Dari Lambaro Hingga Ke Jantho

Jurnalis : Dok. Tzu Chi Indonesia, Fotografer : Dok. Tzu Chi Indonesia

Tanggal 22 Desember 2005, pagi sekitar 40 relawan Tzu Chi Indonesia bertolak dari Bandara Soekarno Hatta menuju Banda Aceh. Rombongan ini merupakan rombongan besar tahap pertama yang berangkat, sebelum rombongan relawan yang menyusul esok harinya. Meskipun jadwal penerbangan pesawat adalah pukul 06.20, namun 2 jam sebelumnya, relawan Tzu Chi telah tiba di bandara. Ini dikarenakan mereka harus membawa serta barang-barang untuk menyelenggarakan baksos kesehatan tanggal 24-25 Desember yang akan datang.

Menggelar baksos di seberang lautan, ternyata jauh lebih rumit dibanding yang pernah dilihat saat baksos itu sendiri berlangsung. Setelah saling bantu-membantu memasukkan semua barang bawaan ke bagasi, ternyata sejumlah 66 paket barang yang harus diangkut. Barang-barang itu meliputi perlengkapan operasi, konsumsi, dan majalah Tzu Chi.

Setelah selesai mengurus barang-barang, para relawan berbaris dalam 6 kelompok, masuk ke ruang tunggu. Dan 3 jam kemudian mereka semua telah mendarat di Bandara Blang Bintang, Aceh. Dari sini sebagian relawan menuju ke RS. Kesdam Iskandar Muda untuk mengatur persiapan baksos, sedangkan sisanya menuju ke berbagai lokasi di Aceh dengan menaiki bis yang disewa dari Departemen Perhubungan.

Persinggahan pertama adalah di kuburan massal untuk korban tsunami di Lambaro, salah satu yang terbesar di Aceh. Selain di sini juga terdapat beberapa kuburan massal lain seperti di Ulee Lheu, Lampeuneureut, dan Lhok Nga. Menurut keterangan dari Rasyid, penjaga makam tersebut, di lahan seluas 4.000m 2 di Lambaro ini, disemayamkan sejumlah 46.718 korban. Cara penguburan saat itu adalah secara berlapis. Tanah digali sedalam 7m, lalu dikuburkan jasad pada lapisan pertama, setelah itu ditimbun dengan tanah, dan di atasnya dikuburkan lagi jasad korban yang lainnya. Di kuburan massal ini, relawan Tzu Chi melakukan doa bersama untuk para korban dan tabur bunga sebagai penghormatan pada korban yang dikuburkan di sini.

Dalam perjalanan menuju ke kota Banda Aceh, mula-mula daerah yang kami lalui benar-benar tampak normal. Sebab daerah di dekat bandara berjarak cukup jauh dari laut sehingga memang tidak terkena dampak langsung dari tsunami. Kami juga melalui daerah Panteriek yang telah terpilih menjadi lokasi Perumahan Cinta Kasih yang akan diresmikan 5 hari lagi. Namun 15 menit kemudian, rombongan mulai melihat sisa-sisa akibat tsunami yang belum sempat dibenahi. Masih terdapat bangunan yang miring, atau bangunan bertingkat yang lantai atasnya roboh.

Selanjutnya kami memasuki daerah Masjid Raya Baiturrahman yang telah direnovasi, terus menuju daerah Ulee Lheu yang terletak di bibir pantai. Sejak dari sana mulai terdengar komentar keprihatinan dari mulut para relawan. Sebab daerah ini merupakan lokasi di Banda Aceh yang paling parah menanggung akibat tsunami. Meskipun hampir satu tahun berlalu, tapi keadaan di sini masih memprihatinkan. Masih sangat sedikit rumah yang sudah dibangun kembali, kebanyakan berupa rumah bedeng yang sifatnya bongkar pasang. Sedangkan di antara rumah-rumah, masih terlihat warga Aceh yang tinggal di tenda-tenda.

Perjalanan terus berlanjut ke daerah Punge, dimana sebuah kapal PLTD Apung (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) terdampar. Kapal seberat belasan ribu ton tersebut terbawa oleh kuatnya arus tsunami dan mendarat di atas perumahan penduduk yang berjarak 5 km dari garis pantai. PLTD yang dulunya memiliki kapasitas 10 Mwatt dan mensuplai hampir setengah penduduk Banda Aceh ini, kini tidak dapat dioperasikan lagi. Hal ini juga mengakibatkan sejak bencana tersebut ketersediaan listrik di Banda Aceh tidak stabil, listrik sering mati-hidup. Baru sebulan terakhir ini Aceh mendapat bantuan listrik yang berasal dari Medan .

