Indah Kapuk (PIK),Jakarta Utara.
Pelatihan ini dirancang sebagai sarana memperdalam pemahaman relawan tentang Misi Kesehatan yang berlandaskan cinta kasih universal. Sejak awal, peserta diajak untuk tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi pelayanan Tzu Chi.
Salah satu sesi utama mengangkat kisah hidup Master Cheng Yen yang dibawakan oleh Ketua He Qi Tangerang Lily Santoso. Sosok pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi ini lahir dengan nama Wang Jin Yun pada 4 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan. Sejak muda, Wang Jin Yun dikenal sebagai anak yang berbakti. Pada usia 15 tahun, Wang Jin Yun mengikrarkan diri menjadi vegetarian seumur hidup demi kesembuhan ibunya yang menderita luka lambung akut. Ikrar tersebut terwujud, dan peristiwa itu menjadi titik awal perjalanan spiritualnya.
Duka kembali datang ketika ayahnya wafat akibat pendarahan otak. Peristiwa tersebut mengguncang batin Wang Jin Yun dan membawanya pada perenungan mendalam tentang kefanaan hidup dan tujuan manusia terlahir ke dunia. Dengan tekad yang kuat, Wang Jin Yun meninggalkan kehidupan duniawi untuk melatih diri sebagai bhiksuni. Meski menghadapi berbagai rintangan, tekadnya tidak goyah. Wang Jin Yun kemudian menjadi murid Mahabhiksu Yin Shun dan menerima nama Buddhis Master Cheng Yen.
Delapan orang relawan membawakan bahasa isyarat tangan dengan lagu hǎo xí guàn (kebiasaan baik). Setiap relawan memperagakan satu gerakan dan seluruh peserta Training diajak untuk mengikuti untuk menghidupkan suasana.
Wakil Ketua Jap Miau Jung dan Wey Alam menyematkan kartu keanggotaan Tzu Chi kepada 11 orang relawan yang resmi masuk dalam barisan Tzu Chi.
Sejak tahun 1963, Master Cheng Yen dikenal sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya untuk menebarkan cinta kasih universal. Dari sebuah pondok kecil seluas 12 meter persegi di belakang vihara di Hualien, Taiwan. Dari pondok kecil inilah lahir Yayasan Buddha Tzu Chi yang kini berkembang ke berbagai belahan dunia. Enam kata ajaran Mahabhiksu Yin Shun , “Demi Ajaran Buddha, Demi Semua Makhluk”, menjadi pedoman hidup yang terus dihayati dan dijalankan Master Cheng Yen dan para muridnya hingga kini.
Kisah perjuangan Master Cheng Yen mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki Hati Buddha. Hati tersebut perlu dirawat agar tidak tertutup oleh noda batin. Seperti kata perenungan Master Cheng Yen, “Lahan batin seseorang bagaikan sepetak sawah. Jika tidak ditanami benih yang baik, tentu tidak akan menghasilkan buah yang baik.” Nilai ini diharapkan menjadi “benih” bagi para relawan agar senantiasa percaya pada potensi diri dan terus menumbuhkan kebajikan dalam pelayanan.
Pada sesi Galang Hati Galang Dana, Viona Angelia memaparkan cikal bakal Misi Amal Tzu Chi pada masa Celengan Bambu di tahun 1966. Bermula dari 30 ibu rumah tangga yang menyisihkan uang belanjanya 50 sen setiap hari, semangat berdana terus berkembang dan menggerakkan banyak orang.
Hingga kini, relawan He Qi Tangerang secara konsisten menjalankan program satu hari satu genggam beras dan tuang celengan bersama penerima bantuan khusus Tzu Chi (Gan En Hu) sebagai wujud cinta kasih yang berkesinambungan. Dengan tiga pilar utama Yakin (Xìn), Tekad (Yuàn), dan Praktik (Xíng) para relawan diajak semakin giat mewujudkan kebajikan dalam tindakan nyata.
Suasana pelatihan semakin hidup melalui sesi ice breaking yang dipandu Elvivianny. Melalui lagu hǎo xí guàn dan rangkaian gerakan isyarat tangan, relawan diajak menghidupi budaya humanis Tzu Chi. Materi Budaya Humanis yang disampaikan Rensy turut memperkuat pemahaman tentang etika berseragam, tata krama, sikap beranjali, samadhi, hingga cara duduk dan berjalan yang penuh kesadaran.
Wey Alam, Wakil Ketua He Qi Tangerang Periode 2026-2027 membawakan materi prinsip dan filosofi Misi Amal Kesehatan Tzu Chi yang dijalankan di tengah masyarakat.
Viona Angelia fungsionaris Misi Amal dan Daniel Sulaiman menerima Tanda Terima Kasih dan plakat dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas pelantikan kepengurusan fungsionaris periode 2026–2027 yang diketuai oleh Lily Santoso yang diserahkan oleh Johnny Chandrina Ketua He Qi Tangerang periode tahun 2024-2025.
Dalam pelatihan ini, 11 relawan baru resmi dilantik, terdiri atas empat Shixiong (pria) dan tujuh Shijie (wanita). Pelantikan dilakukan oleh Wakil Ketua He Qi Tangerang, Wey Alam dan Jap Miau Jung. Acara juga dirangkai dengan penyerahan sertifikat dan plakat apresiasi kepada 60 fungsionaris kepengurusan He Qi Tangerang periode 2024–2025, serta pengenalan 68 fungsionaris kepengurusan periode 2026–2027 yang diketuai oleh Lily Santoso.
Pada sesi kesan dan harapan, para relawan menyampaikan tekad untuk saling mendukung dan menjaga niat murni dalam melayani. Lily Santoso mengajak seluruh relawan untuk terus bergandengan tangan memajukan He Qi Tangerang. Tayangan video kilas balik kegiatan Tzu Chi di tahun 2024–2025 turut menghadirkan momen reflektif yang menguatkan kebersamaan.
Gunawan peserta dari Xie li Cibodas yang baru dilantik mengatakan pelatihan relawan ini untuk saling support untuk meringankan penderitaan. “Kita Sama-sama saling support, saling membantu, untuk meringankan beban dan penderitaan makhluk lain”, ucap Gunawan peserta dari Xie li Cibodas.
Carolina Fajar, merangkum materi yang diberikan menjadi 3 catatan, terkait kegigihan agar tidak mudah berhenti meskipun ada rintangan, kekuatan niat yang murni, dan kebajikan sebagai perlindungan. “Jangan menunggu kondisi sempurna untuk memulai kebajikan. Mari kita jaga niat yang murni, hati yang bersih, karena satu kebajikan kecil dari kita hari ini, bisa menjadi penghalang bencana bagi dunia di masa depan”, ucap Caroline relawan dari Xie li BSD ini kepada semua relawan yang hadir.
Foto bersama seluruh peserta Training AP ke-2 dan seluruh Panitia ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan nilai-nilai bagi para relawan dalam menjalankan misi Amal Kemanusiaan Tzu Chi.
Pelatihan yang diikuti oleh 119 relawan dan didukung 46 panitia ini berlangsung tertib, lancar, dan penuh suka cita. Melalui seluruh rangkaian sesi, relawan diajak menyadari bahwa misi kesehatan merupakan wujud nyata cinta kasih yang perlu terus dihidupi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, jalinan jodoh baik dapat terus tumbuh dan memberi manfaat bagi lebih banyak makhluk.
Editor: Anand Yahya