Seusai beberapa perlawatan ini, relawan menuju ke Kampung Tenda Cinta Kasih di Jantho. Perjalanan kali ini cukup panjang, sekitar 1 jam perjalanan. Namun perjalanan yang panjang ini menjadi singkat karena relawan menggelar acara perkenalan di dalam bis. Acara perkenalan menjadi meriah sebab setiap relawan diwajibkan menyanyikan sebuah lagu Tzu Chi. Meskipun beberapa relawan mengatakan tidak hafal namun setiap kali mereka memulai satu baris maka relawan yang lain langsung menyambung dan bersama-sama menyanyikan lagu-lagu tersebut hingga usai sambil memperagakan isyarat tangan.

Pemandangan sepanjang jalan menuju Jantho sangat indah dan hijau. Jantho yang termasuk daerah perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Melewati sejumlah tanjakan dan turunan serta tikungan, akhirnya Kampung Tenda Jantho muncul di depan mata. Tenda-tenda itu ada yang ditambah dengan teras kecil atau diberi lapisan terpal sesuai dengan kreativitas penghuninya masing-masing. Menurut Rozak, koordinator tenda, Kampung Tenda Tzu Chi ini diakui oleh beberapa NGO sebagai proyek rehabilitasi yang terbaik. Sebab selain bentuknya yang mirip dengan rumah sehingga memberikan kenyamanan pada penghuninya, tenda ini juga dibangun menjadi suatu komunitas yang dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti listrik dan air yang diberikan secara cuma-cuma. Nilai tambah lain adalah Tzu Chi tidak hanya berhenti sampai di tenda tetapi terus memikirkan kelanjutan hidup para penghuninya hingga rumah permanen.

Setelah berkunjung ke beberapa tenda penghuni, para relawan mengumpulkan anak-anak penghuni tenda di meunasah (semacam balai warga). Di situ relawan membagikan alat tulis (pensil dan penggaris) serta permen. Acara keakraban juga diselingi dengan menyanyi bersama. Pada saat pembagian permen, ada 2 orang anak yang berebut paket yang berisi 4 bungkus permen itu. Salah seorang dari mereka yang tidak mendapatkan permen terlihat kesal, namun relawan Tzu Chi menasehati anak itu dan berkata, "Jangan berebut begitu, dengan mengalah justru berkat yang kita miliki lebih besar."

Di akhir acara, relawan Tzu Chi mengingatkan bahwa tanggal 22 Desember ini merupakan hari ibu, karena itu mereka meminta agar para ibu yang hadir untuk maju ke depan. Lalu relawan mengajak anak-anak menyanyikan lagu untuk ibu mereka. "Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia," demikian nyanyi anak-anak dengan lantang. Setelah itu relawan mendorong agar anak-anak dari para ibu yang hadir di depan untuk maju dan mencium ibu mereka. Mula-mula anak-anak itu tampak malu, namun setelah satu dua anak memberanikan diri, akhirnya baik ibu maupun anak-anak bisa bersikap wajar. "Saya juga lupa kalau hari ini adalah hari ibu," kata salah seorang ibu sambil tertawa pada relawan. Lalu relawan balik bertanya apakah ibu itu juga sudah mengucapkan selamat hari ibu pada ibundanya dan dijawab belum. Kemudian relawan itu mengingatkan ibu itu untuk juga melakukan hal serupa seperti yang tadi dilakukan oleh anaknya. Setelah itu para relawan harus meninggalkan Kampung Tenda Cinta Kasih dan kembali ke Banda Aceh.


Artikel Terkait

Gemerencing Celengan Bambu

Gemerencing Celengan Bambu

19 Agustus 2015

Menumbuhkan kepekaan sosial kepada generasi muda merupakan satu cara efektif untuk membangun kebersamaan di masyarakat. Hal inilah yang dilakukan Sekolah Dharma Budi Bhakti di Sunter, Jakarta Utara yang terus mengajak muridnya bersumbangsih melalui celengan bambu Tzu Chi pada 14 Agustus 2015.

Tahu Menghargai Berkah

Tahu Menghargai Berkah

06 September 2010 Hari Minggu, 5 September 2010, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyelenggarakan acara Pembagian Paket Lebaran kepada 200 pasien penerima bantuan pengobatan Tzu Chi, bertempat di RSKB Cinta Kasih Cengkareng, Jakarta Barat.
Melihat, Mendengar, dan Bekerja dengan Sepenuh Hati

Melihat, Mendengar, dan Bekerja dengan Sepenuh Hati

22 November 2013 Akhirnya tiba waktunya para Xiao Tai Yang (murid kelas budi pekerti) untuk belajar lagi budi pekerti di Kantor Yayasan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. "Amitofo," salah satu dari siswa Budi Pekerti memberikan salam kepada semua relawan yang ada di dekat pintu.
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -